FILOSOFI MOTIF SONGKET PUCUAK RABUANG

0
134

Ciloteh Tanpa Suara-“Pandanglah kain yang ibu tenun, maka kamu akan menemukan seribu benang kehidupan” ujar ibu saya saat saya menemaninya bertenun di Pandai Sikek diwaktu kecil.

Lalu saya memperhatikan dan bertanya : ini cukie dan motif apa ibu ?” Tanya saya.

“ Ini yang disebut dengan motif “Pucuak Rabuang”, motif pucuk rebung disebut sebagai lambang kehidupan berguna. Kamu pernah memperhatikan pucuk rebung di belakang rumah kita ?” Tanya ibu saya.

“ ya pernah, tanaman muda dibungkus dengan kelopak yang berbulu halus. Tumbuh diantara batang batuang (bambu),akarnyanya serabut pangkal batangnya besar. Rebung bisa kita jadikan bahan sayuran atau gulai, yang paling enak gulai putiah dengan santan saja “ ujar saya.

Seorang ibu penenun, menyusun benang untuk merah harapan buat anak-anaknya, dengan nasehat “ Motif pucuak rabuang, ibarat kehidupan manusia. Rebung dibungkus dengan kelopak yang berbulu halus. Bila ditarik pada garis kehidupan manusia, rebung disejajarkan dengan dengan dirimu “anak kecil” yang harus ibu rawat dengan baik. Jika kamu perhatikan dengan seksama, maka rabuang  hanya tumbuh ke atas beberapa centi saja pertahun. Pada masa itu bambu lebih tumbuh pada akarnya yang menjalar ke dalam tanah. Hakikatnya lebih penting di awal masa-masa hidup kita, usaha kita, perjuangan kita. Lebih utama menguatkan pondasi dalam kehidupan kita baik dalam agama dan adat minangkabau dalam pergaulan . Hal itu agar nanti setelah kamu dewasa bisa tetap tegap dalam menghadapi kehidupan ini.

Memang tumbuhnya akar tidak terlihat, namun akar bambu itulah yang akan menguatkan bagaimana bambu akan bertahan ketika sudah tumbuh tinggi. Ketahuilah,

memang dasar-dasar yang sedang dibentuk dan dibina sejak kecil seolah tidak terlihat. Kita yang sedang belajar, kita yang sedang menyiapkan, kita yang sedang memantapkan hati dan fikiran. Namun itulah nanti bekal untuk tetap bertahan dalam perjuangan kehidupan.

Nanti setelah lima tahun usianya, bambu baru menampakkan tumbuhnya ke atas. Tidak hanya beberapa centimeter, namun bambu tumbuh melesat ke atas belasan meter. Setelah punya dasar yang kuat, pondasi yang kuat. Begitu juga manusia, setelah berusia lima tahun bisa melesat tumbuh dan berkembang. Karena sudah mempersiapkan diri untuk bisa melangkah dan tidak mudah tumbang.

Belajarlah dari alam kehidupan rebung, dalam filosofi Minangkabau disebutkan ,” ketek panguno, lah gadang tapakai ( kecil berguna, sudah besar terpakai) artinya sewaktu kecil sudah berguna dan setelah besar lebih bermanfaat.

Dari rebung lalu menjadi bambu besar dan berbatang lurus, yang disebut betung atau ‘batuang’. Sifatnya yang lentur membuat bambu mudah dibentuk sehingga sering dipakai sebagai bahan kerajinan tangan menjadi perlengkapan rumah tangga.

Batang yang lurus diibaratkan manusia yang beranjak remaja dan mengejar cita-cita yang tinggi dalam menuntut ilmu. Lalu bambu yang tumbuh tinggi mulai ujungnya melengkung ke bawah dan tumbuh ranting-ranting satu persatu dan daunnya menjadi rimbun dan ujungnya semakin merunduk. Proses tersebut menggambarkan manusia sudah mulai bertanggung jawab pada diri dan lingkungannya serta keluarga.

Disat masih rendah, embusan angin terasa biasa saja. Namun kalau sudah tumbuh semakin tinggi, bambu akan menerima deru angin yang kencang. Namun akarnya sudah begitu kuat menopangnya. Begitulah manusia . Niscaya cobaan akan datang lebih hebatnya, namun jika sudah mempunyai pondasi yang kuat. Niscaya kita akan mampu bertahan.

Bambu sedari kecil mempunyai  akar yang kuat. Walaupun akarnya kuat, bambu tidak tumbuh sendiri. Bambu tumbuh bersanding dengan bambu-bambu lainnya. Hal itu membuat bambu tidak mudah roboh. Begitulah manusia. Semakin tumbuh dewasa, semakin kaya, semakin tinggi  jabatan, semakin bertambah ilmu , semakin bertambah usia . Dan sekalipun kita sudah mempunyai dasar yang kuat, kita tidak boleh sombong dan ingin hidup sendiri. Karena kita lebih kuat jika mau saling membantu orang lain. Hal itu menjadikan kita lebih kuat, jika akan jatuh masih ada yang bisa menopang kita.

Lihatlah bambu, yang bisa merobohkan bambu bukan hanya angin yang kencang, tetapi banyak pula hama yang menggerogoti batangnya. Maka bambu pun mempunyai banyak duri, itupun kadang tidak semuanya bisa melindunginya. Begitulah manusia. Kemungkinan akan ada banyak cobaan dalam hidup ini, ada yang memang sebuah ujian sederhana, ada pula dari orang yang sengaja ingin menjatuhkan kita. Semua nanti tergantung bagaimana kita bisa melindungi diri dan tetaplah berdoa.

Setinggi apapun bambu bisa tumbuh, namun tetap ada batasnya. Ada batas ketinggian yang bisa bambu capai, bambu tidak bisa tumbuh terus sampai ratusan meter. Begitu juga manusia. Setinggi apapun kita mau berusaha, tetaplah ada batasnya nanti kita berusaha. Ada waktu dimana kita sudah cukup untuk semakin lebih tinggi, kita tidak bisa memaksakan diri. Kita hanya manusia, kita memang ada batasnya.

Semakin tua, bambu semakin kuat ruyungnya, daunnya yang mulai menguning dan ujung bambu yang semakin merunduk ke bumi dimaknai sebagai sikap rendah hati.Ini melambangkan kekuatan tanpa kesombongan, salah satu sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin.

Nah harapan seorang ibu diminangkabau, kelak anaknya dapat menjadi seorang pemimpin yang kuat mempunyai kharisma tinggi tentu disegani oleh masyarakatnya. Sementara itu, rabuang memang belum mampu menjadi pemimpin namun ia menjadi bagian dari proses regenerasi kepemimpinan.

Belajarlah dari alam kehidupan rebung, ” waktu ketek banamo rabuang , kalau lah gadang banamo batuang nan panguno (sewaktu kecil bernama rebung, setelah besar menjadi bambu yang bermanfaat) . Manfaatnya setelah tua bukan dibuatkan lagi untuk gulai atau ke sayur,  tetapi manfaatnya “elok kalantai, elok kadindiang, elok katungak “ artinya manfaatnya bertambah baik untuk dijadikan lantai, dijadikan dinding rumah (sasak), atau akan dijadikan tiang rumah.

Meski sudah berilmu banyak, manusia akan kembali ke asalnya dan mengingat asal-usulnya. Pada puncak usianya, bambu mengeluarkan bunga pertanda kematangan usia. Selain itu, bunga merupakan lambang kematian yang meninggalkan nama baik.

Seperti peribahasa “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.”

Saiful Guci- 9 Desember 2018.