Ciloteh Tanpa Suara-“ Pak Saiful, lai jadi datang ke Sawah Lunto pada peringatan hari jadinya ke – 130 pada hari Sabtu 1 Desember dan semoga dibuatkan pula sejarahnya dalam Ciloteh Tanpa Suara” Tulis teman saya Desnawita dari Sawah Lunto dalam kotak percakapan.

Kemudian saya jawab “ sawah alun tau, lun tau, lun tau lai “ jawab saya.

“ baa kok jawab pak Saiful Sawah alun tau, lun tau, lun tau lai” balas Desnawita

“ masak urang Sawah Lunto, tidak tau bahwa asal kata “lunto” berasal dari kata ”lun tau” dengan logat yang khas daerah Sawah Lunto dengan menyebutkan dengan cepat  kedengarannya menjadi ”Lunto”. Tulis saya.

“ Iyo alun tau bana Des tuu, sebab saya dari kecil hidup tidak di kampung” balas Desnawita

“Sawah Lunto berasal dari suku kata yaitu ”sawah” dan ”lunto”. Kedua suku kata yang dimaksud merujuk kepada sawah yang terletak di sebuah lembah yang dialiri oleh sebuah anak sungai yang bernama ”Batang Lunto”, yang sekaligus juga berfungsi untuk mengairi areal persawahan itu. Anak sungai itu berhulu di lembah bukit-bukit ”Nagari Lumindai” di sebelah Barat, lalu mengalir ke ”Nagari Lunto” dan terus mengairi areal persawahan itu yang dimiliki oleh anak Nagari Kubang.

Masyarakat Nagari Lunto meyakini bahwa kata ”lunto” itu berasal dari sebuah legenda tentang sebuah pohon besar yang berbunga. Pohon itu berada di pinggir jalan yang selalu dilintasi oleh penduduk Nagari Kubang dan Nagari Lunto. Pohon besar yang berbunga itu selalu menjadi pusat perhatian dan tanda tanya baik setiap orang yang melewatinya. Setiap kali orang menanyakan nama pohon tersebut, maka dijawab oleh penduduk setempat secara singkat dan cepat dengan ungkapan ”luntau”. Ucapan kata ”luntau” yang cepat dengan logat yang khas daerah tersebut kedengarannya menjadi ”Lunto”. Padahal luntau yang dimaksudkan dalam bahasaMinangkabau lengkapnya adalah “alun tau”. Kata “alun tau” kalau dibahasa Indonesiakan bermakna belum tahu. Jadi, apa sebenarnya nama pohon itu tidak seorangpun yang mengetahuinya. Luntau yang kedengarannya lunto itu lama kelamaan melekat pada nama daerah itu, yaitu nagari lunto. Demikian pula halnya dengan sungai yang melintasi daerah itu diberi nama dengan Batang Lunto.” Balas saya.

“ OOo begitu ceritanya, maklum Des sejak kecil sudah merantau dengan keluarga, belum pernah mendengar cerita itu, ohya tentang sejarahnya hari jadi Kota Sawah Lunto bagaimana ceritanya ? “ Tanya Deswita kembali.

“Pertengahan abad ke-19, Sawahlunto hanyalah sebuah desa kecil dan terpencil, yang berlokasi ditengah-tengah hutan belantara, dengan jumlah penduduk ± 500 orang. Sebagian besar penduduknya bertanam padi dan berladang di tanah dan lahan yang sebahagian besar permukaan tanahnya tidak cocok untuk lahan pertanian sehingga Sawahlunto dianggap sebagai daerah yang tidak potensial.

 

Dalam Rekonstruksi pencatatan sipil dari SAWAH LOENTO dari situs web Richard Davies HCCnet berbahasa Belanda dan di artikan adalah .  Pada tahun 1868, Ombilinkolenveld yang penting ditemukan oleh insinyur pertambangan W.H. De Greve, yang pada tahun 1866 didakwa oleh pemerintah dengan survei pertambangan-geologi dari Negara-negara Bagian Atas Padang. Tidak lama setelah ia datang ke Sungai Ombilin untuk mencari kehidupan setelah inklusi dilanjutkan oleh insinyur pertambangan. R.D .M. Verbeek, yang melaporkan di ladang batubara di Buku Tambang Pertambangan 1875. Berdasarkan undang-undang 28 Desember 1891, diputuskan bahwa eksploitasi akan dilakukan secara sementara oleh Negara. Pada 1892, pembangunan percobaan dibangun.

Awalnya, hanya kerja paksa yang digunakan. Karena posisi tambang yang terisolasi hampir tidak ada bahaya pelarian dan membuat biaya produksi rendah! Produktivitas per pekerja jelas sangat rendah. Selain itu, ini melibatkan banyak kejahatan serta perlawanan terhadap otoritas yang hadir, karena perumahan sangat menyedihkan. Pekerja paksa tinggal di barak besar dan kondisi kerja serupa.

Mereka bekerja tanpa alas kaki dan tidak memakai helm. Sebagai aturannya, para pengawas memiliki lingkungan yang sama dan tidak menyimpan tongkat. Setelah 1914, reputasi Ombilin membaik. Ada lebih banyak lagi kuli yang dibayar, selain para pekerja paksa, tidak ditempatkan di barak pendingin tetapi di rumah-rumah keluarga kecil. Secara bertahap Ombilin kehilangan nama menjadi tempat pengasingan “ terang saya

Kemudian” Setelah ditemukannya Batubara di Sawahlunto oleh geolog Belanda Ir. W.H.De Greve tahun 1867, maka Sawahlunto menjadi pusat perhatian Belanda. Pada tanggal 1 Desember 1888 ditetapkan keputusan tentang batas–batas ibukota Afdeling yang ada di Sumatera Barat. Penentuan Ibukota Afdeling itu sudah barang tentu berkaitan erat dengan daerah-daerah yang berada diwilayah itu. Oleh karena itu pada tanggal 1 Desember 1888 dapat dikatakan bahwa Sawahlunto mulai diakui keberadaannya dalam administrasi pemerintahan Hindia Belanda sebagai bagian dari wilayah Afdeling Tanah Datar pada Masa itu. Nah tanggal 1 Desember 1888 inilah yang diambil oleh Pemerintah Daerah untuk menetapkan Hari jadinya.

Foto: Polisi Belanda Menjaga Tambang Batu Bara Sawah Lunto, sumber KITLV

Batubara mengantarkan Sawahlunto sebagai catatan penting pemerintah Hindia Belanda Pembukaan Tambang Batubara Sawahlunto tahun 1891 merupakan asset terpenting bagi pemerintahan Kolonial Belanda, karena tingginya permintaan dunia akan batu bara sebagai sumber energy di abad penemuan Mesin Uap di Eropa Barat. Apalagi cadangan deposit Batubara Sawahlunto diperkirakan mencapai angka 205 juta ton. Cadangan batubara itu tersebar diantaranya daerah Perambahan, Sikalang, Sungai Durian, Sigaluik, Padang Sibusuk, Lurah Gadang dan Tanjung Ampalu.

Sawah Lunto di Zaman Belanda

Kecamatan Sawah Lunto yang merupakan bagian dari Kabupaten Tanah Datar pada tahun 1908 terkenal sebagai Kepala Pemerintahannya adalah :

Kontrolir : JA. Einthoven/ NJ Van Den Brandhof

Ketua Landrad : Mr.HGP Duyfjes

Jaksa: Ajung Bagindo Rajo

Ajung Jaksa : Usman Paduko rajo

Penghulu : Haji Muhammad Thaib

Kepala Lareh Silungkang : Jaar Sutan Pamuncak

Kepala Lareh Padang Sibusuak : Badu Rahim Sutan Marah Indo

Kepala lareh Talawi : Suwit Rajo Bujang

Kemudian Reorganisasi Pemerintahan besar besaran tahun 1914 dengan dihapusnya kelarasan, Sawahlunto masuk Afdeling Tanah Datar. Onderafdeling sawahlunto dengan Demang Marzuki Datuk Bandaro Panjang, terbagi atas :

  1. Onderdistrik Sawah Lunto (Silungkang, Durian, Sapan dan Kubang Lunto) langsung dibawah Demang Sawah Lunto.
  2. Onderdidtrik Padang Sibusuak (Batu Manjur, Pamuatan dan Koto Baru) langsung dibawah Demang Sawah Lunto.
  3. Onderdistrik Talawi (dengan Kolok) Asisten demang Gani Sutan Basa.

Pada waktu itu jumlah pekerja mencapai ribuan orang, selain itu ada hampir seratus orang Belanda atau Indo yang menjadi pimpinan perusahaan, ahli dan staf kunci lainnya. Sejumlah pekerja itu menimbulkan terjadinya konsentrasi penduduk, karena selain membawa keluarga juga mengundang pendatang. Sehingga terciptalah kegiatan perekonomian yang berkaitan dengan usaha pelayanan seperti tukang cuci, tukang cukur, pelayanan kesehatan, pemilik dan pekerja warung, penjual barang keperluan keluarga dan sebagainya. Terlebih lagi pihak perusahaan tambang mencoba memberikan pelayanan yang sebaiknya agar pekerjanya betah tinggal di kota yang relatif terisolasi pada waktu itu, dengan menyelenggarakan hiburan, fasilitas pendidikan, rumah sakit yang memadai, bahkan pasar malam yang dilaksanakan secara rutin. Ditambah dengan keberadaan orang Belanda dengan fasilitasnya yang eklusif, menjadikan Sawahlunto menjadi alasan yang kuat untuk menetapkan Sawahlunto menjadi kota yang mempunyai administrasi sendiri atau hak desentralisasi dengan status Gementee berdasarkan Stadsblaad Van Nederlansch Indie pada tahun 1918. Penyelenggaraan kota dilakukan oleh Stadesgemeenteraad (DPRD) dan Burgemeester (Walikota).

Sawah Lunto di Zaman Kemerdekaan

Pada zaman kemerdekaan Pemerintah Gemeente itu diatur oleh Peraturan Residen Sumatera Barat Nomor 20 dan 21 tahun 1946 tentang Pemerintahan Nagari dan Kelembagaan Daerah. Pada tanggal 10 Maret 1949 diadakan rapat dengan hasilnya pusat pemerintahan Afdeling Solok yang dahulunya berada di Sawahlunto di bagi menjadi Kabupaten/Sawahlunto Sijunjung dan Kabupaten Solok. Maka pemerintah Stad Gemeente Sawahluntodirangkap oleh Bupati Sawahlunto/Sijunjung.

Kemudian berdasarkan Undang-undang Nomor 18 tahun 1965 status Sawahlunto berubah menjadi Daerah Tingkat II yang berdiri sendiri dengan sebutan Kotamadya Sawahlunto dengan Walikota pertama Achmad Noerdin, SH terhitung mulai 11 Juni 1965 melalui surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor Up. 15/2/13-227 tanggal 8 Maret 1965.

Seiring perkembangan wilayah dan kependudukan di Kotamadya Sawahlunto dikeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1990 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Sawahlunto, Kabupaten Daerah Tingkat II Sawahlunto/Sijunjung dan Kabupaten Daerah Tingkat II Solok, dimana batas wilayah Kotamadya Dati II Sawahlunto diperluas meliputi seluruh wilayah Kecamatan Talawi Kabupaten Dati Sawahlunto/Sijunjung yang terdiri dari 17 Desa, sebagian wilayah Kecamatan Sawahlunto Kabupaten Daerah Tingkat II Sawahlunto/Sijunjung terdiri dari 11 Desa dan sebagaian wilayah Kecamatan X Koto Diatas Kabupaten Daerah Tingkat II Solok terdiri dari 11 Desa.

Setelah lebih satu abad lamanya batubara sebagai sumber daya yang tidak dapat diperbarui itu kian menipis dan tidak lagi memberikan harapan sepenuhnya seperti masa lalu. Bagi kehidupan kota dan penduduk Kota, Kota Sawahlunto terancam menjadi kota mati, tapi kehidupan kota dengan segala pendukungnya mesti terus berlanjut. Alternatif diperlukan sebagai jalan keluar terhadap pemecahan masalah tersebut. Pamor Kota Sawahlunto sebagai kota pertambangan batubara pun mulai memudar seiring dengan semakin menipisnya deposit batubara/open pin.

Berdasarkan kondisi tersebut diatas Pemerintah Kota bersama stakeholder kota terus mencari alternatif lain sehingga Kota Sawahlunto tidak menjadi kota mati. Kota Sawahlunto menolak untuk menjadi sekedar kota kenangan. Pemerintah beserta elemen masyarakat Kota Sawahlunto, telah merancang strategi lain yaitu dengan menjadikan Kota Sawahlunto sebagai Kota wisata dengan menonjolkan dua potensi wisata yang menjadi kekuatannya, Wisata Tambang dan Wisata Sejarah Kota Lama.

Dengan memanfaatkan Bekas tambang serta peninggalan bangunan Belanda yang banyak di Sawahlunto menjadikan kota Sawahlunto menjadi kota yang unik karena itu segenap jajaran Pemerintah Kota dan DPRD bersama stake holder kota lain merumuskan Visi Kota Sawahlunto yang dituangkan dalam Peraturan Derah Kota Sawahlunto Nomor 2 Tahun 2001 yaitu “Kota Sawahlunto Tahun 2020 Menjadi Kota “Wisata Tambang Yang Berbudaya”.

Wisata Tambang

Pembangunan Tambang Sawah Lunto terkenal dengan TENAGA PAKSA MANUSIA RANTAI. Karena pekerjanya banyak dari tahanan politik Belanda pada masa itu. Salah satu bekas pertambangan batubara yang masih terdapat di Sawahluntoadalah Lubang Mbah Soero. Lokasi tepatnya di Tangsi Baru Kelurahan Tanah Lapang, Kecamatan Lembah Segar. Lubang ini kembali dibuka pada 2007 oleh pemerintah daerah setelah melalui beberapa kali pemugaran untuk keperluan pariwisata. Saluran air dan udara ditambahkan agar pengunjung dapat memasukinya dengan nyaman.

Mbah Soero adalah nama seorang mandor yang dulu bertugas di sini. Ia dikenal sebagai seorang pekerja keras, tegas, dan disegani oleh para buruh dan orang-orang di sekitarnya. Namanya kemudian diabadikan sebagai nama lubang ini sejak dibuka kembali beberapa tahun silam.

Lubang Mbah Soero memiliki tinggi dan lebar sekitar 2 m. Kedalamannya mencapai 15 m dari permukaan tanah, dengan total panjang lubang mencapai ratusan meter. Panjang terowongan yang bisa diakses hanya 30 meter saja karena sebagiannya masih dipugar.

Pintu keluar Lubang Mbah Soero berada di seberang jalan, berhadapan dengan museum atau yang disebut sebagai Galeri Infobox. Tak jauh dari sini, terdapat bangunan lain yang juga menyimpan sejarah manusia rantai, yakni Museum Goedang Ransum. Museum ini dulunya merupakan dapur umum yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1918 untuk mensuplai makanan bagi para pekerja tambang dan pasien di rumah sakit. Di sini tersimpan banyak peralatan masak berukuran besar, seperti kuali, wajan, tempat nasi, dan sebagainya.

SELAMAT HARI JADI SAWAH LUNTO KE-130

Saiful Guci, 1 Desember 2018

SHARE