HARI IBU, UNTUK NAN BASUNTIANG SALAPAN

0
386

Ciloteh Tanpa Suara-Setiap  22 Desember banyak kegiatan untuk memperingati hari  ibu. Sudah ribuan puisi Ibu dibuat untuk  mengenang jasa dan kasih ibu. Ibu, dialah sumber kasih sayang; mengasuh dan memberi tanpa batas. Dialah ang selalu berjaga dan terjaga. Menemani ketidakberdayaan kita. Dia yang selalu mendahulukan anaknya dari dirinya sendiri, mencintai tanpa menuntut balas.

Anak Minangkabau memanggil orang tua perempuannya dengan sebutan “ ibu ” dan “ bundo”. Sementara dalam budaya Minangkabau dalam adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah” menempatkan seorang ibu  pada posisi peran. Kadangkala dijuluki dengan sebutan;

Induak bareh  (nan lamah di tueh, nan condong di tungkek,    ayam barinduak, siriah bajunjuang),

Orang rumah  (hiduik batampek,  mati bakubua, kuburan hiduik dirumah gadang, kuburan mati   ditangah padang),

Bundo Kanduang  (tahu di mudharat jo manfaat,  mangana labo jo rugi,  mangatahui sumbang jo salah, tahu di unak kamanyangkuik, tahu di rantiang ka mancucuak, ingek di dahan ka mahimpok, tahu di angin nan basiruik, arih di ombak nan basabuang, tahu di alamat kato sampai). Pemahamannya berarti perempuan Minang sangat arif, mengerti dan tahu dengan yang pantas dan patut, menjadi asas utama kepemimpinan ditengah masyarakat .

Dalam ungkapan sehari-hari, perempuan Minangkabau disebut pula padusi artinya padu isi , sebutan ini lebih diarahkan bagi wanita yang telah bersuami, seorang  padusi  mempunyai  lima sifat utama; 1). benar, 2). jujur lahir batin, 3).cerdik pandai, 4). fasih mendidik dan terdidik, 5). bersifat malu (Rarak kalikih dek mindalu, tumbuah sarumpun jo sikasek, kok hilang raso jo malu, bak kayu lungga pangabek.

Selanjutnya Anak urang Koto Hilalang, Handak lalu ka Pakan Baso, malu jo sopan kalau lah hilang, habihlah raso jo pareso), artinya didalam kebenaran Islam,  al hayak nisful iman = malu adalah paruhan dari Iman.

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia Perempuan berasal dari kata  “ empu” yang berarti sebutan orang yang ahli , sedangkan “ empuan” yang berarti wanita, sedangkan arti  “perempuan” adalah istri raja . Perempuan menyimpan arti pemimpin (raja), orang pilihan, ahli, yang pandai, pintar dengan segala sifat keutamaan yang lain. Alquran menyebut perempuan dengan Annisa’ atau Ummahat sama dengan ibu, atau “Ikutan Bagi Umat” dan tiang suatu negeri. Sunnah Nabi menyebutkan khair mata’iha al mar’ah shalihah artinya perhiasan paling indah adalah perempuan saleh (artinya perempuan yang tetap pada peran dan konsekwen dengan citranya).

Keturunan ditarik dari garis ibu (matrilineal), sehingga seorang anak yang dilahirkan oleh seorang perempuan minang dari suku (misalnya Guci) baik laki-laki atau perempuan akan bersuku Guci pula. Tujuannya adalah agar manusia dapat menghormati dan memuliakan kaum ibu yang telah melahirkannya.

Sebagaimana yang umum dipahami,  pangilan untuk perempuan Minangkabau adalah “Bundo Kanduang” Namun jika di teliti lebih jauh, ada beberapa pengertian yang terkandung didalamnnya.

  1. Menurut sejarah, Bundo Kanduang adalah nama atau sebutan bagi seorang raja perempuan dari kerajaan Pagaruyuang . Raja perempuan terakhir adalah Yang Dipertuan Gadih Reno Sumpu, mengantikan mamaknya Yang Dipertuan Sultan Alam Bagagar Syah yang dibuang Belanda ke Betawi pada tahun 1833. Sebelum itu masih ada beberapa raja-raja perempuan tetapi tidak dicatat oleh penulis sejarah, walupun nama raja –raja tercatat dalam Tambo Pagaruyung, seperti Yang dipertuan gadih Reno Sari.
  2. Menurut mitologi atau legenda (sesuatu yang diyakini masyarakat Minangkabau) atau kaba Cindua Mato . Nama Bundo kanduang adalah nama raja Pagaruyuang yang sangat keramat dan sakti.
  3. Menurut adat, Bundo Kanduang adalah penghormatan yang diberikan kepada perempuan atau wanita yang telah tua walau tidak berada di dalam kaum.
  4. Secara simbolik, Bundo Kanduang merupakan simbol dari tanah air, sebagai nama Ibu Pertiwi.
  5. Kemudian nama Bundo Kanduang dijadikan nama sebuah organisasi perempuan Minangkabau yang berkedudukan di Sumatera Barat.

Tugas Bundo Kanduang disebut juga dengan suntiang nan salapan)

  1. Limpapeh Rumah Nan Gadang

Limpapeh artinya tiang tengah dalam sebuah bangunan, tempat memusatkan segala kekuatan tiang-tiang lain, yang dihubungkan oleh alat-alat bangunan lainnya. Apabila tiang tengah ini ambruk maka tiang lainnya akan jatuh berantakan. Limpapeh menurut adat Minangkabau adalah seorang Bundo Kanduang yang telah meningkat sebagai seorang ibu.

Ibu mengingatkan kita kepada “anak” dan mau tak mau kita harus melihat dari sisi keibuan. Ibu yang baik akan melahirkan anak yang baik pula, demikian pula sebaliknya, seperti kata adat:

      Kalau karuah aia di hulu, Sampai ka muaro karuah juo

      Kalau kuriak induaknyo, rintiak anaknyo ,Tuturan atok jatuah kapalambahan.

Ibu sebagai limpapeh rumah nan gadang adalah tampek maniru manuladani, kasuri tuladan kain, kacupak tuladan batuang, satitiak namuah jadi lautan, sakapa buliah jadi gunuang. Ibu bertugas memberikan bimbingan dan pendidikan serta penggembelengan terhadap anak yang dilahirkannya dan kepada semua anggota keluarga di dalam rumah tangga dan tali temalinya. Dengan rasa keibuan semua persoalan akan mudah dipecahkan, karena ibu menggunakan ikatan-ikatan kasih sayang dan kecintaan yang luhur. Semua dibubuhi dengan perasaan kasih yang berakar kepada budi luhur (akhlakul karimah).

Seorang ibu harus dapat menjadikan rumah tangganya/keluarganya sebagai suatu lembaga pendidikan terendah/terkecil, karena pendidikan pertama kali diberikan oleh ibu. Seperti kata adat “raso dibaok naiak, pareso dibaok turun”, artinya pendidikan yang baik harus melalui dan dimulai dari dalam lingkungan rumah tangga dan keluarga, baru dia menjadi orang yang baik di luar rumah tangga. Tugas seorang ibu dapat diperinci lagi sebagai berikut:

Dicupak nak urang canduang,

      Hiduik kalau indak babudi

      Duduak tagak kamari cangguang

      Manyuruah babuek baiak            

      Malarang babuek nan jahek

Pendidikan yang demikian akan menjadi pengetahuan nantinya bagi si anak apabila dia telah menjadi pemuda dan pemudi (orang dewasa). Adat mengatakan “katiko ketek ta anjo-anjo, lah gadang ta bao-bao, lah tuo tabarubah tidak, sampai mati jadi parangai. Katiko ketek masak pangaja, lah gadang akuan tibo” nanti dia akan menjadi manusia terpelajar yang tinggi budi pekertinya dan memiliki rasa malu sesamanya.

Mendidik anak dengan kata-kata yang sopan, berpakaian secara sopan menurut adat dan syara’. Sopan di dalam makan dan minum, duduk, berdiri, berjalan, bergaul dan sebagainya. Mendidik anak kita untuk tidak mengerjakan pekerjaan sumbang menurut adat-terutama sekali kepada anak yang perempuan yakni tingkah laku yang sumbang menurut adat untuk perempuan dan tingkah laku yang sumbang bagi laki-laki. Mendidik dan mengajarkan anak-anak kita dengan ajaran cinta kepada kampung halaman dan tumpah darahnya, cinta kepada alamnya, cinta kepada kebudayaan dan agamanya, cinta kepada ibu bapak serta keluarga, cinta kepada pemimpin dan guru yang mengajarnya. Mendidik dan mengajarkan anak dengan menerapkan kehidupan sederhana, malabiahi indak ancak-ancak, mengurangi nan tidak sio-sio, bayang-bayang sapanjang badan, serta mendidiknya yakin berusaha dengan kemampuan ilmu dan usahanya, seperti bertani dan berdagang. Pada pokoknya mengajarkan anak-anak dengan pekerjaan-pekerjaan yang baik, serta bertaqwa kepada Allah SWT.

Bundo Kanduang sebagai pangatur rumah tangga, merupakan sumber yang sangat menentukan baik atau jeleknya anggota keluarga. Tampek manyuri manuladan, bukan berarti meninggalkan sifat-sifat keibuan akan tetapi, perhatian tertumpah sebagai pengatur rumah tangga.

Sebagai pengatur rumah tangga, apakah sebagai isteri, seorang ibu, sebagai pengantar keturunan, sebagai anggota masyarakat, pendeknya sebagai ibu terpusat beberapa fungsi dan ilmu, sifat dan kecakapan secara bulat. Tugas sebagai pengatur rumah tangga, meliputi pengaturan lahiriah dan batiniah dalam bahagian, ruangan dalam, kamar tidur, kamar tamu, dapur, kamar mandi, dll, haruslah meletakkan sesuatu pada tempatnya, manuruik mungkin jo patuik, melabihi jan ancak-ancak, mangurangi jan sio-sio. Hari sa hari diparampek, malam sa malam di patigo, agak agiahkan jo ilmu, pangatur secara batiniah yaitu menjaga perimbangan berlangsungnya kewajiban dan hak antar anggota keluarga menurut kedudukannya masing-masing. Dengan pembawaan jiwanya, ia dapat melakukan pembagian tugas yang efektif serta mengefesienkan penggunaan waktu. Oleh sebab itu, ia harus memperlihatkan contoh-contoh yang baik kepada lingkungan di dalam dan di luar rumah tangga. Baik dalam tingkah laku dan perbuatan, perkataan, pergaulan, cara duduk minum makan dan sebagainya.

  1. Sumarak Anjuang Nan Tinggi.

Seorang Bundo Kanduang juga sebagai istri dan ibu bagi anaknya, haruslah mempunyai sifat yang mulia dan menjauhi larangan yang tidak boleh menurut agama dan adat. Dan mempunyai sifat Sabar, tenang, hati-hati, hemat dan cermat, ramah tamah, hormat tetapi berjiwa besar berbudi mulia dan jujur, tidak suka berkata-kata yang kotor.

Sebagai seorang isteri menjadi teman hidup untuk mendampingi suami, sebagai daya penggerak dalam mencapai tujuan. Memahami pekerjaan dan standar kehidupan si suami. Dan untuk hal demikian perlu, melengkapi diri dengan berbagai pengetahuan seperti ilmu jiwa masyarakat dan ilmu masyarakat, sudah barang tentu akan berkecimpung dalam masyarakat tani, saudagar dan kepegawaian.

Seorang Bundo Kanduang di dalam adat senantiasa memiliki kesabaran di atas segala sesuatu yang timbul dalam lingkungan rumah tangga dan keluarganya. Begitupun sabar dan ridha atas segala cobaan yang terjadi dan menjauhkan diri dari sifat pemarah.

Sebagai seorang ibu dan pendidik diatas rumah tangga dan musyawarah yang merupakan pusek jalo kumpulan tali bagi setiap kebaikan dan kejahatan, wanita hendaklah memperhatikan contoh-contoh yang dapat ditiru dan diteladani oleh lingkungan, terutama oleh anak-anak dalam lingkungannya. Karena ajaran syara’ mengatakan “sabar sebagian dari iman”, demikian juga pepatah mengatakan: Haniang hulu bicaro, Nanang saribu aka, Dek saba, bana mandatang.

Seorang Bundo Kanduangg harus selalu hemat dan cermat selalu hati-hati baik tentang adat dan agamanya, maupun dalam tingkah lakunya. “dikana labo jo rugi, dipikia modharat jo manfaat, dalam awa akhie mambayang, ingek difaham ka tagadai, ingek dibudi ka tajua, mamakai malu jo sopan”. Sesuai dengan kodrat hayatinya sebagai wanita yang tercermin dalam perkataan-nya yang lunak lembut, karena perkataannya yang lunak lembut ini adalah menjadi kunci bagi segala hati manusia. “budi baik baso katuju, muluik gulo dibibiae, rundiang elok talempong kato, sakali rundiang disabuik, takana juo salamonyo, murah kato takatokan, sulik kato jo timbangan“. Syara’ pun mengatakan di dalam al quran “berkatalah dengan sesama manusia dengan sesama manusia dengan sebaik-baik berperkataan”.

Senantiasa menjauhi sifat terlarang dalam adat Minangkabau sebagai seorang wanita. Seperti paham: sebagai gatah caia, iko elok etan katuju, bacando pimpiang di lereang, ibaraik baliang-baliang di ateh bukik, kamano angin inyo ka kian, bia balaki umpamo indak, itu lah batin dikutuak Allah, ka isi narako tujuah lampih.      Kalau mangecek samo gadang, ditampek mano nan rami, umpamo di labuah di tapian, angan tak ado kanan lain, tasambia juo laki awak, bincang-bincang bapak si upiak, tasabuik juo bapak si buyuang, baiak kasiah suami, di rumah jarang baranjak-ranjak. Dilagakkan mulia tinggi pangkek, suliklah urang manyamoi, walau suami jatuah hino, puji manjulang langik juo, disangko urang tak ba iduang.

Wanita di Minangkabau sebagai lambang kebanggaan dan kemuliaan yang menjadi pengantara keturunan, yang dibesarkan dan dihormati serta diutamakan dan dipelihara harus memelihara dirinya dengan aturan agama islam. Taat, jujur, mengerjakan rukun islam, dan menjauhi segala larangan agama. Membedakan secara tajam yang halal dan yang haram dalam tingkah dan perbuatan, baik dalam makanan dan minuman maupun dalam perbuatan lahiriah lainnya.

Pemaaf atas keterlanjuran orang lain, tidak suka bertengkar, khidmat kepada suami, sayang kepada anak-anak, patuh kepada mamak dan pimpinan. Karena tugas pokok wanita sebelum kimpoi adalah membentuk watak manusia dalam melanjutkan keturunan, setelah kimpoi menyimpan pranatal dan melahirkan.

Semua itu merupakan proses maha penting dan menentukan keturunan, yang kemudian disambut oleh tugas-tugas keibuan dan keistrian. Pulai batingkek naiak, gajah mati maninggakan gadiangnyo, manusia mati maninggakan jasonyo dan katurunannyo yang elok. Padi ditanam padi tumbuah, lalang ditanam lalang tumbuah, jan di sisik padi jo hilalang.

Wanita dalam lapangan ini harus merebut hati sang suami, dengan menunjukkan agar pada setiap makanan dan perbuatan benar-benar menunjukkan kesungguhan secara dunia dan ukhrawi dengan segala persoalannya. Untuk itu wanita harus dilengkapi dengan ilmu pengetahuan dan sikap-sikap jiwa, kecakapan-kecakapan dan kepandaian. Ia harus melatih diri dengan bersungguh-sungguh dan tekun karena tugas yang maha berat ini tanpa latihan tidak mungkin berhasil.

Kalau ketentuan menurut adat yang telah kita sebutkan di atas diamalkan dengan rasa penuh tanggung jawab, bertemulah apa yang dimaksud oleh adat : Kok lai bakato bapatah, lahia jo batin sa ukuran isi kulik umpamo lahia, ganggam arek pagang taguah, tibo lukisan di limbago habih siriah menjadi sapah, kaleknyo tingga di rangkuangan, sirahnyo tampak di bibia, pareso maruang tuba, sehat anggota katujuahnyo. Lah kuek tampek bapijak, lah kokoh bakeh bagantuang. Bumi sanang padi manjadi, padi kuniang jaguang maupiah, bapak kayo mande ba ameh, ka tapi bagantang urai, ka tangah bagantang padi, mandeh nan duduak jo sukatan, mamak disambah urang pulo.

  1. Amban Puruak Aluang Bunian.

Amban puruak aluang bunian, artinya kunci biliak nan dalam. Seorang wanita bila telah menginjak tangga perkawinan, sesungguhnya sekaligus telah bertambah baginya tugas baru yang berat tetapi mulia. Kita melihat wajah-wajah gembira setelah sepasang mempelai menginjakkan kakinya ke atas tangga perkawinan. Akan tetapi jarang orang-orang yang merenungkan, apakah dia akan dapat menjalankan tugas-tugasnya, baik sebagai seorang isteri maupun sebagai seorang suami atau seorang tua yang memikirkan anak-anaknya untuk melaksanakan tugas-tugas selanjutnya.

Tambahan tugas tersebut jika dijalankan dengan sempurna serta tulus ikhlas maka akan bertambahlah kemuliaan yang pada akhirnya akan mendatangkan kebahagiaan. Tugas sang isteri, menghadapi suami lahir dan bathin, sebagai teman hidup di dunia dan di akhirat kelak, mengikuti perkembangan jiwa sang suami serta mendorong untuk giat mencapai bahagia bersama. Untuk hal yang demikian diperlukan:

 Arief bijaksana

Seorang isteri tahu “di angin nan basaruik, di ombak nan basabuang, ingek katiko bungo kambang, manuruik kaparaluannyo”, terutama untuk mengemukakan pendapat kepada suami dan setiap anggota keluarga, termasuk pembantu rumah tangga. Tahu di kilek jo kato bayang, tahu mambaco air muko, tindakan/motif yang tersimpan dalam lubuk hati serta jiwa suami. Rupa menunjukkan harga, kurenah menunjukkan laku walau dek lahia nampak dek mato. Nan batin tasimpan dalam itu.

 Hormat dan khidmat.

Seorang isteri harus hormat kepada suaminya, mengetahui lapar dan haus, di waktu letih dan payah, selalu berkata lunak dan lembut, merendahkan suaranya kepada si suami. Karena perkataan lunak lembut itu kunci setiap hati manusia. Mengetahui ilmu makanan dan gizi untuk mengatur minuman, serta kebersihan, tepat dikerjakan pada waktunya, mengetahui ilmu kesehatan serta ilmu agama.

  1. Nan Elok Salendang Dunie.

Seorang Bundo Kanduang haruslah mempunyai sifat Capek kaki ringan tangan.         “Pandai manurak menurawang, tahu mangili menggulindan, mengatur pakaian suami, menyisip, menambal dan lain-lain, pandai memasak untuk tamu mengikuti keinginan suami, menjahit dengan tidak mengupah dll.Tahu bersolek, berdandan yang sesuai dengan waktu dan keadaan dan tempat, serta perhitungan kemam-puan fisik dan psikis. Mengatur uang keluar masuk/pembukuan, yang mencer-minkan hidup serba ekonomis, manuruik alua nan luruih dan jalan nan pasa”

Kayo dan miskin pada hati dan kebenaran. Kayo hati dan miskin hati bagi seorang wanita menurut adat diukur dengan mungkin dan patut di dalam pergaulan sehari-hari. Seorang wanita yang kaya hatinya akan melahirkan sifat sopan dan santun, hormat dan khidmat kepada orang tua dan suami. Selalu mencerminkan sifat seorang ibu dan pendidik yang ramah tamah, perkataannya lunak lembut, senantiasa mengandung arti mendidik dan nasehat. Bebudi tinggi dan mulia serta berwibawa terhadap kaum laki-laki, dan senantiasa dibentengi oleh sifat malu di dalam dirinya. Selalu memberikan yang baik terhadap lingkungan di dalam tingkah laku dan perbuatan serta perkataan, dia selalu hidup gembira dan dari wajahnya tergambar senyum keramahan.

Miskin hati, maksudnya adalah bahwa seorang wanita akan berlaku tegas terhadap orang lain kalau tidak di atas yang wajar dan benar, apalagi terhadap laki-laki yang ingin mempermain-mainkan dirinya, atau tingkah laku yang tidak sopan terhadapnya dari laki-laki. Seorang wanita menurut adat seharusnya tidak mudah digoda oleh laki-laki, dia tidak akan meletakkan dan menempatkan hatinya kepada laki-laki sebelum mengetahui secara jelas budi pekerti laki-laki yang bersangkutan. Dia tidak akan mencemarkan nama bainya walaupun dengan harapan setinggi gunung, tidak tergoda oleh emas perak dan sebagainya.

 5.Sumarak Dalam Nagari, Hiasan Dalam Kampuang

Wanita adalah anggota masyarakat. Tanpa adanya wanita maka tidaklah unsur yang disebut-sebut sebagi masyarakat itu, dan tanpa wanita rumah tangga, nagari dan negara tidak akan semarak.

Di dalam adat Minangkabau mengingat kedudukan dan fungsi wanita dalam mencapai kehidupan ini anak wanita sangat diutamakan. Jika suatu keluarga, tidak mempunyai anak kemenakan/keturunan yang wanita, maka tumbuhlah kehabisan keturunan, tidak akan bersambung lagi lingkungan yang bertali darah. Hal ini sangatlah mencemaskan dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Akan tetapilaki-laki atau wanita sebenarnya merupakan dua keseimbangan. Banyak keturunan wanita, tetapi tidak ada laki-laki, maka disebutkan : lurah tak ba batu, hijuak tak ba saga. Kedua jenis ini sangat dicintai oleh setiap keluarga di Minangkabau, hanya saja wanita diberikan beberapa keutamaan, seperti yang telah diuraikan sebelumnya.

Sebagai anggota masyarakat di Minangkabau, wanita perlu memiliki pengetahuan tentang kemasyarakatan – menurut adat – yang senantiasa mempunyai hubungan kait berkait satu dengan yang lain, yang terdiri dari unsur-unsur seperti ibu bapak, mamak adik, kakak, uncu, nenek, ipar, bisan, sumando, handam, pasumandan, bako, baki.

Sebagai suamarak dan anggota masyarakat, wanita harus mempunyai rasa malu kepada unsur-unsur yang kita sebutkan, baik unsur itu laki-laki atau wanita sekalipun. Karena menurut adat malu haruslah dimulai penerapannya dalam ling-kungan keluarga tersebut “raso dibao naiak, pareso di baok turun” yaitu ke tengah-tengah masyarakat. Wanita di Minangkabau perlu mengetahui cara ber-gaul, dengan korong kampuangnya, sepasukuan, senagari. Seorang wanita perlu mempunyai rasa malu kepada laki-laki yang sekampung dan sepesukuan dengan dia, apalagi kalau membuat hal yang salah menurut pandangan adat dan agama.

Dalam batas-batas kodrat Bundo Kanduang harus dapat mengejar ilmu pengetahuan, berlomba-lomba dengan lelaki. Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang, dan kemudian disumbangkan kembali untuk kesejahteraan masyarakat. Bundo Kanduang harus bersifat ramah tamah sesuai tempat dan waktunya, menjaga sesuatu dalam berpakaian, berkata-kata, berjalan dan bergaul, jujur ikhlas suka membaca, sopan santun pada bapa ibu, orang tua dan anak-anak.

Sebagai anggota masyarakat, bundo kanduang haruslah memiliki rasa malu baik didalam berpakaian, bertutur kata, bergaul dan hal lainnya. Bundo kanduang haruslah menghilangkan sifat-sifat “bak katidiang tangga bingkai, bak payuang tabukak kasau, alun diimbau alah datang, alun dijujai alah galak, bak kacang diabuih ciek, bak lonjak labu dibanam, bak balam talampau jinak.”

Artinya seorang Bundo Kanduang menurut adat, di dalam pergaulan sehari-hari, ramah dan rendah hati, tidak angkuh dan sombong, baik sesamanya maupun pada laki-laki. Tetapi ada waktu yang harganya mahal yaitu tidak suka dipermainkan laki-laki, dirayu dan dibujuk dengan segala bentuk rayuan dan tipuan. Selalu menjaga kehormatannya yang dibentengi sifat malu dan sopan dan budi pekerti yang mulia.

Seperti kata pepatah: Maha tak dapek dibali,Murah tak dapek dimintak Takuik dipaham ka tagadai, Satali pambali kumayan , Sakupang pambali katayo, Sakali lancung ka ujian, Salamo iduik urang tak picayo.

6.Anak Kunci Lumbuang Bapereng.

Apabila seorang perempuan sudah menikah, maka tugasnya akan bertambah. Kalau tugas itu dijalankan dengan ikhlas serta hati yang tulus, akan mendatangkan kebahagian dalam rumah tangga. “Sawah ladang banda buatan” yang merupakan sumber ekonomi menurut adat Minangkabau, untuk pemanfaatannya lebih diperuntukkan untuk kaum wanita. Walaupun begitu, bukan berarti kaum laki-laki tidak dapat memanfaatkannya sama sekali. Sebagai pemegang kunci hasil ekonomi adalah perempuan. Rangkiang sebagai lambang tempat penyimpanan diletakkan di depan rumah gadang yang ditempati oleh saudara perempuan kanduang. Sesuai dengan kodrat perempuan  yang lebih ekonomis dibandingkan dengan kaum pria, maka hukum adat mempercayakan kepada perempuan untuk memegang dan menyimpan hasil sawah dan ladang.

  1. Nan Gadang Basa Batuah, Kaunduang-Unduang Kamadinah.

Hak suara dalam musyawarah di dalam adat Minangkabau, perempuan mempunyai hak yang sama dalam musyawarah. Setiap ada sesuatu hal yang akan dilaksanakan dalam kaum atau persukuan, maka suara dan pendapat wanita juga ikut menentukan.

Ungkapan ini sesungguhnya amat jelas mendudukkan betapa kokohnya perempuan Minang pada posisi sentral, menjadi pemilik seluruh kekayaan, rumah, anak, suku bahkan kaum, dan kalangan awam di nagari dan taratak menggelarinya dengan “biyai, mandeh”, menempatkan laki-laki pada peran pelindung, pemelihara dan penjaga harta dari perempuan-nya dan anak turunannya. Dalam siklus ini generasi Minangkabau  lahir bernasab ayah (laki-laki), bersuku ibu (perempuan), bergelar mamak (garis matrilineal), memperlihatkan egaliternya suatu persenyawaan budaya dan syarak yang indah.

  1. Kapayuang Panji Kasarugo.

    Sebagai lambang kebanggaan dan kemuliaan yang dibesarkan dan dihormati serta diutamakan dan dipelihara, wanita minang juga harus memelihara diri serta menundukkan diri dengan aturan agama Islam.

       Lah bauriah bak sipasin, 

       Kok bakiak alah bajajak,

       Abih tahun baganti musim,

       Sandi adat nan dianjak,

           Batang aua paantak tungku,

           Pangkanyo sarang limpasan,

           Lagundi di sawah ladang, 

           Sariak indak baguno lai,

           Mambuhua jikok alah mambuku, 

           Mauleh jikok mangasan,

           Budi jikok alah kalihatan dek urang,

           Iduik indak paguno lai,

    Kebenaran Agama Islam menempatkan perempuan (ibu) mitra setara (partisipatif) dan lelaki menjadi pelindung wanita (qawwamuuna ‘alan‑nisaa’), karena kelebihan pada kekuatan, badan, fikiran, keluasaan, penalaran, kemampuan, ekonomi, kecerdasan, ketabahan, kesigapan dan anugerah (QS. An Nisa’ 34). Wanita dibina menjadi mar’ah shalihah (= perempuan shaleh yang ceria (hangat/warm) dan lembut, menjaga diri, memelihara kehormatan, patuh (qanitaat) kepada Allah, hafidzaatun lil ghaibi bimaa hafidzallahu (= memelihara kesucian faraj di belakang pasangannya, karena Allah menempatkan faraj dan rahim perempuan terjaga, maka tidak ada keindahan yang bisa melebihi perhiasan atau tampilan “indahnya wanita shaleh” (Al Hadist).

   Kodrat wanita memiliki peran ganda; penyejuk hati dan pendidik utama, menempatkan sorga terhampar dibawah telapak kaki perempuan (ibu, ummahat). Dibawah naungan konsep Islam, perempuan berkepribadian sempurna, bergaul ma’ruf dan ihsan, kasih sayang dan cinta, lembut dan lindung, berkehormatan, berpadu hak dan kewajiban. Terpatri pada tidak punya arti sesuatu kalau pasangannya tidak ada dan tidak jelas eksistensi sesuatu kalau tidak ada yang setara di sampingnya, inilah kata yang lebih tepat untuk azwajan itu. Secara moral, perempuan punya hak utuh menjadi Ikutan Bagi Umat. Masyarakat baik lahir dari relasi kemasyarakatan pemelihara tetangga, perekat silaturrahim dan tumbuh dengan pribadi kokoh (exist), karakter teguh (istiqamah, konsisten) dan tegar (shabar, optimis) menapak hidup. Rohaninya (rasa, fikiran, dan kemauan) dibimbing keyakinan hidayah iman. Jasmaninya (gerak, amal perbuatan) dibina oleh aturan syari’at Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.

Saiful Guci, 16 Desember 2018