MENGENANG IBRAHIM TAN MALAKA ANAK PANDAM GADANG

0
142

Dari Tulisan Mengenal Sejarah

Ciloteh Tanpa Suara – Jika ada yang menanyakan jalan apa yang paling terpanjang di Sumatera Barat, kemungkinan besar jawabannya adalah Jln.Tan Malaka. Jalan yang menghubungkan Kota Payakumbuh dari Simpang Bunian ke Nagari Pandam Gadang , Koto Tinggi Kecamatan Gunuang Omeh Kabupaten Limapuluh Kota yang membentang sejauh 50 km.

Jalan Provinsi yang terpanjang ini, bakal mengarahkan kita kepada kampung halaman kelahiran Ibrahim Tan Malaka di Nagari Pandam Gadang yang mana dihalaman rumah tua tersebut telah dibangun berbentuk kuburan tanah yang dibawa dari tanah perkuburan Jasad Tan Malaka di Selo Pangung Kediri dan juga telah berdiri sebuah patung tembaga tokoh Tan Malaka tersebut persembahan dari Fadli Zon.

Banyak diantara kita kurangnya pemahaman sejarah, nama Ibrahim Tan Malaka seringkali ditutupi dan tidak diperkenalkan kepada generasi muda. Bahkan di Ibukota Republik ini tidak dijumpai nama jalan yang bernama “Tan Malaka”. Padahal kalau dipelajari dan diteliti lebih dalam, tidak ada alasan untuk memusuhi nama Tan Malaka. Bukanlah yang menggagas Republik ini untuk pertama kalinya adalah almarhum Ibrahim Tan Malaka sendiri, dalam bukunya yang berjudul “Naar de Republiek Indonesische” (Menuju Republik Indonesia) pada tahun 1925.

Bukankah pada bulan Maret 1963 Presiden Soekarno telah menetapkan Tan Malaka menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional berdasarkan Kepres No.53  Tahun 1963, dan beliau berhak mendapat penghargaan seperti dalam setiap peringatan pahlawan pahlawan bangsa.

Misteri Kematian Tan Malaka

Bagi orang pencinta tokoh misteris Ibrahim Tan Malaka, selalu ingat bahwa tanggal 21 Februar 1949 adalah kematian dari Ibrahim Tan Malaka yang sangat tragis di Desa Solopanggung Kecamatan Semen Kabupaten Kediri yang ditembak mati atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya.

Kisah dan peristiwa ini, penulis peroleh pada tanggal  21 Februari 2017 lalu, Penulis ikut dengan rombongan Pimpinan DPRD Limapuluh Kota Safaruddin Dt.Bandaro Rajo , Deni Asra, Hemmy Setiawan. Hardedi, dan Amril.B ikut mendampingi untuk berkunjung ke DPRD Kota Kediri 20-24 Februari 2017 lalu. Dalam pertemuan yang disambut oleh Wakil Ketua DPRD H.Oing Abdul Muid, dan anggota H.Nurudddin Hasan dan H.Muzer Zaidib.

Di kantor DPRD Kota Kediri, kami semua terkesima mendengar tutur cerita tentang Ibrahim Tan Malaka dari H.Nuruddin Hasan yang pengangum Ibrahim Tan Malaka yang menurut pengakuannya mempunyai 26 buku buah pikir dari Ibrahim Tan Malaka dan juga buku karangan Harry A Poeze Ibrahim Tan Malaka setebal 2 200 halaman yang berjudul “Vurguisden Vergeten, Ibrahim Tan Malaka, De linkse Beweging en Indonesische Revolution 1945-1949” (Ibrahim Tan Malaka, Dihujat dan Dilupakan, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia 1945-1949).

Menurut Nuruddin Hasan “ Ibrahim Tan Malaka sangat pandai menulis, orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah, tulisan pokok pokok pikirannya inilah yang memberikan semangat berdirinya Republik Indonesia ini “ ujar Nuruddin Hasan.

Ibrahim Tan Malaka,  merupakan salah satu pejuang revolusioner  Indonesia beraliran kiri nasionalis. Ia dilahirkan di Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, pada 2 Juni 1897. Ibrahim Tan Malaka tewas dalam pengejaran pasukan Brigade Sikatan, yang dipimpin Letkol Surachman, pada 21 Februari 1949. Diperkirakan dia tewas dalam perjalanan dari Pace, Kabupaten Nganjuk menuju Kabupaten Tulungagung, melalui lereng Gunung Wilis.

Pendiri partai Murba ini kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 53 yang ditandatangani Presiden Soekarno pada 28 Maret 1963. Sayangnya, pada masa pemerintahan Soeharto, nama Ibrahim Tan Malaka dihilangkan dari buku-buku sejarah Nasional.

Harry A Poeze yang yang juga mantan Kepala Penerbit KITLV Press (Institut Kerajaan Belanda Untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara) yang menjelaskan berdasarkan riset yang dilakukannya terkait kematian Ibrahim Tan Malaka, menyebutkan Tan Malaka dibunuh di Desa Selopanggung Kecamatan Semen Kabupaten Kediri pada 21 Februari 1949 oleh Brigade Sikatan atas perintah Letkol Soerachmad .

Rekontruksi awal penelusuran ini adalah ketika bertemu dengan Syamsuri (50) mantan Kepala Desa Selopanggung (1990-1998). Atas jasa Syamsuri , didapatkanlah informasi dari Tolu (87) (sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu) warga Selopanggung yang berada di lembah Gunung Wilis yang berjarak kurang lebih 30 kilometer dari Kota Kediri. Tolu banyak memberikan keterangan tentang tempat persembunyian Brigade Sikatan saat agresi Belanda kedua terjadi sekitar tahun 1949.

Kala itu Tolu masih berumur sekitar 10 tahun yang tinggal bersama kakeknya, Mbah Yasir namannya. Dimana rumah Mbah Yasir itulah yang ditempati pasukan TRI yang melarikan diri dari kejaran Belanda. Mereka antara lain Letkol Soerachmad, Letnan Dua Soekotjo, Soengkono, Sakur, Djojo dan Dayat.

Harry A Poeze yang menyatakan Ibrahim Tan Malaka ditembak mati tanggal 21 Februari 1949 oleh Brigade Sikatan atas perintah Letkol Soerachmad. Eksekusi yang terjadi selepas Agresi Militer Belanda kedua itu didasari surat perintah Panglima Daerah Militer Brawijaya Soengkono dan Komandan Brigadenya Letkol Soerahmat.

Kenapa Ibrahim Tan Malaka di Kejar dan di Bunuh

Penangkapan hingga penembakan mati Ibrahim Tan Malaka oleh Briagade Sikatan atas perintah petinggi militer di Jawa Timur menilai seruan Ibrahim Tan Malaka terkait penahanan Bung Karno dan Bung Hatta ke Pulau Bangka pada agresi militer ke-2 pada tanggal 19 Desember 1948. Sementara Soekarno-Hatta mengirimkan kawat ke Syafruddin Prawiranegara di Sumatera yang kemudian mendirikan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang dideklarasikan di Halaban pada tanggal 22 Desember 1948.

Disebabkan  Ibrahim Tan Malaka yang belum mengetahui adanya mandat ke Syafruddin Prawiranegara yang saat itu berada di Sumatera Barat , dan  dengan  ditangkapnya Soekarno , Hatta dan Syahril dan diasingkan ke Pulau Bangka . Ibrahim Ibrahim Tan Malaka berpikir untuk mengisi kepemimpinan yang kosong untuk berjuang serta enggannya elite militer bergerilya dianggap membahayakan stabilitas, maka Ibrahim Tan Malaka mendeklerasikan sebagai Presiden Republik Indonesia ke-2.

Naluri pendeklerasian sebagai Presiden Indonesia ini dilatar belakangi adalah pertemuannya dengan Soekarno  . Bayah Banten adalah tempat pertama pertemuannya dengan Soekarno namun Soekarno tidak mengetahui bahwa dia adalah Ibrahim Ibrahim Tan Malaka karena saat itu Ibrahim Ibrahim Tan Malaka menyamar menjadi Ilyas Hussein. Semua hidup Ibrahim Tan Malaka  dihabisi oleh penyamaran maka tidak asing dia memiliki 23 nama samaran.

Disaat Soekarno mengenal jauh Ibrahim Ibrahim Tan Malaka yang saat itu tulisannya menjadi banyak inspirasi, sangat menghargai beliau dan mengagumi tulisan serta gerilyawan beliau dalam menghantam batu keras penjajahan pastinya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Kedekatan Soekarno dan Ibrahim Ibrahim Tan Malaka terjalin sangat erat walaupun kadang kala Ibrahim Ibrahim Tan Malaka menentang pidato pidato bung Karno namun itu salah satu bumbu penyedap dalam sebuah pertemanan. Persis pada malam takbiran September 1945 terjadi rapat gelap di rumah dokter pribadi Soekarno Jln.Kramat Raya, Jakarta Pusat. Ada rapat antara 2 orang yaitu Soekarno dan 1 orang misterius bernama Abdul Razak yang belakangan diketahui itu adalah nama samaran Ibrahim Tan Malaka. Ibrahim Tan Malaka ditunjuk untuk menjadi pengganti pucuk kepemimpinan bung Karno dan bung Hatta bila mana beliau berdua di tangkap, diasingkan atau dibunuh oleh penjajah.

Pada rapat kedua berlangsung dikediaman Mr. Ahmad Soebardjo bulan Oktober 1945,dirapat itu hadir pula bung Hatta dan Ahmad Soebarjo. Masing -masing mengusulkan nama untuk menjadi pemimpin seandainya terjadi kekosongan pemerintahan dan bung Karno mengajukan nama Ibrahim Tan Malaka sebagai pewaris tunggal,sedangkan bung Hatta yang tidak terlalu dekat dengan Ibrahim Tan Malaka mengajukan nama Sjahrir dan Wongsonegoro.

Sementara, Mr. Ahmad Soebardjo mengusulkan Iwa Sumantri. Jadi, urutan pertama tetap Ibrahim Tan Malaka, diikuti dengan Sjahrir, Wongsonegoro, dan Iwa Sumantri. Ini menjadi catatan sejarah yang sengaja “ dihilangkan “ .

Sebab inilah sejarah tentang pewaris kepemimpinan Republik Indonesia yang sah, jika terjadi apa- apa pada dwitunggal maka Ibrahim Tan Malaka yang menjadi penggantinya,bukan Soedirman,Ahmad Yani bahkan Soeharto sekali pun. Inilah salah satu sejarah dari ratusan sejarah yang sengaja dihilangkan pada rezim orde baru.

“ Jika saya tiada berdaya lagi, saya akan menyerahkan pimpinan revolusi kepada seorang yang telah mahir dalam gerakan revolusioner, Ibrahim Tan Malaka..,” ujar Soekarno saat itu. Jelas sekali ini adalah salah satu mandat langsung dari Presiden Republik Indonesia,bukan mandat supersemar,bukan pula pembentukan pemerintahan darurat yang seharusnya memimpin kala bung Karno dan Hatta di asingkan tapi Ibrahim Tan Malaka seorang ahli revolusi,seorang yang pertama kali memperkenalkan kata “Naar de Repoeblik Indonesia” (Menuju Republik Indonesia) pada 1925,seseorang yang bersama Soedirman menolak perundingan,dan orang yang berseberangan paham dengan Hatta-Sjahrir yang memilih jalan lunak kepada Belanda.

Pada tanggal 19 Desember 1948 dwitunggal ditangkap dan jadi kekosongan maka dari itu Ibrahim Tan Malaka mendeklarasikan dirinya sebagai pengganti pucuk kepemimpinan. Namun sikapnya tersebut dianggap memberontak dan memanfaatkan situasi,maka dari itu banyak sekali orang/organisasi yang tidak suka dengan Ibrahim Tan Malaka. Terjadi kesimpangsiuran informasi,banyak yang mengejar dia mulai dari PKI partai dia dahulu hingga suruhan Soeharto seperti dibuku “ 151 konspirasi dunia” yang salah satu dari 151 membahas Ibrahim Tan Malaka dan konspirasi Soeharto. Terjadi perpecahan di TKR (tentara rakyat indonesia) pimpinan Jendral Soedirman.

Pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Ibrahim Tan Malaka hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya di tengah-tengah perjuangan bersama Gerilya Pembela Proklamasi di Pethok, Kediri, Jawa Timur dibunuh oleh TNI. Tapi akhirnya misteri tersebut terungkap juga dari penuturan Harry A. Poeze, seorang Sejarawan Belanda yang menyebutkan bahwa Ibrahim Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya.

Pemindahan Tanah Kuburan Ibrahim Tan Malaka

Seperti dimaklumi, lokasi makam Ibrahim Tan Malaka yang merupakan putra Pandam Gadang Limapuluh Kota, Sumatra Barat sudah sangat lama menjadi ‘misteri’. Barulah sejak beberapa tahun terakhir diketahui bahwa Ibrahim Tan Malaka dimakamkan di Selopangung Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Maka Tokoh Muda Mantan Wakil Bupati Limapuuh Kota Ferizal Ridwan bertekat bulat memindahkan jasad Ibrahim Tan Malaka atau Tanah Kuburan Ibrahim Tan Malaka dari Kediri ke Pandam Gadang yang muncul setelah dialog di STAIN Kediri . Hal itu dilanjutkan dengan rencana konkrit untuk membangun sebuah museum Ibrahim Tan Malaka di Pandam Gadang .

Riwayat Hidup Ibrahim  Datuak   Tan  Malaka.

Ibrahim kecil ikut orangtuanya yang bekerja sebagai mantri suntik atau vaksinator di  Tanjung Ampalu Sawahlunto Sijunjung. Ibrahim yang terkenal nakal dan cerdas      direkomendasikan oleh gurunya untuk melanjutkan sekolah ke Sekolah guru negeri untuk guru-guru Pribumi di Fort de Kock – Bukiitinggi sekarang   yang terdaftar pada tahun 1907.

Di Bukittingi Ibrahim berkenalan dengan budaya negeri penjajahanya. Dia belajar bahasa Belanda. Dia bergabung dengan orkes sekolah sebagai pemaian cello dibawah pimpinan G.H Horensma. Hobi lamanya juga tidak pernah hilang yakni main sepak bola. Ibrahim dipaggil Ipie  yang kemudian hari  Horensman menganggapnya sebagai anaknya sendiri.

Pada tahun 1913 Ibrahim merampungkan ujian teori sebagai guru   di Forf de Kock dan praktek mengajar disekolah rendah pribumi. Horensman menyarankan agar Ibrahim alias Ipie melanjutkan sekolah  ke Belanda. Atas bantuan W.Dominicus. Kontrolir Suliki, pemuka warga mengumpulkan F 50 gulden per bulan untuk biaya sekolah Ipie di Belanda, Rijksweek school.

Ibrahim Tan Malaka` menyertai Horensma ke Kota Haarlem Belanda pada oktober 1913. Ibrahim Tan Malaka tinggal pertama kali di sebuah rumah pemondokan bersama murid Rijkweekschool dan kemudian pindah ke Jacobijnestraat.

Semangat Ibrahim Tan Malaka menempuh pendidikan sekolah guru ke Belanda tak lepas dari campur tangan G.H Horensman. Dia berhasil meyakinkan Direktur van der Ley bahwa Tan Mala seorang yang pintar dan ccerdas,pemuda ini banyak bakat dan energinya, tingkah lakunya baik sekali, rapi dan gairah belajarnya besar, “ tutur Van der Ley kepada schoolopziener.

Pondokan di Jacobijnestraat adalah tempat berseminya pemahaman politik Tan Malaka adalah tempat berseminya pemahaman politik  Tan Malaka. Dia kerab terlibat diskusi hangat antara teman satu kos, herman Wouters, seorang pengungsi Belgia yang melarikan diori dari serbuan jerman, dan Van der Mij. Dari diskudi tersebut tan tersadar bahwa duunia tengah bergolak, sekonyong-konyong, sebuah kata baru mulai jadi subyek misterius bagi tan Malaka “ Revolusi.

Tan Malaka meninggalkan Haarlem pada tahun 1916 dan pindah ke Bussum, dia tinggal bersama keluarga Rietze Koopmans. Kepindahan ke Bussum membuat Tan Malaka semakin tersadar terhadap penjajah dan dijajah.

Revolusi Komunis yang meledak di Rusia pada  Oktober 1917 juga memberikan keyakinan pada Tan Malaka bahwa dunia beralih dari ke sosialisme. Berbagai gagasan baru tentang bagaimana seharusnya bangsa Indonesia di bangun berseliweran dalam benak Tan Malaka.

Lalu datanglah tawaran dari Suwardi Surjaningrat alias Kihajar Dewantara agar dia mewakili Indische Vereeniging dalam kongres pemuda Indonesia dan pelajar Indologie di Deventer, Belanda.

Diforum inilah untuk pertamakalinya Tan Malaka membeberakan gagasan yang selama ini bersemayam dalam pikirannya, secara terbuka.

Ibrahim Tan Malaka pulang ke Indonesia pada tahun 1919 dengan cita-cita mengubah nasib bangsa Indonesia.. Di Indonesia Tan Malaka mempunyai niat untuk mendirikan sekolah-sekolah bagi anak-anak anggota SI untuk penciptaan kader-kader baru. Juga dengan alasan pertama: memberi banyak jalan (kepada para murid) untuk mendapatkan mata pencaharian di dunia kapitalis (berhitung, menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain); kedua,memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti kegemaran (hobby) mereka dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan; ketiga, untuk memperbaiki nasib kaum kromo (lemah/miskin). Untuk mendirikan sekolah itu, ruang rapat SI Semarang diubah menjadi sekolah, dan sekolah itu bertumbuh sangat cepat hingga sekolah itu semakin lama semakin besar.

Perjuangan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat VSTP dan aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh.

Seperti dikatakan Tan Malaka pada pidatonya di depan para buruh “Semua gerakan buruh untuk mengeluarkan suatu pemogokan umum sebagai pernyataan simpati, apabila nanti menglami kegagalan maka pegawai yang akan diberhentikan akan didorongnya untuk berjuang dengan gigih dalam pergerakan revolusioner”. Pergulatan Tan Malaka dengan partai komunis di dunia sangatlah jelas. Ia tidak hanya mempunyai hak untuk memberi usul-usul dan dan mengadakan kritik tetapi juga hak untuk mengucapkan vetonya atas aksi-aksi yang dilakukan partai komunis di daerah kerjanya. Tan Malaka juga harus mengadakan pengawasan supaya anggaran dasar, program dan taktik dari Komintern (Komunis Internasional) dan Profintern seperti yang telah ditentukan di kongres-kongres Moskow diikuti oleh kaum komunis dunia.

Dengan demikian tanggung-jawabnya sebagai wakil Komintern lebih berat dari keanggotaannya di PKI. Sebagai seorang pemimpin yang masih sangat muda ia meletakkan tanggung jawab yang saangat berat pada pundaknya. Tan Malaka dan sebagian kawan-kawannyamemisahkan diri dan kemudian memutuskan hubungan dengan PKI, Sardjono-Alimin-Musso. Pemberontakan 1926 yang direkayasa dari Keputusan Prambanan yang berakibat bunuh diri bagi perjuangan nasional rakyat Indonesia melawan penjajah waktu itu.

Pemberontakan 1926 hanya merupakan gejolak kerusuhan dan keributan kecil di beberapa daerah di Indonesia. Maka dengan mudah dalam waktu singkat pihak penjajah Belanda dapat mengakhirinya. Akibatnya ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan banyak yang dibuang ke Boven Digul Irian Jaya. Peristiwa ini dijadikan dalih oleh Belanda untuk menangkap, menahan dan membuang setiap orang yang melawan mereka, sekalipun bukan PKI. Maka perjaungan nasional mendapat pukulan yang sangat berat dan mengalami kemunduran besar serta lumpuh selama bertahun-tahun.

Tan Malaka yang berada di luar negeri pada waktu itu,berkumpul dengan beberapa temannya di Bangkok. Di ibukota Thailand itu, bersama Soebakat dan Djamaludddin Tamin, Juni 1927 Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis “Menuju Republik Indonesia”. Itu ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda.

Terbitnya buku itu pertama kali di Kowloon, Cina, April 1925. Prof. Moh. Yamin sejarawan dan pakar hukum kenamaan kita, dalam karya tulisnya “Tan Malaka Bapak Republik Indonesia” memberi komentar: “Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah….”

Ciri khas gagasan Tan Malaka adalah: (1) Dibentuk dengan cara berpikir ilmiah berdasarkan ilmu bukti, (2) Bersifat Indonesia sentris, (3) Futuristik dan (4) Mandiri, konsekwen serta konsisten. Tan Malaka menuangkan gagasan-gagasannya ke dalam sekitar 27 buku, brosur dan ratusan artikel di berbagai surat kabar terbitan Hindia Belanda. Karya besarnya “MADILOG” mengajak dan memperkenalkan kepada bangsa Indonesia cara berpikir ilmiah bukan berpikir secara kaji atau hafalan, bukan secara “Text book thinking”, atau bukan dogmatis dan bukan doktriner.

Madilog merupakan istilah baru dalam cara berpikir, dengan menghubungkan ilmu bukti serta mengembangkan dengan jalan dan metode yang sesuai dengan akar dan urat kebudayaan Indonesia sebagai bagian dari kebudayaan dunia. Bukti adalah fakta dan fakta adalah lantainya ilmu bukti. Bagi filsafat, idealisme yang pokok dan pertama adalah budi (mind), kesatuan, pikiran dan penginderaan. Filsafat materialisme menganggap alam, benda dan realita nyata obyektif sekeliling sebagai yang ada, yang pokok dan yang pertama.

Bagi Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) yang pokok dan pertama adalah bukti, walau belum dapat diterangkan secara rasional dan logika tapi jika fakta sebagai landasan ilmu bukti itu ada secara konkrit, sekalipun ilmu pengetahuan secara rasional belum dapat enjelaskannya dan belum dapat menjawab apa, mengapa dan bagaimana. Semua karya Tan Malaka danpermasalahannya dimulai dengan Indonesia. Konkritnya rakyat Indonesia, situasi dan kondisi nusantara serta kebudayaan, sejarah lalu diakhiri dengan bagaimana mengarahkan pemecahan masalahnya.

Cara tradisi nyata bangsa Indonesia dengan latar belakang sejarahnya bukanlah cara berpikir yang “text book thinking” dan untuk mencapai Republik Indonesia sudah dicetuskan sejak tahun 1925 lewat “Naar de Republiek Indonesia”.

Dalam pelariannya selama 20 tahun di luar negeri pada saat yang tepat beliau hadir dan berada di tanah air ikut bersama pemuda mendorong terwujudnya proklamasi 1945 dengan nama Ilyas Husein, tokoh pemuda dari Banten. Pada pertemuannya dengan Presiden Soekarno, Soekarno merasa menemukan persamaan pandangan dan cita-citanya dengan Tan Malaka, sehingga Soekarno pada saat itu mengatakan kepada Tan Malaka “Bila terjadi sesuatu pada diri saya (tewas atau ditahan musuh), maka pimpinan revolusi akan saya serahkan kepada saudara (Tan Malaka).”

Pada bulan Januari 1946, Tan Malaka mensponsori dan mendirikan Persatuan Perjuangan yang beranggotakan parpol-parpol serta laskar-laskar bersenjata berjumlah 141 organisasi yang diikat dengan 7 minimum program. Salah satu dari program tersebut adalah “berunding atas dasar pengakuan kemerdekaan 100%”. Program ini didukung penuh 100% oleh Panglima Besar Jenderal Sudirman dengan mengatakan “Lebih baik kita di bom atom daripada merdeka kurang dari 100%.” Menghadapi oposisi Persatuan Perjuangan ini, kabinet Syahrir jatuh dan nyaris tidak terpilih lagi, hanya karena Soekarno-Hatta lah kemudian Syahrir dapat membentuk kabinet lagi. Setelah Syahrir diangkat lagi menjadi perdana menteri, sebelum dia berunding, Tan Malaka ditangkap di Madium dan ditahan selama 2,5 tahun.

Jika kita membaca karya-karya Tan Malaka yang meliputi semua bidang kemasyarakatan, kenegaraan, politik,ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran(“Gerpolek”-Gerilya-Politik dan Ekonomi, 1948), maka akan kita temukan benang putih keilmiahan dan keIndonesiaan serta benang merah kemandirian, sikap konsekwen dan konsisten yang direnda jelas dalam gagasan-gagasan serta perjuangan implementasinya.Peristiwa 3 Juli 1946 yang didahului dengan penangkapan dan penahanan Tan Malaka bersama pimpinan Persatuan Perjuangan, di dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun.

Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dibebaskan oleh Perdana Menteri M. Hatta. Tapi isu yang berkembang, Tan Malaka dibebaskan Hatta untuk menghadapi Muso yang kemudian terkenal dalam pemberontakan Madium. Terhadap isu tersebut, Tan Malaka mencounter”Seolah-olah mengimbangi PKI Muso itu adalah urusan kami sendiri. Kalau PKI menunjukan kekuatan pada Belanda, maka dengan segala daya upaya akan kami Bantu, walaupun bantuan itu tiada diminta kepada kami bahkan meskipun seandainya ditolak.

Dalam hal ini tidak perlulah rasanya kami dikeluarkan dari penjara buat membantunya. Sendirinya kami akan mendapat jalan. Tetapi karena aksi PKI Muso ditujukan pada Pemerintah Republik yang ada sekarang, maka pertama kali urusan dan kewajiban Pemerintah inilah pula membela kekuasaanya (authoritynya). Tak bisa dua kekuasaan tertinggi dalam satu Negara.

Rakyat harus tahu, pemerintah mana yang harus diikutinya. Berhubung dengan inilah, maka Pemerintah yang adalah, yang pertama berkewajiban membela kekuasaannya, walaupun hanya untuk membela diri para anggotanya saja.

Garis politik kami cukup jelas buat kawan dan lawan. Apabila setelah mendapat ujian selama hampir 3 tahun ini. Apabila kami dalam keadaan sunyi-terasing serta sering dalam bahaya dan dikelilingi oleh beberapa kawan seperjuangan saja, tetap memegang garis-bermula; masakan kami sesudah mendapatkan persetujuan dan kawan dari berbagai pihak, akan meninggalkan garis politik yang sudah mengalami ujian itu. Untuk melanjutkan perjuangan kami di atas garis itu tiadalah perlu kami berjualbeli dalam hal politik dan moral.”

Setelah kemudian Tan Malaka menganjurkan berdirinya Partai Murba, tidak lama kemudian Belanda menyerang Yogyakarta dan menangkap Soekarno-Hatta. Tan Malaka memilih tempat bergerilya di Jawa Timur memimpin Gerakan Pembela Proklamasi 45 (GPP) yang kemudian berubah menjadi Gerilya Pembela Proklamasi. Suasana politik di Jawa Timur ketika itu terpecah belah akibat kompromi yang dilancarkan pemerintah, Tan Malaka tidak hanya berhadapan dengan Belanda, tetapi juga dengan NICA, Negara Bagian Jawa Timur bentukan Van der Plaas dan orang-orang Republik yang siap bekerjasama dengan Belanda.

Pada tahun 1949 tepatnya bulan Februari Ibrahim Datuak Tan Malaka gugur, hilang tak tentu rimbanya, mati tak tentu kuburnya ditengah-tengah perjuangan “Gerilya Pembela Proklamasi” di Pethok, Kediri, Jawa Timur.

Saiful Guci- Pulutan 22 Februari 2021.