Ciloteh Tanpa Suara-Tak bosan bosannya saya melihat istri saya yang selalu memakai jilbab dan tengkuluak dan baju kuruang basiba dalam kesehariannya terutama mau pergi pesta walaupun di dunia internasional orang memperingati hari solidaritas memakai hijab setiap tanggal 4 September yang baru dimulai pada tahun 2009. Itu dilatarbelakangi keputusan negara Perancis yang melarang penggunaan hijab di Eropa untuk pertama kalinya, peristiwa itu terkait dengan kematian Marwa el Sharbini.

Pada Juni 2009, Marwa yang merupakan ibu rumah tangga, dibunuh ketika akan memberikan kesaksian mengenai penghinaan yang diberikan kepadanya karena mengenakan hijab. Atas dasar itu, kemudian Federasi Organisasi Islam Eropa memperingati pertama kali pada 2009 untuk mengenang Marwa el Sharbini. Kemudian, Lingkaran Islam Amerika Utara merayakannya pada tahun 2010.

“ tanggal 4 September ini adalah Hari Solidaritas Hijab Internasional yang merupakan hari dimana para muslimah di seluruh dunia merayakan hak untuk menggunakan hijab dan kamu terlihat cantik dengan hijab berbaju kurung basiba. Apakah kamu ikut merayakannya ?” tanya saya

“ sebelum dunia merayakan hari solidaritas hijab internasional , perempuan minang telah menjadi kebiasaannya memakai hijab dan menutup aurat dengan baju kuruang basiba, berlengan panjang yang ukurannya lapang yang melambangkan perempuan minangkabau yang beralam lapang, yang berfungsi untuk “palampok tubuah panutuik aurat”. Banyak perempuan sekarang yang memakai baju hanya sekedar pelapis tubuh saja transparan sehingga bentuk tubuhnya tercetak dan bahkan auratnya kelihatan , kalau pakaian untuk palampok tubuh lekuk-lekuk tubuh perempuan tidak kelihatan “ujar Rusmini.

“ Jadi, apa pula makna tengkuluaknya yang dipakai perempuan ? ” tanya saya kembali.

“ tengkuluak mempunyai dua ujung yang perlambang sebelah kanan menghadap ke Masjid untuk tujuan akhirat, dan sebelah kanan menghadap ke adat minangkabau untuk tujuan dunia, sehingga perempuan minang harus mengetahui adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” terang Rusmini.

“ jika sandang ini apa pula artinya ?” kembali saya bertanya.

“ Sandang mempunyai dua ujung yang satu menghadap kedepan dan yang satu menghadap kebelakang yang disebut juga perempuan minang “jikok bajalan kamuko mahadok suruik (berjalan kedepan menghadap kebelakang) artinya dalam hidup apapun kejadian yang telah kita lalui merupakan pedoman bagi kita “ nan elok ditariak, nan buruak dibuang. Lihat lah baju kuruang yang dipakai dengan lambak (kodek) yang serasi dan melambang¬kan bahwa perempuan adalah seorang yang jauhari. Seorang tahu menempatkan sesu¬atu pada tempatnya. Hal ini se¬perti terungkap da¬lam kata-kata adat, jiko mamakan habih-habih, jiko manyuruak ilang-ilang (jika memakan ha¬bis-habis, jika bersembunyi hil¬ang-hilang). De¬ngan sifat ini maka Perempuan tidak akan terhindar dari berbagai fitnah “ tukuk Rusmini.

“Jika perempuan selalu mamakai baju kuruang basiba ini dalam kesehariannya, tentu tidak terjadi pelecehan terhadap perempuan dan perkosaan , dimana dengan memakai baju kuruang dilihat secara keseluruhan INDAK NAMPAK LAKUAK BADANNYO atau bentuk tumbuh tidak akan terlihat bagi orang yang melihatnya.
Pesan Moral :
1. Bagaimana perempuan minang bangga dengan budayanya memakai baju kuruang basiba yang dapat mengurangi pelecehan terhadap perempuan.
2. Bagaimana kita mengetahui falsafah, fungsi dan tujuan pakaian yang kita pakai.

Bagaimana mungkin kita mencintai budaya kita, apabila kita tak mengenalnya.

Saiful Guci , Pulutan 4 September 2018

SHARE