CATATAN INYIAK CANDUANG SYEIKH SULAIMAN AR-RASULI TENTANG SUMPAH SATIE BUKIT MARAPALAM

0
292

Ciloteh Tanpa Suara-“ Pak  Saiful Guci, apakah benar sumpah satie  di Bukik Marapalam Adat Basandi Syarak- Syarak Basandi Kitabullah dan kapan peristiwa itu terjadi. Ohya dalam catatan Ciloteh Tanpa Suara yang lalu pak Saiful menyebutkan mempunyai foto copy catatan Inyiak Canduang, boleh di copy pula pak “ tulis Darmansyah kepada saya.

“Tidak ada bukti tertulis sehingga tidak pula ada kepastian waktu, tempat, dan pelaku peristiwa pencetusan piagam sumpah satie Bukik Marapalam yang pasti. Namun masyarakat meyakini bahwa piagam sumpah satie Bukik Marapalam atau lebih populer disebut sumpah satie Bukik Marapalam disepakati oleh para pemuka adat dan ulama di puncak bukit itu masa perkembangan Islam di Minangkabau .

Namun ,fakta sosial dapat dibuktikan bahwa pernah Azwar Datuk Mangiang pernah mewawancarai Inyiak Canduang (penulis buku “Perdamaian Adat dan Syarak”) pada akhir tahun 1966 di Pekan Kamis Candung. Dalam makalah “Piagam sumpah satie Bukik Marapalam”, Azwar menyatakan peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1644 Masehi (M), jauh sebelum revolusi perkembangan Islam di alam Minang oleh Paderi dan juga periode Syeikh Burhanudin dari Ulakan Pariaman 1680 Masehi, kalau begitu sama dengan apa yang saya tulis pada 5 November lalu tentang Sumpah Satie Bukik Marapalam “ balas saya.

https://web.facebook.com/saiful.guci/posts/10212318784236816  Sumpah Satie Bukik Marapalam

“Apakah sudah ada adagium Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) pak Saiful ?” Tanya Darmansyah kembali.

“Dalam catatan Nyiak Canduang Syeikh Sulaiman ar-Rasuli baru ditemukan pepatah adat yang berbunyi: “Adat Bapaneh Syarak Balindung”, artinya: “Adat adalah tubuh dan syarak adalah jiwa di Alam Minangkabau”. Dan pepatah adat nan berbunyi: “Syarak Mangato Adat Mamakai”. Belum ada istilah Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK)” jawab saya.

“ Jadi kapan baru ada adagium Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) pak Saiful ?” Tanya Darmansyah

“ kapan baru adanya ada adagium Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) perlu kajian para ahli, tetapi saya pernah membaca sebuah buku lama pengarangnya saya lupa bahwa adagium Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) baru muncul pada tahun 1930-1931. Nah ini perlu kajian dan seminar.  Jika kita membuka lembaran sejarah pada tahun itu di Sumatera Barat adalah masa berlangsung pertemuan Majilis Ulama Sumatera Barat pada Kongres I Sumatra Thawalib (22-27 Mei 1930) yang mengubah nama organisasi tersebut menjadi Persatuan Muslimin Indonesia (PMI), atau pada Kongres I PMI di Payakumbuh (5-9 Agustus 1930), dan pada Kongres II PMI di Padang (9-10 Maret 1931), yang memutuskan mengubah organisasi sosial ini men­jadi partai politik yang dikenal dengan nama Per­satuan Muslimin Indonesia (Permi) “ tulis saya.

Kemudian saya ingat pada copyan catatan inyiak candunag“ copyannya telah kabur bertulisan arab melayu, apakah Darmansyah bisa membaca tulisan Arab Melayu ?.Kalau tidak bisa, lebih bagus saya kirimkan catatan intisari sumpah satie perjanjian Bukik Marapalam yang telah dialih bahasakan dalam tulisan latin ” Tulis saya.

“ Rancak bana, pak Saiful Guci. Saya juga tidak bisa membaca tulisan Arab Melayu” jawab Darmansyah.

“ Nah ini saya kirimkan catatan Inyiak Canduang untuk bahan diskusi” : tulis saya.

Waktu Syeikh Sulaiman ar-Rasuli yang terkenal dengan sebutan Inyiak Canduang, menulis inti sari sumpah satie perjanjian Bukik Marapalam  dalam usia yang sudah tua (93 tahun) Ketika sedang santernya orang- orang Komunis dan Atheis pada masa jayanya PKI untuk menghancurkan agama Islam di Minangkabau, diantaranya dengan mencoba merobah sendi adat, maka beliau, merasa perlu mengingatkan kembali kepada Sumpah Satie Bukit Marapalam.

Syeikh Sulaiman ar-Rasuli (1871-1970) adalah seorang Ulama Besar dan ahli pula dalam bidang Adat Minangkabau.Pada tahun 1964 diatas sehelai kertas segel, beliau tulis sendiri Sari Pati Sumpah Satie Bukit Marapalam. Dalam tulisan itu kata satie di tulis “ satir”. Dibawah ini dituliskan kembali Sumpah Satie Bukit Marapalam yang pernah ditulis oleh C.Israr yang dimuat oleh Harian Singgalang Minggu 26 Agustus 1992/ 27 Safar 1413.

SARI PATI SUMPAH SATIE BUKIT MARAPALAM
(MENURUT CATATAN INYIAK CANDUANG)

Agama Islam mula-mula datang ke Minangkabau dengan melalui daerah Pesisir (rantau), disambut dengan tangan terbuka oleh Penghulu-Penghulu dalam Luhak nan Tigo Lareh nan Duo.

Sesudah Islam berkembang di Alam Minangkabau terjadilah perselisihan antara Kaum Adat dengan Alim Ulama, disebabkan ada sebagian dari pamaianan kaum adat yang tidak disetujui oleh Alim Ulama seperti basalung barabab, manyabuang, bajudi, badusun bagalanggang, basorak basorai dan lain-lain. Dan sebagian apa yang diharuskan oleh agama tidak dapat dibenarkan menurut adat seperti perkawinan sepasukuan.

Untuk memelihara persatuan dalam nagari, diusahakan oleh orang pandai-pandai dan terkemuka mencari air nan janiah sayak nan landai guna terwujudnya perdamaian antara Penghulu dan Alim Ulama. Nan di atas ke bawah-bawah nan di bawah ke atas-atas, masing-masing surut salangkah. Kaum adat meninggalkan pamainan yang bertentangan dengan agama seperti manyabung, berjudi dan sebagainya.Dan Alim Ulama membenarkan pula ketentuan adat yang tidak berlawanan dengan agama seperti melarang perkawinan sepasukuan dan lain-lain, sehingga dapatlah kata sepakat: “Bulat boleh digolongkan picak boleh dilayangkan.”.

Buat mengikrarkan dan ma-ambalaui kebulatan itu, diadakanlah pertemuan besar di atas Bukit Marapalam (antara Lintau dan Tanjung Sungayang) yang dihadiri oleh Penghulu-Penghulu dan Alim Ulama serta orang-orang terkemuka dalam Luhak nan Tigo Lareh nan Duo. Dibantai kerbau, dagingnya dilapah darahnya dikacau, tanduk ditanamkan, ditapung batu dilicak pinang, diikat dengan Alfatihah dan dibacakan doa selamat. Dalam pertemuan besar itulah diikrarkan bersama-sama dan menjunjung tinggi kebulatan yang telah dibuat oleh orang-orang pandai dan para terkemuka, yaitu:

  1. Penghulu rajo dalam nagari, kato badanga, pangaja baturuik, manjua bayie,manggantung tinggi.
  2. Alim Ulama suluah bendang dalam nagari, air nan janih sayak nan landai tempat batanyo dek Panghulu.

Dalam pelaksanaannya, Alim Ulama memfatwakan dan Panghulu mamarintahkan. Di sinan ditanamlah Rajo Adat di Buo dan Rajo ibadat di Sumpur Kudus. Dikarang sumpah jo satie, yaitu: “Siapa yang melanggar kebulatan ini dimakan biso kewi di atas dunia , ke atas indak bapucuak, ke bawah indak baurek, di tangah dilariak kumbang, di akhirat dimakan kutuak kalam Allah.”

Di sinan ditetapkan pepatah adat nan berbunyi: “Adat bapaneh syarak balindung”, artinya: “Adat adalah tubuh dan syarak adalah jiwa di Alam Minangkabau”. Dan pepatah adat nan berbunyi: “Syarak mangato adat mamakai”

Inilah sari pati sumpah satie (Piagam) Bukit Marapalam nan kita terima turun temurun sampai kini. Dan hambo terima dahulunya dari tiga orang tuo, yaitu:

  1. Tuangku Lareh Kapau nan Tuo (sebelum Tuangku Lareh yang terakhir).
  2. Ninik dari mintuo hambo di Ampang Gadang.
  3. Angku Candung nan Tuo.

Bukti-bukti yang bersua dalam pelaksanaan, yang bahasa Penghulu memerintahkan menjalankan fatwa Ulama seperti berzakat, berpuasa, bersunat rasul dan sebagainya, yang sulit dapat dikerjakan kalau tidak diiringi fatwa Ulama itu dengan perintah Penghulu sebagai rajo dalam nagari.

Pada akhir abad ke-sembilan belas dan lai hambo dapati bahwa sesuatu perkara yang terjadi dalam nagari dihukum oleh Penghulu. Sebelum Penghulu menjatuhkan hukuman malamnya mendatangi Ulama yang dinamakan waktu itu dengan “Bamuti” (mungkin asalnya bermufti) untuk minta nasehat dan bermusyawarah tentang hukum yang akan dijatuhkan (waktu itu tempat “bamuti” adalah Angku Candung nan basurau di Baruhbalai). Dan begitu juga ditiap nagari di Minangkabau sampai ada peraturan baru oleh Belanda yang perkara diadili oleh Tuangku Lareh, kemudian Magistraad dan kemudian sekali Landraad.

Kaum penjajah (Belanda) sangat kuatir kepada persatuan adat dan agama. Maka diusahakannya memecahkan dengan mendekati Penghulu dan menjauhi Alim Ulama.Tambo-tambo adat yang dipinjam, katanya untuk dipelajari, tetapi sebenarnya untuk dihabiskan, guna mengaburkan sejarah yang sebenarnya, termasuk sejarah Bukit Marapalam ini.

Demikianlah hambo wasiatkan untuk dipedomani oleh anak cucu hambo kemudian hari di Candung khususnya dan di Minangkabau umumnya, karena sudah terdengar orang-orang yang hendak mencoba memisahkan antara adat dan agama di Minangkabau.
Wabilahitaufieq.
Candung, 7 Juni 1964 26 Muharam 1384.
Dto
Syekh Suleiman Ar Rasuly

Saiful Guci- 2 Desember 2018