PATUNG RAKSASA ADITYAWARMAN DI MUSEUM NASIONAL

0
579

Ciloteh Tanpa Suara-Saat berkunjung ke Museum Nasional Republik Indonesia yang dulunya bernama Museum Gajah yang terletak di Jakarta Pusat persisnya di Jalan Merdeka Barat 12, bertemu dengan arkeolog muda Alfa Noranda.

Kami berdua jalan-jalan mengelilingi museum dan tepat pada patung raksasa Adityawarman kami terlibat diskusi panjang terhadap patung raksasa ini yang ada kaitannya dengan bumi Minangkabau.

Patung raksasa yang ditemukan disekitar tahun 1930 oleh penduduk Padang Roco ditepian Sungai Langsat, Darmasraya, Sumatera Barat. Bentuk Arca seperti petinggi kerajaan, lengkap dengan mahkota, kalung, kelat bahu, dan gelang tangan. Ukurannya bak raksasa. Posisinya membawa mangkuk di kiri dan dan belati di kanan.

Patung raksasa , saat ditemukan dalam posisi tumbang, menyongsong hilir. Arca terbelah menjadi dua bagian. Satu bagian alas, dan satu bagian tubuh. Setelah disatukan, tinggi arca itu mencapai 4,41 meter dan beratnya sekitar empat ton.

Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BG), perkumpulan ilmiah orang-orang Belanda di Indonesia yang digagas tahun 1700-an langsung mendatanginya. Arca itu pun diangkat, dan sempat dibawa ke Kebun Margasatwa Bukittinggi. Baru sekitar tahun 1937 ia dipindahkan ke Batavia (Jakarta) dengan kapal  laut.

Alfa Noranda menuturkan, tidak ada sejarah yang menarik dari penemuan arca Bhairawa selain tafsirannya. “Yang dipercaya sampai sekarang adalah tafsiran dari seorang sejarawan Belanda. Disebutkan, arca Bhairawa merupakan perwujudan Adityawarman, yang kebetulan menganut agama Budha aliran Tantrayana.

“Itu masih kemungkinan ya, tidak ada prasasti yang membuktikan. Hanya karena menurut Negara Kertagama, ada Kerajaan Malayu di sana,” tutur Alfa Noranda lagi, menjelaskan. Jika benar, artinya arca Bhairawa dibuat pada abad ke-14.

Alfa Noranda melanjutkan, Adityawarman adalah panglima Kerajaan Majapahit. Ia diutus untuk ekspedisi ke Darmasraya, Sumatera tahun 1347. Di sana, Adityawarman dijadikan raja Pagaruyuang . Wujudnya pun diabadikan menjadi patung raksasa yang kini bertengger di Museum Nasional.

Kini, arca bernama Bhairawa itu pun berdiri tegak di salah satu ruang utama Museum Nasional, dan menjadi salah satu daya tarik pengunjung untuk berfoto. Sambil mendekati patung raksasa tersebut, kami berfoto berdua dan kembali memperhatikan patung raksasa tersebut yang memegang mangkuk dan ada delapan tengkorak yang ada di bawah kakinya.

Saya teringat cerita bersama Asbir Dt. Rajo Mangkuto di Simarasok, Agam. Mangkuk yang dipegang Bhairawa, biasanya digunakan sebagai tempat untuk minum darah. Delapan tengkorak yang ada di bawah kaki Bhairawa, menunjukkan bahwa ia telah mengorbankan banyak manusia.

Adityawarman setiap daerah taklukannya,dia melakukan Moksa upacara hewajra, dalam ritual tersebut Adityawarman diibaratkan telah menuju kepada tingkat ksetrajna. Salah satu upacara untuk Budha Tantrayana. Upacara dilakukan untuk mencapai titik tertinggi. Diatas puing reruntuhan  yang penuh dengan mayat, dia bermabuk mabukkan, memakan benak, daging, minum darah manusia dengan batok kepala orang sebagai cawannya. Gadis gadis dia setubuhi secara perkasa, dan kemudian dia bunuh. Pekerjaan itu dia lakukan lebih kurang seminggu  lamanya. Upacara itu dilakukan dengan ketawa besar terbahak-bahak, dengan musik pukulan tulang manusia.Upacara semacam itu biasanya dilakukan di tanah lapang yang terbuka.

Upaca Moksa , diyakini sebagai upacara penghapus dosa dan melancarkan roh menuju nirwana oleh seorang bhairawa, setiap waktu tertentu atau setelah mengalahkan musuh, seorang bhairawa harus melakukan upacara moksa. Molimo adalah ibadah tertinggi bhairawa untuk mencapai swarga. Upacara moksa dilakukan dengan lima M (molimo). Lima M itu ialah:

Matsya, pembacaan mantra mantra  dan dengan tarian telanjang bermusik pukulan tulang tulang manusia..

Mamsa, yaitu meminum darah, makan benak dan daging manusia dengan batok kepala orang sebagai cawan dan piringnya

Madya, menghilangkan dunia fana dengan bermabuk mabukan memasuki dunia bawah sadar bersama sang dewa dengan meminum tuak dan sebangsanya.

Maltina, melakukan hubungan sexual dengan keperkasaan.

Mudra, melakukan gerakan tangan menimbulkan tenaga dalam yang gaib.

Kembali saya dekati Arca Raksasa tersebut sambil mengingat catatan dari Asbir Dt.Rajo Mangkuto. Arca Adityawarman sesuai dengan sipat dan pembawaannya, penduduk setempat yang beragama Islam itu menamakannya barhalo. (berhala). Team peneliti arkeologi Nasional tahun 1992-1993 M menyimpulkan Arca Adityawarman yang ditemukan di Padang Roco sebagai berikut:

  1. Stella; latar belakang terdiri dari batu tebal dibuat datar halus, simetris, lengkung bagian atas.
  2. Prabha; dibelakang kepala arca sebelah kiri berada Ivala (lidah api) dan sebelah kana nada matahari.
  3. Makuta (mahkota); disebut “Jata Makuta” terdiri dari pintalan rambut yang berbentuk sorban, merupakan rambut Dhyani Budha Aksobya, sebagai teman roh menuju nirwana.
  4. Laksana; ditangan kanan dipegang pisau/keris. Ditangan kiri dipegang tempurung kepala orang untuk tempat makan benak dan minum darah.
  5. Kayura (kain selendang) terdiri dari seekor ular upawita yang melilit kedua bahu.
  6. Kankana (gelang); terdiri dari Ular Bhujanga Valaya yang melilit masing masing pergelangan tangan.
  7. Udara Bhanda (ikat pinggang); makhluk demon (binatang antah berantah) berkepala kala jengking.
  8. Bhusana; badan ditutup dengan kain petak petak yang bergambarkan tengkorak.
  9. Asana (tempat arca berdiri); Arca berdiri diatas bangkai telanjang yang terlipat di atas kaki.Bangkai telanjang terletak diatas delapan tengkorak manusia. Upacara ibadat bhairawa dilakukan diatas ksetra (kumpulan mayat).

Saat saya berkunjung ke Museum Nasional , berarti Arca Bhairawa Adityawarman ini , sudah 81 tahun berdiri memikat para pengunjung museum itu. Dan Duplikatnya juga ada di Museum Aditywarman di Padang.

Saiful Guci, 26 November 2018