Ciloteh Tanpa Suara- “Banyak orang berteriak NKRI harga mati, tahukah Ilham daerah mana di Indonesia yang tak pernah ingkar janji dan tak pernah keluar atau memisahkan diri dari Negara Republik Indonesia?” Tanya saya kepada Ilham anak muda yang datang kerumah meminjam buku untuk persiapan tes CPNS.

“ tidak, tidak ingat dan tidak tau saya Pak Saiful Guci , daerah mana saja  yang tidak pernah memisahkan diri dari Republik Indonesia ini” Jawab Ilham.

“ Sumatera Barat dan daerah lain di Sumatera tetap dalam pangkuan Republik Indonesia kecuali Palembang , Riau dan Sumatera Utara,  Pulau Jawa, Kalimantan dan Sulawesi memisahkan diri dari Republik Indonesia di tahun 1949 – 1950, makanya kepada orang Sumatera Barat tak perlu diajarkan NKRI harga mati. Tahukah Ilham yang jadi Presiden Republik Indonesia saat itu adalah Assaat Datuk Mudo atau yang dikenal dengan nama Mr. Assaat, lahir di Dusun Pincuran Landai, Kubang Putiah, Banuhampu, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, inilah Presiden Republik Indonesia yang dilupakan sejarah “ ujar Saya.

“ Tak pernah saya mendengar dan membaca sejarah Republik Indonesia dan adanya Mr.Assaat orang Sumatera Barat yang menjadi Presiden Indonesia ke dua, sebab dalam sejarah yang kami terima presiden Indonesia ke dua adalah Soeharto , terangkanlah kepada kami yang muda muda ini pak Saiful Guci“ Jawab Ilham.

“ Orang Sumatera Barat tak perlu diajarkan tentang NKRI harga mati, sebab di Sumatera Barat lah mata rantai sejarah Republik Indonesia ini, sejak Agresi Belanda ke dua Presiden Soekarno dan wakil Presiden M.Hatta di tahan dan di asingkan ke pulau Bangka. Sebelum ditahan Hatta mengirimkan kawat pertama pada tanggal 19 Desember 1948 kepada Mr.Sjafruddin Prawiranegara sebagai Menteri Kemakmuran Republik Indonesia untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera Barat.

Apabila tidak adanya Mr.Sjafruddin Prawiranegara memimpin PDRI di Sumatera Barat , dibantu oleh masyarakat Sumatera Barat yang selalu mengumandangkan dan meyiarkan melalui radio rimbatara menyatakan Republik Indonesia masih ada dan siaran ini yang ditangkap di luar negeri oleh Negara Malaysia, India dan Burma , jika tidak adanya PDRI ini yang bergerilya maka Republik Indonesia ini sudah bubar, pasalnya kedua pimpinan RI telah ditahan. Nah , jasa para pejuang orang Sumatera Barat ini banyak dilupakan orang. “ ujar saya.

“ Kalau begitu Mr.Sjafruddin Prawiranegara itu juga pimpinan atau Presiden Indonesia pada saat PDRI tersebut ?” Tanya Ilham

“ Benar sekali Mr.Sjafruddin Prawiranegara pernah memimpin Republik Indonesia pada masa Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera Barat dari Tanggal 22 Desember 1948 sampai 13 Juli 1949 yang menyerahkan mandatnya kepada Soekarno-Hatta di Yogyakarta.” Ujar saya. Kemudian saya menerus cerita.

Terbentuknya Negara Boneka Belanda

Meskipun RI sudah berhasil mendorong rakyat yang bersemangat nasionalis di tiga Negara bagian untuk bergabung dengan Negara bagian RI tetapi tidak berhasil menyatukan Negara bagian Sumatra Timur dan Negara Indonesia Timur yang mendapat pengaruh Belanda begitu kuat, kecuali itu juga dihambat oleh kepentingan pengakuan internasional terhadap integrasi Negara. Maka RI akhirnya mengalah membentuk integrasi Negara lewat RIS yang dianggap oleh kaum nasionalis bukan nation-state.

Pembentukan negara-negara federal dirintis dalam Konferensi Malino, pada tanggal 15-25 Juli 1946. Konferensi dipimpin oleh Van Mook. Kemudian disusul berbagai konferensi lainnya yang bertujuan untuk membentuk negara bagian, antara lain:

  1. Negara Indonesia Timur (NIT) dibentuk berdasarkan Konferensi Denpasar tanggal 18-24 Desember 1946. Selaku kepala negara NIT adalah Cokorda Gde Raka Soekawati. Wilayah NIT melliputi Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Maluku.
  2. Negara Pasundan diporklamasikan pada tanggal 4 Mei 1947. Negara Pasundan meliputi wilayah Jawa Barat dan sekitarnya. Sebagai kepala negara ditunjuklah R.A.A Wiranatukusumah.
  3. Negara Madura dibentuk pada tanggal 23 Januari 1948. R.A.A Cakraningrat ditunjuk sebagai kepala negara Madura. Negara Madura meliputi pulau Madura dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.
  4. Negara Sumatera Timur dibentuk pada tanggal 24 Maret 1948. Selaku kepala negara ditunjuk Dr. Teuku Mansur. Wilayah negara Sumatera Timur meliputi daerah Medan dan sekitarnya.
  5. Negara Sumatera Selatan secara resmi berdiri pada tanggal 31 Agustus 1948. Abdul Malik terpilih sebagai kepala negara Sumatera Selatan. Wilayah negara Sumatera Selatan meliputi daerah Palembang dan sekitarnya.
  6. Negara Jawa Timur dibentuk pada tanggal 26 November 1948. R.T.P Achmad Kusumonegoro terpilih sebagai kepala negara. Wilayah negara Jawa Timur meliputi wilayah Jawa Timur.
  7. Daerah-daerah otonomi yang meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Dayak Besar, Banjar, Kalimantan Tenggara, Bangka, Belitung, Riau dan Jawa Tengah.

Konferensi Meja Bundar (KMB).

Setelah PDRI, perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia diselesaikan dengan perundingan di Den Haag melalui Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag,

KMB digelar pada 23 Agustus 1949, ketika itu delegasi Indonesia dipimpin oleh Mohammad Hatta, sementara  BFO dipimpin oleh Anak Agung Gde Agung. Pada konferensi tersebut, dibentuk komisi-komisi yang membahas berbagai aspek dalam rangka serah terima dari Belanda pada Republik Indonesia Serikat, serta persiapan pembentukan Uni Indonesia Belanda.

Penandatangan piagam persatuan RIS

Ketika KMB berlangsung, Konferensi Inter-Indonesia juga dilangsungkan di Belanda untuk merumuskan konstitusi Republik Indonesia Serikat, sebagai tindak lanjut perundingan di Yogyakata, dan Jakarta. Tanggal 29 Oktober 1949, piagam persatuan RIS berhasil ditandatangi di Scheveningen oleh 16 perwakilan masing-masing wakil negara bagian dan daerah otonom.

Akhirnya, setelah perundingan alot selama lebih dari dua bulan, KMB berakhir pada 2 November 1949. Dengan disetujuinya KMB pada tanggal 2 November 1949 di Den Haag, maka terbentuklah negara Republik Indonesia Serikat. Hasil KMB salah satunya menyebutkan kerajaan Belanda menyerahkan kedaulatan atas Indonesia yang sepenuhnya kepada RIS dengan tidak bersyarat lagi dengan tidak dapat dicabut, dan karena itu mengakui RIS sebagai negara yang merdeka dan berdaulat

Pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS)

Pada tanggal 16 Desember 1949 di Yogyakarta, Panitia Pemilihan Nasional RIS memilih Soekarno menjadi presiden Indonesia Serikat pertama, dan peresmiannya dilakukan tanggal 17 Desember 1949. Dengan Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri Mohammad Hatta. KNIP kemudian mengangkat Mr. Assaat Datuk Mudo, ketua KNIP, sebagai pemangku jabatan Presiden Indonesia. Dengan demikian, MR. Assaat de facto presiden Republik Indonesia kedua yang memegang jabatan ini hingga dibubarkannya RIS pada tanggal 17 Agustus 1950.

Republik Indonesia Serikat (RIS) terdiri beberapa negara bagian, yaitu:

Negara Bagian Republik Indonesia Serikat

  1. Negara Republik Indonesia (RI) ibu kotanya Jakarta dengan Walinegaranya Mr.Assaat Datuk Mudo.
  2. Negara Indonesia Timur, ibu kotanya Makasar dengan Walinegaranya Tjokorda Gde Raka Soekawati
  3. Negara Pasundan , ibu kotanya Bandung dengan Walinegaranya Raden Aria Adipati Wiranatakoesoema
  4. Negara Jawa Timur, ibu kotanya Surabaya dengan Walinegaranya T.P Achmad Kusumonegoro
  5. Negara Madura, ibu kotanya Pamekasan dengan Walinegaranya A.A Tjakraningrat
  6. Negara Sumatera Timur, ibukotanya Medang dengan Walinegaranya Tengku Mansur
  7. Negara Sumatera Selatan , ibukotanya Palembang dengan Walinegaranya Abdul Malik

Di samping itu, ada juga wilayah yang berdiri sendiri (otonom) dan tak tergabung dalam federasi, yaitu: Daerah Jawa Tengah, Daerah Kalimantan Barat, Daerah Dayak Besar, Daerah Banjar, Daerah Kalimantan Tenggara, Daerah Kalimantan Timur, Daerah Bangka, Daerah Belitung, Daerah Riau.

RIS tidak berlangsung lama dikarenakan bentuk negara serikat tidak dikehendaki oleh sebagian besar bangsa Indonesia. Bentuk RIS merupakan upaya Belanda dalam memecah belas persatuan dan kesatuan. Pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS resmi dibubarkan dan dibentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Mr. Assaat Datuk Mudo Sebagai Acting Presiden Republik Indonesia

Setelah disahkannya persetujuan Konferensi Meja Bundar pada sidang pleno KNIP, maka pada tanggal 16 Desember dilangsungkan pemilihan Presiden Republik Indonesia Serikat di gedung Kepatihann Yogyakarta oleh wakil-wakil 16 negara bagian dan pilihan jatuh kepada Soekarno.

Sesuai persetujuan KMB bahwa penyerahan kedaulatan paling lambat akan dilaksanakan pada 30 Desember. Terkait itu, delegasi yang diketuai oleh Moh. Hatta berangkat ke Belanda pada 23 Desember. Sedangkan di Indonesia sendiri, dibentuk delegasi yang diketuai oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk serah-terima dari pemerintahan Hindia-Belanda di Jakarta.

Maka pada tanggal 27 Desember terjadi persitiwa besar dalam sejarah Indonesia, yaitu penyerahan kedaulatan dari pemerintahan Belanda ke RIS di Amsterdam, penyerahan pemerintahan dari Hindia-Belanda ke RIS di Jakarta dan penerimaan Republik Indonesia ke dalam RIS dari acting Presiden Republik Indonesia, Mr. Assaat.

Mr. Assaat menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, sebagai negara bagian dari RIS, selama kurang lebih 9 bulan. Masa jabatan yang singkat bukan berarti tidak ada peran dan jasa dari Mr. Assaat. Dapat dikatakan bahwa dengan diangkatnya Mr. Assaat menjadi Presiden RI itu sendiri merupakan peran dan jasa yang sangat besar. Karena jika tidak, maka akan ada masa kekosongan kekuasaan (vacuum of power) dalam sejarah Indonesia. Sedangkan adanya kekuasaan merupakan syarat utama untuk diakui sebagai negara.

Mr. Assaat terkenal dengan kesederhanaanya. Ketika itu Mr. Assaat tidak mau dipanggil dengan “Paduka Yang Mulia”, dan memilih untuk dipanggil “saudara Acting Presiden”. Panggilan ini memang canggung, sehingga Mr. Assaat mengatakan “panggil saja saya Bung Presiden”. Selain itu, Mr. Assaat pernah bersikeras untuk melakukan perjalanan dengan sepeda walaupun telah disiapkan mobil kepresidenan.

Saiful Guci- Pulutan 27 Oktober 2018