CILOTEH TANPA SUARA- “ Pak Saiful Guci, bagaimana menghadapi mertua perempuan yang selalu marah-marah kepada menantunya “ tulis Rina Oktafiani

“marah-marah bagaimana ?, memangnya sekarang Rina Oktafiani sedang ada masalah dengan mertuanya?” Jawab saya

“ Benar sekali pak Saiful, entah apalah kesalahan saya setiap saya bertemu dengan mertua perempuan selalu dia marah-marah kepada saya dan  ada-ada saja pemicu kesalahan tersebut, kadang-kadang hanya hal sepele tetapi dia selalu marah kepada saya dan kepada suami saya” balas Rina Oktafiani

“ ohya, kalau boleh saya tahu. Apakah sejak awal anda menikah, mertua tidak suka dengan Rina Oktafiani. Adakalanya seorang mertua terpaksa menerima menantu karena anaknya bersikeras ingin menikah. Tidak ada kompromi, biasanya apa pun yang dilakukan menantu dianggap salah dimata mertua “ Tanya saya.

“ tidak juga pak, kami menikah atas persetujuan kedua orangtua kami. Malahan sebelum menikah, mertua sayalah yang mendesak keluarga saya untuk mempercepat menikah dengan anaknya karena dia anak tunggal dan pada saat menikah umur saya 23 tahun dan suami 27 tahun.” Tulis Rina Oktafiani.

“ nah kalau begitu, kemungkinan yang terjadi antara Rina Oktafiani adalah perasaan cemburu.  Perasaan ini banyak muncul antara mertua perempuan dan menantu perempuan. Sejak anak laki-lakinya menikah, ibu merasa kehilangan. Cemburu dengan menantu karena anaknya kini harus berbagi dengan istrinya. Karena dia adalah anak lelaki tunggal dalam keluarga mereka. Kemungkin juga pemicu mertuamu cemburu adalah dirimu sendiri, dimana saat mertuamu sedang membutuhkan anaknya alias suami, kamu sering telepon supaya cepat pulang, sehingga antara kamu dengan mertua saling cemburu , takut kehilangan. Ibu takut kehilangan anaknya, sedangkan kamu sebagai istri takut kehilangan suami,” tutur saya.

“ mungkin juga begitu pak, saya akui apabila suami dirumah orangtuanya, saya sering menelpon dan menyuruh cepat pulang “ ujar Rina Oktafiani.

“ Nah, kalau sudah tahu penyebab mertuamu cemburu dan suka marah-marah kepadamu, tentu saja hal ini sangat mudah untuk merekatnya kembali”

“ohya, bagaimana caranya Pak Saiful Guci”

“ Yang perlu kamu ingat adalah Ibu mertua adalah ibu kamu juga. Dan percayalah, berbuat baik pada ibu mertua juga bernilai ibadah, karena termasuk berbakti pada orangtua. Jika kamu ingin menjadi istri shalihah, maka berbakti pada mertua adalah hal yang utama.  Ketahuilah , bahwa  kepentingan ibu mertua lebih didahulukan suami, itu wajar dan tidak melanggar syariat. Ingat, istri shalihah itu taat pada suami. Pada seorang istri, jika antara suaminya dan orangtua kandung tidak sependapat pun, Anda harus tetap mendahulukan kepentingan suami. Sedangkan pada suami, bakti pada orangtua kandung itu tak terbatas meski sudah menikah. Suami wajib taat kepada ibunya, sementara perempuan wajib taat pada suami. Jadi, bagi yang ingin jadi istri shalihah, menjadikan ibu mertua sebagai musuh adalah tidak baik”.tulis saya

“ terimakasih pak telah mengingatkan, saya akan mencoba berbuat baik kepada mertua pak”

“ Ibu mertua itu kunci hati suami , apalagi jika ibu dan suami sangat dekat hubungannya. Bahkan jika suami dan ibu tidak dekat pun, jika Anda mengobarkan perang dengan ibu mertua, tentu rasa cinta suami tetap akan berkurang kepada Anda. Karena sejauh-jauhnya hubungan ibu dan anak lelaki, jika anak itu anak yang berbakti pada orangtuanya, hatinya pasti akan sebal juga pada pihak yang menyakiti orang yang melahirkannya. Sebaliknya jika Anda berhubungan baik dengan ibu mertua, insya Allah suami akan makin sayang juga pada Anda. Itu merupakan salah satu tanda kedewasaan Anda juga. “ tulis saya

“ Suami saya anak tunggal dan ditinggal seorang Ayah, mungkin itu yang menyebabkan dia dekat dengan ibunya, begitukan Pak !” tulis Rina Oktafiani.

“ benar sekali, dulu mertuamu tinggal berdua dirumah dan berjuang membesarkan suamimu tetapi sekarang dia hidup sendirian dan sepi di rumah . Wajar saja , suamimu menghormati ibunya yang telah membesarkannya seorang diri, tentunya kamu harus juga menghormatinya, menghormati dalam hal berkata santun dan ramah ketika berkomunikasi dengannya, menggunakan bahasa yang pas saat menjawab pertanyaan darinya, mendahulukannya saat makan bersama, mengutarakan pendapat, dan semua hal yang menjadi tata krama; bak seorang anak dengan orang tuanya sendiri.

Sayangilah ibu mertuamu dengan menyayangi sama halnya kepada orangtuamu sendiri. Karena sikap berkasih sayang adalah buah dari taatnya seorang hamba dalam mengamalkan perintah Allah dan Rasul-Nya. Ia menjadi tanda jiwa yang bening dan hati yang bersih. Dalam mengerjakan kebaikan, mengerjakan amal shalih, menjauhi keburukan, dan menghindari kerusakan, apabila Anda selalu berada dalam keadaan hati yang bersih dan jiwa yang baik. Maka mertuamu , sudah pasti akan sayang kepadamu “ tulis saya.

“ terimaksih pak atas nasehatnya, tetapi kalau boleh tahu bagaimana cara mengambil hati mertua ?”

“  sangat mudah, yang perlu bagaimana kamu menganggap ibu mertua sebagai ibu sendiri, jangan sebagai monster menakutkan. Meskipun istri memiliki hak terhadap suami. Namun itu tidak bisa dijadikan alasan untuk melarang suami mengunjungi orang tuanya. Bagaimanapun juga posisi orang tua tetap lebih utama dibandingkan istri. Menantu yang baik adalah yang membiarkan suaminya berkunjung ke rumah orang tuanya sesering mungkin. Selama itu tidak merugikan Anda, ya berusahalah untuk ikhlas. Begitupun dengan diri Anda sendiri juga jangan melupakan orang tua kandung.

Satu hal yang perlu kamu ingat adalah, apabila mertua Anda membawa makanan kerumahmu habiskan terlebih dahulu dihadapan mertua sambil memujinya bahwa makanan yang dibawanya sangat enak sekali.” Tulis saya.

“ memang, saya pernah sekali berdebat terhadap makanan yang dibawanya. Saya katakan tak perlu membawa makanan ketempat kami “ tulis Rina Oktafiani.

“ nah itulah, seorang ibu yang membawa makanan kerumah anaknya dia tau bahwa makanan tersebut adalah kesukaan anaknya, Jangan sekali-kali makanan yang dibawa oleh mertuamu tidak disentuh sama sekali dihadapannya. Dan apabila makanan tersebut benar-benar tidak dapat dimakan sama sekali diwaktu akan membuangnya jangan sampai dia tahu. Hal ini juga dapat membuat marah mertua merasa tidak dihargai . Ohya apakah kamu pernah jalan-jalan sama mertua mu ? “ Tanya saya.

“ berjalan-jalan berdua belum tetapi bersama suami sering “ tulis Rina Oktafiani

“ Sesekali pergi berdua dengan ibu mertua tanpa bersama suami (dengan izin suami tentunya). Sekedar menemani belanja, atau jalan-jalan. Dengan pergi berdua dan menganggap mertua sebagai teman, ibu mertua akan merasa senang dan semakin sayang pada Anda.

Sesekali berikan hadiah pada mertua. Mertua akan sangat senang jika mendapat hadiah sebagai bukti kasih sayang. Tak perlu yang mahal jika secara finansial  yang penting niat Anda menyenangkan hati mertua.

Dihadapan mertua ‘jangan sok tahu meskipun Anda sudah tahu, apalagi jika belum tahu. Bagaimanapun ibu mertua akan menganggap menantu sok tahu itu menyebalkan. Meskipun Anda sudah hobi memasak , mendengarkan saran dari ibu mertua akan sangat bermanfaat. Ibu mertua juga akan merasa lebih dihargai jika Anda bertanya hal-hal rumah tangga yang belum Anda ketahui. Jika ibu mertua memberitahu, meskipun Anda sudah tahu, jangan keburu merasa diremehkan .” tulis saya.

“ terimakasih banyak Pak Saiful Guci, nasehat yang berharga buat saya.’ Jawab Rina Oktafiani.

“ Sebuah nasehat buat mu, Jangan cemburu jika melihat suamimu tampak mencintai orang tuanya. Ingat, posisi mereka lebih tinggi dari Anda. Mungkin suami Anda sering memberikan uang atau oleh-oleh untuk mertua Anda.  Ya sudah biarkan saja. Anggap itu sebagai wujud berbakti suami kepada orang tuanya. Selama suami Anda masih bersikap baik dengan Anda. Lalu apa masalahnya?

Dari Abdullah bin ’Amru radhiallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.”

Tugas kitalah untuk mengurangi beban mertua, apalagi dia hidup sendiri . Surga Istri pada ridha suami, Surga suami tergantung ridha ibunya“ terang saya

Saiful Guci – Pulutan  Oktober 2018.

SHARE