KEMENANGAN  BUAT HUT  KOTA PAYAKUMBUH KE-48

0
108

Ciloteh Tanpa Suara-“ Apa komentar Pak Saiful terhadap HUT Kota Payakumbuh ke-48 yang puncaknya akan digelar pada Rapat Paripurna DPRD Kota Payakumbuh  17 Desember besok ?” Tanya  Amril kepada saya.

“ Komentar saya hanya satu kata Al Fath buat Kota Payakumbuh” jawab saya.

“ Apa itu Al Fath pak Saiful Guci ?” Tanya Amril kembali.

“ Al Fath adalah surat ke-48 dalam Al-Quran . Dinamakan Al Fath (kemenangan) diambil dari perkataan Fat-han yang terdapat pada ayat pertama surat ini. Sebagian besar dari ayat-ayat surat ini menerangkan hal-hal yang berhubungan dengan kemenangan yang dicapai Nabi Muhammad s.a.w. dalam peperangan-peperangannya. Nabi Muhammad s.a.w. sangat gembira dengan turunnya ayat pertama surat ini. Nah saya menganologikan , bahwa pada HUT ke-48 Kota Payakumbuh kali masyarakat sangat bergembira  dengan berbagai kegiatan dan atraksi untuk memeriahkannya selama lebih sepekan ini. Dan berbagai kemenangan bertabur prestasi  telah ditorehkan dibawah kepemimpinan Riza Falepi yang berpasangan dengan Erwin Yunas”. Ujar saya.

“ Ooo, begitu maksudnya . Dan bagaimana cerita sejarah Kota Payakumbuh ini Pak “Tanya  Amril

Kemudian saya jawab “ Sejarahnya begini, gagasan untuk menjadikan Payakumbuah menjadi  daerah otonom dan berhak mengatur diri sendiri, telah ada sejak  tahun 1950. Dimana pada waktu itu Bupati Lima Puluah Koto adalah H. Darwis Dt.Toemangguang   dengan Sekdanya H. Amril ZA yang didukung oleh tokoh masyarakat Koto Nan Gadang Noer Basyar Dt. Mamangun nan Hitam dan tokoh masyarakat Koto Nan Ampek Biran Marajo Alam

Melalui sidang Pleno II DPRD tanggal 27 April sampai 2 Mai 1950 secara prinsip menyetujui pembentukan Kota kecil Payakumbuh. Wacana ini dilanjutkan dengan melaksanakan pertemuan antara tokoh masyarakat Kewedanaan  Payakumbuh dengan Pemerintah pada tanggal   28 Juli  1950 bertempat di gedung Perguruan Mahad Islamy. Dan juga pada konperensi kerja Pamong Praja pada tanggal 26 Agustus 1950  serta pada tanggal 16 septemmber 1950 bertempat di sekolah Muhammadiyah Bunian , masyarakat sangat  mendukung keingginan ini. Namun karena adanya perubahan politik yakni Indonesia menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS) hasil kesepakatan Meja Bundar di Denhag yang mana Sumatera Barat dengan sebagaian daerah lainnya di Sumatera tetap bagian Republik Indonesia. Maka keinginan ini belum terealisasi “ Ujar saya.

Amril menyela“ terus kapan terbentuknya Kota Payakumbuh ?” Tanya Amril Singkat

“ Kemudian semangat ini bangkit kembali, dengan keluarnya UU No.8 tahun 1956, tanggal 24 Februari  tentang Pembentukan Daerah Otonom Kota Kecil, dimana pada pasal 1 huruf e berbunyi : Payakumbuh dengan nama  Kota Kecil Payakumbuh dengan batas-batasnya ditetapkan dengan peraturan Menteri.

Undang-undang ini disambut hangat oleh masyarakat yang ada dikewedanaan Payakumbuh sehingga atas prakarsa Wali Nagari Koto Nan Ampek diadakanlah musyawarah Nagari yang bertempat di  Mahad Islamy pada tanggal 24 Maret 1956. Dan dilanjutkan dengan pertemuan dengan pemerintah pada tanggal 8 November 1956.

Untuk memenuhi pembuatan Peraturan Menteri dalam hal batas Kota Kecil, maka konsep Peraturan yang menurut konsep yang akan dijadikan Kota Kecil Payakumbuh ialah sekitar daerah yang padat penduduknya dan rapat perumahannya, yaitu kesebelah barat sampai ke Tonggak Bendera, kesebelah timur sampai ke Simpang Benteng, sebelah utara sampai ke Bunian dan sebelah selatan sampai ke Labuah Basilang. Makanya dibuatlah tugu Batas Kota Kecil di tongak bendera seperti yang sering kita lihat di depan Telkom.

Dalam perkembangannya, dalam catatan C.Israr yang saya baca masalah batas adalah turut menimbulkan kesulitan untuk merealisisr Kodya Payakumbuh. Masyarakat Koto Nan Gadang dan Koto Nan Ampek tidak mau menerima konsep batas-batas tersebut karena dapat memotong dan membelah-belah kedua nagari dan akan memecah kesatuan hukum adat nagari dan konsep luas Kota Payakumbuh perlu di musawarahkan kembali , dan konsep tersebut  tidak berkembang karena terkendala dengan adanya PRRI” ulas saya.

“ Tetapi 17  Desember esok Kota Payakumbuh akan berulang tahun ke-48 Pak Saiful, apa pula peraturan yang mendasarinya” Tanya Amril kembali.

“ setelah daerah aman, dan pada tahun 1970 rencana untuk menjadikan Payakumbuh menjadi Kota kembali menghangat sehingga lahirlah Keputusan Gubernur nomor 95/GSB/1970 dan  ditindaklanjuti dengan Surat Keputusan Bupati Nomor KPTS 16/BLK/1970 tanggal  1 Agutus 1970 tentang pembentukan Panitia Realisasi Kotamadya Payakumbuh dengan Ketuanya C.Israr

Panitia bekerja keras untuk mempersiapkan data-data darinagari yang akan bergabung menjadi Kota Madya Payakumbuh. Dengan berorientasi ke masa depan yang jauh, mengingat kecerdesan masyarakat dan perkembangan penduduk, serta pertalian adat dan kebudayaan, sosial ekonomi, maka tujuh kenagarian menyatakan sikap siap bergabung dengan daerah otonom Kota Payakumbuh, yaitu : kenagarian Koto nan Empat, Koto nan Gadang, Lampasi, Tiakar, Payobasuang, Air Tabik dan Limbukan Aur Kuniang.

Berkat kerja keras dari seluruh panitia dengan didukung oleh berbagai unsur yang ada di Payakumbuh maka lahirlah suatu keputusan bersama tentang 7 (tujuh) nagari dan 73 jorong yang bergabung dan disatukan dalam Kotamadya Payakumbuh. Ketujuh nagari tersebut adalah: Koto Nan Gadang ( 25 jorong),  Koto  Nan Ampek (22 jorong ), Lampasi (3 jorong), Tiakar (3 jorong),  Payobasuang (3 jorong), Aia Tabik( 8 jorong), dan Limbukan (9 jorong ).  Luas wilayah yang termasuk wilayah Kotamadya Payakumbuh 7.908 ha, atau ± 80 km2.

Untuk menentukan batas yang akan dituangkan oleh Menteri Dalam negeri dalam Peraturan Pemerintah, maka pada tanggal 12 Nopember 1970 , diadakan musyawarah yang dihadiri oleh Pemda Lima Puluh Kota, Panitia realisasi, Camat Payakumbuh, camat Harau, Camat Luhak dan 15 orang wali nagari dari nagai sepadan. Dalam musyawarah inilah ditentukan batas-batas Kotamadya Payakumbuh sesuai dengan barih balabeh masing-masing nagari yang diwarisi semanjak dahulu, yaitu ;

Batas jalan jurusan Piladang/ Bukit Tinggi, ialah di Aie Taganang atau Kuciang Dapek (cucian mobil sekarang ).

Batas jalan jurusan Tanjung Pati/ Pekan Baru, ialah Banda Air di Padang Gantiang

Batas jalan jurusan Suliki, ialah sebelah utara jembatan Lampasi

Batas jalan jurusan Taram, ialah tungua jua, sebelah timur jembatan batang Sikali.

Batas jurusan Batang Tabik, ialah kincie Cino atau disebut juga Kubu Kacang.

Batas jalan arah ke Situjuah, ialah di Limau Kapeh.

Dan pada hari itu juga dilanjutkan pemancangan tapal batas Kotamadya Payakumbuh yang disaksikan oleh masyarakat dan tokoh masyarakat dari nagari yang sepadan.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 8/1970 tanggal 17 Desember 1970 yang menetapkan Kota Payakumbuh sebagai Kotamadya Payakumbuh. Sedangkan radiogram Mendagri nomor SDP.9/6/181 menegaskan, hari peresmian Kota Payakumbuh dilaksanakan pada tanggal 17 Desember1970. Dengan di ketua oleh A.Syahdin ( Bupati Limapuluh Kota) maka peresmian dilaksanakan oleh Amir Machmud, yang diiringi dengan dentuman meriam pusako 7 (tujuh) kali yang diikuti dengan  pemukulan beduk, maka ditetapkanlah tanggal 17 Desember sebagai “ Hari jadi Kotamadya Payakumbuh”  yang terus diperingati setiap tahunnya.” Ujar saya.

“ Oo begitu cerita sejarah Kota Payakumbuh telah otonom dengan pemerintahannya sendiri sejak Desember 1970 “ ujar Amril

Kota Payakumbuh sampai sekarang telah dipimpin oleh 12  orang Walikota dan 4 orang wakil walikota, yaitu :  Kota Payakumbuh dalam usia yang ke-48 tahun, sampai sekarang telah dipimpin oleh 8    orang Walikota dan 1 orang wakil walikota, yaitu : 1) Drs. Soetan Oesman (1970-1978),  2)Drs. Masri, MS (1978-1983), 3) Drs. H.Muzahar Muchtar ( 1983-1988),  4) Drs. H. Muchtiar Muchtar (1988-1993), 5) Drs H. Fahmy Rasyad ,SH (1993-1998),   6) Darlis Ilyas,SH (1998- 2001), 7) Plh.Drs. Yulrizal Baharin (2001-2002), 8) Pasangan  Walikota/Wakil Walikotra Josrizal Zain,SE. MM / Ir. Benny Muchtar, MM ( 23 September 2002-  2007 ) dan pada bulan Mei 2005) Ir. Benny Muchtar, MM mengundurkan diri sebagai wakil walikota  dan atas pengunduran diri tersebut otomatis Josrizal Zain,SE,MM melanjut memimpin Kota Payakumbuh dengan sendirian. 9). Sejak  22 September 2007 sd 23 September 2012  dipimpin oleh pasangan walikota dan wakil wali kota Josrizal Zain,SE,MM  /AKBP Drs.Syamsul Bahri Dt. Bandaro Putiah.10).Dan mulai Tanggal 23 September 2012 sd 26 Oktober 2016 Kota Payakumbuh dipimpin oleh Riza Falepi Datuak Rajo Ka Ampek Suku, berpasangan dengan Suwandel Muchtar. 11. Plt.Walikota sejak 26 Oktober 2016. 12. melalui Pemilu serentah 15 Februari 2017 Riza Falepi berpasangan dengan Erwin Yunas kembali dipercaya menjadi Walikota Payakumbuh yang dilantik Gubernur Sumbar 23 September 2017.” Jawab saya.

Petitih adat mengatakan “ rumpuik nan sahalai, tanah nan sabingkah, alah gangam bauntuak “ tetapi” malu alun dapek dibagi” antara Pemerintahan Kabupaten Limapuluh Kota dengan Kota Payakumbuh, karena menurut barih balabeh  Kota Payakumbuh dengan nagari Kota Nan Gadang dan Koto Nan Ampek merupakan”Sandi” dari Luak Limapuluah  dengan dikenal dengan Gonjong Limo ( Hulu, Luak, Lareh,Ranah ,dan Sandi). Rumah Adat Gonjong Limo merupakan bagian gambar dari lambang Kota Payakumbuh yang melambangkan “Adat basandi Syarak dan kegiatan ekonomi “ .

Untuk semaraknya HUT Kota Payakumbuh ke-48 ini , marilah kita lagukan kembali:

Payakumbuh sungguh indah permai

Gonjong Lima dipinggirnya balai

Kota indah penduduknya ramai

Pemudanya banyak rukun dan damai

 

Melalui lagu, kita harapkan masyarakatnya hidup rukun dan damai,

Melalui lagu, kita harapkan ada kedamaian di hati legislatif dan eksekutif

Melalui lagu, kita doakan Payakumbuh menjadi Kota Pendidikan

Melalui lagu,… banyak yang kita harapkan!

Yang jelas dihatiku, tetap damai

Saiful Guci – 16 Desember 2018

 

SHARE