Lewat tulisan mengenal sejarah PDRI dan Bela Negara

Ciloteh Tanpa Suara – Sehari setelah pembentukan dan pengumuman Kabinet Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) tanggal 22 Desember 1948.  Selain Bukittinggi beberapa kota kecil di Sumatera juga di serang oleh Belanda, salah  satunya adalah Payakumbuh. Beberapa nagari yang dekat dengan Kota Payakumbuh diserang dari udara dengan pesawat Catalina sehingga mengakibatkan hancurnya beberapa fasilitas dan mengenai beberapa penduduk pada tanggal 23 Desember 1948.

Seperti yang diungkapkan oleh Sekretaris Kapupaten Limapuluh, Anwar ZA (1993) Sebagai berikut: “tembakan dari pesawat udara yang dilancarkan Belanda mengenai dua buah bis yang bermuatan penuh: sebuah bis terkena tembakan di Piladang (arah barat kota payakumbuh) dan seluruh penumpangnya menjadi korban dan satu lagi di Batang Tabik juga mengorbankan seluruh penumpang bis . Semua korban itu diangkat ke RSU Payakumbuh dan dibaringkan di kamar jenazah,ada yang pontong badannya, pecah kepalanya, putus kaki dan sebagainya.

Memperhatikan perkembangan kondisi, Pada Tanggal 20 Desember 1948 Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota yang berpusat di Payakumbuh langsung mengadakan koordinasi dan membicarakan mengenai kemungkinan langkah-langkah yang mesti diambil untuk menyelamatkan pemerintahan dan keselamatan masyarakat.

Dari catatan Mardisun “ Peristiwa Sejarah Pemuda Gerilya Antara Koto Nan Gadang – Payakumbuh” menjelaskan, sejak 20 Desember 1948 bangunan-bangunan penting di kota ini dibumi hanguskan pula sesuai instruksi antara lain Markas Bataliyon Singga Harau, Kantor Bupati, Kantor Bank, Gonjong Limo dan Pabrik senjata di Kubu Gadang.

Letusan besar kecil selama dua hari dua malam terus menerus, rakyat panic dan takut. Mereka lari dari rumah tanpa tujuan dan arah. Mereka takut mendapat kesebaran dari letusan Gudang Senjata di Galanggang Kubu Gadang dalam Nagari Koto nan Gadang. Lebih lebih melihat simpang siurnya kenderaan dimalam gelap gulita membawa penjabat dan alat Negara mengungsi, menyelamatkan diri kedaerah pedalaman.

Letusan bermacam ragam dari darat dan udara, tak dapat sambutan dari pihak kita. Tentera KNIL-KL Belanda menduduki Kota Payakumbuh tanpa perlawanan. PDRI dan Belanda pun ibarat berkejaran dengan maut. Tak lama setelah anggota petinggi PDRI melewati kota Payakumbuh, maka Belanda pun menguasai penuh kota Payakumbuh pada tanggal 24 Desember sore.

Baca dulu :

  1. Bukittinggi di serang 19 Desember 1948,http://cilotehtanpasuara.com/blog/bukittinggi-di-serang-19-desember-1948/
  2. Situasi Kota Pariaman dan Kota Bukittinggi 19-21 Desember 1918. http://cilotehtanpasuara.com/blog/situasi-kota-pariaman-dan-kota-bukittinggi-19-21-desember-1948/
  3. Padang Panjang diserang Belanda 21 Desember 1948 .Melalui dua arah Solok dan Padang. http://cilotehtanpasuara.com/blog/padang-panjang-diserang-belanda-21-desember-1948-melalui-dua-arah-solok-dan-padang/
  4. Mengenang Pengumuman Kabinet Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) 22 Desember 1948 di Halaban. http://cilotehtanpasuara.com/blog/mengenang-pengumuman-kabinet-pemerintah-darurat-republik-indonesia-pdri-22-desember-1948-dihalaban/

Tindakan pertama yang diambil Belanda adalah memberikan pengumuman dengan pengeras suara:

Tentera kerajaan Belanda telah datang rakyat diharapkan tenang.

Barang siapa yang mencoba melarikan diri, mengadakan kekacauan, atau perampokan akan ditembak mati.

Jam malam mulai diberlakukan dari jam 18.00 sampai jam 6.00 pagi.

Kemudian diikuti dengan tindakan pembersihan. Sewaktu-waktu terdengar tembakan-tembakan dan keadaan kota benar-benar tidak aman. Mereka yang dicurigai dan tidak ikut perintah, dibunuh secara kejam. Disana-sini mayat bergelimpangan.

Belanda mulai menyusun pemerintahanya di Kota Payakumbuh. Kepala pemerintahan yang mula-mula adalah seorang kontroleur bernama W.G.Klinj, yang kemudian digantikan oleh W.Van Pilis. Kantor pemerintahannya Tijdelijk Bestuur Amtenar (TBA) berkedudukan di Labuah Baru yaitu kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) sekarang.

Untuk kepentingan tugas militer,Belanda mem-bentuk Dinas Informasi yang disebut Inlchting Dienst (ID) yang dikepalai oleh Letnan Ofades Treuner yang lebih dikenal dengan letnan Ofa, Stafnya Sersan Zsecher cukup mahir berbahasa minang.

Tugas pokok ID adalah mencari informasi situasi kota Payakumbuh dan sekitarnya, serta menyelidiki kekuatan Republik. Letnan Ofa memakai beberapa orang kaki tangan, yang terkenal keganasannya ialah seorang Cina bernama Nyo Lek An alias De An.

Mardisun dalam catatannya menuliskan, Barisan BPNK (Badan Pengawal Negeri dan Kota) yang disiapkan disepanjang jalan raya Koto nan Gadang, menghindar karena tak mempunyai senjata. Belanda tak henti-hentinya sampai malam hari berkali-kali berkeliling kota, lewat pengeras suar menyerukan agar kita menyerah.

Mardisun mengumpulkan Pemuda-pemuda yang telah sebelumnya tergabung dalam Barisan BPNK ±1.000 orang, hadir hanya tak kurang sepuluh orang. Tak dapat disesalkan mereka kabur menyelamatakan diri dan keluarganya keluar daerah.

Markas pertama BPNK Koto Nan Gadang, di langgar Pandam di pinggir Batang Agam Balai Cacang. Dan dikeluarkanlah perintah harian pertama:

  1. Mengumpulkan senjata rakyat, bedil pemburu, senapan balangsa dan granat tangan.
  2. Rakyat di anjurkan tetap tinggal di rumah masing-masing, untuk mengungsi tunggu perintah dari kami.

Pada minggu kedua, Belanda menduduki kota Payakumbuh, kami mulai bergerak menyerang kedudukan Belanda yang bermarkas di Sekolah SMP I, bekas sekolah HIS di pasar Payakumbuh. Belanda memperhitungkan gerakan Pemuda Koto nan Gadang, karena di daerah lain seperti Koto Nan IV, Labuah Basilang dan lain-lainnya tidak ada gerakan.

Pada tanggal 13 Januari 1949, Dt.Karaiang Kepala Nagari Koto nan Gadang memangil angggota BPNK dibawah pimpinan Mardisun bertempat disebuah Langgar di Balai Jariang. Ia menerangkan bahawa telah melakukan pertemuan dengan Belanda. Dia melakukan hal itu, karena terpaksa dan Belanda mengancamnya, akan membakar rumah dan kampungnya Balai Kaliki.

Mardisun menjawab “Pemerintah PDRI melarang berhubungan dengan Belanda, apalagi menemui Belanda.Dan Mardisun mengatakan . Hal ini, akan dilaporkan kepada Pemerintah PDRI. Dan ditegaskan Kepada Dt,Karaiang bahwa demi keselamatan nagari dan rakyat Koto Nan Gadang pakailah lencana merah-putih- biru di dada saudara, tapi dalam hati tetaplah merah putih. Ingat segala gerak gerik yang dilakukan oleh BPNK jangan dihalangi dan dicampuri.

Markas Belanda yang ada di Kota Payakumbuh jangan dianggap aman didalam kota, karena hampir setiap malam tetara dan pemuda-pemuda BPNK bergerilya menyusup kedalam kota, menyerang pos-pos Belanda. Akibat serangan gerilya yang hampir setiap malam itu,Belanda tambah mengganas  siang hari mereka mengadakan patroli dan operasi. Dalam operasinya itu banyak pemuda-pemuda tertangkap, digiring kedalam kota dan ditembak dijembatan Batang Agam (Jembatan Ratapan Ibu sekarang)

Kondisi Pemerintahan Lima Puluh Kota tercerai berai, kecuali dikabarkan bahwa Bupati Alifudin Saldin masih berada dalam kota. Sebahagian pegawai terpencar ke Koto Tinggi dan sebahagian lagi terpencar ke  arah Situjuah dan sebagainya. Akibat keterpencaran itu maka sulit bagi Bupati untuk mengkoordinasikan Pemerintahan. Untuk menyelamatkan pemerintahan Gubernur Militer Sumatera Barat di Kototinggi mengangkat Arisun St Alamsyah sebagai Bupati Militer. Dalam pemerintahan yang baru Arisun mencoba untuk mengorganisasi wilayah kecamatan di Lima Puluh Kota. Namun belum berapa lama memerintah Arisun gugur di Situjuh Batua.

Saiful Guci- Pulutan 23 Desember 2018.