BUKITTINGGI KOTA SEJARAH DAN PERJUANGAN

0
474

Ciloteh Tanpa Suara- Diundang sebagai nara sumber dengan moderator Khalid Efendi pada pertemuan pengenalan koleksi arsip digital SIKN dan JIKN, di Gedung Tri Arga Bukittinggi, 19 November 2018 yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bukittinggi yang kepala Dinasnya Drs.Johnni sangat menyenangkan dapat hadir ditengah-tengah peserta yang berjumlah 150 orang. Saya sampaikan bahwa, melihat arsip sejarah Kota Bukittinggi ibaratkan melihat kaca spion, melihat kebelakang untuk maju kedepan. Karena Kota Bukittinggi telah dikenal sejak dulu sebagai kota sejarah dan kota perjuangan.

Bukittingi dan Sejarah Hari Jadi

Bukittinggi merupakan kota yang berdiri di antara perbukitan dan daerah persawahan. Letak geografisnya berada 91 km di sebelah utara Kota Padang, dan berdiri diujung kaki Gunung Singgalang di pisahkan oleh sebuah ngarai yang cukup dalam dan menjadi obyek wisata yang sangat menarik dari segi pemandangan, yaitu ngarai Sianok. Di utara kota ini juga terbentang Bukit Barisan dari ujung Selatan hingga ujung utara pulau Sumatera. Sedangkan letak astronomis kota Bukittinggi berada antara 100’20-100.25 BT dan 00’16-00’20 LS dengan ketinggian 780-950 meter dari permukaan laut.

Penduduk aslinya berasal dari jorong-jorong, seperti Jorong Mandiangin, Jorong Guguak Panjang, Jorong Aur Birugo, Jorong Tigo Baleh dan Jorong Koto Salayan. Kelima jorong ini membentuk nagari yaitu Nagari Kurai V Jorong dan penduduk nagari inilah yang dikenal dengan penduduk asli Bukittinggi, yaitu Urang Kurai dengan mayoritas bermata pencaharian sebagai pedagang di Pakan atau Pasar.

Nama Bukittinggi didasarkan pada perubahan nama pasar sebagai pusat keramaian kota yang semula bernama “Bukik Kubangan Kabau” (karena dahulunya tempat ini memang sering dijadikan sebagai tempat mengembalakan kerbau), menjadi “Bukik Nan Tatinggi ”, yang kemudian lebih populer disebut Bukittinggi.

Menurut penelitian para ahli sejarah, pada tanggal 22 Desember 1784, diadakan pertemuan besar berupa rapat adat seluruh Penghulu Nagari Kurai. Pangulu nan salingka aua, saadaik-salimbago ini membuat kesepakatan untuk mencarikan nama pasar yang telah menjadi urat nadi Nagari Kurai waktu itu. Hasil kesepakatan waktu itu diberi nama Bukittinggi.

Berdasarkan hal-hal di atas, Pemerintah Kota Bukittinggi mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh masyarakat baik yang berada di daerah maupun di perantauan, dan terakhir meminta pendapat DPRD memberikan alternatif tanggal yang dapat ditetapkan sebagai hari jadi Kota Bukittinggi, setelah meminta pula pendapat beberapa tokoh masyarakat baik yang berada di Kerapatan Adat Nagari (KAN) maupun Kerapatan Adat Kurai (KAK) dengan disertai harapan, hendaknya Pemerintah Daerah dalam  penetapan tanggalnya agar menunjuk suatu Badan atau Lembaga yang professional di bidangnya untuk menseminarkannya. Pemerintah Kota Bukittinggi, bekerjasama  dengan Universitas Andalas dan beberapa pakar sejarah baik di daerah maupun di tingkat nasional telah menseminarkannya.

Hasil seminar tersebut mendapat persetujuan DPRD Kota Bukittinggi dengan Surat Keputusan No.10/SK-II/DPRD/1988 tanggal 15 Desember 1988, akhirnya Pemerintah Daerah dengan Surat Keputusan walikota Kepala Daerah Kota Bukittinggi No. 188.45-177-1988 tanggal 17 Desember 1988 menetapkan Hari Jadi Kota Bukittinggi tanggal 22 Desember 1784 .

Bukittinggi di Zaman Belanda

Pemerintah Hindia Belanda pertama kali menginjakan kakinya di Luhak Agam adalah pada tahun 1823 M. Belanda mengambil Bukittingi sebagai pertahannya adalah untuk kepentingan politiknya di minangkabau dan melawan ulama yang dibantu oleh kaum adat yang disebut dengan Perang Paderi.

Untuk mendukung kebijakan politiknya. Belanda melakukan pembangunan benteng di atas sebuah bukit Jirek yang mereka namakan dengan “ Fort de Kock”. Kota ini tidak dapat dilepaskan dengan benteng Fort de Kock, sebagai salah satu icon masa pendudukan Hindia Belanda. Adapun pendirian benteng ini erat hubungannya dengan para panghulu kaum Kurai yang memberikan sebidang tanah kepada Belanda. Pemberian ini bertujuan untuk bekerja-sama dalam melawan kaum Paderi. Tanah pemberian ini kemudian dijadikan tempat berdirinya Benteng Fort De Kock pada tahun 1925 oleh Kapten Bauer dan namanya mengambil nama Baron Hendrik Merkus de Kock, yang merupakan salah seorang pimpinan Hindia Belanda pada masa itu. Namun,tidak dinyana, kemenangan Belanda atas kaum Paderi juga menjadi pintu untuk menguasai Ranah Minangkabau dengan melebarkan kekuasaannya kesegala penjuru.

Hindia Belanda menjadikan kota Bukitinggi yang berawal dari sebuah pasar atau pakan yang dikelola para panghulu kaum Kurai ini, berdasarkan Besluit dari Gouvernement Kommissaris Cochius tertanggal 29 November 1837 diputuskan bahwa status keresidenan Sumatera Barat ditingkatkan menjadi Gouvernement, sehingga sejak itu namanya berubah menjadi Gouvernement van Sumatra’Weskust dengan pimpinan tingginya adalah Gouvernour (lengkapnya Civiele en Militaire Gouvernoer atau Gubernur Sipil dan Militer ) Bukittinggi sebagai ibukota Afdeling van Padangsche Bovenlanden  dan juga ibukota Fort de Kock (Oud Agam  dan VII Koto ).

Gerakan Kebangsaan

Gerakan kebangsaan yang timbul di Bukittinggi sejak zaman Belanda dipengaruhi oleh pendidikan dan ajaran Islam yang disebarluaskan oleh para ulama-ulama seperti Syekh H.Sulaiman Ar,Rasuli yang berasal dari Canduang Baso, Syekh Ahmad Khatib yang lahir di Bukittinggi 1855 dan juga muridnya yang bernama Syekh Muhammad Djamil Djambek (1860-1947) kelahiran Bukittinggi yang dikenal dengan sebutan Inyiak Djambek.

Pergerakan Nasional di Bukittinggi sempat mengalami masa pasang surut pada masa akhir pemerintahan Hindia Belanda. Pada masa ini, Bukittinggi pernah dijadikan tempat perhimpunan organisasi pemuda Sumatera. Yaitu, organisasi Jong Sumatranen Bond yang dibentuk di Padang pada tahun 1917 oleh Muhammad Hatta, Dr,Amir, M.Taher Marah Sutan. Dan H Abdullah Ahmad. Pada tanggal 15 Januari 1919 dengan mengambil tempat di surau Syekh Muhammad Jamil Djambek diadakan pertemuan antara pelajar Sumatera Thawalib dengan pelajar dari daerah Parabek Bukittinggi. Hasil pertemuan dibentuk sebuah lembaga pendidikan  yang dinamakan “Sumatera Thawalib”. Dan mempunyai tujuan memperdalam ilmu dan mengembangkan agama Islam. Sumatera Thawalib ini nantinya pada konferensi Sumatera Thawalib tanggal 20-21 Mei 1990 di Bukittinggi, melahirkan organisasi politik Islam yang bernama Persatuan Muslim Indonesia (PERMI) dan bergerak di bidang politik pergerakan kebangsaan Indonesia.

Pergerakan nasional di Bukittinggi juga tidak terlepas dari peranan seorang pejuang kaum wanita,yang bernama Rohana Kudus yang lahir di Nagari Koto Gadang 28 Desember 1884, dan merupakan kakak perempuan dari Sutan Sjahrir. Pada tanggal 1 Februari 1912 di Bukittinggi, Rohana Kudus mendirikan “Kerajinan Amai (ibu) Setia” dengan tujuan untuk mendirikan khusus wanita.

Bukittinggi di Zaman Jepang

Bahwa di Bukittinggi orang Jepang jauh sebelum pendudukan administrasi militer Tentera Angkatan darat ke-25nya telah berada di Buktittinggi sebagai pedagang dan dan telah melakukan suatu tindakan spionase dari Jepang yang dilakukan dengan baik oleh Mayor Iwaichi Fujiwara yang membawahi Fujiwara Kikan yang berkantor di Muangthai (Thailand)

Pada masa pendudukan Jepang, Pemerintah Militer Jepang yang tertinggi berkedudukan di Singapura, Bandar mana di tukar namanya menjadi “Shyonanto”. Pemimpin Tertinggi dari Komando Asia Timur Raya ini kemudian berkedudukan di Dalat, dekat Saigon.

Sumatera Barat diperintah oleh seorang Residen, Yano Kenzo. Kantornya berada di Padang, sedangkan Bukittinggi dijadikan tempat kedudukan Gunseikan dan Gunsereikankan untuk seluruh Sumatera.

Bukittinggi dijadikan sebagai pusat pengendalian pemerintahan militernya untuk kawasan Sumatera, bahkan sampai ke Singapura dan Thailand. Kota ini menjadi tempat kedudukan komandan militer ke-25 Kempetai, di bawah pimpinan Mayor Jenderal Hirano Toyoji. Kemudian kota ini berganti nama dari Stadsgemeente Fort de Kock menjadi Bukittinggi Si Yaku Sho yang daerahnya diperluas dengan memasukkan nagari-nagari sekitarnya seperti Sianok Anam Suku, Gadut, Kapau, Ampang Gadang, Batu Taba, dan Bukit Batabuah. Sekarang nagari-nagari tersebut masuk ke dalam wilayah Kabupaten Agam.

Bukittingi Sejak Kemerdekaan

Sejak kemerdekaan Bukittinggi pernah menjadi Ibukota Propinsi Sumatera dengan  Gubernurnya Mr. Tengku Muhammad Hasan. Kota Bukittinggi dengan ketetapan Gubernur Propinsi Sumatera No. 391 tanggal 9 Juni 1947 tentang pembentukan Kota Bukittinggi sebagai Kota yang berhak mengatur dirinya sendiri.

Pada zaman perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia Bukitinggi berperan sebagai kota perjuangan, dimana cikal bakal pembentukan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia ( PDRI ) di bentuk di Kota Bukittinggi pada tanggal 19 Desember 1948 yang deklerasikan pada tanggal 22 Desember 1948 di Halaban Kabupaten Limapuluh Kota.

Kemudian dalam peraturan Pemerintah Pengganti undang-undang No. 4 tahun 1959 Bukittinggi ditetapkan sebagai Ibu Kota Sumatera Tengah yang meliputi keresidenan-keresidenan Sumatera Barat, Jambi dan Riau yang sekarang masing-masing Keresidenan itu telah menjadi Propinsi-propinsi sendiri.

Kota Besar Bukittinggi sebagaimana yang diatur Undang-undang No. 9 tahun 1956 tentang Pembentukan Otonom Kota Besar Bukittinggi dalam lingkungan Propinsi Sumatera Tengah jo Undang-undang Pokok tentang Pemerintah Daerah No. 22 tahun1960. Kotapraja Bukittinggi, sebagaimana diatur dalam Undang-undang Pemerintah Daerah No. 1 tahun 1957 jo. Pen. Prs. No. 6 tahun 1959 jo. Pen. prs. No. 5 tahun 1960.

Setelah keresidenan Sumatera Barat dikembangkan menjadi Propinsi Sumatera Barat, maka Bukittinggi ditunjuk sebagai Ibu Kota Propinsinya, semenjak tahun 1958 secara defacto Ibukota Propinsi telah pindah ke Padang namun secara deyuire barulah tahun 1978 Bukittinggi tidak lagi menjadi Ibukota Propinsi Sumatera Barat, dengan keluarnya Peraturan Pemerintah No. 29 tahun 1979 yang memindahkan Ibukota Propinsi Sumatera Barat ke Padang. Dan Kota Bukittinggi berstatus sebagai Kota Madya Daerah Tingkat II sesuai dengan undang-undang No. 5 tahun 1974 tentang Pokok Pemerintah di Daerah yang telah disempurnakan dengan UU NO. 22/99 menjadi Kota Bukittinggi.

Dalam rangka perluasan wilayah kota, pada tahun 1999 pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 1999 yang isinya menggabungkan nagari-nagari di sekitar Bukittinggi ke dalam wilayah kota. Nagari-nagari tersebut yaitu Cingkariang, Gaduik, Sianok Anam Suku, Guguak Tabek Sarojo, Ampang Gadang, Ladang Laweh, Pakan Sinayan, Kubang Putiah, Pasia, Kapau, Batu Taba, dan Koto Gadang. Namun, sebagian masyarakat di nagari-nagari tersebut menolak untuk bergabung dengan Bukittinggi sehingga, peraturan tersebut hingga saat ini belum dapat dilaksanakan.

Sejarah Perkembangan Phisik Bukittinggi

Sejarah perkembangan phisik kota Bukittinggi dapat diuraikan sebagai berikut:

  1. Pasar Atas.

Pada awalnya sebuah pasar (pakan) di Bukittinggi bernama Pakan Kurai terletak di Jorong Gurun Panjang. Sementara Bukittinggi, sebelum kedatangan kolonial Belanda bernama Nagari Kurai. Pada tahun 1858 Pemerintah Hindia Belanda membangun pasar (Pasa Ateh) setelah adanya perjanjian antara Penghulu Nagari Kurai. Perjanjian tersebut mengenai peminjaman tanah pasar dan sekitarnya. Dimana, saat meneroka pasar di atas bukit dengan nama Bukit Kubangan Kabau tersebut, pemerintah Hindia Belanda membebaskan penduduk Nagari Kurai dari tenaga rodi. Pembangunan Pasar ini menjalar sampai Bukik Sarang Gagak (Jam Gadang) dan Bukik Cubadak Bungkuak.

Jika Pakan Kurai merupakan prasyarat sebagai sebuah nagari, maka Pasa Ateh, menjadi simbol berdirinya sebuah kota. Pasa Ateh sebagai sebuah pasar Bukittinggi, merupakan milik masyarakat Agam. Sebab, pasar tersebut dibangun oleh tenaga-tenaga rodi dari nagari-nagari Agam Tuo atau Agam bagian Timur.

Dalam membangun Pasa Ateh, para pekerja rodi bekerja mendatarkan tanah pasar, dan membuat jalan-jalan menuju pasar serta selokan pasar. Pekerja rodi juga ditugaskan membangun 11 rumah pasanggarahan untuk kepala laras di Agam Tua  dan membangun rumah untuk pangulu Kurai pada jalan ke kebun Binatang

Berhubung berdirinya Pasa Ateh di masa pemerintahan kolonial Belanda, pasar juga dijadikan senjata bagi Belanda ‘menjinakkan’ para kaum adat. Para pengulu kepala diberi ’rumah’ di dekat jalan ke kebun binatang. Mereka secara bergiliran disilahkan Belanda untuk memungut pajak ke padagang yang berjualan di pasar tersebut. Para penghulu , menyebut giliran mereka dengan istilah babantai gadang. Kebijakan Controleur J van Hangel mengingkari Persetujuan tahun 1858, dimana Penghulu Nagari Kurai tidak diikut sertakan dalam menentukan kebijakan Pasar Bukittinggi.

Bersamaan dengan pembangunan Pasa Ateh, Belanda juga membangun jalan dan tangga yang menghubungkan antara tempat yang satu dengan tempat yang lain. Kemudian, pada tahun 1890 dibangun loods (los = bangunan panjang untuk tempat berjualan), yang berada di tengah-tengah pasar.

Los yang di bangun tersebut dinamakan Loih Galuang (Los melengkung) hal ini disebabkan karena bentuk atap setengah lingkaran. Pada perkembanganya, tahun 1896, di bangun los di bagian Timur, untuk pedagang kain dan toko kelontong. Tahun 1900, untuk penjual daging dan ikan segar dibangun satu los (sekarang los lambuang, tempat jual nasi kapau).

Los ini dibangun di sisi bukit sebelah Timur, agar limbah air dapat dialirkan ke selokan di bawah bukit. Lokasi los yang terletak di kemiringan, warga Bukittinggi menyebutnya pasar teleng (miring). Rumah potong sapi terletak di sisi Selatan (Jl. Pemuda), di pinggir anak sungai. Pasar ternak berada 500 m ke arah Barat.

Dengan menyebut pasar Bukittinggi dengan pasar Fort de Kock Tahun 1900, Belanda membangun pasar secara permanen, pasar itu disebut loih galuang, karena bentuk atap yang melengkung, sekarang disebut Pasar Atas.

Tahun 1901-1909, pada masa pemerintahan Controleur Oud Agam, L.C. Westenenk, dibangun 3 los, bersebelahan dengan los galuang, satu los di Timur Laut, lokasi lebih rendah, untuk penjual ikan kering (loih maco).

Tahun 1923 dibangun 8 (delapan) blok rumah toko, setelah kios pedagang sisi Barat dan Timur Loih Galuang dirobohkan.Sebelah Barat, ada 4 blok sejajar (Muka Pasar), sedangkan di sebelah Timur ada 4 blok, berjajar dua (Belakang Pasar).

Keuntungan yang didapatkan dari sewa toko, tanah, gudang, warung, los, dan pajak pasar cukup besar dilepaskan oleh pemerintah Belanda. Oleh karena itu, Penghulu Nagari Kurai merasa terpinggirkan, sehingga mereka menggugat pembangunan los pasar itu yang didirikan di atas tanah ulayat Nagari Kurai. Mereka juga menggugat kebijakan pemerintah yang banyak merugikan Nagari Kurai.

Sejak mengambil alih Bukittingi secara penuh tahun 1888, pemerintah Hindia Belanda, mulai memegang kendali Pasar Bukittinggi secara penuh. Sementara di masa Jepang, sumber ekonomi secara total tanpa membagi sedikit pun ke kelompok penguasa lokal. Sejak zaman Jepang, para penghulu kepala tidak lagi mendapat ‘jatah’ dari pengelolaan pasar. Berikutnya, sejak tahun 1947, pengelolaan pasar diambil alih oleh pemerintah Bukittinggi, seiring ’penyerahan’ nagari Kurai menjadi bagian integral Kota Bukittinggi.

Sejak masa pemerintahan Belanda sampai saat ini, Pasar Atas sudah beberapa kali mengalami renovasi, karena kebakaran. Pada tahun 1949, berdasarkan UU No. 22 tahun 1948 pasal 1 tentang pokok-pokok pemerintahan didaerah dan ketetapan Gubernur Militer Sumatera Tengah No. 167/GM/Stg/Ket-1949 maka penguasaan pasar berada sepenuhnya pada pemerintah kota Bukittinggi.

  1. Kebun Binatang.

Kebun Binatang ini dulunya dengan nama Kebun Bungo kemudian berubah nama menjadi Taman Puti Bungsu. Dengan Perda No. 2 tahun 1995 diberi nama Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan. Dibangun pada tahun 1900 dengan nama Stormpark di atas Bukit Cubadak Bungkuak oleh Conteleur Cravenzande. Pada tahun 1929 dilengkapi menjadi kebun binatang dengan pimpinan dokter hewan .J.ock.

 

  1. Jenjang 40.

Untuk menghubungi Pasar Atas ke Pasar Banto dan Pasar Bawah dibangunlah jejang 40. sebetulnya anak tangga yang ada pada jenjang tersebut berjumlah 100 buah, namun dinamai jenjang 40 karena jumlah anak tangga yang kecil pada sisi yang curam sebelah atas berjumlah 40 buah. Didirikan pada tahun 1898 masa Westeenek menjadi Asisten Agam.

  1. Jam Gadang.

Jam Gadang ini menjadi Lambang Kota Bukittinggi sehingga Bukittinggi sering juga disebut kota Jam Gadang, didirikan pada tahun 1926 oleh Countorleur Rookmaker.

  1. Jenjang Gantuang

Jenjang gantuang ¡ni didirikan pada tahun 1932 sewaktu Cator Countoleur Agam Tuo yang dimanfaatkan sebagai jembatan penyebarangan dan Pasar Lereng ke Pasar bawah.

  1. Benteng

Benteng ini didirikan oleh Kapten Baeur pada tahun 1825 di atas Bukit Jirek, yaitu semasa Baron Hendrick Markusde Kock menjadi Komandan de Roepen dan Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Dari sinilah asalnama Fort de Kock.

  1. Rumah Adat Baanjuang.

Rumah adat ini didirikan pada tahun 1935 diatas BukitCubadak Bungkuak yaitu di dalam Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan sekarang pada masa J. Mandelaar Countroleur Agam Tua. Dalam rumah adat ini banyak tersimpan benda-benda peninggalan sejarah baik Bukittinggi maupun Minangkabau. Rumah Adat ini berukir ini di bauat oleh Dt.Rajo Api dari Pandai Sikek.

Bukittinggi Kota Perjuangan

Bukittinggi adalah kota perjuangan hal ini ditandai dengan banyaknya dibangun Tugu bersejarah, seperti :

  1. Tugu Perjuangan Divisi IX Banteng

Pendidikan Opsir Divisi IX Banteng Sumatera Tengah tepat di sebelah kanan Lapangan Kantin Bukittinggi, kalau dipandang dan arah depan Kantor Balaikota Lama, terdapatsebuah tugu atau monumen. “Monumen Pendidikan OpsirDivisi X Banteng Sumatera Tengah” judulnya. Monumen iniberbentuk persegi diatasnya berdiri seorang opsir berbadantegap yang rnemegang sebuah pedang dan berlagakseperti orang yang sedang mengarahkan pedang di tangan kanannya ke arah Gunung Marapi. Sepertinya patung seorang yang sedang bersiap menghadapi lawan yangdatangdariarahjalan.

Diatas pedang dan senapan yang disilangkan tadi tertulis”MONUMEN PENDIDIKAN OPSIR DIVISI IX BANTENGSUMATERA TENGAH”. Dan dibawahnya juga tertulis sebuah kalimat:’Sivis Pacen, Para Bellum “(Jika kaumendambakan perdamaian, bersiap-siaplah menghadapiperang”) adalah sebuah Peribahasa Latin.Pada sisi sebelah kiri dan kanan terdapatnama nama para opsir. Sisi sebelah kanan merupakan namanama dari opsir dan angkatan pertama yang berjumlah 84orang.

b.Tugu Monumen Polwan

Pada bulan Juni 1948 ada enam orang puteri minangkabau mulai memasuki Sekolah Pendidikan Polisi Indonesia di Bukittinggi terdiri dan : Mariana , Nelly Pauna, Rosmalina, Dahniar , Djasmainar dan Rosnalia.

Untuk mengenang jasa Polisi Wanita dibangun sebuah monumen berlokasi di JI. Sudirman, di depan Kantor Pos Bukittinggi atau yang lebih dikenal dengan sebutan Simpang Stasiun. Di pertigaan jalan itu bediri sebuah tugu menjulang ke atas sekitar tiga meter.

Tugu ini dikelilingi pagar besi dengan hiasan atap rumah gadang di setiap sudutnya. Di papan inforrnasinya tertulis “MONUMEN POLWAN” Memperingati Lahirnya Polwan Pertama di Indonesia. Monumen Polwan ini bernama “ESTHI BHAKTI WARAPSARI”. Mengandung arti sebagai putra-putri pilihan yang mampu melaksanakan tugas dan mengamalkan ilmu pengetahuan yang dimiliki dengan penuh kesederhanaan, kegunaan, kebesaran jiwa, berwibawa dan tanpa pamrih demi tercapainya masyarakat yang tentram dan damai. Diresmikan di Bukittinggi tanggal 27 April 1993 oleh Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Drs. Banurusman.

  1. Tugu Tentera Pelajar yang Gugur

Pada waktu Agresi Belanda kedua, para pelajar yang bersekolah di Bukittinggi pulang kekampung masing masing dan bergabung dengan tentera yang disebut sebagai tentera pelajar yang bertugas sebagai kurir untuk kepentingan perjuangan melawan penjajah Belanda saat ¡tu.

Dalam menjalankan tugas sebagai kurir untuk membantu perjuangan pasukan kita dimana 17 orang tentera pelajar gugur dalam tugas. Untuk mengenang ke 17 orang tentera pelajar yang telah gugur tersebut dibangun sebuah Monumen. Monumen ini terbuat dan sebuah batu berwarna hitam yang di depannya terdapat pahatan yang bentuliskan “KENANGAN BAGI TENTARA PELADJAR JANG TELAH GUGUR”.

d).Tugu Pahlawan Tak Dikenal

Tugu ini bernama Tugu Pahlawan Tak Dikenal. Tugu ini dibangun untuk mengenang gugurnya para pahlawan yang tak bisa dikenal secara pasti dalam menentang kolonialisme Belanda. Terlihat sebuah taman yang cukup bersih yang ditengahnya terdapat bentuk yang sedikit abstrak di bagian bawah, dan sebuah patung manusia. Patung tersebut sedang mengangkat kedua tangannya ke atas dan di tangan kirinya sedang memegang sesuatu.

Peletakan batu pertama ditakukan oleh Jend. A.H. Nasution pada tanggat 15 Juni 1963 dan diresmikan tahun 1965. Konstruksi bangunan tugu diciptakan oleh seniman bernama Dt. Parapatiah bersama Hoerijah Adam dan diberikan kepada pematung Ramudin. Di atas tugu berdiri patung seorang pemuda memegang bendera, namun setelah disambar petir, patung di atasnya sudah diganti tapi tidak ada benderanya. Disisi lain tugu ini dihiasi oleh lingkaran tembok pagar yang dipenuhi oleh relief yang menggambarkan perlawanan rakyat dalam menentang kolonialisme Belanda dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI.

e). Tugu Proklamator Bung Hatta

Persis di depan Tugu Pahlawan Tak Dikenal ini, terdapatsebuah patung laki-laki berkaca mata, berpostur tegap, berpakain rapi, menggunakan peci, dan melambaikantangannya seakan menyapa setia orang yang lewat didepannya.

Patung ¡ni bediri di sebuah areal taman yang ditata secararapi dan bersih. Terlihat beberapa anak tangga berjejer dibawah patung ini. Taman ini bernama Taman Monumen Bung Hata. Muhammad Hatta atau lebih dikenal dengan panggilan Bung Hatta,Sang Proklamator Republik Indonesia. Bung Hattamerupakan anak nagari Bukittinggi, beliau lahir diBukittinggi persisnya di rumah orang tuanya di JI. SoekarnoHatta Bukittinggi. Rumah kelahiran beliau tersebutsekarang sudah dijadikan Museum.Kakek dan Muhammad Hatta adalah Shaykh AbdurrahmanBatu Hampar berusia 122 tahun (1777-1899 M) lahir danpasangan Abdullah dan Tungga.

f). Tugu Tuanku Imam Bonjol.

Dipertigaan Simpang Tembok dibangun  sebuah Tugu yang diberi nama Monumen Imam Bonjol. Monumen inicdibangun untuk memperingati perjuangan Tuanku ImamBonjol. Tuanku Imam Bonjol berasal dan Bonjol yangsangat taat memeluk agama islam. Pengikut Tuanku ImamBonjol bernama Kaum Paderi. Kaum Paderi sangatmenentang sifat Kaum Adat yang suka meminum minumankeras, berjudi, menyabung ayam, berkelahi dan merampok.

Pada tahun 1821-1837 terjadilah Perang Paderi yangdipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol melawan Kaum Adatyang dibantu oleh Belanda. Namun Kaum Paderi menang,bahkan perlawanan sampai ke daerah Bukittinggi. TuankuImam Bonjol dibantu oleh Haji Sumaniak &, Haji Piobang, Haji Mliskin, dan lain-lain

Perang Padri adalah peperangan yang berlangsung diSumatera Barat dan sekitarnya terutama di kawasan Kerajaan Pagaruyung dari tahun 1803 hingga 1838.Perang ini merupakan peperangan yang pada awalnyaakibat pertentangan dalam masalah agama sebelumberubah menjadi peperangan melawan penjajahan.

g). Tugu Perjuangan Rakyat Kamang 1908

Di pertigaan jalan persis arah Rumah Sakit Achmad Muchtar (RSAM) Bukittinggi terdapatsebuah tugu berwarna putih kekuningan karena dimakancuaca, berbentuk persegi panjang, dan terletak di sebuah taman. Dibagian atas monumen ini terlihat sebuah ukirandua buah parang yang yang disilangkan dibawah sebuahRumah Gadang. Disampingnya tertu lis “PERLAWANANRAKJAT MENENTANG KOLONIALISME BELANDA 15DJUNI 1908”. Tugu ini diusahakan oleh Panitia Pusat HariPeringatan Sumatera Barat Menentang PendjadjahanBelanda.

Banyak orang tidak tahu bagaimana perlawanan rakyatmenentang Kolonial Belanda pada tanggal 15 Juni 1908 yang dikenal dengan perang Kamang 1908.Peraturan pungutan pajak sebagai pengganti tanaman kopi dan kerja paksa, setelahmendapat persetujuan dan Pemerintah Belanda, padatanggal 1 Maret 1908 Gubernur Belanda di Batavia secararesmi mengumumkan mulai berlakunya peraturan Pajak(Incomstan Belastting) tersebut untuk seluruh wilayahIndonesia dan segera dilaksanakan. Peraturan ini telahmerobah suasana kehidupan di Indonesia umumnya dan Minangkabau khususnya. Peraturan ini disebarluaskanketengah masyarakat melalui sitem pemerintahan yang adapada waktu ¡tu. Peraturan ini dengan tegas ditolak olehseluruh rakyat Minangkabau. Minangkabau bérgejolak.Pemerintah Belanda gagal merebut pengaruh Laras untukpelaksanaan Belasting. Kemudian pada tanggal 16 Maret1908 Tuan Kumundur Luhak Agam J.WESTENNENKmengumpulkan semua Laras ke kantornya di Bukittinggi(sekarang SMAN 2 Bukittinggi). Dalam pertemuan tersebutJ.WESTENNENK menekan para Laras supaya Belastingsegera dilaksanakan. Dan sekian banyak Laras yang hadir hanya Laras Kamang Garang Dt.Palindih yangmenyanggah dengan tegas dan gigih bahwa Belasttingtidak bisa dilaksanakan karena membebani rakyat. Rapatmenjadi kacau, tidak ada keputusan pelaksanaan Blasting.

h). Pengumputan Emas Untuk Perjuangan

Di waktu pertempuran-pertempuran masih berlangsung diberbagai tempat, beberapa hari sesudah tentera Belandamenerobos garis demarkasi memasuki daerah Republik, Residen M.Rasjid bersama Komandan Divisi Kolonel Ismael Lengah, mengadakan suatu pertemuan untuk mendapatkan dana perjuangan diPadang Panjang. Hari ¡tu, tanggal 27 Juli 1947, didepanhadirin yang memenuhi gedung bioskop, M.Rasjid danIsmael Lengah, membentangkan suka duka para prajurit difront yang memperihatinkan, apalagi sesudah Agresi BelandaPertama yang baru saja berlaku serta terbunuhnya dengansecara kejam wali kota Padang. Kedua pemimpinperjuangan itu menguraikan dengan sungguh-sungguhkeperluan-keperluan prajurit yang makin meningkat danmakin mendesak, apalagi dengan luasnya frontpertempuran. Sama dengan Solok dan Pariaman, kotaPadang Panjang tidaklah terlalu jauh dan daerahbertempur, untuk itu tak perlu lebih panjang menerangkan apaarti berperang kepada penduduknya. Mereka hampir serentak menyerahkan dan mendaftarkan sumbangan, kaum ¡bu tanpa berpikir lagi melepaskan gelang, subang,liontin, bahkan cincin kawin, karena hanya ¡tulah yangterbawa pada ketika itu. Keikhlasan mereka melampaui hal-hal yang lain, menjadikan mereka tidak ingat lagi akankesempitan hidup mereka sendiri, dimasa yang masih jauhdan sejahtera

Hampir dua bulan kemudian, pada 27 September 1947 diBukittinggi, atas penunjukan Wakil presiden Hatta, telahberdiri pula Panitia Pusat Pengumpulan Emas denganMr.Karim sebagai ketua dan Suryo bekas gubernur JawaTimur, R.S.Suriaatmadja dan Residen M.Rasjid, masingmasing sebagai anggota. Panitia ini bertujuan untukmengumpulkan sumbangan-sumbangan emas danmasyarakat bagi pembelian sebuah pesawat terbang danluar negeri untuk diterjunkan dalam misi-misi khusus gunamenyelamatkan Republik Indonesia dan serangan Belandayang terkenal sebagai Agresi Militer.

Selang beberapa hari setelah pembentukan panitia tersebut, Dr. MohammmadHatta mengadakan sebuah apel besar di Lapangan Kantin(lapangan depan Makodim 0304 Agam, sekarang). SelakuWakil Presiden Republik Indonesia beliau menyampaikankepada masyarakat Minang akan situasi negara saat itusekaligus menghimbau rakyat untuk mengulurkan tanganmembantu perjuangan.

Tanpa pikir panjang, spontan orang- orang di sanaterutama amai-amai mendaftarkan diri untuk menyumbangkan semua perhiasan emas dan peraknya,berupa liontin, anting, kalung, gelang, bahkan cincin kawinmereka sumbangkan. Selain itu di tempat- tempat lain,seperti Padang Panjang dan di pinggiran kota Bukittinggijuga diadakan pengumpulan sumbangan.

Dari hasil sumbangan itu, untuk membeli sebuah pesawat terbang buatanInggris tipe Dakota dengan call sign RI 003 dengan diberi nama Avro Anson RI 003 adalah pesawat ke tiga yang dimilikiPemerintah Repubilk Indonesia yang diperoleh dansumbangan masyarakat Minang terutama amai-amai (baca:ibu-ibu) yang dengan sukarela menghibahkan perhiasan emas dan peraknya untuk memperjuangkan kedaulatanIndonesia.

Pada awal Desember 1947, Halim Perdanakusuma danIswahyudi mendapat tugas untuk membeli danmendapatkan senjata (yang dibeli dengan perantara canduatau narkotika) ke Siam (Muangthai) dengan menggunakanRI 003.

Tetapi malang, sebelum mencapai tujuannya, pesawat ¡tumengalami kerusakan mesin sehingga jatuh ke laut dekatTanjung Hantu, perairan selat Malaka. Pesawat ¡tu hilang bersama pilotnya Halim Perdanakusuma dan Iswahyudigugur sebagai bunga bangsa, dan namanya diabadikansebagai nama dua bandara di Nusantara, yaitu Lanud HalimPerdanakusuma di Jakarta dan Lanud Iswahyudi di Madiun.

Misi belum selesal, beberapa hari setelah hilangnya RI 003,mendarat sebuah pesawat dengan jenis yang sama dengancall sign RI 004, berpilot Wade Palmer, seorang penerbangRoyal Air Force (RAP) berkebangsaan Skotlandia.

Bukittinggi- 19 November 2018