RUMAH GADANG SAMBILAN RUANG ADALAH KIASAN NAMA SURGA

0
1174

Ciloteh Tanpa Suara-“ Saya minggu besok mau pulang kampung ke Pariangan Padang Panjang, kalau ada waktu datanglah Pak Saiful Guci kerumah saya “ ujar pak Edy Haridin Angku Datuak Rangkayo Sati saat saya bertamu ke rumahnya di Jakarta.

“ pulang kampuang ka Pariangan untuak mancaliak rumah gadang sambilan ruang dan tanah nan den cinto nagari terindah di dunia, In Sya Allah apabila ada waktu saya akan singah karena saya belum pernah ke Nagari Pariangan “ Jawab saya.

Kemudian Elfian Chandra Sutan Parpatiah teman bercerita menyela “ Rumah gadang, nan sambilan ruang, Rangkiang baririk di halamannyo itu adalah kiasan Surga yang ada dalam lirik lagu minangkabau“ sela Elfian Chandra Sutan Parpatiah kepada kami

“ baa pulo caritonyo, bahwa rumah gadang nan sambilan ruang adalah kiasan Surga?” Tanya saya.

“Kekuatan orang minangkabau dalam membuat karya sastra adalah terletak pada kato atau kata. Kata adalah sesuatu kekuatan budaya yang dominan di dalam pergaulan bertata kerama di Minangkabau. Bila seseorang tidak mengerti dengan kiasan dan ujung kata yang ditujukan kepadanya, maka ia dipandang sebagai orang “kurang” atau orang yang rendah pikir, sehingga digambarkan dengan ungkapan berikut: “tak tahu di rundiang kato putuih, tak tahu di kieh kato sampai”

Mari kita simak lirik lagu Minangkabau tersebut “ Ujar Elfian Chandra Sutan Parpatiah asal Maninjau.

Kami secara spontan bernyanyi bersama sama lagu Minangkabau;

Minangkabau …, tanah nan den cinto
Pusako bundo dahulunyo
Rumah Gadang …, nan sambilan ruang
Rangkiang baririk di halamannyo

Reff :

Jikok den kana hati den taibo
Tabayang bayang di ruang mato
Jikok den kana hati den taibo
Tabayang bayang di ruang mato

Rumah Gadang …, nan sambilan ruang
Rangkiang baririk di halamannyo

Setelah kami bernyanyi bersamama-sama. Elfian Chandra Sutan Parpatiah berkata “Mari kita simak, kata Minangkabau tanah nan den cinto bisa saja di kiaskan nabi Adam dan Siti hawa yang dulu tinggal di Surga yang kemudian diturunkan ke dunia , dan bisa juga merupakan kiasan dari anak manusia yang semula berasal dari saripati tanah, kemudian di kandung dalam rahim ibunya selama 9 bulan 10 hari dan lahir kedunia . Dan selama manusia hidup didunia, banyak yang terlena oleh kehidupan dunia dan melupakan kehidupan akhirat padahal dunia ini merupakan tempat yang hina penuh dengan tipu daya dan senda gurau belaka. Didunia hanya mencari kesenangan dengan bergelimang harta emas, perak rumah bagus yang digambarkan dengan rumah gadang nan sambilan ruang, rangkiang baririk di halamannyo.” Ujar Elfian Chandra Sutan Parpatiah.

Kemudian saya teringat sebuah nasehat “ Saya pernah baca sebuah nasehat tertulis yang disampaikan oleh Imam Hasan al-Bashri rahimahullah kepada Imam Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, beliau berkata: “Sesungguhnya dunia adalah negeri perantauan dan bukan tempat tinggal yang sebenarnya, dan hanyalah Adam Alaihissallam diturunkan ke dunia untuk menerima hukuman akibat perbuatan dosanya”  ujar saya.

Kemudian  dikuatkan oleh Edy Haridin Angku Dt.Rangkayo Sati “ Benar sekali, dunia adalah tempat persinggahan sementara dan sebagai ladang akhirat tempat kita mengumpulkan bekal untuk menempuh perjalanan menuju negeri yang kekal abadi itu. Barangsiapa yang mengumpulkan bekal yang cukup, maka dengan izin Allah Azza wa Jalla dia akan sampai ke tujuan dengan selamat, dan barang siapa yang bekalnya kurang maka dikhawatirkan dia tidak akan sampai ke tujuan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan sikap yang benar dalam kehidupan di dunia dengan sabdanya: “Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan”.

Hadits ini sebagai nasehat bagi orang beriman, bagaimana seharusnya dia menempatkan dirinya dalam kehidupan di dunia. Karena orang asing (perantau) atau orang yang sedang melakukan perjalanan adalah orang yang hanya tinggal sementara; tidak terikat hatinya pada tempat persinggahannya, serta terus merindukan kembali ke kampung halamannya. Demikianlah keadaan seorang Mukmin di dunia yang hatinya, selalu terikat dan rindu kembali ke kampung halaman yang sebenarnya, yaitu surga tempat tinggal pertama kedua orang tua kita, Adam dan istrinya Hawa, sebelum mereka berdua diturunkan ke dunia. “ Terang Edy Haridin  Angku Dt.Rangkayo Sati.

“Coba bayangkan, arti kiasan dari rumah gadang sambilan ruang adalah sembilan nama surga tempat yang kita tuju setelah kematian” ujar Elfian Chandra Sutan Parpatiah.

“ Bukankah nama Surga hanya tujuh” sela saya

“ Seperti gambaran rumah gadang sembilan ruang yang indah dan bagus, surga juga punya sembilan ruang yang telah disebutkan dalam Alquran yang siap menanti orang yang bertaqwa nantinya. Tidak pernah terbayangkan bagaimana indahnya Surga oleh akal manusia. Meskipun tidak pernah tahu wujudnya, tapi kerinduan pada surga semakin membuncah seiring dengan meningkatnya keimanan seseorang.

Adapun surga memiliki sembilan nama. Hal itu sudah dijelaskan dalam Al quran sebanyak Sembilan ruang, mulai dari Darussalam , Jannatul Khuld, Jannatul Ma’wa, Darul Muqamah, Jannatu ‘And, Maq’adu Shidq,Qadamu Shidq, Al-Maqamul Amin dan  Jannatun Na’im “ Ujar Elfian Chandra Sutan Parpatiah .

“ memang jauh kiasan, dari lagu minangkabau ini” ujar saya menyela

Elfian Chandra Sutan Parpatiah berkata “ coba kita lanjutkan lagu tersebut, …” bilo den kana den kana, hati den taibo yo taibo, tabayang bayang di ruang mato”. Maksudnya, di hari tua ini kita instropeksi diri, bahwa hidup di dunia hanya senda gurau belaka. Umur telah tua, kita pertanyakan pada diri , apa yang telah kita perbuat, apakah cukup bekal untuk menempuh kampung akhirat.

Di dunia kita banyak harta, rumah gadang sambilan ruang dengan rangkiang baririk dihalamanyo. Untuk menuju  Surga  apakah kita punya rangkiang (bekal) ilmu yang bermanfaat, sadakah jariah, dan anak yang soleh untuk mendoakan kita kelak.

Kita kenang terus dengan hati penuh hiba. Jikok den kana hati den taibo. Tabayang  bayang di ruang mato.  iyo taibo, taibo. Kita menginginkan Surga, tetapi selama hidup diperantauan (dunia) kita lupa bahwa kunci surga itu adalah ibu kita, selama hidup kita lupa berbakti kepada ibu kita, umur kita hanya habis di parantauan saja (dunia) mengejar ilmu dan menumpuk harta saja, itu terus terbayang bagi kita apabila diresapi maka hati akan taibo (hiba). Di Minangkabau kaum ibu disebut bundo kanduang. “ ujar Ujar Elfian Chandra Sutan Parpatiah .

Kami kemudian terdiam, mungkin larut memikirkan dan mengingat terhadap ibu masing masing “ Surga itu dibawah telapak kaki  ibu” adalah kata kiasan betapa kita wajib mentaati dan berbakti pada ibu, mendahulukan kepentingan beliau mengalahkan kepentingan pribadi hingga diibaratkan letak diri kita bagaikan debu yang ada dibawah telapak kakinya bila kita ingin meraih Surga.

Air mata saya mulai menetes, hati mulai taibo, mengenang bakti seorang anak terhadap ibunya. Apakah selama hidup saya, cukup berbakti kepada ibu ?. Betapa besarnya jasa ibu buat saya yang rela menanggung beban penderitaan kala mengandung, menyusui serta mendidik anak-anak nya. Mau berbakti, ibu telah lama tiada, memang hati saya berduka, disiko hati nan taibo.

“ Surga itu dibawah telapak kaki ibu” arti dhahir-nya adalah para ibu keridhaannya yang mampu menghantarkan kedalam surga harus diraih dengan berprilaku rendah diri, patuh bagaikan meletakkan diri kita di bawah telapak kakinya.

Sebelum tidur baik lagu Minangkabau, terus terbayang , terbayang umur yang telah 56 tahun, terbayang akan kematian, terbayang akan amalan yang belum cukup, terbayang surga dan neraka dan terbayang azab yang akan menanti di akhirat kelak apabila amal tidaklah mencukupi.

Terbayang Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu yang telah mengingatkan hal ini dalam ucapannya yang terkenal: “Hisab-lah (introspeksilah) dirimu (saat ini) sebelum kamu di-hisab (diperiksa/dihitung amal perbuatanmu pada hari kiamat), dan timbanglah dirimu (saat ini) sebelum (amal perbuatan)mu ditimbang (pada hari kiamat), karena sesungguhnya akan mudah bagimu (menghadapi) hisab besok (hari kiamat) jika kamu (selalu) mengintrospeksi dirimu saat ini, dan hiasilah dirimu (dengan amal shaleh) untuk menghadapi (hari) yang besar (ketika manusia) dihadapkan (kepada Allah ta’ala):

“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Allah), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi-Nya).” (Qs. Al Haaqqah: 18).

Duhai, alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.” (Qs. Al Fajr: 24)

Sembilan Nama Surga Menurut Al Quran

Adapun surga memiliki sembilan nama. Hal itu sudah dijelaskan dalam Al quran, mulai dari Darussalam sampai Jannatun Na’im.

  1. Darussalam

“Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Rabbnya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan oleh amal-amal salih  yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 127).

Menurut para ulama, darussalam bermakna sebagai tempat yang terbebas dari hal kotor, yang membahayakan dan yang tidak disukai. Ada juga yang mengartikan ‘darullah’ karena As-Salam adalah salah satu asma Allah.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih, mereka akan mendapat surga-surga yang penuh kenikmatan.”

  1. Jannatul Khuld

“Katakanlah (Muhammad), “Apakah (azab) seperti itu yang baik , atau surga yang kekal yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa sebagai balasan, dan tempat kembali bagi mereka? (QS. Al-Furqan: 15).

Disebut dengan nama itu karena penduduk surga kekal tinggal di dalamnya. Tidak akan berpindah maupun mencari tempat lain selain surga.

  1. Jannatul Ma’wa

“(yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada  surga tempat tinggal.” (QS. An-Najm: 14-15).

‘Surga tempat tinggal’ pada ayat ini menggunakan lafal ‘jannatul ma’wa’.

  1. Darul Muqamah

“Dan mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami. Sungguh, Rabb kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Yang dengan karunia-Nya menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga); di dalamnya kami tidak merasa lelah dan tidak pula merasa lesu.” (QS. Fathir: 34-35).

  1. Jannatu ‘Adn

“Dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. Ash-Shaff: 12)

  1. Maq’adu Shidq

“Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada dalam taman-taman dan sungai-sungai di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.” (QS. Al-Qamar: 54-55).

‘Tempat yang disenangi’ itu disebut maq’adu shidq’, diartikan sebagai surga.

  1. Qadama Shidq

“Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang yang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Rabb kalian.”(QS. Yunus: 2)

Lafal ‘qadama shidq’ yang berarti ‘kedudukan yang tinggi’ dimaknai sebagai surga.

  1. Al-Maqamul Amin

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam tempat yang aman.” (QS. Ad-Dukhan: 51).

Surga disebut sebagai ‘Al-Maqamul Amin’ atau ‘tempat yang aman’.

  1. Jannatun Na’im

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih, mereka akan mendapat surga-surga yang penuh kenikmatan.” (QS. Luqman: 8).

Pulutan, Saiful Guci 11 November 2018.

SHARE