Ciloteh Tanpa Suara-Saat saya berkunjung ke kantor Kerapatan Adat Nagari (KAN) Koto Nan Gadang dan menfoto sebuah tugu dihalamannya, saya bertanya kepada masyarakat disekitarnya apa nama tugu tersebut. Ada yang mengatakan bahwa tugu yang dikiri kanannya terdapat meriam hanya merupakan penghias halaman kantor KAN dan belum banyak yang mengenal bahwa tugu tersebut adalah  tugu peringatan buat generasi mendatang dimana di Kenagarian Koto Nan Gadang pernah menjadi Nagari Pejuang dimasa agresi ke-2 Belanda yang mengorbankan 30 orang para syuhada dan menghanguskan lebih 371 rumah selama rentang waktu Desember 1948 sd Desember 1949 hal ini terlihat di tulisan yang ada ditugu tersebut.

Ditugu tersebut tertulis  korban clasch ke II di Koto Nan Gadang 23 Desember 1948 sd  17 Desember 1949 yaitu : Hamdani, Radinas, Matrusi, Lamazi, Andarwenis, Bahar,Dt.Reno, Jalius, Damiri, Syukur, M.Noer, A.Bakar, A.Bakar, Saini, Mahyudin. M.Nur, Matani, Adnan,Rosmah, Damuhar, Munir, Bahar. St.R.Lelo, Syamsibar, Nursal, Danus. Damiri, A.Muis, Dinur, Kamaru. Dan dibawahnya tertulis Rakyat 50 Orang dan rumah  371 buah. Jatuhnya korban dan banyaknya rumah terbakar oleh pasukan Belanda, hal ini akibat pengkhianatan Wali Nagari Koto Nan Gadang yang bernama Dt. Kiraiang dan pesuruhnya Paduko Dewa. Dan tugu di depan Kantor KAN, tugu ratapan Ibu di Jembatan Ibuah dan makam pemuda para pejuang d Balai Jariang saling berkaitan.

Dari cacatatan sejarah dimana pada tanggal 19 Desember 1948 kota Yogyakarta dan Bukittinggi di serang secara serentak oleh Belanda. Bukittinggi di bumi hanguskan dan  para pemimpin menyingkir ke Halaban dan pada tanggal 22 Desember 1948 mendeklerasikan  Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dengan ketuanya Syafruddin Prawiranegara.

Baca dulu :

  1. Bukittinggi di serang 19 Desember 1948,http://cilotehtanpasuara.com/blog/bukittinggi-di-serang-19-desember-1948/
  2. Mengenang Pengumuman Kabinet Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) 22 Desember 1948 di Halaban. http://cilotehtanpasuara.com/blog/mengenang-pengumuman-kabinet-pemerintah-darurat-republik-indonesia-pdri-22-desember-1948-dihalaban/
  3. Mengenang Payakumbuh Diserang 23 Desember 1948 http://cilotehtanpasuara.com/blog/mengenang-payakumbuh-diserang-23-desember-1948-pada-masa-agresi-belanda-ii/
  4. Mengenang Nagari Koto Tuo Lautan Api dalam rangkaian Sejarah PDRI http://cilotehtanpasuara.com/blog/nagari-koto-tuo-dalam-rangkaian-sejarah-pemerintah-darurat-republik-indonesia-pdri/

Pada tanggal 23 Desember 1948, tetara Belanda menduduki Kota Payakumbuh.Pada malam sebelumnya bangunan-bangunan penting di kota ini dibumi hanguskan pula antara lain Markas Bataliyon Singga Harau, Kantor Bupati, Kantor Bank, Gonjong Limo dan Pabrik senjata di Kubu Gadang.

Dalam Harian Singgalang, minggu 18 November 1990, C. Israr, menuliskan, tindakan pertama yang diambil Belanda adalah memberikan pengumuman dengan pengeras suara:

Tentera kerajaan Belanda telah datang rakyat diharapkan tenang. Barang siapa yang mencoba melarikan diri, mengadakan kekacauan, atau perampokan akan ditembak mati. Jam malam mulai diberlakukan dari jam 18.00 sampai jam 6.00 pagi.

Kemudian diikuti dengan tindakan pembersihan. Sewaktu-waktu terdengar tembakan-tembakan dan keadaan kota benar-benar tidak aman. Mereka yang dicurigai dan tidak ikut perintah, dibunuh secara kejam. Disana-sini mayat bergelimpangan.

Belanda mulai menyusun pemerintahanya di Kota Payakumbuh. Kepala pemerintahan yang mula-mula adalah seorang kontroleur bernama W.G.Klinj, yang kemudian digantikan oleh W.Van Pilis. Kantor pemerintahannya Tijdelijk Bestuur Amtenar (TBA) berkedudukan di Labuah Baru yaitu kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) sekarang.

Untuk kepentingan tugas militer,Belanda membentuk Dinas Informasi yang disebut Inlchting Dienst (ID) yang dikepalai oleh Letnan Ofades Treuner yang lebih dikenal dengan letnan Ofa, Stafnya Sersan Zsecher cukup mahir berbahasa minang.

Tugas pokok ID adalah mencari informasi situasi kota Payakumbuh dan sekitarnya, serta menyelidiki kekuatan Republik. Letnan ofa memakai beberapa orang kaki tangan, yang terkenal keganasannya ialah seorang Cina bernama Nyo Lek An alias De An.

Namun jangan dianggap aman didalam kota, karena hampir setiap malam tetara dan pemuda-pemuda BPNK bergerilya menyusup kedalam kota, menyerang pos-pos Belanda. Akibat serangan gerilya yang hampir setiap malam itu,Belanda tambah mengganas  siang hari mereka mengadakan patroli dan operasi Dalam operasinya itu banyak pemuda-pemuda tertangkap,digiring kedalam kota dan ditembak dijembatan Batang Agam.

Belanda memperhitungkan pemuda Koto Nan Gadang karena daerah lain seperti Koto Nan Ampek, Labuah Basilang dan lain-lain telah kosong tanpa gerakan. Markas pertama para pemuda Koto Nan gadang dibawah pimpinan Mardisun adalah Langgar Pandam di pinggir Batang Agam Balai Cacang. Dari sana mulai dkumpulkan segala senjata rakyat : senapan , bedil pemburu, senapang balangsa dan granat tangan.

Pada tanggal 13 Januari 1949 Dt. Karaiang Wali Nagari Koto Nan Gadang memanggil para pemuda yang bertempat di sebuah langgar di Balai Jariang. Ia menerangkan bertemu dengan Belanda. Dia melakukan itu dengan terpaksa. Karena Belanda mengancamnya akan membakar rumah dan kampungnya Balai Kaliki. Pemuda di bawah pimpinan Mardisun dengan tegas menolak untuk bergabung dengan Belanda karena kitatidak boleh membuat perjanjian dan bertemu dengan musuh.

Belanda kemudian di Koto Nan Gadang membuat posnya di rumah guru Saidi Simpang Jalan ke Rumah Sakit Umum Payakumbuh yang lain di rumah Dt. Patiah Baringek Balai Baru ( sekarang Rumah Adat H.Marlius). Pemuda Koto Nan Gadang setiap malam melancarkan serangan-serangan gerilya dan penghadangan-penghadangan yang menyebabkan banyak kerugian jiwa yang diderita oleh pasukan Belanda, sedangkan usaha-usaha yang mereka lakukan untuk menghancur kan kekuatan gerilya selalu gagal. Akhirnya Belanda yang naik pitam melakukan tindakan yang biadab. Dalam aksi pembalasan dendam pasukan Belanda menangkap dan membunuh siapa saja yang dieksekusi dijembatan Batang Agam.

Politik Ekonomi Gerilya

Suasana politik semakin panas, markas pemuda di Langgar Pandam Balai Cacang di pindahkan ke Masjid Nan Kodok. Belanda melalui pengeras suaranya melarang masyarakat berjualan dipinggir jalan Koto Nan Gadang dan menyuruh masyarakat meramaikan pasar Payakumbuh serta  melarang peredaran uang ORI ( Oeang Republik Indonesia). Membalas larangan ini Mardisun membuat panflet yang berbunyi : Gerilya tidak bertanggung jawab bag orang-orang yang berdagang di pinggr jalan besar Koto Nan Gadang dan ORI adalah tanda pembayaran yang syah di Republik Indonesia ini. Pengumuman ini ditanda tangani oleh Mardisun dan di stempel  serta di temple ditempat-tempat umum. Karena pengumumnan ini tidak di gubris oleh pedagang Cina yang berdagang kain tidak mau menerima uang ORI, maka disiram dan dibakar oleh pemuda Gerilya, lalu pedagang tersebut lari dan berteriak minta tolong. Sejak saat itu tidak ada lagi yang berani berjualan di pinggir jalan raya Koto Nan Gadang.

Pertemuan di Masjid Nangkodok

Di sore hari pada hari Kamis 2 Februari 1949 datanglah Wali Nagari Koto Nan Gadang Dt.Karaiang bersama rombongannya yang terdiri beberapa ninik mamak ke Masjid Nan Kodok. Mereka duduk berjejer di Migrab dan pemuda dibawah pimpinan Mardisun duduk menghadap mereka.

Dt.Karaiang membuka pembicaraan, “ saya kemarin di panggil Belanda dan telah mengambil kesepakatan untuk keamanan Nagari dan rakyat Koto Nan Gadang. Kita mengharapkan ketentraman, sehingga tidak ada korban jiwa dan harta. Untuk itu kami datang kemari, member tahukan kepada masyarakat mungkin pendapat kami sejalan dengan masyarakat dan  pemuda-pemuda kita” ujar Dt.Karaiang sambil membuka gulungan kertas  dan membacakan pasal demi pasal isi perjanjian tersebut:

“Pertama, tiap-tiap kampung di Koto Nan Gadang agar terpelihara dari gangguan keamanan diadakan ronda malam. Orang-orang yang ronda malam memakai band tangan yang distempel Belanda” ujar Dt.Karaiang.

Mendengar hal ini langsung ditangapi Mardisun “ Seperti pertemuan kita terdahulu, bahwa tidak dibolehkan berhubungan dengan musuh. Dan kami tidak setuju diadakan ronda malam  di setiap kampung, apalagi dipasangkan band tangan yang diberi stempel oleh Belanda. Apakah tidak terpikir oleh pak datuk dan Walinagari dengan band di tangan yang distempel Belanda pasti orang luar dari Nagari Kita telah mencap kita pasukan NICA dan hal ini merupakan musuh rakyat. Ini dapat membahayakan kehidupan dan ketentraman nagari dan Rakyat Koto Nan Gadang. Rakyat di sekeliling kampung kita pasti melakukan gerilya kepada kita terlebih dahulu “ ujar Mardisun.

Kemudian dilanjutkan oleh Dt. Kiraiang kembali “ Siapa yang keluar rumah malam hari harus membawa lampu dan suluh “ terang Dt.Karaiang. langsung dijawab Mardsun “ Kami tidak mengizinkannya dan barangsiapa membawa penerangan akan mati kami bacok “ ujar Mardisun.

Kemudian Dt. Kiraiang dengan nada tinggi berkata “ kalau saudara-saudara tidak menyetujuinya, Belanda akan membuat posnya mulai dari Tanjuang Anau, Payolinyam, Nan Kodok, Kaniang Bukik, Muaro  dan sampai ke Simpang Benteng. “ ujar Dt. Kiraiang

Hal ini dijawab sambil tertawa oleh Mardisun “ bagus itu, berarti kami tidak lagi jauh-jauh bergerilya. Pos-pos yang terpencar-pencar itu menjadi sasaran empuk bagi kami untuk bergerilya yang di mulai dari Pos Tanjuang Anau. Sekarang kami terpaksa bergerilya sampai ke SMP I dekat Pasar “ ujar Mardisun.

Mendengar jawaban Mardisun, Wali Nagari Dt. Kiraiang langsung naik pitam  dan marah seraya mengancam “Jika saudara tidak menyetujui Belanda akan membumi hanguskan Nagari Koto Nan Gadang” Ujar Dt. Kiraiang sambil berdiri.

Kemudian kami jawab “ bapak Wali takut dengan Belanda atau takut dengan kami pemuda Gerilya ?. Kami akan tetap mempertahankan dan selalu berjuang untuk mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia, walaupun apapun yang terjadi terhadap kami maupun Nagari Koto Nan Gadang yang bapak Wali pimpin.

Darah Syuhada Membasahi Koto Nan Gadang

Dalam cacatan peristiwa sejarah oleh Mardisun, sebuah peristiwa yang tidak bisa dilupakan oleh masyarakat Kenagarian Koto Nan Gadang adalah, pada hari Jumat  tanggal 11 Februari 1949 dimana sebelum sholat Jumat serdadu Belanda mengepung dan memasuki Masjid Gadang di Balai Gadang dan menangkap tiga orang pemuda yakni,: Hamdani, Radinas dan Matrusi dan kemudian ditembak di simpang tiga jalan ke Masjid Gadang tersebut darah mulai membasahi bumi Koto Nan Gadang.

Peristiwa ini mengugahmata hati para pemuda dan membangkitkan semangat pantang mundur, selagi hayat dikandung badan yang telah terpatri dalam lbuk hati yang dalam dengan tekad selangkah tak akan mundur setapak berpantang surut, untuk membalas kekejaman Belanda ini. Kegiatan Gerilya semakin ditingkatkan setiap malam dan pemblokiran bahan makanan diperketat, sehingga sebutir beras dan telor tak boleh lewat masuk Kota Payakumbuh.

Gugurnya Pemuda Yang Bertujuh

Pada tanggal 20 Februari 1949 para pemuda Gerilya rapat di sebuat pondok di Munggu Panjang  ditengah Sawah Laweh, materi rapat memperkuat organisasi, membangkitkan semangat pemuda serta membagi tugas-tugas. Sebelum rapat berakhir seorang kurir bernama Chaidir memberikan surat undangan dari Wali Nagari Dt. Kiraiang untuk datang sehabis sholat magrib ada kegiatan rapat yang bertempat di sebuah rumah di daerah Balai Jariang untuk membahas bantuan sembako dan kain dari Belanda.

Sebelum sholat magrib di Masjid Nan Kodok Mardisun dan kawan-kawan meminta pendapat kepada H.Djakfar apakah mereka akan menghadiri undangan walinagari Dt. Kiraiang atau tidak. Dan H.Djakfar memberikan nasehat sambil menanyai hati dan perasaan kami apabila hatimu berkata jangan hadiri rapat tersebut. Saudara M.Noer berdiri sambil memegang bahu kami dia berkata “ biarlah saya mewakili ikut rapat, dan doakan atas keselamatan kami “ ujar M.Noer.

Dan keesokan harnya sekitar jam 5.30 pagi tangal 21 Februari 1949 Chaidir memangil para pemuda dan Mardisun yang lagi tidur  di rumah bergonjong atap ijuk di belakang Masjid Nan Kodok , sambil menangis Chaidir memberitahukan bahwa teman-teman yang hadir dalam rapat semalam di sergap Belanda dan semuanya di tangkap dan ada tujuh orang  pemuda Koto Nan Gadang dibunuh  oleh Pasukan Belanda dengan jebakan ikut sebagai peserta rapat disebuah rumah adat bertiang dua belas , dekat Mushala lapangan Mangkudu oleh Walinagari Dt.Karaiang bersama pesuruhnya Paduko Dewa.

Saat rapat ketujuh Pemuda tersebut ditanyai dimana keberadaan Mardisun dan kawan-kawanya. Karena tidak mau menjawab mereka ditangkap dan menjadi korban keganasan Belanda dimalam hari tersebut, yaitu : Bahar, Bakar, Syukur, Dt.Reno, Damuri, Andarwenis dan Julius yang tangannya diikat kebelakang dengan sobekan kain sarung Andarwenis langsung digiring kebawah rumah , suasana gelap hujan rinai turun dan suara petir bergelagar seiring dengan letusan suara senapan pasukan kaki tangan  Belanda yang menembak ketujuh pemuda tepat dijalan depan makam Pemuda Pejuang Balai Jariang sekarang .

Mendengar berita tersebut para pemuda dan Mardisun tak alang berduka sedih tak terkira, gelap rasanya dunia ini. Kemudian Chaidir melanjutkan pesan dari ibuk bapak Mardisun menyuruh Mardisun bersama adiknya Marlis untuk meninggalkan Nagari Koto Nan Gadang karena orang banyak mencarinya untuk dibunuh.

Setelah mengadakan pertemuan bersama wakil ketua Darisun dan beberapa pemuda di putuskan untuk sementara waktu Mardisun untuk menghilang dari Nagari Koto Nan Gadang sesuai pesan dari orang tua.

Dan tiga hari  setelah pemeriksaan M.Noer pada tanggal 24 Februari 1949 terdengar kabar bahwa dia di tembak dijembatan Ibuah (Jembatan Ratapan Ibu sekarang) oleh Sastro kaki tangan Belanda.

Peristiwa ini mengugah pemuda dan masyarakat untuk membentuk Pasukan Mobil Teras (PMT) pada akhir bulan Awal Maret 1949 yang di prakarsai oleh Wali Perang Koto Nan Gadang Syamsuar Yahya yang mengantikan Dt.Karaiang yang berpihak kepada Belanda , Wali perang Lubuak Batingkok Junias Janaid, Wali perang Koto Tuo Khatib Bermawi, dan Wali Perang Gurun Dt. Bosa Nan Hitam  . Kemudian dilanjutkan dengan adanya Surat Keputusan Gubernur Militer M.Rasyid  Pe.Ma./M.P Gubernur Militer No.001/Ist.Rhs tanggal 1 Maret 1949 menetapkan Mardisun (Koto Nan Gadang) sebagai Ketua dari Pemerintahan Darurat Kota Payakumbuh. Wakil Ketua dr. Adnan WD, dan anggota Djufri (Jaksa), Damir Djanid, Zaidar Noerdin dan Chaidir sebagai penghubung. Pasukan Istimewanya tercatat:Rubai, Layat, Hamzah dan Kasuan.
Tercatat pada waktu itu Ketua Pemerintah Darurat Payakumbuh juga sebagai Komandan kompi adalah  Mardisun dari Koto Nan Gadang, komandan pertempuran pasukan gerilya Sektor II Payakumbuh Utara M. Sain dari Tanjung Pati dan Darisun dari Koto Nan Gadang. Yang menjadi anggota waktu itu antara lain : Rasyid Dt. Ngiang , Mawi, Rabai ( Koto Tuo), Baini (Koto Tangah), Zamawi (Padang Rantang), Syamsulaini (Tanjung Pati ), Imam Bise ( Pulutan ) dll. Penempatan untuk pleton yang dipimpin oleh M.Sain disekitar Tanjung Pati yang markasnya di Masjid Al Ikhlas  di Boncah Pulutan, dan pleton yang dipimpin Darisun di Padang Rantang (Surau Haji Sulaiman).

Beberapa hari setelah peristiwa pembunuhan tujuh pemuda, Mardisun berjumpa dengan seorang pemuda bernama Kasuan yang sedang mencari Madisun di Jembatan Lampasi. Setelah bicara berapa lama Kasuan mengaku akan menerima upah sekayu kain belacu dan kain putih apabila berhasil membunuh Mardisun.Kemudian Mardisun berkata “ Sekarang kita telah bertemu, Kasuan bisa bertindak apa saja kepada saya untuk mendapatkan hadiah. Apabila tidak punya senjata boleh pilih senjata saya apakah pisau, granat tangan atau pistol. Kasuan menolak sambil menangis bersimpuh dihadapan Mardisun. Kemudian Kasuan meminta bergabung dengan Pemuda Gerilya.

Lalu Mardisun berkata” apabila mau bergabung berjuang bersama Gerilya harus lulus dulu ujian. Pertama , mengawal jembatan Lampasi dengan mempergunakan granat tangan pada mala mini, sebaliknya bila saudara Kasuan ingin mendapatkan hadiah lakukan niat saudara, saya tidur di sebuah pondok ditengah sawah tidak jauh dari Jembatan Lampasi ini. Besok pagi saudara harus membangunkan saya dan melaporkan apa kejadian  yang ditemui. Ujian terakhir adalah, Kasuan di perintah mengaranat Belanda di Simpang Benteng. Tugas terakhir ni dilaksanakan dengan baik, melempar musuh dengan granat tangan di Kebun Saus Simpang Benteng (Kantor Pertanian). Kasuan tercatat sebagai anggota Gerilya yang pemberani.

Menuntut Balas

Setelah mengetahui sebagai dalang pembunuhan dan pembakaran rumah-rumah di Koto Nan Gadang adalah Dt.Karaiang bersama pesuruhnya Paduko Dewa. Mardisun bersama 7 orang pemuda dan satu orang wanita bernama Anam istri dari Darisun bertekat membalas dendam dan malam 24 Februari 1949 mengadakan rapat di Markas di Tanjuang Anau serta memutuskan untuk menyerang dan menembak Dt.Karaiang yang telah menjadi kaki tangan Belanda yang membunuhi para pemuda dan membakar rumah-rumah di Koto Nan Gadang.

Perintah untuk dilaksanakan di siang hari, karena malamnya Dt.Karaiang bersama anggotanya tidur bersama Belanda. Pada tanggal 25 Februari 1949 segala rencana telah diatur ditambah bantuan dua orang Pemuda dari Pulutan Tanjung Pati, sambil menyandang senjata dengan berkelumun kain sarung, sejak pagi subuh perjalanan Dt.Karaiang telah diintai sejak keberadaanya masuk kantornya di Balai Baru. Menjelang jam 12.00 siang ditugasi salah seorang pemuda untuk mengintip apakah Dt.Karaiang masih berada dalam kantornya. Kenyataan dia telah meninggalkan kantornya lewat pintu belakang. Kemudian dilacak dimana keberadaan mereka, ditemukanlah di rumah salah satu istrinya di Balai Gadang mereka akan makan siang bersama stafnya Paduko Dewa.

Para Pemuda pejuang bergerak, terjadilah perlawanan dan perkelahian antara Dt.Karaiang bersama stafnya dengan sepuluh orang pemuda yang menutupi wajahnya dengan kain sarung, Paduko Dewa kepalanya luka sambil berteriak minta tolong lari ke arah Simpang Benteng Markas Belanda. Sejenak kemudian panser Belanda lewat, kemudian para pemuda pejuang menyelamatkan diri arah Tanjuang Anau dan bersembunyi di semak-semak di pinggir Batang Lampasi. Esoknya baru pulang ke rumah masing-masing untuk menjelaskan kepada orangtua tentang peristiwa ini. Rakyat dan masyarakat banyak yang tidak mengerti kenapa Dt.Karaiang di serang dan ditembak oleh Pemuda, karena banyak masyarakat buta dalam keraguan terkena bujuk rayu oleh Dt.Karaiang.

Setelah sholat Isha tangal 26 Februari 1949, diperoleh kabar dari Chaidir yang menyampaikan kabar dari dr Adnan WD Kepala Rumah Sakit Payakumbuh, bahwa Dt. Karaiang salah satu kakinya hancur terkena peluru dan dia tidak mati. Dan sampai hari tuanya Dt.Karaiang menderita menerima kutukan dari masyarakat Koto Nan Gadang.

Bulan Maret 1949 Belanda memperkuat pasukannya di Payakumbuh dan yang banyak sasaran adalah Nagari Koto Nan Gadang yang rumahnya di rampok dan pemudanya di bunuh dan perempuannya di perkosa apabila ditemuai oleh kaki tangan Belanda. Maka masyarakat Nagari Koto Nan Gadang banyak mengungsi keluar kota ada ke Nagari Batu Payuang Luhak, Batu Balang Kec. Harau dll sehingga Nagari Koto Nan Gadang banyak rumahnya yang kosong ditinggalkan pemiliknya untuk menyelamatkan diri dari kaki tangan Belanda. Dan Nagari Koto Nan Gadang adalah arena pertempuran antara pasukan Gerilya PDRI dengan pasukan kaki tangan Belanda. Tiga sungai yang menjadi saksi kekejaman Belanda yakni; Batang Agam, Batang Lampasi dan Batang Sinamar sampai bulan Juli 1949.

Saiful Guci-  Pulutan 24 Juni 2019.

Sumber :

  1. Catatan Mardisun, Peristwa Sejarah Pemuda Gerilya Antara Koto Nan Gadang- Payakumbuh. 1995.
  2. Catata C.Israr. Harian Singgalang, minggu 18 November 1990