MENGENANG SEJARAH RRI BUKITTINGGI 14 JANUARI 1946

0
68

Semangat yang tak pernah turun-turun “ sekali di udara tetap di udara” yang telah 73 tahun

Ciloteh Tanpa Suara-Sebelum pecahnya perang dunia kedua di Sumatera hanya kedapatan sebuah pemancar radio saja yaitu pemancar radio kepunyaan Belanda di Medan.

Setelah peperangan dunia kedua meletus dan tentera Jepang mulai bulan Maret 1942 menduduki seluruh Indonesia, maka beberapa bulan kemudian oleh tentera Jepang di Sumatera selaian dari pada pemancar radio yang telah ada di Medan itu, didirikan beberapa Studio dan pemancar radio di beberapa tempat yang penting di Sumatera yaitu : Bukittinggi, Kotaraja, dan Palembang.

Ketika situasi perjuangan yang dihadapi Jepang sudah bertamba hebat dengan terjadinya peperangan di daratan, lautan dan udara Jepang menambah mendirikan pemancar-pemancar radio baru ditempat-tempat yang dianggap strategis dalam melancarkan propagandanya, yaitu di Jambi, Teluk Betung, Tarutung dan Pekan Baru. Sedangkan studio Bukittinggi dijadikan Studio pusat untuk seluruh Sumatera yang dalam bahasa Jepang disebut Sumataro Tyuo Hozo Kyoku. Sesuai dengan kedudukannya sebagai Studio pusat pada bulan September 1944 diresmikan pemancar pusat Bukittingi yang baru yang berkekuatan 1,5 Kw.

Pemencar radio di Bukittinggi tidak pernah di umumkan gelombangnya dan semua pesawat-pesawat radio penerima (pendengar) di segel dan hanya dapat menangkap gelombang Bukitttinggi saja.

Bukittinggi adalah pusat pemerintahan tentera Jepang dimasa itu, maka dalam menentukan siasat siarannya Studio pusat Bukittinggi tunduk pada kehendak pemerintah tentera Jepang dengan perantara kantor propogandanya (Sendenbu). Teknik siaran penyiaran dibagi dua bahasa, yaitu bahasa Jepang dan bahasa Indonesia.

Setelah Jepang kalah dan Indonesia Merdeka, tidak adalagi terdengar mengudara radio Bukittinggi sementara Studio Bukittinggi masih di kuasai oleh Jepang. Masyarakat secara diam-diam membuka segel radionya dan menangkap siaran Luar Negeri. Dari sanalah baru diketahui bahwa Jepang sebenarnya sudah kalah, bukan “damai” seperti yang disiarkan pemancarnya.

Hal ini menimbulkan hasrat oleh pemuda-pemuda dari PRI dan bekas pegawai-pegawai Radio dimasa Jepang yang terdiri dari Saudara-saudara Adnan Burhani, N.Dt.Mangkuto Ameh, Kasuma, Sjahbuddin Mz, Arsul, Basjari Latif dan lain-lain. Untuk mengadakan tindakan merampas Studio dan pemancar tersebut. Dan buat pertama kali direncanakan supaya pemuda-pemuda bersama rakyat serentak merampas pemancar yang terletak di Parit Natung Bukittinggi, dengan terlebih dahulu mengunakan pancingan dengan memasang Sang Dewi Warna di puncak antene pemancar radio tersebut. Ketika rencana serangan akan dilaksanakan dan pemuda-pemuda sudah siap mendekat kepada pemancar itu, ternyata tidak dapat diteruskan karena sekitar pemancar dikawal oleh tentera Jepang yang mempunyai senjata lengkap.

Kemudian dengan usaha  Adi Negoro dan Djuir Muhammad berunding dengan tentera Sekutu yang menerima over pemancar itu, maka pemancar radio tersebut diserahkan oleh tentera Sekutu kepada Pemerintah Republik Indonesia di Bukittinggi.

Tanggal 14 Januari 1946 diresmikan pemancar radio pusat Bukittinggi berada kembali di udara dengan upacara dilangsungkan dalam studionya.

Pidato-pidato pembukaan dan sambutan diucapkan oleh Adi Negoro wakil Pemerintah Pusat di Sumatera, dan dari PTT Radio oleh Aziz dan beberapa orang pemimpin yang lain. Doa penutup untuk memohon berkah dari Ilahi Yang Maha Esa dibacakan oleh Inyiak Syech M.Djamil Djambek. Sejak itulah kembali propaganda dan penerangan untuk rakyat berjuang dapat disalurkan di udara. Pemancar itu bergelombang 40,2 dan 210 meter dengan kekuatan 1,5 dan 0,3 Kw.

Perbaikan RRI dalam perjuangan sangat perlu

Sejak pemancar-pemancar dua sejoli ini dipergunakandengan bebas oleh pengasuh-pengasuhnya yang terdiri dari Adnan Burhani, N.Dt.Mangkuto Ameh, Kasuma, Sjahbuddin Mz, Arsul, Basjari Latif dan lain-lainya dibawah pimpinan Adi Negoro, keadaannya tidak lebih dari pada kumpulan alat-alat penyiaran darurat yang susah untuk menyatukannya. Tetapi dengan bantuan kerjasama yang erat dari PTT Sumatera di Bukittingi yang memegang tekcniknya terutama tenaga-tenaga yang diberikan oleh saudara-saudara Ardiwinata, Sjamsu Anwar, Muchtar Djafar dan lain-lain, maka kekurangan alat itu tidak mengecewakan dalam kelancaran pekerjaan.

Masyarakat merasa gembira sekali, karena di udara selalu mendengar radio Republik Indonesia. Ucapan “Republik Indonesia” yang mengeletar di udara dengan bebas merdeka cukup bagi masyarakat sebagai obat penderitaan yang bertahun-tahun dialami.

Dengan perantara corong Radio Bukittinggi, Badan Penerangan Tentera telah banyak mengecutkan hati Belanda dan adakalanya Belanda di Padang jadi kesal. Mereka mencoba membalas dengan mengatakan bahwa Republik Indonesia adalah satu Republik di corong Radio saja, Republik yang dipunyai oleh orang-orang yang berbicara di depan microfoon.

Ternyata RRI Bukittinggi kerap mendapat kemenangan dalam perang urat syaraf, hingga pernah komandan U Brigade dari Tentera Belanda di Padang mengabarkan akan membom Studio Bukittinggi jika siasat siaran propogandanya tidak berubah. Tetapi semangat rakyat berjuang tidak kunjung turun turun, sekali diudara tetap di udara, segala macam ancaman diterima dengan keteguhan hati dan waspada. Setahun lamanya Studio bertempat di bekas gedung Bukitinggi Tyuo Hozo Kyoku di Parit Natung Bukittinggi, kemudian pada tangal 14 Januari 1947 dipindahkan secara bergotong royong oleh pegawai-pegawai perjungannya, kemuka rumah sakit umum Bukittinggi dibawah pimpinan Muchtar Djafar.

Di Bukittinggi pada tanggal 1 September 1947, dibentuk sebuah bdan Koordinasi penerangan yang dipimpin oleh Parada Harahap dengan nama Koordinasi Penerangan Sumatera (Kopensum) yang terdiri dari penerangan sipil dan militer.

Dengan segera dimulailah membangun badan yang ada dalam lingkungannya: selain dari badan-badan khusus yang langsung berada dalam kantor Kopensum maka dibentuk pula Pusat Perederan Pilem Indonesia (PPPI) dibawah pimpinan Suska da Radio Republik Indonesia (RRI) se Sumtera dibawah pimpinan Kamrsyah sebagai Jawatan RRI di Sumatera. Gelombang pancarannya 28,3 m.

SAIFUL GUCI MENGUCAPKAN “ SELAMAT ULANG TAHUN RRI BUKITTINGGI KE- 73 DENGAN SEMANGAT YANG TIDAK PERNAH TURUN-TURUN “ SEKALI DI UDARA TETAP DI UDARA”

Saiful Guci, 13 Januari 2019.