SEJARAH LAMBANG DAERAH KABUPATEN LIMA PULUAH KOTA

0
118

Ciloteh Tanpa Suara – Sekarang ini banyak logo atau lambang Daerah  Kabupaten Lima Puluh Kota beredar dan dipakai yang salah  sebagai  kop surat Dinas maupun logo yang digunakan oleh website resmi  Dinas di Pemerintah  Kabupaten Lima Puluh Kota dan sudah dipakai pula oleh advertising di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluhkota dalam pembuatan spanduknya.  Bahkan lambang daerah yang salah ini dipakai untuk logo gonjonglimo, logo kalender DPRD, logo di Porprov, logo disekolah-sekolah. Dan sampai sekarang Pemerintah daerah belum ada yang meluruskannya agar memakai lambang daerah yang benar.

Sebuah lambang daerah merupakan cermin dari sebuah daerah itu sendiri karena biasanya dipakai sebagai kop surat dan disematkan pada baju sebagai logo Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan di jahitkan pada baju para Aparatur  Sipil Negara, wali nagari dan para olahragawan di  Kabupaten Lima Puluh Kota dan sebagai plakat daerah untuk cindera mata.

Bahar Rahman Perumus Lambang Kabupaten Lima Puluh Kota Pertama

Sejarah Lambang Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota perlu diketahui oleh generasi muda mendatang. Pada tahun 2008, semasa penulis sebagai Kabag Humas Kabupaten Lima Puluh Kota bercerita panjang dengan bapak Bahar Rahman (Toko Bahar Stempel) di tokonya lantai I pasar bertingkat blok timur Kota Payakumbuh dengan mengeluarkan beberapa arsip surat tentang peran dia sebagai pencipta lambang Kabupaten Lima Puluh Kota pada tahun 1966.

Pada tahun 1966 dengan adanya niat untuk pemekaran Kota Payakumbuh menjadi kota madya, maka Pemerintah Kabupaten 50 Kota melakukan sayembara pencipta lambang daerah Kabupaten 50 Kota/ Kota Madya  Payakumbuh . Panitia perumus lambang ini diketui oleh  Achmad Samad,BA dengan Surat Keputusan Bupati Nomor : 5209/XV/10-66, tanggal 29 Juli 1966 tentang syarat-syarat Umum bagi lambang Daerah Kabupaten 50 Kota/Kota Madya Payakumbuh. Banyak peserta yang ikut bagian pada waktu itu salah satunya adalah Bahar Rahman.

Berdasarkan  Panitia Perumus Lambang Nomor : 565/BLK/1966, tanggal 7 September 1966 tentang Lambang terbaik dan telah memenuhi syarat untuk lambang Kabupaten 50 Kota terpilih adalah lambang hasil ciptaan Bahar Rahman dan untuk Lambang Kota Madya Payakumbuh adalahhasil ciptaan  C.Israr yang anggota DPRD masa itu dengan hadiah utama Rp.500,- (Lima Ratus Rupiah) dan nomor dua adalah Chatib Sahar dengan mendapat hadiah Rp.100,- (Seratus Rupiah). Demikian , penjelasan Lambang Kabupaten 50 Kota Ciptaan Bahar Rahman almarhum.

Riwayat Hidup Bahar Rahman

Bahar Rahman lahir tahun 1929 di Tanjung Bonai Lintau Kabupaten Tanah Datar. Setelah tamat Volkschool di Tanjung Bonai tahun 1940 melanjutkan ke Vorvolkschool di Lintau 1943 di masa Jepang. Setelah Seinendan di Tanjung Bonai 1944, tahun 1946 menjadi TKI/TRI di Payakumbuh.

Pada Tahun 1949 ikut PWT, Ksatria Coursa, serta KPU A dan B di Kota Payakumbuh. Selama di Payakumbuh membuka usaha reklame dan seni lukis diberi nama SABA. Pada tahun 1985 dalam rangkaian  peringatan HUT RI tahun 1985 memperoleh penghargaan dalam prestasi menciptakan lambang  Daerah Lima Puluh Kota yang ditanda tangani oleh Bupati Djoefri. Sementara Toko Bahar yang menjual alat-alat tulis sampai sekarang  masih ada yang dijalankan oleh anaknya Evarizon Bahar.

Makna, Arti dan Isi Lambang buatan Bahar Rahman

A.Bentuk

  1. Bentuk Elips, melambangkan demokrasi menurut kalimat “Bulek sagolong, picak satapiak”. Pinggirnya terdiri dari lingkungan-lingkungan bersambung sebanyak 45 buah dengan arti 50 Kota dilingkungi (dibenteng) UUD 1945 dan dengan tafsiran lain, bahwa 45 adalah asal ninik dari kata-kata “LUAK LIMA PULUAH” yang artinya KURANG LIMA PULUH.

Menurut Tambo Alam Minangkabau, nenek moyang Luak Limo Puluah ini dulunya berasal dari Pariangan Padang Panjang sebanyak 50 rombongan, setibanya di sebuah Padang hilang 5 (lima) orang, tingal lagi 45 orang . Tanya bertanya, semuanya menyatakan Antah (entah), maka tempat tersebut sampai sekarang dnamakan Padang Siantah. Karena kurang dari 50 orang, maka disebutlah Luak Limo Puluah (kurang dari Limopuluah). Ternyata kemudian 5 orang yang dinyatakan hilang tersebut sampai di 5 Koto Kampar dan menjadi orang tertua pula disana.

2. Dua buah garis hitam sejajar yang membentuk pinggirnya lingkungan-lingkunagn bersambung tadi, melambangkan kegotongroyongan, yakni “ KEBUKIT SAMA MENDAKI, KELURAH SAMA MENURUN”

B.Padi dan Kapas

  1. Padi dan Kapas lambang kemakmuran .Berdikari dalam soal sandang dan pangan bukan saja sekarang para petenun telah berkembang dengan pesatnya, malah sudah sejak dahulu kala.
  2. Padi sebanyak 20 butir, terdiri dari 3 jalur, dua jalur dibagian dalam yang pertama dan kedua sebanyak 13 butir, berarti disini dahulunya ada 13 Kelarasan, jalur ketiga ditepi sebanyak 7 butir, berarti 7 Kecamatan.
  3. Daun Kapas sebanyak 17 helai, dan buahnya sebanyak 8 buah. Jumlah unsure sandang pagan seluruhnya 45 potong (Daun Kapas 17 helas + 8 buah Kapas+ 20 butir padi) yang melukiskan angka 17-8-45 yang kita keramatkan itu.

C.Warna Dasar

  1. Biru, menandakan ramah tamah, airnya jernih ikannya jinak.
  2. Merah, ksatria berani karena benar, bersedia berkorban kalau kehormatan dan martabat disinggung orang apalagi kalau Pancasila di injak-injak orang.
  3. Putih kesucian, taat beragama bahkan 50 Kota dahulu kala terkenal sebagai tempat sumber ilmu agama ke mana-mana, ingat saja Darul Fununel Abbasiyah Padang Japang, Perguruan Islam di Batu Hampar dan di Tungkar, Ma’had Islamy dan Training College dll sebagainya dengan dibanjiri oleh penuntut ilmu dari Aceh Serambi Mekah, dai Siak Sri Indrapura, dari Lampung, Sumatera Selatan dan sebaganya.
  4. Kuning, alamnya yang kaya, dalam tanahnya terpendam biji emas
  5. Hijau,tanahnya yang subur menjadikan daerahnya terkenal dengan gambir dan tembakaunya.

D. Pintu Gerbang rumah adat Minangkabau dengan warna hitam, ialah perlambang adat nan tak lakang di paneh dan tak lapuak dek hujan, hitam tahan sasah, putiah nan tahan cuci.

E.Bintang Lima berwarna kuning, Pancasila yang dijunjung tinggi yang diamalkan dan dipertahankan. Itulah dia Kabupaten Lima Puluh Kota “ terang Bahar Rahman.

Revisi Lambang Lima Puluh Kota

Pada bulan  Januari 1970 dilakukan revisi bersama C.Israr yang pada waktu itu menjabat Ketua DPRD Gotong Royong Kabupaten 50 Kota. Dimana  Bentuk Elips yang pinggirnya terdiri dari lingkungan-lingkungan bersambung sebanyak 45 buah  dan dua garis hitam dihapus dan dibuat bentuk elips (oval) saja. Kapas tetap berjumlah delapan, sementara padi dijadikan 17 Butir. Sementara pada ruang kiri bawah berwarna putih diberi tambahan gambar Gunung dan Sungai dan kemudian di sebelah Kanan bawah berwarna merah diberi gambar kepala Kambing Hutan hal ini meniru Lambang Kabupaten Agam yang ada gambar binatang Harimaunya.

Sebelum dijadikan Perda disampaikan serta disosialisasikan kepada masyarakat . Terjadi polimek di bulan Januari 1970 dimana banyak tokoh masyarakat yang tidak setuju dengan gambar kepala hewan Kambing Hutan dan akhirnya gambar Kepala Kambing Hutan ditukar dengan gambar “Carano” oleh C.Israr. Lambang 50 Kota yang telah dilakukan revisi kemudian diundangkan melalui Peraturan Daerah Nomor 2/Prt/DPRD-GR/LK-70, tanggal 14 Februari 1970. Dan pada tanggal 28 Maret 1970 C.Israr selaku Ketua DPRD-GR memesan  kepada Bahar Rahman untuk memperbanyak stempel dengan logo yang telah dirobah tersebut. Sejak di awal Orde Baru, di Aula Kantor DPRD dan di Aula Kantor Bupati  terpampang besar billboard yang terbuat dari Triplek Lambang Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota berikut penjelasannya yang dibawahnya tertulis “C.Israr” tanpa ditulis Ketua DPRD Lima Puluh Kota.

Arti  Lambang Kabupaten Limapuluh Kota

Lambang Daerah Kabupaten Lima Puluh Kota setelah revisi mempunyai arti sebagai berikut

  1. BENTUK DASAR OVAL : Melambangkan jiwa persatuan, Bulek Sagolongan, Picak Salayangan, Barek Samo Dipikua, Ringan Samo Dijinjiang.
  2. WARNA BIRU : Melambangkan sifat ramah tamah dan setia,  aianyo janiah ikannyo jinak, Sayaknyo Landai, Dalam nan indak Taajuk, Dangkanyo Nan Indak Tasubarangi, buayonyo gadang nan maunikan..
  3. WARNA MERAH PUTIH : Melambangkan Bendera Kebangsaan.
  4. WARNA KUNING, alamnya yang kaya, dalam tanahnya terpendam biji emas
  5. WARNA HIJAU,tanahnya yang subur menjadikan daerahnya terkenal dengan Pertanian Dan Perkebunannya.
  6. PADI 17 BUTIR : Melambangkan Lima Puluh Kota sebagai daerah agraris yang menghasilkan padi sebagai bahan pangan pokok bagi rakyat.
  7. KAPAS 8 BUAH: Melambangkan bahwa rakyat Lima Puluh Kota suka bertenun menghasilkan sandang.
  8. GUNUNG dan SUNGAI : Melambangkan bahwa daerah Kabupaten Lima Puluh Kota alamnya bergunung-gunung dan bersungai-sungai.
  9. CARANO : Melambangkan jiwa musyawarah, Tuah Sakato, Cilako Basilang.
  10. RUMAH BAGONJONG LIMO : Melambangkan Adatnya nan Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah nan indak Lakang dek Paneh, Indak Lapuak dek Hujan.
  11. BINTANG PERSEGI LIMA : Dengan warna Kuning adalah Lambang Ketuhanan Yang Maha Esa.
  12. TULISAN 50 : Mengingatkan pada sejarah asal usul sebabnya daerah ini dinamakan Luhak Limo Puluah.

Keterangan sejak otonomi daerah di tahun 1998 tulisan KABUPATEN 50 KOTA diganti dengan tulisan KABUPATEN LIMA PULUH KOTA

Lambang Daerah Lima Puluh Kota yang salah

Sejak tahun 2010 dan dengan adanya website Pemerintah Daerah Lima Puluh Kota, Lambang daerah ini dipakai tanpa menghiraukan kaedah sejarah arti Lambang Daerah Limapuluh Kota

Kesalahan terhadap logo yang dipakai adalah :

1.Warna bintang segi lima berwarna putih seharusnya berwarna KUNING

2.KAPAS berjumlah 16 buah, seharusnya berjumlah 8 buah dan bentuknya tidak seperti semula lagi.

3.PADI berjumlah 24 buah, seharusnya 17 buah

4.WARNA BIRU TUA seharusnya BIRU MUDA

  1. Begitu juga bentuk gambar rumah ADAT dan tulisan 50 di tengahnya.

Apa mau dikata, terpaksa kita meluruskan LAMBANG LIMAPULUH KOTA  ini supaya tidak ada lagi yang salah mempergunakannya yang dapat dipergunakan oleh advertising di dua kota ini. Semoga Bupati baru mempunyai perhatian. MOHON MAAF….. untuk advertising pakailah logo limapuluhkota yang ada pada baju dinas PNS

Saiful Guci- Pulutan 24 Februari 2021