Ciloteh Tanpa Suara – Datuak Maharajo Sati, bertanya kepada saya tentang dengan adanya dua Raja Minangkabau sekarang ini antara Sultan Muchdan Taher Bakrie yang telah dinobatkan Septemnber 2015  atau Sultan H Dr Muhammad Farid Thaib Tuanku Mudo Abdul Fatah resmi naik takhta menjadi Rajo Alam Minangkabau Pagaruyung Darul Qoror, Sabtu (29/9/2018) di Istano Silinduang Bulan.

Dr. Sultan Muhammad Farid Thaib akan dinobatkan menjadi Rajo Alam Minangkabau Pagaruyung Darul Qoror menggantikan Daulat Yang Dipertuan Taufik Thaib Tuanku Maharajo Sakti yang mangkat pada 1 Februari 2018 lalu.

“ Dengan adanya dualisme Rajo Minangkabau ini, sebelum mengambil kesimpulan siapa yang berhak dan siapa yang benar berdasarkan ahli waris maukah pak Datuak Maharajo Sati membaca ranji mereka ?” Tanya saya.

“ boleh saja, jika Pak Saiful Guci punya catatan ranjinya “ jawab Datuak Maharajo Sati.

“ Nah Bacalah  Keterangan Ranji-ranji dari catatan saya ini” ujar saya.

*****

Rajo Tigo Selo (Rajo Alam, Rajo Adat dan Rajo Ibadat ) boleh menjadi Rajo sebab menurut  adat, keturunan raja-raja Pagaruyung asli hanyalah mereka yang kedua orang tuanya mempunyai darah salah satu dari Rajo Nan Tigo Selo. Nah Pertanyaan apakah ada sekarang ?. Ini uraian Ranji mereka :

  1. Yamtuan Rajo Gamuyang kawin dengan Tuan Gadih Reno Suto (anak dari Rajo Bagagarsyah Alam) mempunyai anak 3 orang: (1). YDP Bawang Sultan Alam Muningsyah I, (2). YDP Alam Hela Perhimpunan (3). Puti Reno Haluih.
  2. Tuanku Raja Muning Alamsyah atau juga yang disebut YDP Bawang Sultan Alam Muningsyah I adalah raja alam Pagaruyung yang secara luar biasa selamat dari tragedi pembunuhan di Koto Tangah, Tanah Datar pada tahun 1815. YDP Bawang Sultan Alam Muningsyah  beristrikan Puti Reno Intan punya anak 3 orang: (1). YDP Bakumih, Sultan Shalahudin (2). YDP Patah Muningsyah II, Sultan Abdul Jalil (3). YDP Pandak, Sultan Abdul Aziz.
  3. YDP Alam Hela Perhimpunan (Raja Adat Buo meninggal 1802) mempunyai anak 3 orang: (1) YDP Rajo Alamsyah Pasak Malintang, (2) YDP Saleh Tuanku Keramat, (3) Puti Gando Sori Tanjuang Barulak.
  4. Anak dari YDP Saleh Tuanku Keramat bernama Sutan sulaiman Dubalang Hitam menikah dengan Puti Juniah anak dari YDP Rajo Alamsyah Pasak Malintang melahirkan anak Sutan Jamil Dubalang Rajo dan Sutan Tahir Dubalang Rajo. Sutan Jamil Dubalang Rajo melahirkan keturunan Sutan Umar Pandeka Sutan dan Sutan Hamzah.
  5. YDP Hela Perhimpunan, raja adat di Buo yang wafat tahun 1802 mempunyai isteri salah satunya Puti Palinggam di Padang
  6. YDP Bakumih punya isteri 2 orang dan 8 orang anak. YDP Bakumih kawin dengan Puti Reno Sari Alam beranak 6 orang: 1. YDP Putiah, Raja di Kuantan 2. YDP Garang Sultan Sembahyang 3. Puti Reno Kalasum 4. Puti Reno Mayangsari 5. Puti Reno Cayo Lawik Ganggang Sudah 6. Puti Reno Baqiah.
  7. Dan YDP Bakumih kawin dengan seorang perempuan di Gunung Sahilan punya anak 2 orang: 1. Yamtuan Sati Gunung Hijau (Sutan Muhammad Isa) 2. Yamtuan Sati Rajo Labueh, sempat jadi raja di Negeri Sembilan sebelum Yamtuan Radin.
  8. YDP Patah Muningsyah II dikenal dengan kebesarannya Sultan Abdul Fatah Sultan Abdul Jalil (I) kawin dengan Tuan Gadih Reno Janji atau Puteri Gadih Laweh (anak dari YDP Bawang  Sultan Alam Muningsyah I , beranak 5 orang: (1) Yamtuan Bujang Nan Bakundi, (2) Yang Dipertuan Hitam Sutan Tangkal Alam Bagagarsyah,(3) Tuan Gadih Puti Reno Sori, (4)Tuan Gadih Tembong, (5).YDP Batuhampar (kepala Lareh Sungai Tarab ).
  9. Yamtuan Tuan Bujang Nan Bakundi bin YDP Patah menikah dengan Puti Reno Kalasum binti YDP Bakumih, menurunkan waris di Buo dan Sumpurkudus. Ranjinya pak INDRA BASYIR BIN BASJIR RADJA BIN RADJA WAHAB dan PAK RICKY SYAHRUL.
  10. Menurut silsilah raja-raja Pagaruyung, Puti Reno Sori bersaudara dengan Sultan Alam Bagagar Syah, pada masa yang sama menyingkir ke Padang. Sultan Alam Bagagar Syah, Puti Reno Sori dan tiga saudara mereka lainnya adalah anak dari Tuan Gadih Puti Reno Janji dan ayahnya Yang Dipertuan Fatah.
  11. Residen Sumatera Barat Du Puy bersama komandan Militer Raff, mengusulkan dengan surat tanggal 1 September 1823, untuk memberikan kedudukan tinggi dan terhormat bagi Sutan Alam Bagagarsyah. Pemerintah Batavia setuju dan pada tanggal 4 Nopember 1823 keluarlah peraturan belanda dimana Sumatera barat dibagi atas dua HOOFDAFDELING  yakni Minangkabau dan Padang, masing-masing dikepalai oleh seorang hoofdregent : SUTAN ALAM BAGAGARSYAH untuk Minangkabau dan SUTAN RAJA MANSUR ALAMSYAH untuk padang.
  12. Pada tanggal 20 Desember 1825 keluarlah Surat Keputusan Gubernur Jenderal yang membagi Sumatera Barat atas dua Afdeling ( Padang dan Padangsche Bovenlanden) dan tiap afdeling (bukan hoofdafdeeling) dibagi atas distrik dengan regen sebagai kepala distrik tersebut. Dengan demikian Sutan Alam Bagagarsyah diturunkan sebagai regen Tanah Datar saja, sedangkan kedudukan hoofdregent padang berlaku hanya hingga meninggalnya Sutan Raja Mansyur Alamsyah.
  13. Sewaktu Sultan Alam Bagagar Syah dinobatkan menjadi Raja Alam 1826 oleh niniak mamak di Buo menggantikan datuknya Sultan Alam Muningsyah setelah dia diangkat Regen Tanah Datar 1825, saudara sepupunya Sultan Abdul Jalil yang berada di Buo dikukuhkan menjadi Raja Adat dengan gelar Yang Dipertuan Sembahyang.
  14. Daulat Yang Dipertuan Sultan Tangkal Alam Bagagar Syah menikah pertama kali dengan Siti Badi’ah dari Padang mempunyai empat orang putera yaitu: Sutan Mangun Tuah, Puti Siti Hella Perhimpunan, Sutan Oyong (Sutan Bagalib Alam) dan Puti Sari Gumilan.
  15. Dengan isteri keduanya Puti Lenggogeni (kemenakan Tuan Panitahan Sungai Tarab) mempunyai satu orang putera yaitu Sutan Mangun (yang kemudian menjadi Tuan Panitahan SungaiTarab salah seorang dari Basa Ampek Balai dari Kerajaan Pagaruyung).Sutan Mangun menikah dengan Puti Reno Sumpu Tuan Gadih Pagaruyung ke XIII (anak Puti Reno Sori Tuan Gadih Pagaruyung XII dan kemenakan kandung dari Sultan Alam Bagagarsyah).
  16. Dengan isteri ketiganya Tuan Gadih Saruaso (kemenakan Indomo Saruaso, salah seorang Basa Ampek Balai Kerajaan Pagaruyung) mempunyai putera satu orang: Sutan Simawang Saruaso (yang kemudian menjadi Indomo Saruaso).
  17. Dengan isteri keempatnya Tuan Gadih Gapuak (kemenakan Tuan Makhudum Sumanik) mempunyai putera dua orang yaitu Sutan Abdul Hadis (yang kemudian menjadi Tuan Makhudum Sumanik salah seorang Basa Ampek Balai dari Kerajaan Pagaruyung) dan Puti Mariam. Sutan Abdul Hadis mempunyai delapan orang putera yaitu: Sutan Badrunsyah, Puti Lumuik, Puti Cayo Lauik, Sutan Palangai, Sutan Buyung Hitam, Sutan Karadesa, Sutan M.Suid dan Sutan Abdulah. Puti Mariam mempunyai dua orang putera : Sutan Muhammad Yakub dan Sutan Muhammad Yafas (kemudian menjadi Tuan Makhudum Sumanik)
  18. Berdasarkan Laporan No 310/K tanggal 21 Oktober yang dibuat oleh Tuan Gadih Reno Sumpu kepada asisten resideen Tanah Datar di Batusangka Ranji yang yang merupakan persyaratan untuk memperolah tunjangan dari Pemerintah Belanda.
  19. Dijelaskan dalam ranji tersebut bahwa :Tuan Gadis Halus Reno Sari adik Alam Bagagarsyah kawin dengan Yang Dipatuan Sembahyang atau Raja di Buo ( garis Rajo Ibadat) dikubur di Basaran, Kuantan. Dari perkawinan mereka pada tahun 1833 lahirkan anak perempuan yang bernama TUAN GADIS RENO SUMPU.
  20. Tuan Gadis Reno Sumpu mempunyai anak perempuan bernama Puti.St.Abdul Majid hasil perkawinannya dengan St.Ismail dari Lintau. St.Ismail sendiri adalah anak dari Yang Dipatuan Sati Gunung Hijau, saudara lain ibu Yang Dipatuan Sembahyang (ibu St.Ismail adalah wanita biasa). Puti St.Abdul Majid kawin dengan Rajo Mengunjang (Tuanku Lareh Saruaso) tidak mempunyai anak. Rajo Mengunjang juga merupakan cucu St.Alam Bagagarsyah.
  21. Tuan Gadis Reno Sumpu mempunyai anak bernama Puti Saiyah (atau Saleha) dengan suaminya yang kedua bernama St. Mangun di Sungai Tarab, anak Yang Dipatuan Batuhampar (Lareh Sungai Tarab) yang merupakan saudara kandung St.Alam Bagagarsyah. Puti Saiyah kawin dengan St.Badrumsyah (pengulu kepala di Sumaniak) anak dari St.Alhadis Makhudumsyah. Dari Perkawinannya Puti Saiyah melahirkan tiga orang anak : Puti Aminah atau Puti Hitam (lahir tahun 1896), Puti Halima atau Puti Kuniang ( lahir 1899) dan Puti Fatimah atau Upiak Ketek (lahir 1900).
  22. Puti Saiyah ini menikah dengan Sutan Badrunsyah Penghulu Kepala Nagari Sumanik (putera dari Sutan Abdul Hadis dan cucu dari Sultan Alam Bagagarsyah) mempunyai putera empat orang yaitu: Puti Reno Aminah Tuan Gadih Hitam Tuan Gadih Ke XV, Puti Reno Halimah Tuan Gadih Kuniang, Puti Reno Fatimah Tuan Gadih Etek dan Sultan Ibrahim Tuanku Ketek.
  23. Puti Reno Aminah dengan suami pertamanya Datuk Rangkayo Basa, Penghulu Kepala Nagari Tanjung Sungayang mempunyai seorang puteri: Puti Reno Dismah Tuan Gadih Gadang (Tuan Gadih Pagaruyung XVI) dan dengan suami keduanya Datuk Rangkayo Tangah dari Bukit Gombak mempunyai putera satu orang: Sutan Usman Tuanku Tuo.
  24. Puti Reno Dismah Tuan Gadih Gadang menikah dengan Sutan Muhammad Thaib Datuk Penghulu Besar (ibunya Puti Siti Marad adalah cucu dari Sutan Abdul Hadis dan cicit dari Sultan Alam Bagagarsyah, sedangkan ayahnya Sutan Muhammad Yafas adalah anak dari Puti Mariam dan cucu dari Sultan Alam Bagagarsyah) mempunyai putera enam orang: Puti Reno Soraya Thaib, Puti Reno Raudhatuljannah Thaib, SUTAN MUHAMMAD THAIB TUANKU MUDO MANGKUTO ALAM, Puti Reno Yuniarti Thaib, SUTAN MUHAMMAD FARID THAIB, Puti Reno Rahimah Thaib.
  25. Sutan Usman Tuanku Tuo menikah dengan Rosnidar dari Tiga Batur (cicit dari Sutan Mangun anak Sutan Alam Bagagarsyah) mempunyai putera delapan orang: Puti Rahmah Usman, Puti Mardiani Usman, Sutan Akmal Usman Khatib Sampono, Sutan M .Ridwan Usman Datuk Sangguno, Sutan Rusdi Usman Khatib Muhammad, Puti Rasyidah Usman, Puti Widya Usman, Sutan Rusman Usman, Puti Sri Darma Usman.
  26. Puti Reno Halimah Tuan Gadih Kuniang tidak mempunyai putera.
  27. Puti Reno Fatimah Tuan Gadih Etek menikah dengan Ibrahim Malin Pahlawan dari Bukit Gombak mempunyai putera tiga orang: Puti Reno Nurfatimah Tuan Gadih Angah, Puti Reno Fatima Zahara Tuan Gadih Etek dan Sutan Ismail Tuanku Mudo.
    Puti Reno Nurfatimah Tuan Gadih Angah menikah dengan Sy.Datuk Marajo dari Pagaruyung mempunyai seorang putera : Sutan Syafrizal Tuan Bujang Muningsyah Alam.
  28. Puti Reno Fatima Zahara menikah dengan Sutan Pingai Datuk Sinaro Patiah Tanjung Barulak (adalah cicit dari Puti Fatimah dan piut dari Sultan Abdul Jalil Yamtuan Garang Yang Dipertuan Sembahyang) mempunyai putera delapan orang: Sutan Indra Warmansyah Tuanku Mudo Mangkuto Alam, Sutan Indra Firmansyah, Sutan Indra Gusmansyah, Puti Reno Endah Juita, Sutan Indra Rusmansyah, Puti Reno Revita, Sutan Nirwansyah Tuan Bujang Bakilap Alam, Sutan Muhammad Yusuf.
  29. Sutan Ismail Tuanku Mudo menikah dengan Yusniar dari Saruaso (adalah cicit dari Yam Tuan Simawang anak Sultan Alam Bagagarsyah) mempunyai putera tujuh orang: Sutan Fadlullah, Puti Titi Hayati, Sutan Satyagraha, Sutan Rachmat Astra Wardana, Sutan Muhammad Thamrinul Hijrah, Puti Huriati, Sutan Lukmanul Hakim.
  30. Sutan Ibrahim Tuanku Ketek dengan isteri pertamanya Dayang Fatimah dari Batipuh (kemenakan Tuan Gadang Batipuh) mempunyai seorang putera: Sutan Syaiful Anwar Datuk Pamuncak; dengan istri keduanya Nurlela dari Padang mempunyai seorang putera: Sutan Ibramsyah dan isteri ketiganya Rosmalini dari Buo mempunyai puteri dua orang: Puti Roswita dan Puti Roswati.
  31. Yang Dipatuan Sati Gunung Hijau, Saudaranya lain ibu Yang Dipatuan Sembahyang kawin dengan wanita biasa dari Koto Tuo- Kuantan yang melahirkan anak bernama St.Abdul Majid di Koto Tuo atau Angku Kuniang atau Tuan Bujang yang mengangkat dirinya sebagai Raja di Singgingi dengan nama Yang Dipatuan Saleh.
  32. Yang Dipatuan Sembahyang atau Raja di Buo ( garis Rajo Ibadat)  mempunyai istri juga dari suku Kuti Anyie di Tepi Selo, Kecamatan Lintau Buo bernama Puti Fathimah Tuan Aciek Gadih Hitam wafat sesaat setelah melahirkan anaknya  yang diberinama Sutan Hasyim Tuanku Tinggi.  Sebagai bayi piatu yang lahir tanpa mengenal ibunya, Sutan Hasyim dibawa ke Buo oleh ayahnya untuk dipelihara oleh neneknya Tuan Gadih Puti Reno Sari Alam, ibusuri Rajo Adat di Buo. Tuan Gadih Puti Reno Sari Alam adalah isteri dari Raja Adat di Buo yang terhadulu Nan Dipertuan Bakumih Sultan Abdul Jalil Shalahuddin Muningsyah. Iba melihat nasib cucunya yang piatu, Tuan Gadih kemudian mencarikan ibu susuan buat Sutan Hasyim dan mendapatkan    seorang wanita dari pesukuan Caniago di Buo yang tidak diketahui lagi siapa namanya.
  33. Sebagai upah untuk menyusukan Sutan Hasyim ini, keluarga dari pesukuan Caniago ini diberikan hadiah beberapa bidang sawah yang disebut Sawah Kubang Gajah yang berada di Barat, tidak jauh dari tapal batas antara Buo dengan Lubuk Jantan. Kelak setelah dewasa, Sutan Hasyim menikah dengan Reno Hilir, anak dari Gonti Omeh adik perempuan ibu susuannya di Buo, sehingga menimbulkan sedikit konflik adat di dalam nagari dengan sebab perkawinan jo dunsanak dari ibu susuan yang saat itu dilarang oleh adat yang berlaku. Sutan Hasyim Tuanku Tinggi juga diangkat Belanda sebagai  Penghoeloe Kapala – in het Lintonsche di Lintau.
  34. Sewaktu terjadi pemberontakan secara serentak  tanggal 11 Januari 1833, Sutan Alam Bagagarsyah dituduh sebagai kambing hitam oleh ELOUT  sehingga dia ditangkap pada tanggal 2 Mei 1833 dan di buang ke Batavia. Tuduhan Elout yang tidak logis, telah diketahui oleh Van den Bosch dan De Stuers sehingga ia dibebaskan.
  35. Dua hari setelah penangkapan SAB, sepupu sekaligus iparnya Sultan Sembahyang protes kepada Hendrick, Komandan Militer untuk Buo dan Koto Tujuah. Sepuluh hari setelah penangkapan SAB, Sultan Sembahyang melakukan pemberontakan.
  36. Sultan Alam Bagagarsyah ditangkap dan dibawa ke Padang sebagai tahanan sebelum diasingkan ke Batavia. Beliau diijinkan untuk membawa keluarganya. Tercatat dari empat istrinya yang dibawa ke batavia hanya SITI BADIAH dibawa pula cucunya Raja Burhanuddin terkenal dikemudian hari dalam sejarah sebagai “ Komandan Tanah Abang” yang pada waktu itu berumur 8 tahun. Ayah Rajo Burhanuddin sendiri adalah Sultan Mangun Tuah. Sultan Bangun Tuah punya adik yang bernama Sultan Oyong. Sultan Oyong ini menikah dengan putri Kerajaan Banten. Salah satu anak Sultan Oyong dengan putri Kerajaan Banten adalah Sultan Abdul Aziz. Oleh Belanda gelar Sultan dihapuskan dan diganti dengan Raden Winangun.
    Dari sinilah silsilah Kerajaan Banten bertemu dengan silsilah Kerajaan Pagaruyung. Sedangkan keturunan Sultan Alam Bagagar Syah sendiri sekarang ini banyak di Jakarta dan daerah lainnya. Keturunan dari pihak perempuan lebih banyak di Padang.
  37. Raja Burhanuddin pada tahun 1864 telah dipercayai menjalankan peranan penting oleh Belanda. Dan pada tahun 1871 dia diangkat menjadi komandan distrik di Betawi dan menjadi komandan Tanah Abang. Raja Burhanuddin meninggal bulan september 1902 dan dikuburkan di Petamburan. Dan keturunannya yang terakhir sekarang bernama SUTAN MUCHDAN BAKRI.
  38. Malahan apabila kita pakai Ranji versi Abdul Samad Idris Tan Seri Datuk dalam PAYUNG TERKEMBANG istri dari Sutan Bagagar Syah berjumlah 6 orang dua ditambah semasa dalam pengasingan  di Batavia  karena punya dua istri baru dia lupa pulang melanjutkan Raja Alam, yakni :
  1. Puti Badiah beranak Puti Salasai dari Kampuang Tangah
  2. Puti Fatimah beranak Puti Daramah dan Muhammad Amin dari Tanjuang Barulak
  3. Puti Sumaniak beranak Sutan Abdul Hadis di Sumaniak
  4. Puti Batiah beranak Puti Alam Perhimpunan di Padang
  5. Putri Banten beranak dua orang putera dan putri (nama tak jelas)
  6. Putri Deli Serdang beranak dua orang putra dan puteri (nama tak jelas)

 

Saiful Guci_ Pulutan 24 Oktober 2018