ORANG MINANGKABAU PENYEBAR AGAMA ISLAM DI PALU DAN DONGGALA

0
145

Ciloteh Tanpa Suara- Di saat saya duduk di lobby hotel Bumi Minang Padang, sambil menonton TV One yang masih menayangkan tentang korban tsunami Palu dan Donggala, disamping saya duduk lelaki sekitar umur 40 an , kemudian saya bertanya “ apa kegiatan kesini ? “ Tanya saya.

“ oh ya, saya menginap disini, kami rombongan ada pertemuan bisnis dan travel “ jawabnya singkat

Kami pun mengobrol panjang lebar tentang Kota Palu dan Donggala.

“ Saya sedih pak, melihat tayangan TV tentang Tsunami di Kota Palu, karena saya berasal dari Kota Palu. Keluarga saya yang berada di Palu banyak yang jadi korban. Tetapi, keluarga saya tidak berada lagi di Kota Palu, karena telah merantau, ibu bapak dan adik-adik semuanya berada di Jakarta.” Jawab M.Riad namanya sambil memperkenalkan diri dan saya perkenalkan pula nama saya Saiful Guci.

“ karena saya bergerak di biro travel perjalanan dan wisata, bagi orang dari Sumatera Barat yang saya bawa ke Kota Palu selalu saya sampaikan, kalaulah tidak oleh orang minangkabau menyebarkan agama Islam ke Kota Palu tidaklah orang kampung saya beragama Islam “ terangnya.

“ ohya sangat menarik, coba pak M.Riad ceritakan , karena saya sangat suka dengan sejarah” ujar saya.

M.Riad sambil sekali melihat tayangan TV One. Ia pun kemudian menceritakan, Datuk Karama adalah seorang ulama asal Minangkabau, Sumatera Barat yang pertama kali menyebarkan agama Islam ke Kota Palu pada abad ke-17. Awal kedatangan Datuk Karama, menurut dia, bermula di Kampung Lere yang saat ini telah menjadi Kelurahan Lere, Kecamatan Palu Barat.

Pada masa itu, masyarakat asli Suku Kaili masih menganut kepercayaan animisme yang mereka sebut “tumpuna”, di mana mereka mempercayai adanya makhluk yang menunggui benda-benda yang dianggap keramat.

“Namun dengan metode dan pendekatan yang persuasif serta wibawa dan kharismanya yang tinggi, syiar Islam yang dilakukan Datuk Karama melalui ceramah-ceramah pada upacara-upacara adat suku tersebut, akhirnya secara perlahan dapat diterima oleh masyarakat.

Kedatangan Datuk Karama saat itu pada masa Kerajaan Kabonena, yang Rajanya saat itu Ipue Nyidi. Selanjutnya Datuk Karama melakukan syiar ke Raja Kabonena Ipue Nyidi. Perjuangan Datuk Karama ternyata  akhirnya berhasil mengajak Raja Kabonena, Ipue Nyidi beserta rakyatnya masuk Islam. Dan dikemudian hari Ipue Nyidi dikenang sebagai raja yang pertama masuk Islam di Palu.

Selanjutnya Datuk Karama melakukan syiar Islamnya ke wilayah-wilayah lainnya di Palu yang dihuni oleh masyarakat asli Suku Kaili . Wilayah-wilayah itu, meliputi Palu, Kabupaten Donggala, Sigi, Parigi Moutong, dan Tojo Una-Una,” sebutnya.

Diceritakan Datuk Karama, beserta keluarga dan pengikutnya tidak kembali lagi ke tanah kelahirannya di Minangkabau, dan lebih memilih bertahan di Palu untuk menyebarkan agama Islam.

“Sampai meninggal dunia, Datuk Karama serta keluarganya dan pengikutnya juga di Palu,” ungkapnya.

Diketahui, setelah wafat, jasad Datuk Karama dimakamkan di Kelurahan Lere. Dan tidak hanya itu, di dalam areal makam juga terdapat makam istrinya yang bernama Intje Dille dan dua orang anaknya yang bernama Intje Dongko dan Intje Saribanu serta makam para pengikut setianya yang terdiri dari 9 makam laki-laki, 11 makam wanita, serta 2 makam yang tidak ada keterangan di batu nisannya.

Terus berjalannya waktu, akhirnya makam Syekh Abdullah Raqie atau yang lebih dikenal dengan sebutan Datuk Karama dibenahi dengan kontruksi rumah Gadang khas Minang dan dijadikan sebagai cagar budaya sekaligus obyek wisata religi oleh Pemkot Palu dan dijaga oleh sekeluarga juru kunci, yakni Aziz Muhammad bersama keluarganya.

Sedangkan untuk mengenang dan menghormati jasa-jasa Datuk Karama di Palu, Pemkot Palu menamai salah satu perguruan tinggi di Palu, yakni IAIN dengan nama IAIN Datuk Karama Palu. Selain itu, masih banyak juga peninggalam Datuk Karama yang hingga saat ini masih digunakan warga Palu, salah satunya alat musik tradisional Suku Kaili yang disebut Kakula, itu sama dengan alat musik tradisonal Talempong di Minangkabau.

Sayapun menyela” wah, kalau ada waktu dan biaya saya sangat tertarik untuk datang mengunjungi Makam Syekh Abdullah Raqie Datuk Karama tersebut “ ujar saya

Kemudian M.Riad bertanya “ ohya , bapak dari mana dan bekerja di mana ?” Tanya M.Riad

“ Saya dari Payakumbuh dan bekerja di Sekretariat DPRD Limapuluh Kota “ jawab saya singkat.

“ wah kebetulan pak, orang Payakumbuh atau dulunya dikenal dengan orang Luhak Limopuluah sangat berjasa di Provinsi Sulawesi Tengah, pasalnya Provinsi Sulawesi Tengah adalah pecahan dari provinsi induknya yaitu Sulawesi Utara-Tengah pasca berakhirnya pemberontakan Permesta.

Orang dari Luhak Limopuluah lah yang menjadi Gubernur Sulawesi Tengah pertama, yang bernama Anwar Datuk Madjo Basa Nan Kuning . Ia resmi menjabat Gubernur Sulawesi Tengah sejak tanggal 13 April 1964 setelah serah terima dari Gubernur Sulawesi Utara-Tengah, F.J Tumbelaka. Menjabat selama 4 tahun Pada tanggal 22 Januari 1968 ia digantikan oleh Mohammad Yasin  “ terang M.Riad

“ wah banyak sekali pengetahun sejarah dari pak M.Riad tentang orang minangkabau hubungannya dengan masyarakat Sulawesi Tengah” Ujar saya.

“ ini adalah tuntutan pekerjaan sebagai yang bergerak pada jasa biro travel untuk pariwisata, ohya disamping itu Gubernur ke-4 Provinsi Sulawesi Tengah yakni Brigjen Moenafri SH juga berasal dari Sumatera Barat, tepatnya dari Padang Panjang yang menjabat satu tahun, yakni dari 28 September 1978  22 Oktober 1979.  Kemudian rektor Universitas Tadulako pertama adalah Drh. Nasri Gayur juga berasal dari Sumatera Barat dimana Universitas ini berdiri pada  8 Mei 1963. “ pungkas M.Riad.

Dari cerita kita mengenal sejarah, tiada tempat yang tidak dapat diceritakan.

Setelah dibaca jangan lupa  dibagikan

Padang, 1 Nopember 2018. Saiful Guci