MELIHAT ORANG TANPA KAKI

0
51

Ciloteh Tanpa Suara-Saat kami duduk bersama-sama di pelataran Masjid sambil menunggu waktu ashar, datang seseorang bernama Maisir sambil bercerita,bahwa dia akhir-akhir ini sering melihat penampakan “Takah Orang Tanpa Kaki” yang sedang tertawa-tertawa sendirian, ada yang melihat kekiri, ada yang melihat kekanan dan ada yang menampakan matanya yang merah dan kadangkala  ada yang menampakan diri berdua  sekaligus berpasangan dan bajunya beragam ragam.

Saat saya tanya dimana dia melihat, diapun menjawab “ saya melihatnya dimana saja saya lewat menuju ke Payakumbuh ini, ada yang dibawah batang kayu, ada ditempat yang sepi, dipersimpangan jalan di depan rumah orang dan ada juga dia tersenyum di depan kedai orang “ ujar Maisir sambil tertawa.

Sayapun mulai curiga, dan saya jawab “ oi… baliho para caleg “. Kamipun tertawa bersama-sama “ tukang carito nan kanai carito” jawab Maisir masih tertawa hahahahaha…

Memang akhir-akhir ini banyak menjadi topik pembicaraan ditengah-tengah masyarakat terhadap gambar baliho para calon legislatif untuk Pemilu serentak 17 April 2019 telah tertampang dimana-mana, dan ada yang berkomentar TAKAH lai TOKOH alun , nan alah TOKOH indak TAKAH lai“ siapakah yang akan kita pilih nanti.

Takah, begitulah “kata hidup” untuk memiripkan dengan lebih baik. Kosa kata Minangkabau memiliki kata “takah”. “Takah Orang”, bisa berarti sama dengan “seperti”, “seolah-olah”, “mirip”, “serupa” atau “saroman” dengan orang.  Selain kata “takah” orang Minang untuk mengatakan “seperti”,  adakalanya dia pakai “saroman”. Misalnya indak saroman itu (tidak seperti itu), takah iko (seperti ini). Begitu juga, takah bisa pula untuk mengatakan “pas’ atau “bagus” atas sesuatu yang kita pakai atau kita lakukan.

Kalau ada yang bilang, takah-takah bareh sipuluik, ditanak badarai (mirip-mirip beras pulut, dimasak berderai), itu artinya lagak tak menjamin isi. Kalau bicara, alangkah hebatnya. Ketika dibuktikan ke kerja atau karyanya, malah kacau. Kalau ada yang mengusulkan kita jadi calon legislatif, karena dalam pikiran kita orang yang akan jadi wakil rakyat itu adalah orang yang telah berbuat bersama rakyat atau sudah ada karya nyatanya bersama rakyat yang dapat dinilai oleh masyarakat yang akan memilihnya, maka caleg yang masih muda dan belum mempunyai reputasi dan karya nyata, dibilang “indak manakah”.  Padahal, mestinya, ke-takah-an, mesti berpatok pada isi, substansi, agar tidak kecele, dimasak berderai. Dan belum tentu yang muda tidak berkualitas.

Sekarang ini para caleg baik yang telah duduk maupun yang baru memasuki dunia ketakahan  sudah mulai berbicara menakahkan diri menjadi orang baik dan orang yang selalu berpihak kepada rakyat . Dunia“seakan-akan” dia yang menciptakan. Menyerupai. Seolah-olah betul telah berbuat. Dan, pada realitanya, tidak demikian. Hidup ini kadang menjadi bagian lain dari keseumpamaan, kesepertian, kemirip-miripan. Hal itu, di satu sisi kadang memang ada yang mirip, dan kadang karena sifat lain manusia itu adalah meniru, memirip-miripkan sesuatu dengan yang pernah di lihat, atau kepada yang dikaguminya.

Tokoh merupakan sifat atau rupa (wujud dan keadaan) seseorang. Tokoh Masyarakat seseorang yang telah mempunyai sifat yang disegani oleh masyarakat .Tokoh Keteladan pemimpin yang baik yang dapat dijadikan contoh dan dapat diteladani sifat-sifat baiknya. Tokoh dapat juga sebagai orang yang terkemuka dan kenamaan (di bidang politik, kebudayaan, dsb), Sementara dalam sastra istilah tokoh merujuk pada orangnya dan pelaku cerita. Watak, perwatakan, dan karakter menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh seperti yang ditafsirkan oleh pembaca.Lebih menunjuk pada kualitas pribadi seorang tokoh .

Takah-takahan, tampaknya sudah menjadi bagian hidup. Ia menjelma pada gaya hidup, bentuk rambut, sepatu, dan baju serta politik. Bahwa ternyata, hidup ini memang tak lepas dari takah satu ke takah berikutnya, saroman satu ke saroman yang lain, mirip satu ke mirip yang lain.

Sementara kita selalu ingin memerankan tokoh yang hidup dalam pikiran kita sesuai dengan dunia panggung, bahwa dunia ini adalah Sandiwara. Begitulah hidup, kadang takah iya, kadang takah tidak. Namun kita selalu silih berganti ingin memerankan takah dan tokoh ini.

Entahlah … apakah masing masing kita telah menyadari bahwa hidup, sebenarnya, disadari atau tidak, adalah semacam siklus yang terus menakah-nakahkan diri, agar semua menjadi lebih takah dan menakah dengan apa yang dikatakan baik, benar dan masuk akal,sehingga kita dapat dikatakan tokoh yang mempunyai kualitas lebih bagi orang sekitar kita.

Kemiripan adalah menakah dan menokohi yang kita tauladani!

Ondeh Mak ! “TAKAH … TOKOH  apakah SAROMAN“

Yang penting sekarang ini, apabila ada orang yang sering menyapa kita atau mau membayarkan minum kopi kita bisa diduga dia adalag Caleg.

Biasanya Caleg terpilih memenuhi syarat nan ampek adalah Tokoh, Takah ,Tageh dan Toke

Saiful Guci, Pulutan 22 Oktober 2018

 

SHARE