TELAH 100 TAHUN ORGANISASI ISLAM DI ADU DOMBA

0
70

Ciloteh Tanpa Suara_” menjelang dihelatnya hajatan nasional Pilpres 2019, persatuan dan kesatuan anak bangsa semakin tergerus. Umat Islam semakin dipojokan, penghinaan terhadab Nabi Muhammad saw terang- terangan, bendera tauhid dibakar. Persekusi demi persekusi terhadap ulama seakan-akan dibiarkan oleh pemerintah. Perbedaan haluan dan pilihan politik yang dalam iklim negara demokrasi merupakan hal wajar dan biasa, tetapi pada realitanya di lapangan membuat hubungan antar anak bangsa terancam. Apa yang harus kita buat lagi pak H.Saiful Guci  sebagai Ketua IPHI Limapuluh Kota “ ujar H.Anwar kepada saya setelah sholat Dzuhur.

“ Bila konflik semacam ini dibiarkan berkembang, maka umat akan mudah ditunggangi oleh pihak-pihak berkepentingan atau pihak ketiga. Pada lembaran sejarah, bisa ditilik, salah satu keberhasilan penting kolonialisme dalam menghunjamkan cakar penjajahannya di bumi pertiwi adalah dengan memanfaatkan konflik-konflik internal anak bangsa, khususnya umat Islam.

Dalam realitas sejarah, salah satu langkah yang digunakan untuk memanfaatkan peluang itu adalah dengan sistem politik “devide et impera” (memecah belah atau adu domba).

Kalau kita membaca buku sejarah, dimana sejarah itu akan berulang setiap 100 tahun, persekusi terhadap Ulama dan Santri serta penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw serta pembakaran bendera tauhid, yang menyebabkan sesama umat Islam terbelah dua adalah politik devide et impera  Belanda. Yang dilakukan oleh PKI sejak berdirinya. Kata Mansur Suryanegara dalam “Api Sejarah I” (Mansur, 2015:396), Islam telah mulai berjaya dengan organisasi Sjarikat Islam dibawah pimpinan Oemar Said Tjokroaminoto, H.Agus Salim dan Abdoel Moeis. Pemerintah Kolonial Belanda melihat Sjarikat Islam yang maju pesat tidak hanya menguasai pulau Jawa, tetapi pengaruhnya di luar Jawa sangat besar juga. Maka kekuatan Islam ini perlu diadu domba. Sehingga perhatian umat Islam akan mengubah perhatian mayoritas umat Islam dari gerakan politik menjadi gerakan  pembelaan kehormatan Islam atau kehormatan Rasulullah Saw. Caranya, dikondisikan dengan tindakan adu domba dengan kelompok kebatinan dan kejawen dengan menghina Rasullullah Saw.

Pada tanggal 9 dan 11 Januari 1918, media cetak berbahasa Jawa (Djawi Hisworo) terbit di Surakarta. Media cetak tersebut mengungkapkan artikel tulisan Martodharsono dan Djokodikoro, yang isinya mengina Nabi Muhammad Saw sebagai pemabuk dan pemadat.

Dengan adanya artikel penghinaan tersebut, pimpinan Central Sjarikat Islam menjadi terpancing. Di Surabaya demo besar-besara dengan rapat umum dilakukan pada Februari 1918, yang isinya menuntut pemerintah Kolonial Belanda agar menindak kedua penulis dan pimpinan redaksi Djawi Hisworo. Selain itu, Central Sjarikat Islam juga membentuk panitia, Tentera Nabi Muhammad Saw.

“Bapak Haji Anwar tahu apa yang terjadi ?” Tanya saya.

“ Saya tidak tahu, apa yang terjadi, dan saya menyimak “ Jawab H.Anwar

Kemudian saya lanjutkan “ mirip dengan apa yang terjadi saat ini, ada yang takut dengan bendera tauhid padahal bendera tauhid tersebut telah berkibar di Indonesia sejak 1919 pada pendirian Madrasah Al-Irsyad di Surabaya.

Ketakutan terhadap bendera tauhid pada tahun 2018 ini dengan membakarnya. Dan umat Islam menuntut agar yang membakar bendera tauhid agar dihukum, tetapi malahan dilepas. Pada tahun 1918 juga begitu, adanya tuntutan dari Sjarikat Islam tersebut dibela oleh kalangan Kedjawen dan menuntut agar diadakan pemisahan antara agama dan politik. Dengan alasan bahwa agama Islam sebagai agama luar, agamanya orang arab, bukan agama bagi orang Jawa. Pandangan kalangan Kedjawen juga menjadi ciri ajaran Kesoenden dari agama Djawa Soenda di Cigugur Kuningan. Pandangan tersebut, bertolak dari pemahaman dirinya sebagai bagsawan, dan agama Islam dipahami sebagai agamanya rakyat jelata.” Ujar saya

Kemudian H.Anwar bertanya “Apakah tuntutan dari kalangan Kedjawen diikuti oleh tokoh Oelama saat itu ?” Tanya H.Anwar

“ Apapun bunyi tuntutan dari kalangan Kedjawen, tidaklah mengurangi dukungan Oelama dan Santri serta rakyat pada umumnya terhadap Sjarikat Islam. Karena Oemar Said Tjokroaminoto, H.Agus Salim, Abdoel Moeis, Soejopranoto dan Wingjadisastra benar benar berjuang untuk merebut kembali kedaulatan. Tujuannya untuk menciptakan kemerdekaan politik dan kemerdekaan ekonomi. Tentu juga untuk membangun kembali kemerdekaan beragama yang tertindas oleh politik Kristenisasi “ ujar saya.

“ tergambar oleh saya situasi sekarang yang mirip dengan 100 tahun lalu, adanya Islam Nusantara yang menolak Islam Arab, adanya kelompok Banser yang bertentangan dengan FPI dan HTI “ ujar H.Anwar.

“Nah untuk itu umat Islam perlu hati-hati , jangan mau di adu domba oleh bangsa asing terutama Amerika dan China, karena mereka sebenarnya adalah teman baik. Kedua negara ini, Amerika dan China  sebenarnya punya tujuan yang sama, yaitu menghancurkan para jihadist di masing-masing Negara mereka. Itulah sebabnya ketika pemerintah China meluluh lantahkan pejuang suku Uighur yang mayoritas muslim itu, Amerika diam saja, Amerika tidak teriak-teriak HAM, berbeda kalau hal ini terjadi di Negara lain. China itu adalah teman baik Amerika dalam perjuangan melawan para jihadist yang membahayakan dunia ini. Karena sama seperti Amerika, Negara-negara Eropah, Israel, Thailand, Phillippina dan Negara-negara lainnya, China itu sangat anti-Syariah karena Syariah adalah bahaya laten yang harus dihabiskan “ tutur saya.

“ Jadi sebenarnya bangsa kita Indonesia telah sejak zaman Kolonial Belanda Umat Islam ini di adu domba “ kata H.Anwar.

“ benar sekali, seperti kata Mansur Suryanegara dalam “Api Sejarah I” (Mansur, 2015:409-411), sejak tahun 1920 atau setelah Perang Dunia I ( 1914-1919) selesai, barulah pemerintah Kolonial Belanda mulai melancarkan provokasi dan politik devide et impera, terutama terhadap Sjarikat Islam. Mula mula mempertentangkan ajaran Kedjawen dan Kesoenden dengan Islam, serta mengembangkan pertentangan prasangka etnis. Mereka juga membenturkan Sjarikat Islam dengan PKI, dalam masalah ideology Islam dan Ideologi Komunis.

Tidak luput pula untuk dijadikan objek perpecahan adalah Oelama. Hubungan antara Ahli Soennah wal Djamaah dengan kalangan penganut wahabi diretakkan melalui pertentangan masalah furu’ atau masalah khilafiyah.

Prasangka suku ditumbuhkan pula diantara pimpinan partai politik, yaitu antara pimpinan yang bersuku Jawa dan suku Minang. Dalam tubuh PKI dikembangkan pertentangan antara Samaoen, Darsono dari suku Jawa, dengan Tan Malaka dari suku Minang yang akhirnya Tan Malaka keluar dari PKI. Dalam tubuh Persjerikatan Nasional Indonesia (PNI,1927) dibenturkan antara Soekarno (Jawa) dengan M.Hatta (Minang), antara Sartono (Jawa) pendiri Partai Indonesia (Partindo,1931) dengan Muhammat Hatta dan Sutan Syahril Pimpinan Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru, 1932) padahal mereka sama sama nasionalis. Menyusul pula perpecahan antara Mr.Sartono (Jawa) dengan Moehammad Yamin (Minang). Keduanya pimpinan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo,1937).

Dalam organisasi juga diciptakan pengimbangannya, misalnya Pesjarikatan Moehammadijah (1912) di Yogyakarta dengan perhimpunan Seloso Kliwon yang kemudian menjadi Taman Siswo (1922). Untuk mengimbangi Persjerikatan Oelama di Majalengka di Jawa Barat (1915 , dikembangkan Igama Djawa Pasoendan atau Agama Djawa Soenda (ADS) di Cigugur Kuningan (1920).

Agama Djawa Soenda atau Igama Djawa Soenda, didirikan oleh Sadewa yang lebih dikenal dengan nama Madrais. Menurut Madrais, Islam sebagai agama hanya untuk orang Arab dan bukan untuk orang Djawa dan Sunda. Organisasi kebathinan ini kerjanya meyebarkan intimidasi terhadap para pendukung Sjarikat Islam, Persjarikatan Moehammadjah, dan Persatoean Islam (Persis)

Selanjutnya, baik P.S.I.I maupun P.N.I terkena dampak politik devide et impera pemerintah kolonial Belanda.” Terbelahlah umat Islam dan bangsa Indonesia ketika dan harus menunggu untuk mewujudkan kemerdekaannya.

Kelahiran PKI dalam tubuh Syarikat Islam yang kemudian membuat SI terbelah menjadi SI Merah dan SI Putih adalah bagian dari politik devide et impera pemerintah kolonial Belanda. Ini tentu menguntungkan Belanda. Pada gilirannya ajaran teologi ideologi Islam akan tergantikan dengan ideologi marxist yang mengajarkan ateisme.”ujar saya

“ Ondeh, paniang ambo mandanganyo pak H.Saiful, iyo hampir mirip dengan kondisi dan situasi sekarang. Tabayang dek ambo Gus Nuril Arifin  Husein yang ceramah di Gereja hingga menyembah berhala dan ketua umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas” Ujar H.Anwar

“ Itulah, dari peristiwa sejarah dari 100 tahun lalu sampai sekarang,hendaknya umat Islam secara khusus, dan secara umum bangsa Indonesia berhati-hati. Kita tentu tidak mau konflik yang ada di antara internal umat dan anak bangsa dibiarkan begitu saja sehingga akan ditunggangi oleh pihak ketiga.

Di era reformasi sekarang ini, politik adu domba masih menjadi pilihan favorit dan eksis dari agama atau Negara lain untuk melumpuhkan Islam dengan strategi memasarkan kebebasan, demokrasi, kesetaraan, HAM, dan pluralisme.

Tentu umat Islam wajib menyadari bahaya politik ini sekaligus melakukan serangkaian usaha untuk menjaga kesatuan dan persatuan kaum muslim dengan cara menjadikan akidah Islam sebagai pondasi pengikat seluruh kaum muslim dimana pun berada “ sebut saya mengakhiri.

Saiful Guci _ 30 Oktober 2018.