“Meningkatkan Profesionalisme Guru Menuju Pendidikan Abad 21”

Ciloteh Tanpa Suara- “ Apakah pak Saiful Guci adalah seorang guru ?. Karena status pak Saiful hari ini adalah : “Menjadi guru bukanlah pekerjaan tetapi pelukis masa depan. Menjadi guru bukanlah pengorbanan tetapi penghormatan, Saya juga seorang guru mohon dibagilah pengalamannya” ujar Nofriyani kepada saya.

“Setiap orang itu adalah guru, setiap rumah adalah sekolah kata Kihajar Dewantara. Bagi saya menjadi guru bukan pekerjaan tetapi penghormatan dalam melukis masa depan, dirumah saya ada sekolah PAUD Kasiah Bundo . Dulu dimana saya bertugas sebagai Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) menjadi penghormatan sebagai seorang guru. Di Taeh Bukit Tahun 1983 suka mengajar Pramuka dan Menari, di MTs S  Batu Balang 1986 -1988 suka mengajar Fisika dan Biologi, Disamping sebagai PPL di Kecamatan Pangkalan diwaktu sengang juga pernah di SMP 3 Gunung Malintang 1993-1995 suka mengajar Budaya Alam Minang Kabau dan Keterampilan Pertanian serta Biologi. Di Payakumbuh pada Fakultas Pertanian UMSB di Tahun 1999-2005 suka mengajar Dasar-dasar Agronomi dan Sosiologi Pertanian, dan di STIT Payakumbuh suka juga mengajar Keminangkabaun dan Kewiraswastaan  2004-2006 dan juga pernah mengampu pelatihan Agroforestri di IPDN Baso di tahun 2009-2011 itulah lukisan masa depan dan murid saya sudah banyak yang berhasil dengan masa depannya“ ujar saya kepada Nofriyani.

“ Banyak juga pengalaman Pak Saiful sebagai guru honorer ?” ujar Nofriyani

“ yang saya suka menjadi seorang guru adalah senantiasa mendidik dan memberikan ilmu, sehingga menjadikan generasi penerus yang beradab dan memiliki wawasan yang luas dikemudian hari. Tidak memandang jarak,waktu dan tenaga,seorang guru dengan penuh ketulusan melewati hari-harinya untuk memberikan ilmunya dan mendidik anak-anak Bangsa dalam rangka mencetak generasi yang cerdas untuk Indonesia tercinta. Kita begini dan sukses karena jasa seorang guru. Apalah jadinya kita tanpa seorang guru. “ Jawab saya

“ Benar sekali Pak Saiful Guci, kita tidak akan sukses tanpa seorang Guru. Guru bagaikan dian penerang dalam gulita. Kita bisa membaca, menulis, dan berhitung karena diajari guru. Kita bisa mendapat pekerjaan layak, guru jualah yang mengantarkannya. Kita bisa berkreasi, berinovasi, dan berwirausaha, tetap guru yang memiliki andil besar. Tanpa guru, kita tak akan bisa seperti ini Apalagi kedepannya kita akan menghadapi bonus demografi maka peran guru semakin berat ” jawab Nofriyani.

“Dalam menghadapi Era Bonus Demografi, pendidikan merupakan salah satu sektor penting yang harus ditingkatkan oleh pemerintah karena pendidikan berkaitan sekali dengan sumber daya manusianya itu sendiri .Dengan jutaan penduduk yang produktif maka sangat diperlukan berbagai kemampuan atau keahlian sumber daya manusia tersebut dalam menghadapi dunia kerja, untuk menopang banyaknya jumlah penduduk yang tidak dan belum produktif tersebut.

Bonus demografi ini merupakan modal dasar bagi pembangunan. Berdasarkan data BAPPENAS, diproyeksikan pertambahan penduduk Indonesia sebesar 237.7 juta di tahun 2010 menuju 271 juta penduduk pada tahun 2020 dan secara fantastis jumlah penduduk Indonesia ditahun 2035 sebesar 305 juta. Mayoritas penduduk Indonesia yang dicatat BAPPENAS diatas adalah mereka yang tergolong usia produktif dan interval usia produktif sebagian besar diisi oleh usia muda. Dalam studi demografi ada pengertian tentang dependency burden (beban ketergantungan) dimana kualitas penduduk mampu menekan beban ketergantungan sampai tingkat terendah yang berguna untuk mendongkrak pembangunan ekonomi. Namun bukan berarti kelompok usia produktif ini dapat memberikan dampak yang positif, justru sebaliknya dapat menjadi beban negara seperti permasalahan pengangguran dan minimnya kesempatan kerja akibat proporsi yang tidak seimbang antara jumlah angkatan kerja dengan tingkat partisipasi angkatan kerja. Oleh karena itu, perlu ada kebijakan yang dapat mempersiapkan segala dampak dari perubahan demografi. Kebijakan tersebut juga tidak hanya mampu memberikan perluasan kesempatan kerja, melainkan juga mampu meminimalisir ketimpangan dalam pembagian pendapatan.” Ujar saya.

“ Ya Pak Saiful generasi yang mengikuti CPNS sekarang inilah yang nantinya mempunyai andil dimasa era global ini. Nantinya, keunggulan sebuah negara tidak lagi diukur dari melimpah ruahnya sumber daya alam yang dimiliki, tetapi diukur dari kualitas sumber daya manusianya. Tahun 2040 kita mendapatkan bonus kependudukan (Demografy Deviden). Artinya dalam kurun waktu tersebut banyak penduduk yang berusia produktif. Puncaknya diperkirakan terjadi pada tahun 2025 Tahun 2030 Indonesia diprediksi akan menjadi salah satu dari 6 kekuatan ekonomi dunia.” Balas Nofriyani

“ Memang berat tugas Guru menghadapi era bonus demografi apalagi dalam menuju abad ke21, karena untuk menuju ke sana dibutuhkan 115 juta tenaga trampil (skill worker). Ini harus diisi tenaga dari Indonesia. Kalau tidak maka akan diisi orang-orang ekspatriat. Di sinilah peran, kedudukan, dan fungsi guru diuji. Para guru memiliki tanggung jawab yang besar dalam mengelola bonus kependudukan. Di pundak guru masa depan bangsa ini dipertaruhkan. Mereka diharapkan mampu menyiapkan skill worker berdaya saing global. Salah satu ciri tenaga trampil yang memiliki daya saing internasional adalah pintar dan sehat. Sehat tapi tidak pintar maka akan menjadi beban negara. Karena mereka tidak memiliki kompetensi yang signifikan untuk disumbangkan kepada bangsa dan negara.Pintar tapi tidak sehat juga menjadi beban. Karena mereka sakit terus sehingga tidak bisa mengaplikasikan ilmu yang dimilikinya.

Bonus Demografi bisa menjadi peluang emas yang sangat baik bagi Indonesia ,namun tergantung dari sejauh mana strategi pemerintah untuk menyiapkan angkatan kerja yang berkualitas. Kualitas disini antara lain mencakup peningkatan  kualitas pendidikan, kualitas kesehatan dan kualitas gizi. Akan tetapi Bonus  Demografi juga bisa menjadi ancaman yang mengakibatkan bencana bagi Indonesia, jika Indonesia tidak siap dengan jumlah penduduk produktif yang berlimpah jumlahnya. Bila ini terjadi maka pengangguran akan berlimpah dan secara tidak langsung akan menjadi beban pemerintah dan akan menimbulkan masalah besar di masyarakat. Pengangguran bisa menjadi  pencetus tindakan kejahatan di masyarakat dan sangat meresahkan. Masyarakat tidak akan merasa nyaman dan tenang dengan kondisi seperti itu.

Peran guru disini sangat penting, untuk menghasilkan generasi yang cerdas dan bermartabat. Diperlukan arahan dan bimbingan yang lebih serius lagi menghadapi kondisi dimasa yang akan datang. Tidak sedikit anak-anak di negeri ini yang memiliki kecerdasan yang luar biasa, namun itu semua bisa menjadi tidak istimewa dan bermanfaat bilamana tidak diarahkan dan ditempatkan pada posisi yang sebenar-benarnya. Malas masih menjadi kebiasaan sebagian orang, padahal mereka memiliki kapasitas yang baik untuk bisa menciptakan sesuatu yang bermanfaat untuk Negeri Indonesia yang tercinta ini. Disinilah, bagaiamana peran guru sebagai pendidik, motivator, teladan, pembimbing, pendorong kreativitas, senantiasa memberi semangat agar peserta didik semakin termotivasi meningkatkan potensi dirinya, yang sangat dimungkinkan mereka justru nantinya bisa  membuka lapangan kerja yang luas dan bukan lagi mencari pekerjaan. Apalagi  menghadapi Era Bonus Demografi yang tidak lama lagi, jangan sampai kita terlena dan pada akhirnya menjadi bencana bagi Indonesia.

Keberhasilan guru dalam memberikan pendidikan yang optimal kepada para peserta didik akan menjadi solusi bagi Bangsa Indonesia menghadapi Era Bonus Demografi. Dalam hal pendidikan masih saja ada rakyat miskin yang tak tersentuh program wajib belajar 9 tahun. Jadi, tak mengherankan kalau ada anak di negeri ini yang lebih memilih bekerja dalam usia dini karena mahalnya biaya pendidikan. Oleh sebab itu pemerintah harus serius menjadikan pendidikan sebagai kekuatan yang berpotensial sebagai pilar utama pembangunan nasional (Sumber Daya Manusia).

Begitu besar peran yang harus diemban oleh seorang guru dalam mendidik dan menciptakan generasi yang berkualitas menghadapi Bonus demografi. Peran yang begitu berat dipikul di pundak guru hendaknya tidak menjadikan  guru mundur dari tugas mulia tersebut. Peran-peran tersebut harus menjadi tantangan dan motivasi bagi para guru untuk terus memaksimalkan kualitas mengajar. Dia harus menyadari bahwa masyarakat sangat memerlukan peran guru untuk kemajuan bangsa. Bila tidak, maka suatu masyarakat tidak akan terbangun dengan utuh, penuh ketimpangan dan akhirnya masyarakat tersebut bergerak menuju kehancuran.

Untuk semua guru di tanah air tercinta ini, sungguh jasamu luar biasa. Syair di bawah ini cukuplah menjadi salah satu tanda betapa pentingnya peranan guru dalam mengarahkan anak didiknya menjadi yang terbaik, termasuk dalam menghadapi bonus demografi.

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Engkau sabagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa

Maju bersama Guru untuk Indonesia tercinta!
Guru terus maju, Indonesia akan maju!

Saiful Guci, 24 Nofember 2018