Ciloteh Tanpa Suara-“ Vidio apo nan batonton asik bana pak Syamsul duduak sendirian ? “ Tanya saya kepada Pak Syamsul

“ menonton lagu minang, mangana parasaian kalaulah tuo co iko, kini tibo digiliran ambo “ jawab pak Syamsul sambil memperlihatkan video lagu ratok rang tuo kepada saya. Kamipun menonton bersama sama sambil membaca lirik lagu Ratok Rang Tuo

Sajaknyo badan kini lah tuo
tinggi rasonya pandakian
hati didalam acok taibo
takana untuang parasaian

Mato lah kabua kok tulang kini lah lamah
bajalan jauah indak badayo lai
jangeklah kanduah kok tagak kini lah goyang
tungkek sabatang kini dibaok patang jo pagi

kok lai baranak ado nan mam baleh guno
mujuah lah untuang ado nan mambari makan
tapi kok nyampang dapek anak nan durako
sakik kasia yonan dikaduklan

tamanuang katiko duduak surang
rasonyo hiduik dak ka lamo lai
aiah mato jatuah balinang
baalah nasib diakhiraik nanti

sajak mudo badan disaso parasaian
alun mancubo marasokan hiduik sanang
amal ibadah acok pulo talalaikan
baitu bana yo nasib badan nan malang

panyakik tuo kini ko tambah taraso
salero patah badan nan tak sanang lai
manantik datang yo mauit nan ka mambao
hutang ka Tuhan nan alun tabayiah lai

diduniah marasai…diakhiraik mungkin
ka sansaii…mak oiiii……………..

Selesai lagu, kami terlibat pembicaraan tentang nasibnya

Apo kegiatan sekarang , pak ? Tanya saya pada lelaki tersebut. Dengan santai dia menjawab, bahwa kegiatanya sekarang “MANCILOK KALAPAU”. Saya heran mendengar jawabannya,” Apa itu Mancilok Kalapau, pak ?, tanya saya padanya.

“Kegiatan saya  sekarang adalah Makan Cirik dan Lalok (MANCILOK) duduak ka lapau “jawabnya sambil tertawa. “ Istri saya sekarang tidak dirumah, pergi ke tempat anak-anaknya “ tukuknya.

“ Nasib ambo indak samo jo Pak Saiful, yang mana anak menantu dan cucu serta usaha berkumpul dirumah, tapi saya sama nasib dengan lagu ratok rang tuo yang kita dengan tadi “ ujar Syamsul. Dan kemudian dia melanjutkan pembicaraan tentang keluarganya. “Saya mempunyai anak tiga orang, ketiganya perempuan dan semuanya telah bekeluarga dan dibawa oleh suaminya. Anak tertua di Batam, yang nomor dua di Padang dan yang bungsu di Jakarta. Istri saya  mengunjungi ketiga anak tersebut secara bergantian. Biasanya anak saya menelpon seperti  ini  terlebih dahulu “ ibu, datang ya ke Batam, saya mau melahirkan, ongkos untuk ibu sudah saya kirim Rp. 1 juta dan jangan lupa kasih sama Ayah Rp.100 ribu untuk minum di lapau, padahal sejak kecil kita yang susah bekerja untuk menyekolahkannya  dan setelah besar ibunya yang dia ingat, NASIB-NASIB.  Di Batam lebih kurang 4 bulan, belum sampai sebelum di rumah datang lagi telepon dari Jakarta, menyuruh ibunya datang, dengan alasan  mau melahirkan juga, dan begitu juga anak yang di Padang  menyuruh ibunya dengan alasan yang sama.

Kenapa bapak tidak ikut dengan istri ketempat anak bapak ?, dan rumah kan bisa di gembok !                                    Apa jawabnya “ masih terasa bagi saya susahnya  membangun rumah ini, hiba hati  untuk meninggalkannya, rumah apabila di tinggalkan habih dek anai-anai. Dan di Parak ado 50 batang coklat yang di panen setiap minggu. Untuk hal ini, terpaksalah saya tinggal sendirian dirumah.

Apakah bapak punya saudara dan kemenakan? Tanya saya lagi.                                                                 Dijawabnya “ saya mempunyai adik perempuan 2  orang dengan 5 orang kemenakan , tetapi tidak pula dikampung dibawa oleh suaminya bersama anaknya berjualan nasi di Medan dan yang satu lagi di Pekan Baru jadi guru.

Masih tergiang ditelinga saya perkataan ibu sebelum meninggal “ Syamsul , jaga adikmu  jangan disia-siakan. Dialah nanti yang akan meletakan air dan nasi bila kamu pulang kerumah, Ibo hati apabilo pulang kampuang pintu rumah basaok”, Kata ibu saya.

Sebagai seorang kakak dan mamak di Minangkabau, tidak lupa saya membantu adik dan kemenakan  sampai tamat kuliah dan sekarang telah berkerja dan bekelurga  semuanya. Namun, sekarang pada hari baik dan  bulan baik  , saya merindukan satu SMS dan telepon dari  adik dan kemenakan , tidak pernah  saya terima. Saya takut untuk meneleponnya  seolah-olah saya akan meminta kepadanya. Karena dulu pernah mencobanya , tetapi  jawaban darinya  manambah hibo hati. Dan pernah saya berkunjung ke Medan maupun ke Pekan Baru baru sampai saya disana dia telah bertanya “ mangga mamak kamari ?” seolah olah saya mau miminta kepadanya.” Tutur pak Syamsul  sambil menarik nafas.

Saya hanya bisa menghela nafas dan bersyukur kepada Allah. Kami tiga generasi bisa berkumpul di satu tempat.

Dan saya tanyakan kepada senior yang telah pensiun, apa kegiatan sekarang ?, Beragam jawabnya.

Ada yang bilang , saya kini MSc  ( ManggaSuah Cucu).

Ada yang bilang sukarela pada Dinas  Kependudukan  (KEdapur PENat DUDUK  dan maKAN)

Ada yang bilang mendirikan Perusahaan Transportasi  Japuik Anta Cucu ke sekolah

Ada yang bilang jadi AJIS MAMAK (Antar Japuik Istri Sajo Mamasak Mancuci Awak)

Dan ada yang bilang BA-KO4- CE.

Saiful Guci- Pulutan 25 Oktober 2018.