Melalui tulisan kita mengenal sejarah

Cerita Luhak Nan Bungsu – Sarilamak sebelum ditetapkan menjadi ibukota Kabupaten Limapuluh Kota pada tahun 2002 tidak terlepas dari faktor sejarah. Nama Sarilamak di Malaisyia dikenal dan jadi nama suku dengan sebutan Sri Lemak) ditetapkan sebagai ibukota Kab. 50 Kota lima tahun lalu tak terlepas dari faktor sejarah. Sekitar abad 18 hingga awal abad 20 Sarilamak merupakan kota transit perdagangan utama Minangkabau Timur. Hasil perkebunan, hasil tambang dan hasil hutan Minangkabau dikumpulkan di Sarilamak kemudian diangkut menggunakan kuda beban ke Pangkalan Kotabaru pelabuhan sungai terbesar Minangkabau Timur di saat itu.

Rute jalan lintas dari Sarilamak ke Pangkalan Koto Baru adalah: Sarilamak-Tarantang-Lubuk Limpato-Padang Tarok-Harau-Padang Rukam-Robo-Landai-B.Apik-Uli Aie-B.Batung-menghiliri Batang Lokung Gadang-Koto Tua-Koto Ranah-Koto Alam-menghiliri sungai Batang Samo-Lubuak Tabuan dan Koto Baru (Pangkalan).

Pedagang Pangkalan kemudian menggunakan perahu kajang membawa komoditi tersebut melayari Batang Mahat masuk ke Batang Kampar terus ke Taratak Buluh, Kuntu, Lipat Kain, Pangkalan Kerinci, Pangkalan Kuras, Pangkalan Kapas, Pangkalan Indarung, Palalawan sampai ke Kuala Kampar di bibir Selat Melaka. Di sini hasil hutan dijual kepada pedagang dari Arab, India, Inggris, Amerika dan Cina atau diteruskan ke  Penang dan Melaka.

Christine Dobbin dalam buku Kebangkitan Islam Dalam Ekonomi Petani Yang Sedang Berubah, Sumatera Tengah, 1784-1847 INIS, Jkt 1992mencatat. Pangkalan berkembang pesat sejak perusahan Inggris, English East India Company, saingan VOC-Belanda, membangun Pelabuhan Penang tahun 1786. Di sini Inggris membeli kopi, rempah-rempah, dan juga gambir 10% lebih mahal dari harga beli Belanda di Pantai Barat. Lalu menjual kain putih merk Coromandel 10% lebih murah. Sedang Belanda menjual dengan keuntungan hingga 95%  untuk kain biasa di pasar Pantai Barat.

Kondisi itu membuat Pelabuhan Muara Padang lumpuh. Sekitar tahun 1825/1829 kapal Amerika, Inggris, dan India nyaris hengkang dari Muara Padang. Selama tujuh bulan hingga Juli 1829 misalnya, tak sepikul kopi pun diekspor dari Padang.  Selama tahun 1830 hanya tiga kapal Amerika menyinggahi Muara Padang. Padahal di tahun yang sama Belanda mencatat, sekitar 1.000 pikul (100 ton) kopi dijual ke Singapura lewat Pangkalan.

Posisi Padang pun makin terpuruk setelah jatuhnya harga kopi di Eropa dan tingginya cukai yang dikenakan Belanda terhadap kapal asing. Sementara barang-barang buatan Inggris, India dan Cina harus lewat Pangkalan terus membanjiri pedalaman Minangkabau hingga ke Banuhampu dan Singkarak.

Karena itu Belanda berupaya menguasai Sarilamak dan Pangkalan. Setelah mengalahkan Kerajaan Siak Sri Indrapura 1 Februari 1858, Belanda mencoba menelusri Batang Kampar. Tapi gagal sampai di Pangkalan. Belanda baru menguasai benteng ekonomi terbesar Minangkabau itu dan pelabuhan sepanjang Batang Kampar dan batang Sinamar setelah mengerahkan pekerja paksa membangun jalan Kelok Sembilan yang dimulai tahun 1910 hingga sampai ke Logas.

Asal Nama Sarilamak

Dari cerita tutua nan badanga dari nenek moyang orang Sarilamak (Sarilamak, Tarantang dan Solok Bio-Bio). Dikisahkan yang pertamakali datang kewilayah ini adalah Dt. Sinaro Garang, dengan dubalangnya bernama Malendo Gadang Tulang, dengan pegawainya Si Manguncang Alam. mereka dari Simalanggang menulusuri Batang Sinamar menuju mudiak dari Batang Harau, sesampai mereka di suatu daerah yang bertaman-taman (rawa diperkirakan dipersimpangan gerbang ke Harau), mereka menemukan salasah atau jalan yang dibuat oleh belut, maka sepakatlah mereka atau Datuk Sinaro Garang bersama dubalangnya untuk menangkap belut yang mereka perkirakan cukup besar, alhasil mereka dapat memperoleh belut tadi.

Kemudian belut itu oleh karena demikian panjangnya, Dt. Sinaro Garang bersama pengikutnya di merentangkan belut tersebut. Akhirnya, baluik itu dipotong dan diiris-iris, dimasak dan dimakan. Setiap irisnya terasa lamak ‘enak’. Demikianlah, kemudian, daerah itu dinamakan dengan Sarilamak, yang berasal dari kata sairih lamak ‘seiris enak’.

Dalam perkembangan masyarakatnya, daerah yang terletak agak ketinggian dinamakan dengan Katinggian. Daerah pemukiman yang terletak di pinggir sungai yang aianya putiah ‘airnya putih’ dinamakan dengan Aia Putiah. Daerah yang ditumbuhi oleh tumbuhan buluah kasok, yakni sejenis buluh yang kulitnya tipis dan ruasnya panjang, dan buluah kasok tersebut dipakai untuk mengambil air dinamakan dengan Buluah Kasok.

Tarantang Sarilamak Bungo Satangkai

Dikisahkan, Rajo Alam Minang Kabau yang bertahta di Pariangan datang berkunjung ke Sarilamak. Raja yang di dampingi pengiring nya memulai perjalanan dari istana hendak menemui pemimpin daerah tersebut yang bergelar datuak Sinaro. Rombongan kerajaan direncanakan akan disambut di tambun sori (taman-taman) yang berkemungkinan berada di sekitar simpang tiga sarilamak saat ini.

Hari berganti hari, sang raja dan pengikutnya terus berjalan menyusuri hutan menuju daerah yang dipimpin datuak Sinaro. namun di tempat yang telah dijanjikan tidak ada yang menyambut kedatangan sang raja sehingga raja melewati tambun sori lokasi pertemuan raja dengan Datuak Sinaro. ternyata Datuak Sinaro sedang membuka lahan baru (malaco) di Bukit Pauah sekarang.

Raja beserta rombongan terus berjalan arah  ke harau hingga bertemu dengan sebuah perkampungan. Disana Raja Alam Minangkabau bertanya ke pada masyarakat yang ditemui melalui hulubalangnya  dimana letak Tambun Sori. Masyarakat pun menjawab bahwa tambun sori tempat perjanjian dengan sang raja telah terlewati. Mendengar hal itu, Raja Alam Minangkabau pun marah “panglimo!! Engkau cari pemimpin kampung ini yang bernama Dt.Sinaro untuk menghadap kepada saya!” . Setelah menerima titah panglimo raja menjemput Dt.Sinaro untuk menghadap Raja Alam Pagaruyung.

Panglimo Raja pun sampai di tempat Datuak Sinaro dan menyampaikan pesan bahwa raja sedang menunggunya. Dengan perasaan cemas dan tergesa gesa, datuak Sinaro segera mengenakan pakaian kebesarannya dan segera mengejar  sang raja Serentang Perjalanan yang telah raja lalui. Karena hal itu, akhirnya kampung tempat raja alam minang kabau menunggu datuak Sinaro di namakan Nagari Tarantang. Kata tarantang berasal dari kata Serentang perjalanan Datuak Sinaro mengejar raja Alam Minang Kabau.

Sesampainya di Tarantang, Datuak Sinaro pun bertemu Raja dan meminta maaf “ampun baribu kali ampun daulat tuanku rajo, salah diri ambo lah siap manarimo hukuman. Sungguah ambo dan kaum ambo ketakutan maliek rombongan daulat tuanku, sahinggo balari ka dalam rimbo bukik pauah. Kami manyangko, itu adolah arak-arakan rompak jo samun nan masuak kampuang” mendengar penjelasan Dt Sinaro, raja pun memaklumi dan memafkan kesalahan Datuak Sinaro. Karena keberanian pimpinan kampung menghadapi Raja Alam Pagaruyuang, pemimpin kampung itu diberikan gelar oleh Raja Alam Minangkabau Datuak Sinaro Garang. Kemudian ketika itu raja mempersatukan kedua daerah tersebut menjadi saudara yang masing masing dipimpin oleh Datuak Sinaro Garang dan Datuak Sinaro Panjang.

Setelah masalah dapat diselesaikan, sang raja beserta rombongan di Jamu oleh kedua pucuk adat di Solok Bio-Bio. Di Solok Bio Bio raja di jamu makan minum oleh seluruh masyarakat. Setelah raja menikmati jamuan makan minumnya, raja dan rombongan dibawa ke Harau untuk menikmati hiburan serta permainan anak nagari. Disana diadakan acara yang meriah untuk menyambut kedatangan raja beserta rombongan. Berbagai macam seni dan permainan anak nagari sitampilkan untuk menghibur raja alam minang kabau.

Pesta pun usai, raja beserta rombongan harus kembali ke istana Pagaruyung. Raja beserta rombngan di lepas di Tambun Sori tempat perjanjian awal pertemuan raja. Raja dilepas dengan hati yang senang dan gembira dengan seluruh jamuan serta sambutan yang telah raja terima. Inilah awal mula daerah ini diberi nama “Tarantang Sarilamak Bungo Setangkai “. Artinya apapun segala masalah yang terjadi di kelarasan Tarantang Sarilamak boleh langsung berurusan ke Raja Alam di Pagaruyung tanpa melalui balai yang lain yang ada di Luhak Limopuluah.

Tarantang Sarilamak Dalam Tambo

Dalam sejarah Luak Limopuluah, Tarantang Sarilamak   mempunyai posisi yang strategis karena merupakan salah satu Pasak Kunci Luak Limopuluah ada di Sarilamak, yakni Pasak Kunci Loyang Luak Limopuluah.  Fakta sejarah tidak menyatakan secara tegas tentang darimana dan bagaimana kedatangan Nenek Moyang orang Sarilamak  .

Dari Tambo Minangkabau dinyatakan bahwa cerita turun temurun hanya menyatakan bahwa sebelum Nagari Sarilamak ini dibangun terlebih dahulu nenek moyang berhimpun disebuah padang yang cukup luas dan datar untuk bermusyawarah.  Saat ini tempat musyawarah itu dikenal dengan Padang Pun yang artinya Padang Perhimpunan atau Padang Tempat Berhimpun.

Dari Padang Pun itu dibuatlah pemukiman penduduk yang awal mulanya di Jorong Sarilamak   sekarang ini.  Kemudian anak nagari Sarilamak   membuka daerah perladangan dan pertanian disekitar pemukiman seperti di Taratak, Kandang Lamo, Kobun sampai ke Muaro Padang.   Pemukiman ini berkembang dengan pesat, dan masyarakat dari nagari lain mulai berdatangan ke Sarilamak   dan “malakok” kepada Mamak yang sudah ada di Sarilamak   pada waktu itu.

Dengan semakin meningkatnya perkembangan penduduk, maka Ninik Mamak dan pemuka masyarakat membuka daerah pemukiman baru di Ketinggian sampai di Aie Putih.  Ninik Mamak dan masyarakat yang bermukim di Ketinggian dan Aie Putih ini mulai membuka perladangan sekitar pemukiman dan sampai ke Buluh Kasok, sehingga Buluh Kasok pun berkembang menjadi daerah pemukiman baru.

Wilayah Tarantang Sarilamak dalam barih balabeh Luhak Limapuluah Kota, merupakan bagian dari ulayat Ranah dengan Rajanya adalah DT. Bandaro Hitam yang berkedudukan di Talago Gantiang Guguak. Sedangkan  Tarantang Sarilamak disebut sebagai “ Pasak Kunci Loyang “ dari Luhak Limapuluah dengan penghulunya  Dt. Sinaro Garang dan dubalangnya Dt. Malendo Garang dan pengawalnya Si Manguncang Alam.

Pasak kunci Loyang berfungsi untuk menghambat upeh dan racun, penahan pukau dan sihir, yang datang dari Kampar Kiri dan Kampar Kanan untuk tidak dapat masuk ke Luhak Limopuluah yang akan membuat malapetaka. Pangulu kebesarannya adalah Dt. Sinaro Garang, dengan dubalangnya Malendo Gadang Tulang, dengan pegawainya Si Manguncang Alam. Dan juga sebagai penanti anak kemenakan dari Dt. Mareko Nan Panjang Gigi dari Kampar Kiri dan Dt. Mareko Nan Putiah Jangguik dari Kampar Kanan.

Lembaga Adat Nagari Sarilamak

Lembaga adat adalah kelembagaan adat yang sudah ada dan hidup ditengah-tengah masyarakat Nagari Sarilamak yang disebut dengan Kerapatan Adat Nagari.  Di Nagari Sarilamak terdapat empat Balai Adat yakni :

Balai Adat Nagari Sarilamak di Sarilamak

Balai Ujung Rapek Nagari Sarilamak di Ketinggian

Balai Totak Barih Nagari Sarilamak di Aie Putieh

Balai Alua Patuik Nagari Sarilamak di Buluh Kasok

Fungsi Balai Adat Buluah Kasok

Di Jorong Buluah Kasok disebut dengan Balai Adat “Alua patuik dengan 4 Gontang Togak “ yang merupakan simbol harus tau dinan ampek untuk menghindari “pantang kalintasan” terhadap orang “ampek Jinih” (Pangulu, Manti, Dubalang dan malin) dan orang “ jinih nan ampek (Tuanku (Khadi) atau Angku Luma, Imam, Khatib, dan Bilal).

Fungsi Balai Adat Aie Putiah.

Di Jorong Aie Putiah mempunyai Balai Adat “ Totak Barih dengan 8 Gontang Togak “ yang merupakan simbol undang undang nan salapan untuk menghindari “pantang karandahan”.

Undang-undang nan salapan adalah pasal pasal yang menyangkut jenis kejahatan atau yang disebut “cemo bakaadaan” Di Balai Totak Barih Aie Putiah tempat menyidangkan perkara terhadap kesalahan dari atau jenis kejahatan yang dilakukan seseorang. Tiap pasalnya mempunyai dua jenis kejahatan yang hampir bersamaan, akan tetapi kadarnya berbeda. Untuk lebih jelasnya berikut ini kita muat pasal pasal sebagai berikut :

  1. Dago dagi mambari malu.

Dago adalah perbuatan yang mengacaukan, sehingga terjadi kehebohan dan desas desis. Sedangkan dagi adalah perbuatan fitnah ditengah masyarakat sehingga orang yang difitnah merasa malu atau dirugikan

  1. Sumbang salah laku parangai

Yang dimaksud dengan sumbang adalah perbuatan yang menggauli seseorang yang tidak boleh dinikahi. Misalnya bergurau antar pemuda dengan saudara perempuannya atau dengan gadis sekaum. Dalam masyarakat Minangkabau kita mengenal beberapa perbuatan sumbang, diantaranya sumbang duduak, sumbang tagak, sumbang diam, sumbang perjalanan, sumbang pekerjaan, sumbang tanyo, sumbang jawab, sumbang kurenah, sumbang pakaian, dan sumbang pergaulan.

Semua unsur diatas berbeda kadarnya. Kemudian yang dimaksud dengan salah adalah perbuatan keji, misalnya seseorang pemuda melakukan perzinahan denganwanita yang bukan istrinya. Jadi sumbang salah kejahatan yang berkenaan dengan tingkah laku individu, sehingga menimbulkan keributan terhadap orang banyak.

  1. Samun Saka Tagak Dibateh

Samun adalah perbuatan merampok milik orang lain dengan membunuh orang tersebut. Sedang saka adalah perbuata merampok milik orang lain dengan kekerasan, paksa atau menganiaya orang tersebut. Dulu setiap terjadi tindak kejahatan ini selalu di batas jalan. Akan tetapi sekarang kejadian seperti ini bukan hanya terjadi dibatas aja, tetapi sering terjadi juga dirumah rumah, kebun, sawah dan sebagainya.

  1. Umbuak Umbi budi marangkak

Umbuak adalah perbuatan rayuan atau penyuapan pada seseorang sehingga dapat merugikan orang lain. Umbi adalah perbuatan membujuk seseorang agar sama sama mau melakukan kejahatan. Dalam pasal ini mempunyai persamaan dengan “kicuah kecang”, kicuah adalah perbuatan penipuan yang merugikan orang lain. Sedang kecang adalah perbuatan pemalsuan yang merugikan orang lain.

  1. Curi Maling taluang didindiang

Curi adalah perbuatan mengambil barang orang lain disaat penghuninya lengah, maksud dalam mengambil milik orang lain tidak direncanakan, tetapi hanya sambil lalu saja. Sedangkan maliang adalah perbuatan mengambil milik orang lain disaat pemiliknya tidak ada ditempat itu. Dari sisi lain dapat juga disebut mengambil milik orang lain dengan melakukan perusakan, seperti bekas yang terluang pada dinding.

  1. Tikam Bunuah padang badarah

Tikam adalah menancapkan benda tajam kepada seseorang, sehingga orang tersebut terluka oleh perbuatannya. Sedangkan yang dimaksud dengan bunuah adalah perbuatan mehilangkan nyawa orang lain. Apakah perbuatan itu untuk mengambil milik orang lain atau merupakan dendam lama.

  1. Sia Baka sabatang suluah

Sia (siar) adalah tindakan membuat api sehingga milik orang lain terbakar. Umpamanya seseorang membakar perkebunannya, lalu api perkebunan itu menjalar kekebun orang lain, dan membakar tanaman yang ada. Baka (bakar) membakar milik orang lain dengan sengaja.

  1. Upeh Racun batabuang sayak

Upeh adalah perbuatan aniaya kepada seseorang dengan memasukan ramuan kedalam makanannya, sehingga menimbulkan sakit bagi orang tersebut. Sedang racun adalah tindakan pembunuhan dengan memasukkan ramuan atau benda yang berbisa kedalam makanan orang tersebut.

Fungsi Balai Adat Ketinggian

Di Jorong Ketinggian mempunyai Balai Adat bernama “Ujuang Rapek dengan 12 Gontang Togak“  yang merupakan simbol undang-undang nan 12 untuk menghindari “pantang katinggian”. Di Balai Ujuang Rapek memutuskan perkara yang menyangkut Undang-undang nan duo baleh yang menyangkut alasan untuk menangkap dan menghukum seseorang, disebut juga “duo baleh tuduah nan bakatunggagan”.

Bahwa undang undang ini terdiri dari dua bagian yang masing masing terdiri dari enam pasal. Bagian pertama disebut bagian tuduh, yakni pasal pasal yang dapat menjadikan seseorang tertuduh dalam melakukan kejahatan. Enam pasal lainnya dinamakan “cemo” (cemar), yaitu merupakan prasangka terhadap seseorang sebagai orang yang telah melakukan sesuatu kejahatan, sehingga ada alasan untuk menangkap dan memeriksanya .

Tuduah nan Bakatunggangan.

Maksud dari tuduah nan bakatunggangan adalah penuduhan atau dugaan kepada seseorang yang melanggar hukum. Namun orang tersebut  tiak bisa dijatuhi hukuman  karena belum didapat bukti. Ada 12 pasal dalam Undang undang ini (dikenal dengan tigo kali ampek).

  1. Anggang lalu atah jatuah
  2. Pulang pagi babasa- basa
  3. Bajalan bagageh-gageh
  4. Kacondongan mato rang banyak
  5. Dibaok ribuik dibaok angin
  6. Dibaok pikek dibaok langau
  7. Bajua bamurah-murah
  8. Batimbang jawab ditanyoi
  9. Tadorong jajak manurun
  10. Tatukiak jajak mandaki
  11. Lah bauriah bak sipasan
  12. Lah bajajak bak bakiak

Jika seseorang melakukan hal hal disebutkan di atas. Maka orang tersebut akan dicurigai sedang dalam keadaaan melanggar hukum.

Fungsi Balai Adat Sarilamak

Untuk Jorong Sarilamak mempunyai Balai Adat yang diberinama “ Kunci Loyang 15 Gontang Togak “ yang merupakan simbol sasuai mangko di pakai. Pembahasan dib alai ini menyangkut undang-undang luhak dan rantau, sebab pada awalnya Nagari Sarilamak sampai pada wilayah Kuntu dan Lipek kain dengan balainya Payuang Sakaki.

Nagari Sarilamak, terhimpun dalam Persukuan yang empat  suku; Suku Pauah, Sukuk Sombilan, Suku Bodi Malayu dan Suku Pitopang yang disebut dengan Sarilamak 40 Gontang Togak, dimana satu Gontang Togak telah memisahkan diri menjadi Nagari Pilubang dengan nama Balai Adatnya “Balai Jajaan “

Sarilamak Dizaman Belanda

Dizaman Belanda Sarilamak pusat perdagangan yang strategis oleh Belanda untuk menghimpun hasil alam dari pedalaman minangkabau yang akan di bawa ke Pangkalan dengan Pedati atau kuda beban yang akan diteruskan ke Malaka.

Belanda mengangkat untuk membantunya dalam berdagang mengangkat  Dt. Karaiang  sebagai Tuanku Lareh pada Kelarasan Sarilamak dengan nagarinya: Sarilamak, Tarantang, Solok Bio-Bio dan Harau. Tuanku Lareh terakhir dikenal dengan nama Rasad Dt. Kuniang Nan Hitam.

Pada tahun 1913, menjelang pecahnya Perang Dunia I Pemerintah Belanda melaksanakan Reorganisasi pemerintahan yang cukup besar (Lembaran Negara No.321), seluruh kelarasan dan jabatan Tuanku Lareh dihapus  di Sumatera Barat. Pemerintahan dilanjukan dengan  Afdeling di Kabupaten , Demang sebagai kepala distrik dibawah Afdeling , Assisten Demang  yang memerintah Onderdistrik (setingkat Camat sekarang )

Setahun kemudian tepatnya bulan Nopember 1914 dibentuklah Onderdistrik Tanjung Pati yang merupakan bagian dari distrik Luhak, Onderafdeling Payakumbuh, Afdeling Limapuluah Koto. Yang termasuk dalam wilayah Onderdistrik Tanjung Pati adalah Kelarasan Sarilamak (Sarilamak, Tarantang, Solok Bio-Bio dan Harau ), Kelarasan Lubuak Batingkok (Lubuak Batingkok, Gurun, dan Koto Tuo) dan Kelarasan Taram ( Taram, Bukit Limbuku dan Batu Balang ). Asisten Demang terakhir bernama Janaid Datuak Nan Khodo Nan Hitam yang berkedudukan di Tanjung Pati, berasal dari Lawang Matur Agam (Salah seorang anaknya Kolonel Syofyan Djunaid pernah menjadi wakil Gubernur Sumatera Barat sewaktu Gubernur Kaharuddin Dt. Rangkayo Basa)

Sarilamak Sejak Kemerdekaan

Jauh sebelum merdeka wilayah Nagari Sarilamak luas sampai ke Kuntu Lipek Kain dengan balai adatnya bernama “Balai Payuang Sakaki”, dan Nagari Pilubang dengan balai adatnya bernama “Balai Jajakan” juga masuk wilayah Nagari Sarilamak sehingga Nagari Pilubang disebutkan bapak ka Sarilamak ba mamak ka Bukik Limbuku.

Kemudian pada awal kemerdekaan, Nagari Sarilamak terdiri dari 4 Jorong, yakni Jorong Sarilamak dengan nama balainya “Pasak Kunci Loyang”, Jorong Ketinggian dengan nama balainya “Ujuang Rapek”, Jorong Aie Putih dengan nama balainya “Totak Barih” dan Jorong Buluh Kasok dengan nama balainya “ Alue Patuik”.

Pada tahun 1961, Ninik Mamak Nagari Sarilamak menyerahkan lahan kering dan basah kepada Pemerintah untuk dipergunakan sebagai lahan transmigrasi lokal. Kemudian, berdasarkan surat Bupati Limapuluh Kota S.M.Djoko kepada Kepala Jawatan Agraria Daerah 50 Kota No.MB.6520/1/61 tertanggal 3 Agustus 1961 tentang penyerahan tanah untuk Transmigrasi Lokal. Dalam surat tersebut dijelaskan berdasarkan kebulatan Kerapatan Nagari Sarilamak tanggal 12 Djuni 1961 No.8/Slm/1961, telah diserahkan sebidang tanah luasnya ±400 ha, terdiri dari tanah kering dan tanah basah untuk dilaksanakan sebagai pertanian oleh para Transmigrasi lokal sejumlah 200 keluarga yang terdiri dari 1050 jiwa. Para Transmigrasi tersebut terdiri dari bekas pekerja kebun the halaban yang sedang menganggur karena pemukiman eks karyawan Perkebunan Teh Halaban yang dibakar Belanda yang berasal dari keturunan suku Jawa yang telah turun temurun sejak jaman penjajahan Belanda.

Tahun 1961, setelah diserah terimakan oleh Pemerintah, mulailah secara berangsur lahan tersebut digarap oleh masyarakat eks karyawan Perkebunan Teh Halaban tersebut.  Tahun 1962 mulailah terbentuk pemukiman yang awalnya bernama SIDODADI, dan pada tanggal 17 September 1964 pemukiman ini diresmikan oleh Kaharoeddin Dt.Rangkayo Basa, Gubernur Sumatera Barat dengan nama Purwajaya dan menjadi Jorong kelima di Nagari Sarilamak  .

Pada tahun 1979, Pemerintah mengundangkan UU Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa yang mengatur tentang penyeragaman bentuk Pemerintahan terendah di Indonesia.  Undang Undang ini secara otomatis menghapus Pemerintah Nagari yang telah ada turun temurun di Sumatera Barat tak terkecuali di Nagari Sarilamak  .   Akibat diberlakunya UU tersebut, Nagari Sarilamak   terpecah menjadi 5 Desa yakni Desa Sarilamak  , Desa Ketinggian, Desa Purwajaya, dan Desa Air Putih dan Desa Buluh Kasok (Kemudian Desa Air Putih dan Desa Buluh Kasok digabungkan menjadi Desa Talago)

Tahun 1999, pemerintah membatalkan segala ketentuan yang ada pada UU nomor 5 Tahun 1979 dengan diberlakukannya UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.  Momentum ini dimanfaatkan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat untuk mengembalikan bentuk pemerintahan desa ke bentuk pemerintahan nagari melalui Peraturan Daerah Nomor 1 tahun 2000 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Nagari, yang kemudian ditindaklanjuti oleh Peraturan Daerah Kabupaten Limapuluh Kota Nomor 1 Tahun 2001 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Nagari.  Berdasarkan ketentuan tersebut diatas, maka dilakukanlah Musyawarah yang melibatkan Ninik Mamak, pemuka masyarakat, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang dan pemuda.  Setelah melalui perdebatan yang alot dan memakan waktu yang cukup panjang, akhirnya disepakati penggabungan kembali Desa Sarilamak  , Desa Ketinggian, Desa Talago dan Desa Purwajaya menjadi Nagari Sarilamak   yang kemudian dibagi dalam 5 Jorong yakni Jorong Sarilamak, Jorong Purwajaya, Jorong Ketinggian, Jorong Aie Putih dan Jorong Buluh Kasok.

Pada tanggal 14 Oktober 2001, Nagari Sarilamak   kembali terbentuk secara resmi dengan dilantiknya JASRI BERMAWI sebagai Pj. Wali Nagari dan dikukuhkan sebagai Wali Nagari definitif hasil Pemilihan Wali Nagari pada 22 Juli 2002 dengan Keputusan Bupati Limapuluh Kota Nomor 618/BLK/2002 Tanggal 18 Juli 2002. Kemudian dengan berakhirnya Periode Kepemimpinan H. JASRI BERMAWI DT. KALI NAN PUTIAH Nagari Sarilamak di Pimpin Oleh BUDI FEBRIANDI, SP melalui Pemilihan Walinagari pada Bulan Juni 2008 dengan Keputusan Bupati Limapuluh Kota Nomor 397 Tahun 2008 untuk Periode 2008-2014. Kemudian setelah masa kepemimpinan Wali Nagari BUDI FEBRIANDI, SP berakhir, Nagari Sarilamak dijabat sementara oleh Sekretaris Nagari SUKARMAN sebagai Wali Nagari sampai pada bulan Juni 2016 setelah diadakannya Pemilihan Wali Nagari definitif di bulan juni 2016. Saat ini Nagari Sarilamak   dipimpin oleh Wali Nagari OLLY WIJAYA, SE yang dikukuhkan melalui Keputusan Bupati Nomor 447 Tahun 2016, Tanggal 1 Juli 2016 untuk periode 2016-2021.

Imajinasi yang menjadi kenyataan

Pada tanggal 14 Agustus 1986, di Bukik Limau (kantor Bupati sekarang) dilaksanakan kemah pramuka dan diakan kegiatan penaman pohon untuk penghijauan. Sebagai Penyuluh Pertanian di saat itu saya membawa anggota saka taruna bumi ikut berperan serta pada kegiatan penghijauan . Disudut bukit yang telah bersih habis dibakar (dibelakang kantor Danramil Harau) saya terkesima melihat keindahan alam disekitarnya, telihat lembah Harau, Gunung Sago dan didepan melintas mobil menuju ke Pekan Baru. Terlintas dalam pikiran saya, kalau saya punya uang akan saya beli tanah ini untuk saya buat rumah dengan sudut tiga penjuru atau apabila saya jadi pejabat akan saya beli tanah ini untuk komplek perkantoran, pikiran saya waktu itu.

Di bulan Desember 2001 pada pemerintahan Bupati dr.Alis Marajo dt.Sori Marajo dan Wakil Bupati Amri Darwis, dengan melalui serangkaian tes yang dilaksanakan oleh Bupati Limapuluh Kota dr.Alis Marajo dt.Sori Marajo langsung. Alhamdulillah saya lulus dan dipercayakan sebagai Camat Harau dan dilantik pada tanggal 18 Januari 2002.

Pada pertemuan saya dengan Bupati Limapuluh Kota dr.Alis Marajo dt.Sori Marajo pada tanggal 12 Februari 2002 , pertanyaan pertama kepada saya adalah .” dimana yang bagus di buatkan kantor bupati?”. Pertanyaan ini mengingatkan saya akan bayangan pada tanggal 14 Agustus 1986, dan langsung saya jawab” yang paling tepat adalah di Bukit Limau Sarilamak” jawab saya singkat.

Bupati menanyakan alasannya, kenapa di Bukit Limau yang baik. Karena sejak Bupati Aziz Hayli telah mencanangkan kantor Bupati di Jorong Ketinggian Sarilamak. Dengan argumen bahwa di Ketinggian Sarilamak pada saat itu tanahnya masih rawa, dan untuk mengeringkannya kita harus membuat parit penguras, karena tanahnya gambut dan apabila di zondir baru sekitar 4 sampai 6 meter baru ketemu lapisan cadas tidak kuat untuk struktur kantor bertingkat, tetapi apabila di Bukit Limau semuanya lapisan cadas dan kuat untuk areal perkantoran bertingkat “ Jawab saya waktu itu.

Diputuskan pada hari Sabtu bulan Februari 2002 untuk melihat calon lokasi kantor Bupati yang bersamaan dengan acara doa membuka Kapalo Banda Sarasah Tanggo. Sejak saat itu Bupati Alis Marajo dt.Sori Marajo menyetujui lokasi pembangunan kantor bupati di Bukit Limau Sarilamak. Dan ditugaskanlah Saiful.SP Camat Harau bersama Walinagari Sarilamak H. Jasri Bermawi Dt. Kali Nan Putiah untuk membebaskan tanah tersebut yang diatasnya ada sekolah SD, rumah penduduk, pondok batu bata dan 20 buah perkuburan masyarakat.

Win Win Solusion

Yang menarik adalah saat saya selaku camat melakukan survey langsung ke lokasi terhadap bagaimana pandangan masyarakat apabila di bangun kantor Bupati di sekitar areal perbukitan tersebut yang akan membebaskan tanah dan kemungkinan memindahkan rumah sebagian warga yang direncanakan luas pembebasannya.

Di hari minggu yang cerah, saya naiki Vespa ke lokasi tersebut sambil berpura-pura memancing belut sawah saya membawa peralatan untuk memancing belut , sambil mengamati dan memetakan calon lokasi kantor bupati sambil bertanya kepada petani yang sedang bekerja di lahannya.

Pada rumah petani (dibawah persimpangan kantor bupati) bernama Burda saya memberikan informasi bahwa Camat Harau akan membeli tanah di sekitar ini untuk pembangunan kantor Bupati, pada awalnya Burda menolak karena rumah dan sawah inilah yang dia punyai, kalau camat harau tetap memaksanya dia mau berkelahi dengan camat. Untungnya Burda tidak mengenal saya sebagai camat. Namun dengan diskusi yang alot dia menyarankan kalau pemerintah mau menganti rumahnya dan memindahkannya ke lokasi disekitar itu yang lebih baik dia bersedia untuk membebaskan lahan dan rumahnya.

Didapatkan informasi lain, tanah calon lokasi tersebut banyak juga sedang berperkara. Namun dengan pendekatan yang persuasife mereka mau membebaskan tanahnya dengan ganti rugi Rp.16.500,-, m2 dengan perjanjian uangnya mereka bagi dua.

Setelah satu bulan saya memetakannya, dan mencari solusi setiap permasalahan yang ada, saya melaporkan ke Bupati Alis Marajo dt.Sori Marajo untuk di buatkan Surat Tugas bersama Wali Nagari Sarilamak untuk membebaskan lahan.

Pada awalnya, Wali Nagari Sarilamak Jasri Bermawi masih ragu unutuk mengumpulkan masyarakat calon lokasi karena dia tau kondisi masyarakat yang tanahnya dalam perkara. Namun di  Bulan Mai 2002 dilakukan pertemuan di Geduang Pertemuan di jorong Purwajaya, kumis saya yang semula tebal saya cukur sehingga masyarakat yang diundang tanahnya sebagai calon lokasi kantor Bupati tidak mengenal saya sebagai orang yang pernah mereka temukan. Rapat berjalan alot, cepat dan singkat tak sampai setengah jam keputusan bulat telah dapat diambil dengan win win solusion yang menguntungkan mereka , dan hal ini membuat heran bapak wali Nagari Sarilamak karena dia tidak menyangka rapat secepat ini. Pada bulan Agustus 2002 dilakukan kegiatan peletakan batu pertama pembangunan kantor bupati di halaman Sekolah Dasar (tepat di areal Masjid sekarang)

Selama satu tahun mereka mengurus administrasi dan menandatangani oleh ahli waris baik yang di kampung maupun yang dirantau untuk menandatangai surat pernyataan penyerahan tanah ke pada pemerintah.

Tanah yang merupakan lokasi SD 15 dan SD 33 Sarilamak di serahkan oleh ninik mamak Suku Pauah: YA.Dt.Bandaro, H.J.Dt.Mangkuto Nan Putiah , A.dt.Ajo simarajo, My.Dt.Mangkuto Gonjong dengan surat pernyataan tertanggal 5 Juli 2003. Kedua Sekolah dasar ini di pindahkan kelokasi SD Bertingkat sekarang ini.

Kemudian di ikuti pada tanggal 14 Juli 2003 surat pernyataan penyerahan tanah yang ditandatangani secara berkelompok sebanyak 10 orang, yaitu : J.Dt.Marajo Nan Karuik (Pitopang), YA.Dt.Bandaro (Pauh), E.dt.Tumanggung (Sembilan), Sarida (Sembilan), A.Dt.Pdk Rajo (Pitopang), Nirosman (Pauh), H.J.Dt.Mangkuto Putiah (Pauh), Sarila (Sembilan), Sy.Dt.Putiah (Sembilan) dan I. Dt. Ajo Bosa (Pitopang) dan kemudian diikuti oleh pemelik yang berada di Jorong Purwajaya sehinga didapati luas awal 12,5 ha. Pembayaran secara simbolis dilaksanakan di Kantor Camat Harau pada tanggal 14 Agustus 2003.

Wilayah Ibu Kota Kabupaten Sarilamak

Sambil menyelesaikan administrasi penyerahan tanah oleh pemilik tanah, pemerintah menyusun Perda Nomor 17 Tahun 2002 tentang Pemindahan Ibukota Kabupaten Lima Puluh Kota dari Wilayah Kota Payakumbuh ke Kota Sarilamak dan Perda Nomor 18 Tahun 2002 tentang Rencana Kota Sarilamak Sebagai Ibukota Kabupaten Lima Puluh Kota.

Di dalam pasal 12 Perda Kabupaten Lima Puluh Kota Nomor 18 Tahun 2002 tentang Rencana Kota Sarilamak Sebagai Ibukota Kabupaten Lima Puluh Kota, disebutkan bahwa untuk mengatasi perkembangan yang akan terjadi mengingat kedudukan penting Sarilamak maka akan ditetapkan pembagian Sub Bagian Wilayah Kota (BWK) pada beberapa wilayah yang diharapkan dapat menjadi sub pusat pelayanan lingkungan dan pusat pelayanan penduduk tidak terkonsentrasi pada satu lokasi.

Berikutnya dalam pasal 13 pada Perda yang sama ditetapkan pembagian wilayah tersebut, yaitu Sub BWK A dengan fungsi sebagai pusat agribisnis dan pertanian yang diintensifikasi serta pemukiman, wilayahnya meliputi Nagari Lubuak Batingkok.

Sub BWK B merupakan pusat agribisnis dan pertanian yang diintensifikasi serta pemukiman di nagari Gurun. Nagari Sarilamak menjadi Sub BWK C yang merupakan pusat utama Kota Sarilamak dengan fungsi utamanya sebagai pusat perdagangan regional dan perkantoran.

Sub BWK D merupakan pusat utama Kota Sarilamak dan dijadikan pusat perumahan, khususnya bagi pendatang yang bekerja pada sektor pemerintahan, dan juga sebagai pusat industri pengolahan dan pusat perkantoran pemerintah, wilayahnya meliputi jorong Ketinggian di nagari Sarilamak.

Nagari Tarantang menjadi pusat kegiatan pariwisata dan produksi pertanian, terletak pada sub BWK E. Jorong Aia Putiah dan Jorong Buluah Kasok yang terdapat dalam nagari Sarilamak menjadi pusat pemukiman, perdagangan, dan menjadi cadangan lahan bagi perkembangan kota, menjadi sub BWK F. Terakhir, nagari Pilubang dalam sub BWK G berfungsi sebagai pusat agro industri dan merupakan cadangan lahan bagi perkembangan kota.

Dengan di undangkannya Peraturan Pemerintah (PP) No.40 Tahun 2004 tentang Pemindahan Ibu Kota Kabupaten Limapuluh Kota dari Wilayah Kota Payakumbuh ke Sarilamak di Wilayah Kecamatan Harau Kabupaten Limapuluh Kota yang ditetapkan dan di undangkan pada tanggal 18 Oktober 2004, maka sejak itu Nama Sarilamak telah resmi sebagai nama Ibu Kota kabupaten Limapuluh Kota.

Pembangunan Kantor Bupati dan DPRD Limapuluh Kota

Dengan keluarnya PP No.40 tahun 2004 sarana prasarana IKK Sarilamak mulai dibangun. Tahun 2005 perencanaan dan pembangunan kantor Bupati dan kantor DPRD Limapuluh Kota sebagai pusat pemerintahan yang telah dirintis oleh Bupati dr.Alis Marajo dt.Sori Marajo dibangun pada era Bupati Amri Darwis bersama Wakil Bupati Irfen Arbi dimana pada tanggal 14 Agustus 2008 kantor Bupati telah mulai pindah ke Sarilamak. Sementara peresmiannya kantor DPRD Limapuluh Kota dilaksanakan pada tanggal 13 April 2009 pada acara peringatan ulang tahun pemerintahan Kabupaten Limapuluh Kota yang diperingati untuk pertama kali.

Nama-Nama Jalan dikawasan IKK Sarilamak

Nama jalan di IKK Sarialamak dalam keputusan Bupati Limapuluh Kota, Nomor 212 Tahun 2013 tanggal 15 April 2013 tentang nama-nama jalan/rupa bumi di Kawasan Ibukota Kabupaten Limapuluhkota dan kawasan penyangga, dimana titik nolnya adalah kantor Bupati di Sarilamak,  diambil dari nama tokoh/pejuang yaitu :

  1. DR.H.Aziz Haily, MA diambil untuk nama jalan lingkar kantor Bupati s/d simpang Kompi C. Sejarahnya adalah. Prof.DR.H.Aziz Haily,  lahir di Nagari Sialang, Kecamatan Kapur IX, 19 Maret 1943. Beliau merupakan anak ke 4 dari 5 bersaudara, hasil pernikahan Suhaili Malin Bungsu dan Fatimah Suri. Pendidikan SD sampai SMA, dilaluinya di Kota Payakumbuh, Provinsi Sumatera Barat. Tamat SMA tahun 1963, Beliau melanjutkan pendidikan di KDC APDN Bukittinggi. 6 tahun menimba ilmu di sekolah Pamong itu, Prof Aziz (begitu sapaannya) langsung diangkat menjadi Camat Pangkalan. Selama menjadi Camat, Aziz HaLy dikenal sangat merakyat.

Selepas menjadi Camat Pangkalan, beliau menjadi Camat Harau pada tahun 1972. Lima tahun kemudian Prof Aziz Haily mutasi menjadi Camat Guguak.Setelah mengabdi sebagai Camat Guguak sampai tahun 1977, Prof Aziz mendapat beasiswa atau tugas belajar di Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) Jakarta. Begitu lulus tahun 1980, Prof Aziz langsung diangkat menjadi dosen IIP dan STIA LAN Republik Indonesia. 10 tahun menjadi dosen, masyarakat di Kabupaten Limapuluh Kota menjemputnya ke Jakarta untuk diusulkan sebagai calon Bupati.Prof Aziz Haily akhirnya terpilih sebagai Bupati dan dilantik pada tanggal 25 Juni 1990. Saat masa jabatannya berakhir tahun 1995, beliau diminta dan terpilih kembali sebagai Bupati untuk keduakalinya sampai berakhir pada tahun 2000.Usai menjalankan tugas sebagai Bupati, Prof Aziz kembali ke Kampus. Beliau menjadi dosen tetap di IIP dan STPDN. 16 Juni 2009, Prof. Aziz Haily bersama Prof. Erliana Hassan dan Prof. Johanis Kaloh dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Sidang Senat Terbuka yang dipimpin oleh Ketua Senat sekaligus Rektor IPDN pada saat itu, Prof. Ngadisah. Ia meninggal pada hari Senin 12 November 2012 sekitar pukul 20.30 WIB di Rumah Sakit Fatmawati Jakarta Selatan.

  1. Letkol Burhanuddin Putih diambil untuk nama jalan Simpang Kantor Bupati s/d DPRD. Letkol Inf Burhanuddin Putih tahun 1966 s/d 1967 sebagai Dandim 0311/Pessel Ke tujuh. Dan selama dua periode yakni periode pertama 1975- 1980 dan periode kedua 1980- 1985 dia menjadi Bupati Limapuluh Kota.
  2. Mohammad Natsir diambil untuk nama jalan Simpang Kantor Bupati s/d Simpang Mesjid Ketinggian- Sarilamak. Mohammad Natsir dilahirkan di Alahan Panjang, Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Baratpada 17 Juli 1908 dari pasangan Mohammad Idris Sutan Saripado dan Khadijah. Ia menjadi pemangku adat untuk kaumnya yang berasal dari Maninjau, Tanjung Raya, Agam dengan gelar Datuk Sinaro nan Panjang. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ia menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat. Sebelum menjadi perdana menteri, ia menjabat sebagai menteri penerangan. Pada tanggal 3 April 1950, ia mengajukan Mosi Integral Natsir dalam sidang pleno parlemen.
  3. Mohammad Hattasebagai Wakil Presiden Indonesia yang mendorong semua pihak untuk berjuang dengan tertib, merasa terbantu dengan adanya mosi ini. Mosi ini memulihkan keutuhan bangsa Indonesia dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sebelumnya berbentuk serikat, sehingga ia diangkat menjadi perdana menteri oleh Presiden Soekarno pada 17 Agustus 1950. Namun ia mengundurkan diri dari jabatannya pada tanggal 26 April 1951 karena perselisihan paham dengan Soekarno.

Selama era demokrasi terpimpin di Indonesia, ia terlibat dalam pertentangan terhadap pemerintah yang semakin otoriter dan bergabung dengan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia setelah meninggalkan Pulau Jawa. PRRI yang menuntut adanya otonomi daerah yang lebih luas disalahtafsirkan oleh Soekarno sebagai pemberontakan. Akibatnya, ia ditangkap dan dipenjarakan di Malang dari tahun 1962 sampai 1964, dan dibebaskan pada masa Orde Baru pada tanggal 26 Juli 1966. Ia meninggal pada 6 Februari 1993 di Jakarta.

  1. Tuanku Imam Bonjol diambil untuk nama jalan dari simpang Rimbo Piobang ( Simpang Mesjid Ketinggian- Sarilamak ) sampai ke Lubuk Bangku. Tuanku Imam Bonjol (lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatera Barat, Indonesia1772 – wafat dalam pengasingan dan dimakamkan di Lotak, Pineleng, Minahasa, 6 November1864), adalah salah seorang ulama, pemimpin dan pejuang yang berperang melawan Belanda dalam peperangan yang dikenal dengan nama Perang Padri pada tahun 1803-1838.Tuanku Imam Bonjol diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973.
  2. Sutan Mohammad Rasyid diambil untuk nama jalan dari simpang LP anak s/d kantor Samsat. Mr.Sutan Mohammad Rasjid (lahir di Jawi-jawi (sekarang Jl. Jend. Sudirman), Pariaman, Sumatera Barat, 19 November1911adalah salah seorang pejuang dan Perintis Kemerdekaan. Pada saat perang kemerdekaan II (Clash II), Sutan Mohammad Rasjid menjabat sebagai GubernurMiliterSumatera Barat yang berkedududkan di Kototinggi Gunuang Omeh Kabupaten Limapuluh Kota. Selain itu dalam Kabinet Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) beliau menjabat sebagai Menteri Keamanan/Sosial dan Menteri Perburuhan dan Sosial. Beliau wafat di Jakarta, 30 April2000 pada umur 88 tahun dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir.
  3. Prof Hamka diambil untuk nama jalan dari simpang kantor Bupati s/d Simpang Kompi C. Dr. HajiAbdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan Hamka, yakni singkatan namanya, (lahir di Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 – meninggal di Jakarta,24 Juli 1981 pada umur 73 tahun) adalah sastrawan Indonesia, sekaligus ulama, ahli filsafat, dan aktivis politik.
  4. Jenderal Sudirman diambil untuk nama Jalan  dari Simpang Kompi C s/d Simpang Politani.Jenderal BesarRaden Soedirman (EYD: Sudirman; lahir 24 Januari 1916 – meninggal 29 Januari 1950 pada umur 34 tahun adalah seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Menjadi panglima besar Tentara Nasional Indonesia pertama, ia secara luas terus dihormati di Indonesia.
  5. Syafruddin Prawiranegara diambil untuk nama jalan dari simpang Politani s/d batas Kota Payakumbuh. Mr.Syafruddin Prawiranegara, atau juga ditulis Sjafruddin Prawiranegara (lahir di Serang, Banten, 28 Februari 1911 – meninggal di Jakarta, 15 Februari 1989 pada umur 77 tahun) adalah pejuang pada masa kemerdekaan Republik Indonesia yang juga pernah menjabat sebagai Ketua PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) yang dideklarasikan di Halaban , Limapuluh Kota ketika pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda saat Agresi Militer Belanda II pada tanggal 19 Desember1948.
  6. Agus Salim diambil untuk nama jalan dari simpang Kantor Bupati s/d kantor wali Nagari Harau. Haji Agus Salim (lahir dengan nama Mashudul Haq (berarti “pembela kebenaran”); lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda, 8 Oktober1884 – meninggal di Jakarta, Indonesia, 4 November 1954 pada umur 70 tahun) adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Haji Agus Salim ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 27 Desember 1961 melalui Keppres nomor 657 tahun 1961.
  7. Jenderal Gatot Subroto diambil untuk nama jalan dari simpang kompi C s/d Kompi C. Jenderal Gatot Soebroto (lahir di Banyumas, Jawa Tengah, 10 Oktober1907 – meninggal di Jakarta, 11 Juni 1962 pada umur 54 tahun) adalah tokoh perjuangan militer Indonesia dalam merebut kemerdekaan dan juga pahlawan nasional Indonesia. Ia dimakamkan di Ungaran, kabupaten Semarang. Pada tahun 1962, Soebroto dinobatkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional menurut SK Presiden RI No.222 tanggal 18 Juni1962. Ia juga merupakan ayah angkat dari Bob Hasan, seorang pengusaha ternama dan mantan menteri Indonesia pada era Soeharto.
  8. Siti Manggopoh diambil untuk nama jalan dari Simpang Kandang Lamo s/d Batu Balang. Siti Manggopoh (lahir di Manggopoh, Agam, Hindia Belanda, tahun 1880 – meninggal di Gasan Gadang, Padang Pariaman, Sumatera Barat, tahun 1965 pada umur 85 tahun) adalah seorang pejuang perempuan dari Manggopoh, Lubuk Basung, Agam. Pada tahun 1908, Siti melakukan perlawanan terhadap kebijakan ekonomi Belanda melalui pajak uang (belasting). Peraturan belasting dianggap bertentangan dengan adat Minangkabau, karena tanah adalah kepunyaan komunal atau kaum di Minangkabau. Pada tanggal 16 Juni1908, Belanda sangat kewalahan menghadapi tokoh perempuan Minangkabau ini, sehingga meminta bantuan kepada tentara Belanda yang berada di luar nagari Perang ini kemudian dinamai Perang Belasting.
  9. Rohana Kudus diambil untuk nama jalan dari simpang Politani s/d Politani. Rohana Kudus (lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 20 Desember1884 – meninggal di Jakarta, 17 Agustus 1972pada umur 87 tahun) adalah wartawan Indonesia. Ia lahir dari ayahnya yang bernama Mohamad Rasjad Maharadja Soetan dan ibunya bernama Kiam. Rohana Kudus adalah kakak tiri dari Soetan Sjahrir, Perdana Menteri Indonesia yang pertama dan juga mak tuo (bibi) dari penyair terkenal Chairil Anwar. Ia pun adalah sepupu  Agus Salim. Rohana hidup di zaman yang sama dengan Kartini, dimana akses perempuan untuk mendapat pendidikan yang baik sangat dibatasi. Ia adalah perdiri surat kabar perempuan pertama di Indonesia.
  10. Durun Dt.Lelo Angso diambil untuk nama jalan dari simpang Politani s/d Koto Tangah. Durun adalah tokoh lokal suku bendang mandahiliang jorong Kototuo, Nagari Kototuo Kecamatan Harau .Beliau meninggal pada serangan Belanda  tanggal 1 Juni 1949.Belanda mengepung Pasukan gerilya Front Lima Puluh Kota di Tanjung Pati yang telah menyingkir ke Batu Nan Limo Simalanggang. Dalam perjalanannya Belanda menyergap dan menangkap 3 orang anggota BPNK Koto Tuo yang sedang ronda, dimana Durun Dt.Lelo Angso dan Amarellah putus lehernya ditebas Belanda di Simpang jalan ke Koto Tangah . Sementara  Marin Atiak setelah dibacok belanda leher dan pipinya yang luka berpura-pura mati dan dapat diselamatkan oleh masyarakat paginya dilarikan ke Rumah Sakit Darurat di Suliki. Kemudian Ruin Dt. Sinaro Panjang mati  tertembak Belanda di depan balai Adat Koto Tuo.
  11. Tengku Mohammad Hasan diambil untuk nama jalan dari simpang SMA s/d SMA Tanjung Pati. Tengku Mohammad Hasan dilahirkan tanggal 4 April1906 sebagai Teuku Sarong, di Sigli, Aceh. Ayahnya, Teuku Bintara Pineung Ibrahim adalah Ulèë Balang di Pidie (Ulèë Balang adalah bangsawan yang memimpin suatu daerah di Aceh). Ibunya bernama Tjut Manyak. Pada 7 Agustus 1945 Mr. Teuku Muhammad Hasan dipilih menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang diketuai oleh Ir. Soekarno. Setelah kemerdekaan Indonesia, Mr. Teuku Muhammad Hasan diangkat menjadi Gubernur Sumatera I pada tanggal 22 Agustus 1945 dengan ibukota provinsi di Medan.Pada masa Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Mr. Teuku Muhammad Hasan, adalah Wakil Ketua PDRI/Menteri Dalam Negeri/Menteri PPK/Menteri Agama.
  12. Sa’alah Sutan Mangkuto diambil untuk nama jalan dari simpang Depag arah kedalam. Sering ditulis S.Y. Sutan Mangkuto, (lahir di Pitalah 1901) . Saalah Sutan Mangkuto pernah bekerja sebagai pengacara dan penasihat politik. Pada tahun 1930, ia dipercayakan menjadi Ketua Majelis Pimpinan Muhammadiyah Minangkabaumenggantikan R. Sutan Mansur. Setelah proklamasi kemerdekaan, ia sempat ditunjuk pemerintah sebagai Bupati Solok (1946-1947) dan Bupati Lima Puluh Kota (1949) mengantikan Arisun yang gugur pada peristiwa di Lurah kincir Situjuah Batua tanggal 15 Januari 1949.
  13. Darwis Taram diambil untuk nama jalan dari Simpang Padang Rajo s/d Padang Rajo.  H.Darwis TaramDt. Tumanggung  adalah ayah dari H. Amri Darwis mantan Bupati Limapuluh Kota periode 2005-2010 yang berasal dari Nagari Taram Kecamatan Harau. Dia pernah menjadi Bupati Pasaman (1946-1947).  Bupati Solok  ( 1947 – 1948 ) dan  dalam masa stabilitas politik nasional yang belum stabil maka Limapuluh Kota dipimpin oleh H. Darwis Dt. Tumangguang yang memimpin Kabupaten Limapuluh Kota selama 5 tahun ( 1950- 1956).
  14. Arisun Sutan Alamsyah diambil untuk nama jalan dari Simpang 4 Tanjung Pati s/d Simpang Pilubang. Arisun Sutan Alamsyah lahir tahun 1915 di NagariKubang Putiah, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ia adalah putra dari Tamin Datuk Bandaro Sati, seorang Wali Nagari Banuhampu, Agam, sedangkan ibunya bernama Harikam. Disamping menjadi guru, Arisun juga aktif dalam gerakan perjuangan bangsa melawan kolonialisme. Dia mendirikan Badan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan atau Geneskunding Transport Colone (GTC), suatu badan yang mirip dengan Palang Merah Indonesia (PMI) saat ini. Lalu pada zaman pendudukan Jepang ia aktif dalam Hokokai (Badan Kebaktian Rakyat) Kabupaten 50 Kota. Selanjutnya ketika Gyu Gun didirikan di Payakumbuh, Arisun juga aktif dalam Gyu Gun “Ko En Bu”. Masa selanjutnya, setelah kemerdekaan ia diangkat menjadi Wedana pertama di Kewedanaan Suliki. Pada tahun 1948, dengan terjadinya Agresi Belanda II, PDRI berdiri bersamaan dengan terbentuknya Pemerintahan Militer di Sumatera Tengah. Pada masa itulah Arisun Sutan Alamsyah diangkat menjadi Bupati Militer Kabupaten 50 Kota. Itulah karier terakhir dari Arisun Sutan Alamsyah, sebelum ia tewas bersama puluhan pejuang lainnya diberondong peluru Belanda pada peristiwa di Lurah kincir Situjuah Batua tanggal 15 Januari 1949.
  15. Zainuddin Tembak diambil untuk nama dari Simpang Pilubang s/d Nagari Pilubang. Kapten Zainuddin sendiri menurut beberapa keterangan lahir di kawasan Lubuak Bagaluang, Kota Padang, sekitar tahun 1924 dari perempuan yang biasa dipanggil Mak Inen. Sedangkan ayahnya bernama Bachtiar, seorang pejabat pada Kantor Gemente Pemerintah Belanda di Padang. Dia adalah tipe pejuang berkemauan keras, pantang menyerah, dan sangat menjunjung tinggi disipilin. Baginya, setiap tentara harus bisa berbuat apa saja. Kalau tidak, jangan menjadi abdi negara! Prinsip itulah yang membuat sosok dengan panggilan populer Kapten Zainuddin “Tembak” ini, jadi disegani pasukannya di Batalyon Singa Harau. Baginya tidak ada kata menyerah sebelum dicoba. Sekali layar terkembang, pantang surut biduk kembali. Sekali senapang dikokang, pantang untuk terbuang, kecuali bersarang di tubuh penjajah. Meski demikian,dia gugurbersama puluhan pejuang lainnya diberondong peluru Belanda pada peristiwa di Lurah kincir Situjuah Batua tanggal 15 Januari 1949.
  16. Khathib Sulaiman diambil untuk nama dari Simpang 4 Tanjung Pati s/d Baringin Sonsang. Khatib Sulaiman, seorang pemuda dari Nagari Sumpur(di dekat Danau Singkarak) yang dikenal sebagai pemusik handal yang ikut berjuang melawan Agresi Militer Belanda di Indonesia. Khatib Sulaiman adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia dari Sumatera Barat. Perjuangan Khatib Sulaiman adalah salah satu episode dalam masa perjuangan PDRI yang berlangsung dari tgl 22 Desember 1948 – 13 Juli 1949, yang dipimpin oleh Syafruddin Prawiranegara. Ia gugurbersama puluhan pejuang lainnya diberondong peluru Belanda pada peristiwa di Lurah kincir Situjuah Batua tanggal 15 Januari 1949.
  17. Tulus diambil untuk nama dari Baringin Sonsang s/d Batas Pogang. Tulus adalah nama orang Taeh Baruah Ayahanda sastrawan Chairil Anwar. Dia pernah menjabat  sebagai Bupati ke-3 di Kabupaten Indragiri Hilir (Propinsi Riau) dengan ibukotanya Rengat. Dia ditembak mati bersama Sekda Indragiri Yohanes Simatupang oleh tentara KNIL saat pulang dari kantor Bupati  pada tanggal 5 Januari 1949.

Surau Bosa Kunci Loyang

Periode 2010 -2015 dr.Alis Marajo dt.Sori Marajo/Asirwan Yunus  menjadi Bupati, pada periode ini  selesai pembangunan Masjid di komplek kantor Bupati Sarilamak, Bupati bertanya apa nama yang baik.

Saya mengusulkan nama mesjid adalah Al-Irsyad yang berarti pemberi nasehat, diharapkan melalui mesjid ini lahir sebuah nasehat yang baik untuk pedoman hidup dan kehidupan. Namun bapak Bupati Limapuluh Kota dr. Alis Marajo dt. Sori Marajo yang dikenal juga sebagi ahli budaya dan adat Minangkabau mengusulkan namanya harus sesuai dengan budaya minang dan memakai kata Surau, dimana Surau Gadang yang ada di Sebuah Nagari sama artinya dengan Mesjid Agung .

Kemudian saya usulkan namanya SURAU BOSA KUNCI LOYANG”  nama ini diambil dari nama Balai Nagari Sarilamak yakni PASAK KUNCI LOYANG tempat dimana berada komplek kantor Bupati Limapuluh Kota  sehingga berpasangan antara adat dan agama “ Syarak Mangato Adat Mamakai , Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Adat“.

Usulan Surau Bosa Kunci Loyang di setujui oleh Bupati dr. Alis Marajo dt. Sori Marajo, kemudian diresmikan pemakaiannya untuk sidang Jumat pada tanggal 9 Januari 2015 M ( 18 Rabiul Awal 1436 H) dengan khatib bapak Bupati Limapuluh Kota dr.Alis Marajo dt. Sori Marajo, Muazim Dodi Usman dan imam dipercayakan kepada H. Azfrizal Aziz, Kepala Catatan Sipil Limapuluh Kota dan pengambil infak pertama Ir.Novian Burano Kepala Dinas Kebuayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga.

Arti “ Surau Bosa Kunci Loyang” uraian artinya adalah  SURAU berarti  Mesjid , BOSA (minang) sama artinya dengan besar atau agung, sedangkan KUNCI adalah kata benda sederhana yang seringkali kita dengar dan ucapkan. KUNCI bukan hanya alat tetapi juga sebuah cara yang tepat untuk membuka atau mendapatkan sesuatu. KUNCI akan membuka ruang informatif tak terhenti. KUNCI adalah alat yang sangat berguna untuk membuka sesuatu hal, dengan KUNCI juga kita dapat mengetahui informasi dan menambah wawasan. Disini KUNCI bertujuan untuk mengubah individu closed minded menjadi open minded terhadap informasi. Dan KUNCI merupakan sebuah jawaban yang tepat karena dengan KUNCI kita akan mengunci informasi yang ada dalam ingatan tanpa terkunci dalam kekosongan. Sebuah KUNCI apapun bentuknya pada hakikatnya adalah sebuah alat yang berfungsi untuk mengamankan sesuatu. Sekecil apapun kunci yang digunakan tentulah menjadi tumpuan dan pengaharapan yang besar sebagai pengaman oleh sang pemakainya.

Sementara Loyang (kuningan) adalah dibentuk sedemikan rupa sesuai kegunaan. Ada yang berbentuk talam dan carano yang selalu mengkilap yang berguna untuk penanti tamu.

Jadi arti Surau Bosa Kunci Loyang adalah Mesjid besar yang berfungsi untuk membuka informasi dan menambah wawasan untuk kebahagian hidup didunia dan khirat. Sesungguhnya kebahagian hidup dalam pandangan Islam tidak berkutat pada sisi materi saja. Walaupun Islam mengakui kalau materi menjadi bagian dari unsur kebahagiaan itu sendiri. Oleh karenanya, Islam memberikan perhatian sangat besar pada unsur ma’nawi seperti memiliki iman dan budi pekerti yang luhur sebagai cara mendapatkan kebahagiaan hidup.

Saiful.SP ( Kabag TU, Humas dan Protokoler DPRD Lima Puluh Kota).

Pulutan 11 September 2018.