MENGENANG CATATAN SEJARAH SEJAK MARKAS PDRI DISERANG BELANDA SAMPAI REPUBLIK INDONESIA SERIKAT (RIS)

0
101

Melalui tulisan kita mengenal PDRI

Ciloteh Tanpa Suara-“ Kisah sejarah Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) semakin menarik untuk disimak dan membuka wawasan terhadap sejarah PDRI suatu peristiwa yang terjadi 70 tahun lalu di Sumatera Barat, dan ada beberapa pertanyaan yang mengusik pikiran pertama , Kototinggi, Bidar Alam dan Sumpur Kudus apakah Belanda sampai menguasai ketiga wilayah tersebut “ tulis Yusrizal M Zen dosen Pertanian Unand yang mengaku orang Mudiak dari Padang Kandih istri Salmawati orang Pitalah Batipuah satu Kabupaten dengan saya. Mungkin pak Yusrizal M Zen menyangka saya Sarjana Sejarah padahal Sarjana Pertanian yang hanya sebagai pemberhati sejarah.

Untuk mengetahu lebih awal sejarah PDRI terlebih baik dibaca dahulu :

  1. Bukittinggi di serang 19 Desember 1948,http://cilotehtanpasuara.com/…/bukittinggi-di-serang-19-de…/  
  2. Situasi Kota Pariaman dan Kota Bukittinggi 19-21 Desember 1918.  http://cilotehtanpasuara.com/…/situasi-kota-pariaman-dan-k…/
  3. Mengenang Pengumuman Kabinet Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) 22 Desember 1948 di Halaban.  http://cilotehtanpasuara.com/…/mengenang-pengumuman-kabine…/
  4. Mengenang Payakumbuh di serang 23 Desember 1948  http://cilotehtanpasuara.com/…/mengenang-payakumbuh-disera…/
  5. Mengenang Perjalanan Sutan Muhammad Rasyid dari Halaban ke Koto Tinggi http://cilotehtanpasuara.com/blog/mengenang-perjalanan-sutan-m-rasyid-dari-halaban-ke-koto-tinggi-24-desember-1948/
  6. Mengenang Perjalanan Mr.Syafruddin Prawiranegara dari Halaban ke Bidar alam http://cilotehtanpasuara.com/blog/mengenang-perjalanan-syafruddin-prawiranegara-dari-halaban-ke-bidar-alam/?fbclid=IwAR0tW3BjUqh5yAFGdAb7VyWK3_7N9N8WBt05cyVGcS6i70zBn7lnWXQSrTU
  7. Mengenang Kototinggi menjadi Ibukota Keresidenan Sumatera Barat. http://cilotehtanpasuara.com/blog/mengenang-koto-tinggi-menjadi-ibukota-keresidenan-sumatera-barat/

Berbekal dari Arsip Nasional tentang PDRI yang pernah penulis copy, penulis jawab empat pertanyaan dari pak Yusrizal M Zen  “Dari catatan sejarah PDRI (19 Desember 1948 sd 13 Juli 1949) ketiga wilayah Kototinggi, Bidar Alam dan Sumpur Kudus tidaklah dikuasai Belanda sehingga pemimpin PDRI dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan memberukan informasi tentang perkembangan PDRI melalui radio.

Namun, hal ini dibayar mahal oleh sembilan (9) para syuhada di Titian Dalam Nagari Pandam Gadang di saat Belanda melancarkan serangannya pada tanggal 10 Januari 1949 ke Kototinggi. Korban pembunuhan oleh tentara Belanda di Titian Dalam itu, terdapat nama Syarif. MP, Engku Kayo Zakaria, Dirin, Nuin, Radian, Manus, Abas, Nyia Ali dan Mak Nirin.

Korban kekejaman tentera Belanda dalam agresi II di Titian Dalam semasa saya menjadi Sekretaris Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi telah dibuatkan makam pejuangnya disatu tempat.

Prosesi pemindahan makam para pejuang yang semula terpencar-pencar dalam Jorong Koto Marapak, Kenagarian Pandam Gadang terlaksana pada tanggal 22 Oktober 2014 yang dipimpin mewakili Pemerintah Daerah  Saiful Guci.SP yang diawali sholat jenazah disaksikan oleh tokoh masyarakat , Walinagari Pandam Gadang Khairul Hapid, Camat Gunuang Omeh Irwandi.SH, Kapolsek Suliki AKP.Yurnalis MP dan masyarakat ahli waris ke sembilan para syuhadak tersebut.

Kisah gugurnya Sembilan pejuang di Titian Dalam ini terjadi pada hari Senin jam 9.00 WIB tanggal 10 Januari 1949. Rupa-rupanya dari sistim intelligence servicenya yang luas itu, mereka telah dapat mengetahui bahwa pusat pemerintahan Suma­tera Barat berada di Koto Tinggi ± 50 km sebelah Utara Payakumbuh, dimana pemerintahan dipimpin oleh Gubernur Militer Sutan M.Rasyid bersama stafnya lengkap dengan alat-alat radio dan lain-lain. Maka sesuai dengan  sebuah pepatah ”Pukullah besi itu selagi hangat”. Maka Belanda Pada tanggal 10 Januari 1949 melancarkan operasi besar-besaran ke Suliki dan Kototinggi. Belanda mengerahkan lebih dari satu batalyon tentera, yang diperkuat dengan beberapa buah Tank dan Pesawat Udara. Lobang dan pepohonan yang ditumbangkan bukan merupakan rintangan bagi tank untuk maju tak ada serangan, tak ada halangan dijalan-jalan, mereka jalan terus dari Suliki sampai di Koto Tinggi, kepusat Pemerintahan Darurat.

Sejak dari Payakumbuh keberadaan Belanda ini telah terpantau oleh pasukan Gerilya yang menjaga jalan menuju Koto Tinggi di Lampasi, sehingga pihak keamanan di Nagari-nagari dari Lampasi-Suliki mengambil inisiatif untuk membunyikan ” tong-tong ” tanpa henti, membuat penduduk setempat terkejut dan terbangun dari tidur pada subuh itu. Oleh karena cepatnya reaksi dinas intelijen tentera yang menangkap isyarat dan meneruskan beritanya ke Suliki, ke garis depan pertahanan Republik sebelum mencapai pusat PDRI di Koto Tinggi . Pada pukul 5 pagi dini hari, Letkol Dahlan Ibrahim, Panglima militer Sumatera Barat yang segaligus menjabat Wakil Gubernur Militer yang sedang berada di sebuah surau tidak jauh dari Suliki segera di beri tahu. la buru-buru memutar Jeepnya ke arah Koto Tinggi . Di atas Jeep terlihat Letkol.Dahlan Ibrahim bersama ajudannya Mufni Nurdin, Mayor A.Thalib bersama ajudannya Muslim dan Sopir Jeep adalah Syarif memacu kendaraan arah Kototinggi memberitahu kepada pemimpin PDRI yang berada di Kototinggi. Sepanjang jalan mereka meneriakkan ” Belanda Masuk ” Orang Kampung terbangun oleh hebohnya dan segera menyingkir. Dalam keadaan panik di pagi subuh itu, mereka terbirit-birit, lintang-pukang menyelamatkan diri. Di tengah jalan Jeep Dahlan Ibrahim beberapa kali terperosok ke dalam lubang berlumpur, sehingga ia terpaksa dibantu oleh orang kampung yang juga sedang ketakutan dan sedang bersiap-siap menyelamatkan diri. Di pendakian Kurai Mufni dan Muslim diperintahkan untuk berpencar memberikan perlawanan yang merupakan tanda masuknya Belanda, dan Letkol.Dahlan Ibrahim dan Mayor A.Thalib bersama Sopir Syarif melanjutkan ke Kototinggi untuk segera memberitahukan kepada pimpinan Residen Sumatera Barat M.Rasyid dan pimpinan PDRI lainnya yang berada di Kototinggi bahwa Belanda masuk menyerang.

Foto Sembilan Syuhada yang gugur di Titian dalam 10 Januari 1949 disatukan dalam satu tempat 22 Oktober 2014

Dititian Dalam Pandam Gadang Letkol.Dahlan Ibrahim dan Mayor A.Thalib memerintahkan kepada Syarif MP untuk merusak jembatan Titian Dalam . Syarif MP bersama masyarakat di subuh itu segera untuk merusak jembatan supaya belanda tidak dapat masuk menuju Kototinggi  yang merupakan markas Residen Sumatera Barat dan markas PDRI. Sedang mereka bekerja merusak Jembatan dibawah siraman hujan gerimis dipagi itu , tanpa diduga Belanda sudah datang dan menyerang mereka memberikan perlawanan pada Titian dalam Nagari Pandam Gadang tersebut. Perlawan tidak seimbang dan gugurlah sembilan suhadak dipagi itu “Syarif. MP, Engku Kayo Zakaria, Dirin, Nuin, Radian, Manus, Abas, Nyia Ali dan Mak Nirin. Peristiwa ini menyelamatkan para pemimpin kita di Kototinggi. “ terang saya.

“ Ohya, pertanyaan kedua apakah akhir dari Agresi Belanda ke II (PDRI) ini tanggal 13 Juli 1949 atau pada peristiwa Komferensi Meja Bundar (KMD) 27 Desember 1949 ?” Tanya pak Yusrizal M Zen kembali.

“ Dari cacatan sejarah, akhir dari PDRI adalah 13 Juli 1949, saat dimana Syafruddin Prawiranegara mengembalikan mandatnya kepada Presiden Soekarno  dan Wakil Presiden Hatta dalam sidang Kabinet secara resmi. Dalam sidang Kabinet tersebut, Syafruddin Prawiranegara menegaskan  bahwa mandat yang dikirimkan kepadanya oleh Soekarno-Hatta tidak pernah diterimanya. Ia dan tokoh-tokoh lain di Sumatera membentuk PDRI semata-mata berdasarkan ilham untuk mengisi kevakuman pemerintahan.” ulasan saya yang berdasarkan catatan dalam arsip nasional.

Kemudian pak Yusrizal M Zen melanjutkan pertanyaan ketiga “ Bagaimana status Republik Indonesia 13 Juli 1949 sampai 27 Desember 1949 ?” Tanya Yusrizal M Zen.

“Dalam catatan sejarah, pada tanggal 13 Juli 1949 dalam sidang Kabinet Hatta menjelaskan  bahwa pihak luar negeri, antara lain DK PBB, tetap memandang Kabinet Hatta sebagai cabinet yang sah, Ia juga mengulang keterangan Palar yang mengatakan cabinet Hatta Kabinet Hatta adalah sah, sedangkan PDRI menjalankan pemerintahan sehari-hari. Atas dasar itulah ia dan Soekarno memutuskan untuk mengadakan perundingan dengan Belanda di bawah pengawasan UNCI sesuai dengan Resolusi DK PBB.

Sesudah sidang itu Hatta melakukan reshuffle Kabinet, Hasilnya diumumkan pada tanggal 4 Agustus 1949. Kabinet baru ini disebut dengan Kabinet Hatta II. Para menteri yang duduk dalam cabinet pada umumnya adalah mereka yang menduduki jabatan yang sama dalam cabinet Hatta I. Diantara menteri-menteri PDRI yang bergerilya di Sumatera hanya Syafruddin Prawiranegara dan Lukman Hakim yang mendapat jatah . Syafruddin Prawiranegara diangkat sebagai wakil Perdana Menteri ( jabatan ini tidak terdapat dalam Kabinet Hatta I). Lukman Hakim diangkat sebagai Menteri Keuangan, sama dengan jabatan yang dipegangnya dalam Kabinet Hatta I.

Menteri PDRI yang bergerilya di Jawa yang duduk dalam Kabinet Hatta II adalah Susanto Tirtoprodjo, I.J.Kasimo, K.H. Masykur dan Sukiman Wirjosandjojo. Susanto, Kasimo, dan Masykur memegang jabatan yang sama seperti mereka pegang dalam Kabinet Hatta I. Sukiman Wirjosandjojo tidak menduduki jabatan Menteri Dalam Negeri, tetapi sebagai Menteri Negara. Menteri-menteri PDRI lainnya seperti Mohammad Hasan, A.A Maramis, Indratjaja, Mananti Sitompul dan Mohammad Rasyid tidak mendapat jatah dalam kabinet baru itu.

Tampaknya tokoh-tokoh PDRI yang berjuang di Sumatera cukup berjiwa besar menghadapi kenyataan itu. Mereka telah berbuat sesuai dengan kondisi yang dihadapi ketika Negara dalam keadaan krisis. Mereka memang tidak tidak ingin berkuasa selama-lamanya.

Dengan pengembalian mandat tanggal 13 Juli 1949 berakhirlah peran PDRI. Dengan pembentukan Kabinet Hatta II sebagian menteri PDRI terpinggirkan. Mereka menerimanya demi menjaga persatuan nasional. Untuk waktu yang cukup lama, peran PDRI turut pula terpinggirkan. “ ulasan saya yang berdasarkan catatan dalam arsip nasional.

Kemudian saya lanjutkan “ Bila kita lihat dari ruang lingkup RI, selama berlangsungnya agresi militer Belanda, di Indonesia ada tiga kekuatan kelompok. Kelompok pertama adalah PDRI dengan dukungan penuh Angkatan Perang, Kelompok kedua ialah para pemimpin RI yang ditawan Belanda di Bangka. Kelompok ketiga adalah Negara federal (Negara boneka bentukan Belanda) yang tergabung dalam Majelis Permusyawaratan Federal atau Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO).

Dengan pengembalian mandate oleh Syafruddin Prawiranegara kepada Presiden Soerkaro tanggal 13 Juli 1949 dapat diartikan dengan menyatukan kembali dua komponen dalam tubuh RI. Dengan demikian,  tinggal dua kelompok, yakni kelompok RI dan kelompok BFO. Kedua kelompok ini akan menghadapi Belanda dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) yang akan diadakan di Den Haag, Negara Belanda. Peristiwa- peristiwa yang berkembang selanjutnya menjelang KMB, bahkan sesudahnya, terlepas sama sekali dari kendali PDRI. Akan tetapi, PDRI telah melicinkan jalan kearah itu.

Untuk menyatukan persepsi menghadapi Belanda di KMB, RI dan BFO mengadakan dua kali Konferensi Antar Indonesia. Konferensi pertama di adakan di Yokyakarta 19 sd 22 Juli 1949. Konferensi kedua diadakan di Jakarta dari tanggal 30 Juli sd 2 Agustus 1949. Dalam dua pertemuan ini menghasilkan persetujuan, antara lain Nama Indonesia Serikat disetujui dengan nama Republik Indonesia Serikat (RIS) berdasarkan demokrasi dan federalisme.

Dengan berhasilnya Konferensi Antar Indonesia, bangsa Indonesia secara keseluruhan telah siap menghadapi KMB. Delegasi RI dalam KMB dipimpin oleh Perdana Menteri Hatta, sedangkan delegasi BFO dipimpin oleh Sultan Hamid II.

KMB diadakan di Den Haag, negeri Belanda. Konferensi berlangsung dari tanggal 23 Agustus sampai dengan 2 November 1949. Isinya yang penting ialah RI akan menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS). RI dan Negara-negara federal akan menjadi anggota RIS. Belanda akan menyerahkan kekuasaan kepada RIS. Hasil KMB disahkan KNIP dalam sidangnya tanggal 6 Desember 1949. Sesudah itu diadakan pemilihan calon Presiden dengan calon tunggal Ir.Soekarno. Pada tanggal 17 Desember 1949 Ir. Soekarno dilantik menjadi Presiden RIS.

Untuk lebih jelasnya dapat juga di baca :

MENGENANG REPUBLIK INDONESIA DENGAN PRESIDENNYA ASSAAT DATUK MUDO DARI BUKITTINGGI http://cilotehtanpasuara.com/blog/mengenang-republik-indonesia-dengan-presidennya-assaat-datuk-mudo-dari-bukittinggi/

“ Pertanyaan keempat “Pada rapat di Padang Japang , apakah Presiden dan Wakil Presiden sudah kembali dari pengasingannya di Pulau Bangka  ?”Tanya pak Yusrizal M Zen kembali.

“ Dari catatan sejarah Soekarno, Hatta , H,Agus Salim dan lain-lain saat terjadi perundingan 6 Juli 1949 di rumah Jawair di Padang Japang saat tokoh PDRI berhadapan dengan utusan Hatta mereka masih berada di Bangka. Baru setelah ada informasi bahwa Syafruddin Prawiranegara bersedia menyerahkan mandatnya, maka secara serentak pada tanggal 10 Juli 1949 mereka menuju Yogyakarta untuk melaksanakan sidang Kabinet Hatta 13 Juli 1949.

Pada hari yang sama, tidak lama setelah kedatangan rombongan PDRI, Panglima Besar Jenderal Soedirman pun tiba di Yogya. Seperti halnya PDRI, padamulanya Jenderal Sudirman pun menolak untuk kembali ke Yogya. Namun atas permintaan pelbagai pihak, antara lain Sultan Hamengkubuwono IX dan Gubernur Militer Kolonel Gatot Subroto, akhirnya Sudirman bersedia juga kembali.

Dalam suratnya sebagai seorang “kakak” ( usia Gatot memang lebih tua dari pada Sudirman), Gatot antara lain menulis: “ ini bukan supaya mati konyol, tetapi cita-cita adik tercapai. Meskipun buahnya kita tidak turut memetik, melihat pohonnya subur kita merasa gembira dan mengucapkan terimaksih pada Yang Mahakuasa. Ini kali saya selaku saudara tua dari adik minta di taati…” terang saya yang berdasarkan catatan dalam arsip nasional.

SaifulGuci – Pulutan 27 Desember 2018.