PADANG PANJANG DISERANG BELANDA 21 DESEMBER 1948 MELALUI DUA ARAH SOLOK DAN PADANG.

0
528

Melalui tulisan kita mengenal sejarah PDRI dan Bela Negara.

Ciloteh Tanpa Suara – Mendapatkan foto dari Gahetna yang dikirimkan oleh Ikbal tentang foto-foto pergerakan tentara di India-Belanda KNIL-KL pada Agresi Militer Belanda II 19 Desember 1948 sd 23 Desember 1948 menuju Kota Bukittinggi. Pergerakan tentara India-Belanda ini, dari dua jurusan Padang- Solok-Bukittinggi  dan Padang- Padang Panjang- Bukittinggi . Foto ini melengkapi ilustrasi terhadap catatan sejarah dari pelaku sejarah pada masa PDRI yang penulis peroleh dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Yang belum ada pada buku Sejarah Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) atau buku Sejarah Perjuangan Kemerdekaan RI di Minangkabau 1945-1950).

KNIL adalah singkatan dari bahasa Belanda; het Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger, atau secara harafiah: Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Meskipun KNIL melayani pemerintahan Hindia Belanda, banyak di antara anggota-anggotanya yang adalah penduduk bumiputra di Hindia Belanda dan orang-orang Indo-Belanda, bukan orang-orang Belanda. Sementara orang eropah yang dijadikan sebagai tentara kerajaan India-Belanda disebut “Koninklijk Leger” atau “Tentara Kerajaan”, nama resmi tentara Belanda. Dan terkenal dengan sebutan Batalyon Andjing NICA yang beroperasi antara tahun 1945-1950, di bawah komando Administrasi Sipil Hindia Belanda (NICA).

Baca dulu :

  1. Bukittinggi di serang 19 Desember 1948,http://cilotehtanpasuara.com/blog/bukittinggi-di-serang-19-desember-1948/
  2. Situasi Kota Pariaman dan Kota Bukittinggi 19-21 Desember 1918. http://cilotehtanpasuara.com/blog/situasi-kota-pariaman-dan-kota-bukittinggi-19-21-desember-1948/

Serangan Tentera Belanda dari Solok

Pada tanggal 19 Desember 1948 pagi itu bukan saja Bukittinggi saja diserang oleh kapal-kapal terbang Belanda, tetapi tentera mereka telah mulai bergerak pula di seluruh front. Di front Timur, tentera Belanda mulai melancarkan serangan sejak Minggu dinihari 19 Desember 1948. Mereka menyerang Air Sirah. Serangan tentera Belanda ini mendapat perlawanan yang gigih dari pihak kita, sehingga pertempuran yang dahsyat terjadi. Sampai malam pertempuran berjalan terus dan pertahanan kita tidak dapat mereka tembus.

Tentera Belanda kembali melancarkan serangan secara besar-besaran, dilindungi oleh pesawat Mustang yang terus menerus menembaki garis pertahanan kita di sekitar Air sirah, Lubuk Gadang dan Lubuk Salasiah. Barulah pada sore tentera Belanda berhasil menduduki Lubuk Salasiah pada jam 18.00.

Sementara itu sejak pagi –pagi benar, kapal-kapal terbang Belanda telah membom dan memitraliur kota Solok, begitu juga jalan raya Solok-Padang Panjang. Sasaran utama dari serangan Belanda ini ialah di sekitar Singkarak dengan tujuan hendak menurunkan pasukan tentera payungnya di Tingkalak Kacang Ombilin. Gerakan lintas udara Belanda ini diikuti oleh pendaratan pasukan-pasukan dengan 3 kapal  pesawat Catalina lainnya di danau Singkarak dengan tujuan merebut kota kecil Singkarak yang hendak mereka jadikan sebagai “beach head”, batu loncatan bagi gerakan mereka selanjutnya. Sorenya mereka bergerak menuju kota Solok, tempat kedudukan Markas Resimen III Kuranji. Di Sumani mereka mendapatkan perlawanan gigih dari tentera kita, sehingga mereka terpaksa kembali mundur ke Tingkalak-Kacang di tepian danau Singkarak.

Dari catatan  Rasjidin Rasjid “ Sekelumit pengalaman saya waktu Agresi Militer Belanda ke II di Sumatera Tengah” menceritakan bahwa Kota Padang Panjang diserbu oleh tentera Belanda melalui dua jurusan Solok dan dari Padang.

Rasjidin Rasyid berpangkat Letda , pada Minggu 19 Desember 1948 sedang berada di Padang Panjang bertugas melatih kompi-kompi infanteri di Kota Padang Panjang. Pada pagi itu Kota Padang Panjang mendapat serangan dari pesawat oleh tentera Belanda.

Komandan Resimen VI Mayor Kemal Mustafa, menugaskan Rasyidin Rasyid bersama temannya yang senama dengannya Letda Rasyidin Rasyid  memimpin SATU PELETON Brimob dan beberapa regu pasukan Infentri bersama pasukan Markas untuk melakukan serangan mendadak ke Singkarak dengan persenjataan lengkap dengan bren-gun dan tekidanto (mortir).

Dalam perjalanan menuju Singkarak diperoleh kabar bahwa Belanda telah menduduki Singkarak, bahkan telah sampai di Batu Taba. Serangan di alihkan ke Batu Taba dan diatur tepat jam 00.00 malam dilakukan serangan kepada tempat peristirahatan tentera Belanda di batu tebal dengan didahuli tembakan mortar. Namun mortir pada malam itu tidak dapat meledak dan macet tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Dalam pada itu, Mayor Syafei dari CPM telah memperkuat kedudukan pasukan Rasyidin Rasyid dengan beberapa anak buahnya.

Pasukan dibagi dua jurusan, pertama menyerang melalui bukit dan kedua menyerang melalui pinggir danau Singkarak. Serangan mendapat perlawanan oleh tentera Belanda. Ternyata Belanda telah memperkuat posnya di Batu Taba dengan senapan mesin berat. Pasukan terpaksa mundur, walaupun tidak dapat mengusir Belanda, namun Belanda telah mengetahui bahwa keberadaan mereka tidak aman di Batu Taba

Pada pagi-pagi Senin 20 Desember 1948, dengan kekuatan penuh karena pasukan Belanda dari Solok telah datang, tentera Belanda  melanjutkan serangannya dengan seluruh kekuatannya menuju Padang Panjang.

Sementara itu di kala pasukan kita melancarkan serangan kapal-kapal terbang musuh terus meraung-raung di udara, mengadakan pengintaian terhadap pasukan kita. Kira-kira jam 15.00 sore munculah iring-iringan tentera musuh yang panjang di dahului oleh alat –alat besar dan kereta berlapis baja yang mereka pergunakan untuk menyingkirkan rintangan-rintangan di tengah jalan.

Pasukan kita tidak berdaya untuk bertahan terhadap serangan musuh secara besar-besaran itu, sedangkan senjata yang kita harapkan, ternyata tidak banyak membantu pula. Pasukan kita menyingkir ke bukit-bukit, beristirahat buat sementara.

Dalam usahanya merintangi musuh secara besar besarn ini, pasukan kita semalam suntuk berusaha membuat rintangan di jalan-jalan dan Letda Rasyidin Rasyid berusaha meruntuhkan jembatan dengan dinamit. Ternyata alat peledak tidak mencukupi, sehingga jembatan itu hanya rusak ringan. Dengan bantuan seluruh rakyat, untuk membuat rintangan dengan menebang pohon-pohon dan dibelintangkan di tengah jalan. Tetapi belanda telah menggrakkan seluruh kekuatan, maju ke Padang Panjang. Pasukan Brimob dengan semangat bernyala-nyala mengadakan perlawanan, namun terpaksa mundur karena tekanan-tekanan berat dari pihgak Belanda yang juga mempergunakan kapal-kapal terbang.

Rintangan di jalan-jalan mudah saja mereka bersihkan dengan bulldozer. Dengan bantuan 4 buah kapal terbang Mustang yang memuntahkan pelurunya secara membabi buta, pasukan Belanda bergerak maju. Sesudah melancarkan perlawanan yang gigoh, pihak kita terpaksa mundur menyusun kekuatan kembali. Letnan II Rasyidin Rasyid dari Kompi Markas mundur ke daerah Batu Sangkar. Pasikan Brimob dan sebagian dari kesatuan infanteri bersama-sama Letnan II Rasyiddin Rasyid (Pelatih) dan Letnan Sofinar yang ikut bergabung mundur ke Padang Panjang.

Serangan Tentera Belanda dari Padang

Pasukan Belanda dari frons Utara setelah melintasi Tapakis, terus mengadakan tekanan-tekanan, serangan atas pertahanan kita. Gerakan tentera Belanda langsung dihadapi oleh Batalyon I Resimen VI yang bermarkas di Kayu tanam, dipimpin oleh Letnan I Hasan Basri sebagai Komandannya. Batalyon ini mempunyai wilayah dan tanggung jawab pertahanan sepanjang kri kanan jalan raya Tapakis-Kampung Tangah di Lembah Anai.

Senin 20 Desember 1948 Belanda melancarkan serangan ke Sintuak, Pauh Kamba, Kurai Taji dan Pariaman. Kayu Tanam pada Senin itu juga mulai di bumi hanguskan. Kantor camat dan Kantor Pos Pembantu yang ada di Pasar Kayu Tanam di bakar.

Selasa 21 Desember 1948, terjadi tembak menembak di sebelah barat jalan kereta api di Kayu Tanam. Pasukan Belanda hendak mengepung asarama bergerak dari belakang Rumah Sakit .Pos pertahanan di kapalo Hilalang tidak dapat menahan gerakan musuh dengan tanknya dan setelah terjadi tembak menembak, mengundurkan diri kearah Tandikek. Menjelang sore pasukan telah banyak sampai di Lembah Anai dan disana diadakan dapur umum untuk menyediakan makan bagi pasukan yang belum makan.

Di sore tersebut, datang beberapa orang perwira, diantaranya Mohammad Nur Komandan Kompi Bakapak, Sofinar (awak) , Darwis, Mahyudin Algamar dari Kompi Bakapak, Nurdin Jain  dari Kompi Barayun, menemui Hasan Basri.

Sementara itu pada tanggal 21 Desember 1948 sore hari pasukan kita telah melakukan perlawanan di Lembah Anai. Tetapi pada jam 16.00 sore hari diterima kabar, bahwa tentera Belanda telah bergerak dari Kubu Karambie kea rah Padang Panjang dengan kekuatan besar di dahului oleh pasukan tank dan dilindungi oleh kapal-kapal terbang dan jam 17.30 Padang Panjang dapat mereka duduki.

Dalam pada itu, letnan Zaghlool Zen dari Staf reseimen VI di Padang Panjang pada jam 16.40 sore tanggal 21 Desember 1948 memberangkat sebuah lokomotif dengan tiga buah gerbong kosong batu bara dari stasiun Padang Panjang dengan tujuan Lembah Anai dikemudikan seorang masinis, stoker dan dua orang tukang rem. Dengan tujuan sebelum Kampung Tangah kereta tersebut akan dilepas untuk jalan sendiri dan meluncur yang akhirnya diperkirakan meluncur sendiri dengan kecepatan yang tidak terkendalikan, dan di duga akan jatuh terguling di sekitar tempat menjelang Lembah Anai yang kan menghalangi jalan raya dan jalan kereta api. Rupanya tank-tank pengintai Belanda senja itu telah berhasil melewati Lembah Anai dan telah maju sampai ke kampung Tangah.

Melihat dikeremangan senja ada kereta api yang datang, belanda mengira membawa bala bantuan kita, tank-tank musuh menghujani lokomotif dan gerbong  dengan tembakan-tembakan senjata mesin yang mengakibatkan lokomotif dan gerbong penuh denganlobang-lobang peluru. Uap panas menyembur keluar mengenai Letn.Zaghloel, Masinis dan Stoker. Untung kereta api sedang dalam keadaan lambat dan kesempatan ini oleh pejuang-pejuang tersebut dipergunakan melompat ke dalam parit yang ada di samping rel kereta api. Letn Zaghloel pingsan di dalam parit selama beberapa jam dan setelah sadar ingat akan kawan seperjungan, masinis, stoker dan tukang rem tidak ada lagi di sana, barulah Letn Zaghloel dengan kesakitan karena mukanya terkena semburan uap panas meninggalkan tempat dengan tertatih tatih menyusur anak sungai dengan ingat menuju daerah Singgalang dan Koto Laweh. Dua hari kemudian dia bertemu Letn. Andjung di Koto Laweh yang selanjunya membawanya menuju Balingka untuk mendapat pengobatan di Koto Gadang. Padang Panjang di duduki Belanda pada tanggal 21 Desember 1948.

Saiful Guci, Pulutan 21 Desember 2018.