Lewat tulisan kita mengenal sejarah PDRI dan Bela Negara.

Ciloteh Tanpa Suara-Sehari sesudah PDRI berdiri,pihak intelijen melaporkan bahwa pasukan Belanda sedang bergerak dari Bukittinggi menuju Payakumbuh. Bila Belanda berhasil menduduki kota Payakumbuh dan mengetahui kedudukan PDRI di Halaban, besar kemungkinan tokoh-tokoh PDRI akan tertangkap. Komodor Udara Soejono yang sudah diangkat sebagai Kepala Staf AURI PDRI menemui Syafruddin Prawiranegara dan lain-lain. “Saya tidak setuju Tuan-tuan tetap berada di Halaban ini. Kalau Belanda tidak tahu, ya tidak apa. Tempat ini bisa dicapai Belanda hanya dalam tempo sekitar sepuluh atau dua belas jam saja.” Soejono menyarankan agar rombongan PDRI berangkat ke daerah Kampar, Riau.

Saran Soejono disetujui oleh Syafruddin Prawiranegara . Akan tetapi, tidak semua tokoh PDRI bersedia mengungsi ke Kampar. Sebuah rombongan yang dipimpin oleh Mohammad Rasyid mengungsi ke Kototinggi, masih dalam daerah Kabupaten Lima Puluh Kota. Selain sebagai menteri dalam kabinet PDRI, M.Rasyid masih memegang sebagai Residen Sumatera Barat. Jabatan terakhir itulah yang menyebabkan ia merasa perlu tetap berada di daerah Sumatera Barat.

  1. Bukittinggi di serang 19 Desember 1948,http://cilotehtanpasuara.com/…/bukittinggi-di-serang-19-de…/
  2. Situasi Kota Pariaman dan Kota Bukittinggi 19-21 Desember 1918.  http://cilotehtanpasuara.com/…/situasi-kota-pariaman-dan-k…/
  3. Padang Panjang diserang Belanda 21 Desember 1948 .Melalui dua arah Solok dan Padang.  http://cilotehtanpasuara.com/…/padang-panjang-diserang-bel…/
  4. Mengenang Pengumuman Kabinet Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) 22 Desember 1948 di Halaban.  http://cilotehtanpasuara.com/…/mengenang-pengumuman-kabine…/
  5. Mengenang Payakumbuh di serang 23 Desember 1948  http://cilotehtanpasuara.com/…/mengenang-payakumbuh-disera…/

6.Mengenang Perjalanan Sutan Muhammad Rasyid dari Halaban ke Koto Tinggi http://cilotehtanpasuara.com/blog/mengenang-perjalanan-sutan-m-rasyid-dari-halaban-ke-koto-tinggi-24-desember-1948/

Syafruddin Prawiranegara dan rombongannya meninggalkan Halaban malam tanggal 24 Desember 1948. Mereka menggunakan tujuh buah kendaraan yang terdiri atas sedan, jip, dan truk. Selain Teuku M. Hasan, semua rombongan adalah para pejabat yang dulunya berkedudukan di Yogya. Mereka antara lain ialah Mr.Lukman Hakim, A.Latif, A.Karim, dan Indracaya. Personel militer yang mengikuti rombongan ini ialah Kolonel Laut Adam, Komodor Muda Soejono, dan Kapten Udara Sidik (Dick) Tamini.

Esok harinya, menjelang sore, rombongan PDRI tiba di Bangkinang. Mereka ditampung di rumah Wedana Bangkinang dan rumah-rumah di sekitarnya. Di sini mereka mendapat laporan bahwa Payakumbuh sudah diduduki Belanda tidak lama setelah kota itu mereka tinggalkan.

Pagi tanggal 26 Desember 1948 anggota rombongan berkumpul di rumah Wedana untuk mengadakan rapat. Sebelum rapat dimulai, rumah itu dan daerah sekitarnya dihujani tembakan mitraliur dari pesawat terbang Belanda. Anggota rombongan berpencar menyelamatkan diri masing-masing.

Setelah tembakan berhenti, anggota PDRI berkumpul kembali . Mereka merundingkan tempat pengungsian selanjutnya. Untuk tetap tinggal di Bangkinang tidak mungkin lagi sebab kehadiran mereka sudah diketahui oleh Belanda.

Bangkinang mereka tinggalkan pada anggal 30 Desember 1948. Rombongan tidak lagi lengkap. Komodor Soejono serta beberapa orang anggota AURI, antara lain Iskandar dan seorang ajudan, kembali ke daerah Payakumbuh, mengunjungi basis pertahanan AURI di Paraklubang. Dari tempat ini ia mengunjungi sender AURI di Puar Data dan pasukan AURI di Kamang. Dari Kamang ia ke Kototinggi dan akhirnya ke Bidar Alam untuk bergabung dengan Syafruddin Prawiranegara.

Rombongan yang menuju Teratak Buluh membawa enam kendaraan. Sebuah kendaraan ditinggalkan di Bangkinang sebab, rusak akibat terkena tembakan udara Belanda tanggal 26 Desember 1948. Dalam perjalanan, jumlah itu terpaksa lagi dikurangi ketika mereka harus menyeberangi sungai Kampar Kiri. Alat penyeberangan di sungai itu tidak kuat mengangkut beban yang terlalu berat. Oleh karena itu, sebagian kendaraan dibenamkan ke dalam sungai agar tidak jatuh ke tangan Belanda. Salah satu di antaranya sedan limosin kesayangan Mohammad Hasan. Tentu saja pemiliknya merasa sedih. Begitu pula anggota lainnya. Akan tetapi, mereka merelakannya dari pada jatuh ke tangan Belanda. Akibatnya, dalam perjalanan selanjutnya sebagian anggota rombongan terpaksa berjalan kaki.

Ternyata, penderitaan mereka belum. berakhir. Di suatu tempat, jip yang ditumpangi oleh Syafruddin Prawiranegara dan dikemudikan oleh Dick Tamimi, tergelincir. Untunglah semua penumpangnya selamat. Nasib naas menimpa Syafruddin Prawiranegara.Kaca matanya pecah. Untuk sementara waktu la tidak dapat melihat dengan sempurna.

Pada tanggal 31 Desember 1948 rombongan tiba di Teratak Buluh. perjalanan diteruskan ke Sungai Pagar. Penderitaan mereka agak berkurang. Di tempat ini rombongan PDRI disambut oleh Mayor Akil Prawiradireja, Komandan Komando Daerah Militer (KDM) Riau Utara. ia adalah perwira Divisi Siliwangi yang dipindahkan ke Sumatera. Akil menyerahkan dua buah jip untuk dipakai oleh rombongan.

Dari Sungai Pagar, perjalanan dilanjutkan menuju Teluk Kuantan, melalui Lipat Kain. Rombongan tiba di Lipat Kain pada tanggal 1 Januari 1949. Masyarakat Lipat Kain mengatarkan rombongan ke Tanjung Balik,perjalanan diteruskan ke Kota Baru, dan Muara Lembu. Sebagian anggota yang tadinya berjalan kaki dapat menumpang sebuah truk tua peninggalan Jepang. Di Teluk Kuantan Syafruddin Prawiranegara memperoleh kacamata baru dari dr.  Ilyas Dt. Batuah, kepala rumah sakit setempat.

Peristiwa yang dialami rombongan PDRI di Bangkinang terulang kembali di Teluk Kuantan. Mereka ditembaki oleh pesawat terbang Belanda. Tidak ada korban yang jatuh, baik benda maupun manusia. Akan tetapi, mereka tidak mungkin berlama-lama tinggal di tempat ini. Serangan udara Belanda menggelisahkan penduduk. Mereka menghubungkan serangan itu dengan kehadiran rombongan PDRI di kota mereka.

Untuk menghilangkan kegelisahan penduduk, Teluk Kuantan pun ditinggalkan oleh rombongan PDRI.Tujuan berikutnya ialah Kiliranjao. Jarak antara Teluk Kuantan dan Kiliranjao hanya ±20 km. Akan tetapi, perjalanan bertambah sulit. Di beberapa tempat mereka terpaksa menempuh jalan berlumpur, bahkan lubang-lubang besar yang digenangi air. Selain itu, terdapat pula pohon-pohon besar yang ditebang penduduk dan dibelintangkan di jalan. Hal itu dilakukan penduduk sesuai dengan perintah pihak militer untuk menghalangi kendaraan Belanda lewat. Nyatanya, rintangan itu menghalangi pula perjalanan pemimpin mereka sendiri.

Kurang lebih lima kilo meter setelah meninggalkan Teluk Kuantan sebuah kendaraan terperosok kedalam lubang berlumpur yang cukup dalam. Berbagai usaha dilakukan untuk mengeluarkan kendaraan tersebut, tetapi sia-sia. Terpaksalah kendaraan itu ditinggalkan dan terpaksa pulalah sebagian anggota rombongan berjalan kaki kembali. Setelah mengalami berbagai rintangan, pada akhirnya rombongan berhasil mencapai Kiliranjao dan perjalanan diteruskan ke Sungai Dareh.

Tiga hari lamanya rombongan PDRI beristirahat di Sungai Dareh. Hari-hari itu dimanfaatkan oleh Syafruddin Prawiranegara dan Teuku M.Hasan untuk memberikan penerangan kepada penduduk mengenai situasi yang sedang dihadapi Bangsa dan Negara  Mereka menghimbau penduduk agar tabah menghadapi segala kesulitan. Mereka juga meminta agar penduduk membantu perjuangan.

Sungai Dareh bukanlah tempat yang cukup aman untuk ditempati seterusnya. Pasukan Belanda dari Sawahlunto atau Solok se­waktu-waktu dapat mendatangi daerah ini. Oleh karena itu, rombongan PDRI mencari tempat lain yang lebih aman agar mereka dapat bekerja dengan tenang. Akhirnya, diambil keputusan untuk pindah ke Bidar Alam. Tempat ini cukup terpencil. Diperkirakan pasukan Belanda tidak mungkin memasukinya.

Sesuai dengan keputusan itu, rombongan PDRI meninggalkan Sungai Dareh. Maka, dimulai pulalah kembali perjalanan yang melelahkan dan penuh risiko. Untuk mencapai Bidar Alam ada dua jalur yang dapat ditempuh­ keduanya sama sulit dan berbahaya. Pertama, jalur sungai, menentang arus deras hulu sungai Batang Hari. Kedua, jalur darat melalui jalan setapak di pinggir kampung-kampung dan menembus hutan sepanjang lebih kurang seratus kilometer. Kedua jalur itu ditempuh oleh rombongan PDRI. Artinya, sebagian menempuh jalur sungai dan sebagian lagi menempuh jalur darat. Syafruddin Prawiranegara memimpin rombongan jalur sungai, sedangkan Teuku Moh. Hasan memimpin jalur darat. Selain itu , terdapat pula rombongan kecil di bawah pimpinan Lukman Hakim yang berangkat dari Sungai Dareh tidak langsung menuju Bidar Alam. Mereka memutar terlebih dulu ke Muara Bungo dan Muara Tebo untuk menencetak uang. Mereka membawa klise Oeang Repoeblik Indonesia Soematera (ORIPS). Untuk mencetak uang itu, mesin cetak biasa yang ada di Muara Bungo diasembling oleh anggota AURI Jambi menjadi mesin cetak uang. Sesudah itu, rombongan berangkat menuju Tanah   Tumbuh melewati Rimba Siungko, Rimba Jujuan, Sungai Sakai, Sungai Kunyit, terus ke Abai Sangir. Mereka tiba di Abai Sangir kira-kira satu minggu setelah kedatangan rombongan Syafruddin Prawiranegara .

Rombongan yang menempuh jalur sungai menggunakan tiga buah perahu. Mereka, termasuk Syafruddin Prawiranegara, mendayung secara bergiliran. Tidaklah mudah mendayung menentang arus deras hulu sungai Batang Hari itu. Di beberapa tempat aliran sungai itu berliku liku. Batu-batu besar pun menghadang di tengah sungai. Bahaya lain pun mengancam. Bulan Januari adalah musim hujan. Pada suatu ketika hujan turun dengan lebatnya. Air sungai bertambah tinggi dan deras. Dalam keadaan yang demikian, sangat berbahaya melanjutkan perjalanan dengan perahu. Terpaksalah mereka turun ke darat dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melewati kampung-kampung sepanjang sungai. Beberapa hari kemudian rombongan ini tiba di Abai Sangir.

Rombongan yang dipimpin oleh Teuku M. Hasan serta diikuti oleh rombongan awak stasiun radio juga mengalami berbagai rintangan. Untuk menghindari kemungkinan ditembaki Belanda dari pesawat terbang mereka tidak berani menempuh jalan terbuka,tetapi menempuh jalan setapak di luar kampung.

Sebagian besar jalan yang ditempuh ialah jalan hutan. Disini bahaya selalu mengancam. Kemungkinan diserang binatang buas selalu ada. Malahan, mereka pernah diikuti oleh seekor Harimau. Jarak antara harimau dan rombongan hanya dua puluh meter. Anehnya, apabila rombongan berhenti, harimau itu pun berhenti. Ketika rombongan melanjutkan perjalanan, Harimau itu pun mengikuti dari belakang. Rupanya “raja hutan” ini tidak mengganggu. Seorang anggota rombongan mengatakan bahwa Harimau itu mengawal mereka agar selamat dalam perjalanan. Ternyata, ada juga binatang buas yang “berperikemanusiaan”. Namun, kehadiran Harimau itu pada mulanya tentu saja menakutkan anggota rombongan.

Yang paling menderita dalam rombongan yang berjalan kaki itu ialah para teknisi radio. Mereka harus menggotong peralatan yang cukup berat menempuh medan yang sulit. Di beberapa tempat jalan itu menanjak dan ditempat lain menurun . Pada mulanya mereka masih kuat menggotong alat-alat tersebut. Lamakelamaan tenaga mereka terkuras. Sampai di Abai Siat, semua peralatan itu masih lengkap. Akan tetapi, untuk meneruskan perjalanan selanjutnya, alat-alat yang tidak sangat diperlukan terpaksa ditinggalkan di Abai Siat.

Rombongan Syafruddin Prawiranegara tiba di Abai Sangir pada tanggal 7 Januari 1949. Kedatangan mereka sudah diketahui sebelumnya oleh Wali Negeri Abai Sangir, Hasan Dt. Tuhijar. Maka wali negeri ini pun menyiapkan acara penyambutan. Bukankah yang datang itu seorang kepala pemerintahan? Atau katakanlah seorang “presiden”? Barisan kehormatan pun disiapkan terdiri atas anggota polisi dan laskar setempat.

Begitulah, “sang presiden” pun memeriksa barisan kehormatan. Mungkin karena letih atau karena tidak biasa menginspeksi pasukan, Ketua PDRI berjalan dengan gaya setengah militer dan setengah kiai.

Rombongan T.M.Hassan tiba di Abai Sangir beberapa jam setelah kedatangan rombongan Syafruddin Prawiranegara. Di tempat ini mereka mulai dapat bekerja dengan agak tenang. Sender dan pemancar radio diaktifkan kembali. Peralatan sender radio yang ditinggalkan di Abai Siat dijemput oleh anggota TNI yang sedang berada di Abai Sangir. Mereka adalah sebagian dari pasukan yang tadinya mempertahankan front Lubuk Selasih, Solok. Dengan dioperasikannya sender radio, hubungan dengan daerah lain, bahkan dengan luar negeri, dapat dibuka kembali.

Kurang lebih tiga minggu rombongan PDRI menetap di Abai Sangir. Tempat tinggal mereka dijaga dengan ketat. Setiap orang yang berkunjung ke Abai Sangir diperiksa dengan teliti. Siapa tahu ada mata­-mata Belanda yang menyusup.

Setelah mengetahui bahwa rombongan PDRI berada di Abai Sangir, tokoh-tokoh masyarakat Bidar Alam mengadakan rapat di bawah pimpinan Wali Perang Naik Dt.Rajo Alam. Mereka bermaksud menjemput rombongan PDRI ke Abai Sangir dan membawanya ke Bidar Alam. Dalam rapat itu ditentukan pula rumah-rumah penduduk yang akan di tempati oleh rombongan.

Dengan dibekali surat perintah dari Wali Otonom Darwis Daud, Jamaan Ismail dan kawan-kawannya pun berangkat ke Abai Sangir. Mereka diperiksa secara teliti oleh anggota BPNK setempat. Setelah itu,barulah dipertemukan dengan Syafrudin Prawiranegara. Pada mulanya, Syafrudin ragu-ragu untuk memenuhi permintaan masyarakat Bidar Alam. Maka, Jamaan pun berusaha meyakinkan. Ketua PDRI ini bahwa kedudukan PDRI di Bidar Alam akan lebih menguntungkan dibandingkan dengan kedudukan mereka di Abai Sangir. Keuntungan itu antara lain adalah Bidar Alam terletak di pedalaman, dikelilingi oleh bukit-bukit terjal dan hutan lebat. Jalan menuju Bidar Alam sulit dilewati musuh sebab banyak tikungan tajam dan jurang yang dalam. Andaikata pun ada serangan Belanda, rombongan PDRI dapat dengan mudah mengungsi ke Rimbo Siungko (daerah Jambi) atau ke Pulau Punjung. Posisi Bidar Alam pun cukup strategis sebab terletak antara Sijunjung (di selatan) dan Jambi (di utara). Dari segi logistik, Bidar Alam juga sangat menguntungkan sebab letaknya dekat dengan daerah penghasil bahan makanan, terutama beras dan sayur-mayur.

Setelah mendapat keterangan yang panyang lebar itu, Ketua PDRI memutuskan untuk pindah ke Bidar Alam. Mereka berangkat dengan beberapa perahu yang disediakan oleh Wali Perang Abai Sangir, Hasan Datuk Tuhijar. Pada tanggal. 24 Januari 1949 rombongan PDRI tiba di Bidar Alam.

Saiful Guci, Pulutan 25 Desember 2018