BERKUNJUNG KE SURAU LUBUAK BAUAK BATIPUAH

0
299

Ciloteh Tanpa Suara- Sepulang dari Padang saya bersama Rizal Novianta  dan berhubung jalan macet sejak pendakian Panyalaian- Koto Baru . Maka kami memutuskan untuk menuju Payakumbuh memutar arah lewat ke Batu Sangkar dan keluar di pasar Piladang dan baru menuju Payakumbuh . Tidak beberapa lama baru keluar dari Kota Padang Panjang, kami teringat belum sholat Dzuhur, dipinggir jalan raya terlihat bangunan masjid dan disampingnya ada surau yang berarsitek Koto Piliang dan tertulis Surau Lubuak Bauk. Bangunan surau ini terletak lebih rendah sekitar satu meter dari jalan raya Padang Panjang – Batusangkar atau Solok yang secara administratif terletak di Jorong Lubuak Bauk, Nagari Batipuah Baruah , Kecamatan Batipuah, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat.

Kami berdua dari pinggir jalan melihat keindahan arsitek Surau Lubuak Bauak yang berdenah bujur sangkar, terbuat dari kayu surian dengan luas 154 meter persegi dan tinggi bangunan sampai kemuncak sekitar 13 m. Bangunan dikelilingi pagar besi berbentuk panggung dengan tinggi kolong 1,40 meter terdiri dari tiga lantai dan satu lantai berfungsi sebagai kubah/menara yang terletak di atas atap gonjong berbentuk segi delapan. Atap bangunan terbuat dari seng bersusun tiga. Atap pertama dan kedua berbentuk limas, sedangkan atap ketiga yang juga berfungsi sebagai menara memiliki bentuk gonjong di keempat sisinya. Pada bagian puncak, atapnya membentuk kerucut dengan bentuk susunan buah labu/bola­bola. Pintu gerbang terletak di timur menghadap ke selatan (jalan raya).

Bagian atas menara diberi kemuncak yang terdiri dari bulatan-bulatan (labu-labu) yang makin ke atas semakin mengecil dan di akhiri oleh bagian yang runcing (gonjong). Aku melihat lurus ke atas seraya membaca seperti  bacaan memulai shalat Wajjahtu waj-hiya lillaa-dzii fatharas-samaawaati wal-ardho haniifam-muslimaw- wamaa ana minal-musy-rikiin.” Kuhadapkan wajahku kepada wajah-Nya Zat yang menciptakan langit dan bumi, dengan keadaan lurus dan berserah diri, dan tidaklah aku termasuk orang-orang yang musyrik. Sebagai seorang hamba sudah menemukan chanel atau gelombang kepada Tuhan, menemukan wajahnya yang Maha Agung, sehingga kita tidak termasuk orang musyrik menyekutukan Tuhan.

Sedang asiknya saya memandang, kemudian teman saya Rizal Novianta bertanya memecahkan perhatian saya. “ Saya lihat dari tadi pak Saiful terpesona melihat bangunan ini, apa kira kira filosofinya pak, apakah ini yang disebut Surau yang berfilosofi Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Adat (ABS-SBA) “ Tanya Rizal Novianta.

“ benar saja ,Surau yang berfilosofi Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Adat (ABS-SBA) itu adalah sandi adat minangkabau, yang dulunya diringkas  dengan (‘Ain Ba Sin-Sin Ba ‘Ain), karena sebelum ditulis dalam huruf latin ditulis dalam tulisan arab melayu dalam buku buku tambo lama, kemudian berubah menjadi Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) tau (‘Ain Ba Sin-Sin Ba Kaf)  “ ujar saya.

“nah, jika kita lihat dari puncak berbentuk kerucut dengan 12 buah labu- labu apa pula maksudnya ?” Tanya Rizal Novianta lagi

Untuk menutupi ketidak tahuan saya terhadap arti menara berbentuk kerucut tersebut saya bawa Rizal Novianta berteka teki“ Menara berbentuk kerucut semakin keatas semakin kecil dengan labu-labu 12 buah ini adalah teka teki Islam diwaktu kami belajar di surau dahulu” balas saya.

“ teka teki Islam apa itu pak Saiful ?” Tanya Rizal kembali

“ coba kamu jawab , soal ini : Sebutkan satu yang tiada duanya, dua yang tiada tiganya, tiga yang tiada empatnya, empat yang tiada limanya,lima yang tiada enamnya,enam yang tiada tujuhnya, tujuh yang tiada delapannya, delapan yang tiada sembilannya,sembilan yang tiada sepuluhnya, sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh, sebelas yang tiada dua belasnya, dan dua belas yang tiada tiga belasnya,” Tanya saya.

“ iyo indak tau ambo jawabnyo, manyimak jo baraja ambo dulu” jawab Rizal

Kemudian saya jawab satu persatu“ satu yang tiada duanya adalah Allah.Dua yang tiada tiganya adalah Siang dan malam. Tiga yang tiada empatnya adalah jumlah kekhilafan nabi Musa saat berguru kepada nabi Khaidir. Empat yang tiada limanya adalah jumlah kitabullah yang harus kita ketahui, yakni: Taurat, Injil,Zabur dan Alqur’an. Lima yang tiada enamnya adalah jumlah sholat lima waktu. Enam yang tiada tujuhnya adalah jumlah hari ketika Allah menciptakan makhluknya. Tujuh yang tiada delapannya adalah langit tujuh lapis. Delapan yang tiada sembilannya adalah jumlah malaikat pemikul Arsy Allah. Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah jumlah 9 mukjizat nabi Musa. Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh adalah adalah kebaikan Allah SWT dalam surat QS:Al An’am, 160) yang artinya ( Barang siapa yang berbuat kebaikan mendapat balasan 10 kali lipat amalannya). Sementara  sebelas yang tiada dua belasnya adalah jumlah saudara nabi Yusuf. Kemudian dua belas yang tiada tiga belasnya adalah 12 mata air yang memancar yang merupakan mukjizat nabi Musa yang ada pada surat Al Baqarah ayat 60 “ Terang saya.

“ sekali ini baru saya mendapat teka teki dan mendengar jawaban seperti itu menambah pengetahuan saya, Ohya tiga atap bertingkat penyangga 12 labu labu tadi , kira-kira apa filosofinya? “ tanya Rizal lagi.

“ Dalam alam minangkabau, ada tiga dasar untuk mengambil  sebuah keputusan yang merupakan pegangan masyarakat Minangkabau yang disebut dengan “Tali Tigo Sapalin” yaitu Syarak agama Islam, Undang adat minangkabau dan aturan adat istiadat. Yang lainnya disebut juga dengan “Tungku Tigo Sajarangan” yang terdiri Limbago Ninik Mamak, Limbago Alim Ulama dan Limbago Cadiak Pandai.” Jawab saya.

“ ohya kita terus kebawah, terlihat ada lonceng mic dan bangunan menaranya ada delapan segi, kira kira apa pula maknanya ?” Tanya Rizal Novianta lagi.

“Terlihat, bangunan menara berdenah segi delapan berdinding kayu dengan jendela jendela semu yang diberi kaca di setiap sisinya. Pada bagian luar, terdapat ukiran sulur-suluran pada bagian bawah dan pada bagian atasnya terdapat hiasan dengan pola segi empat.

Saya mencoba merenung untuk menjawab pertanyaan dari Rizal Novianta. Menara Azan Surau Lubuak Bauk berbentuk segi delapan ini melambangkan “8 arah mata angin” dengan maksud bahwa Islam itu agama Rahmatan Lil ‘Alamin. Islam juga sebagai agama yang dapat dirasakan oleh semua makhluk di alam semesta ini. Ruang segi delapan melambangkan delapan penjuru mata angin, yang menyiratkan makna seperti dalam QS. Al-Baqarah : 115, yang Artinya : ”Dan kepunyaan Allahlah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap maka disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas (rahmatNya) lagi Mahamengetahui”. (QS.al-Baqarah: 115)

Ayat ini –wallahu a’lam-, mengandung hiburan bagi Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya yang diusir dari Makkah dan dipisahkan dari masjid dan tempat shalat mereka. Dulu Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat di Makkah dengan menghadap ke Baitulmaqdis, sedang Ka’bah berada dihadapannya. Dan ketika hijrah ke Madinah, beliau dihadapkan langsung ke Baitulmaqdis selama 16 atau 17 bulan. Dan setelah itu, Allah Ta’ala menyuruhnya menghadap Ka’bah. Oleh karena itu Allah berfirman artinya, “Dan kepunyaan Allah timur dan barat, maka kemanapun kalian menghadap disitulah wajah Allah.” Terang saya lagi.

 “ Ya itu dalam segi agamanya, kalau dalam filosofi adatnya, bagaimana pak Saiful” Tanya nyinyir Rizal Novianta

“ Bangunan menara bersegi delapan, sebagai orang minang dalam memutus kaji harus di atas surau, lambang segi delapan di ibaratkan perjalanan adat  nan salapan dalam masyarakat minangkabau, yaitu :

  1. Adat nan bajanjang naiak batanggo turun, tumbuah didalam nagari yaitu babilang dari aso, mangaji dari alif, naiak dari janjang nan dibawah,turun dari tanggo nan diateh,yakni kamanakan barajo kamamak, mamak barajo kapanghulu, panghulu barajo kanan bana, bana badiri sendirinyo.
  2. Adat batiru nan batauladan, tumbuahnyo dihalek jamu yaitu alur sama diturut, limbago samo dituang, nan batiru batauladan, kalo maniru dinan elok, manuladan dinan sudah mangaba dinan nyato.
  3. Adat nan bababrih babaleh, yaitu tumbuah dikorong dengan kampuang,kampuang bapaga jo pusako,  nagari bapaga dengan undang, disitu buek nan balingka, disitu barih nan mananti, barih nan dak buliah dilampaui, kalo barih manahan tiliek, balabeh manahan cubo.
  4. Nan bacupak nan bagantang, tumbuah jo silang jo salisiah, atau dakwa dengan jawab yaitu hukum menghukum dalam kampuang kalo manimbang samo barek, kalo maukua samo panjang tidak buliah bakatian kiri, tidak buliah bapihak pihak luruih bana bapegang sunguah.
  5. Adat nan bajokok badukalo, syariat palu mamalu dunia baleh mambaleh, imbao biaso basauik, pangia biaso, baturuti, hawa nafsu bapantang kakurangan dunia bapantang kalangkahan.
  6. Adat nan banazar, artinyo nan maniliak hereang jo gendeang, mamandang baso jo basi, maliek labiah jo kurang, manimbang mudarat jo munfaat.
  7. Adat nan bapikia, batolan mako bajalan mufakat mako bakato
  8. Adat nan bakahandak ateh sifatnyo nan nyato, yaitu nyato adat bantah tumbuah nyato pusako balingkaran, cupak sitalago panuah, gantang simaharajo lelo, limbago sifat mananti undang maisi kahandak. “ terang saya.

“ Ohya satu lagi Pak Saiful Guci, dibawah menara segi delapan tadi di topang dengan serambi bergonjong empat buat dengan serambi empat buah pula “ tanya Rizal Novianta lagi

“ kalau yang ini perlu perenungan yang lebih luas, apakah empat serambi ini melambangkan “Jurai nan Ampek Suku” di Batipuah, ataukah melambangkan harus tahu dinan ampek. Yaitu sumber hukum Islam yang dikenal memiliki 4 pilar yaitu : Al-Qur’an, Hadist, Ijmak dan Qiyas, itulah yang kita kenal dengan syariat Islam. Ataukah  empat ilmu yang harus kita ketahui yaitu Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat. Ataukah melambangkan empat khalifah sahabat Rasulullah;Abubakar as-Shiddiq,Umar bin Khatab,.Usman bin Affan danAli bin Abu Thalib . Atau juga melambang empat tokoh pemerintahan (Basa Empat Balai) kerajaan Pagaruyuang.

Saya pun tidak dapat menyimpulkan yang jelas sebagai orang minang kita harus tahu “Dinan Ampek “ dalam berbagai aspek kehidupan. Seperti halnya empat macam Pusaka/Warisan Nenek Moyang. Keempat pusaka atau warisan tersebut adalah : Adat Minangkabau dengan segala persoalannya, soko (Gelar Kebesaran), Pusaka (Harta Benda) dan sangsoko.

Begitu juga dengan hukum nan ampek harus juga kita ketahui. Seperti kata adat : “Hukum Batando Aso, Adat Batando Duo”. Ketentuan Hukum tersebut menurut adat ada 4 (empat) macam, yaitu : Hukum Ilmu, Hukum Kurenah, Hukum Bainah dan Hukum Perdamaian.

Ada lagi nan ampek kato yang harus diketahui oleh orang minang, seperti: Kato Pusako, Kato Mufakat,Kato Dahulu Batapati, dan Kato Kamudian Kato Bacari.

Dalam pergaulan di minangkabau  ada ampek macam kato-kato, atau cara manyampaikan parundiangan. Ada namanya kato mandaki, dari bawah ke tasa, aratinya dari anak-anak ka urang tua, dari kamanakan ka mamak, nan samustinya mamakai cara-cara sopan santun.

Ada pula namanya kato malereang, nan panuah ba isi kieh jo bandiang, baisi patunjuak jo pangaja, biasanya di pakai dalam pambicaraan antara urang arih bijaksana. Ado lo tampek malatakkannyo. Indak hanyo sakadar mambaco apo nan tampak, indak mangecek apo nan takana, tapi labiah dahulu mangana-ngana apo nan ka di kecekkan. Buah tutua nyo panuah baisi hikmah pangaja. Kadang-kadang batingkah jo pituah jo papatah. luih tasamek di dalam bana, ta latak di dalam hati, sajuak di kiro-kiro.

Ada pula namanya kato mandata, kato bajawab gayuang basambuik samo gadang. Kadang baisi galuik jo garah, paningkah lamaknyo pagaulan. Indak manyingguang suok kida, panguek buhua rang mudo-mudo, abih tingkah dalam garah, kato palanta dek rang saisuk, nan elok ka pangaja, nan buruak samo di tinggaan.

Ada pula namanya kato manurun. Dari nan gadang ka nan ketek, baisi nasihat jo pitunjuak, ka jadi padoman dek nan ketek. Panuah baisi kasih jo sayang, manjadi suri jo tauladan. Jarang ba-isi kato bangih, jauh nan dari hariak jo berang, indak pulo mahantak kaki, jauh dari manampiak dado. Baitulah, kalau kato nan ampek ko lai tatap jadi paratian kito, Insya Allah di dalam hiduik di dunia nan fana ko kito ka salamaik, dan di akhirat tantu kita ka bahagia pulo.

Sedangkan ukiran pakis di bagian luar serambi melambangkan kebijaksanaan, persatuan, dan kesatuan dalam nagari.” Tutur saya

“ jangan banyak tanya lagi, ayo kita masuk dan sholat habis waktu nanti“ ajak saya kepada Rizal Novianta

Kami mendekati pintu masuk surau yang terletak di timur dan naik melalui enam buah anak tangga. Pintu masuk berdaun dua apakah melambangkan “ jalan duo nan batampuah partamo jalan manuruik Syarak kaduo jalan manuruk Adat “. Ataukah dua daun pintu ini melambangkan syariat dan hakikat. Syariat bisa diibaratkan sebagai jasmani/badan tempat ruh berada sementara hakikat ibarat ruh yang menggerakkan badan, keduanya sangat berhubungan erat dan tidak bisa dipisahkan. Badan memerlukan ruh untuk hidup sementara ruh memerlukan badan agar memiliki wadah.

Pikiran saya melalang buana terhadap pesan Imam Malik bahwa seorang mukmin sejati adalah orang yang mengamalkan syariat dan hakikat secara bersamaan tanpa meninggalkan salah satunya. Ada adagium cukup terkenal, “Hakikat tanpa syariat adalah kepalsuan, sedang syariat tanpa hakikat adalah sia-sia.” Imam Malik berkata, “Barang siapa bersyariat tanpa berhakikat, niscaya ia akan menjadi fasik. Sedang yang berhakikat tanpa bersyariat, niscaya ia akan menjadi zindik. Barangsiapa menghimpun keduanya [syariat dan hakikat], ia benar-benar telah berhakikat.”

Kemudian saya menoleh keatas atas pintu (ambang pintu) terdapat tulisan arab “Bismillahirrahmanirrahim” yang dibuat dengan teknik ukir dan di belakangnya ditutup dengan Papan.

Saya masuk kelantai pertama. Denah lantai satu berukuran 12 × 12 meter yang merupakan ruang utama untuk sholat dan juga tempat belajar agama. Di sisi barat terdapat mihrab berukuran 4 × 2,5 meter. Di ruang ini tidak terdapat mimbar. Ruang utama ini ditopang oleh 30 tiang kayu penyangga yang bertumpu di atas umpak batu sungai. Tiang-tiang tersebut berbentuk segi delapan dan tiang bagian tengah diberi ukiran di sebelah atas serta bagian bawahnya. Dinding dan lantai terbuat dari papan, dan pada sisi utara, selatan, dan timur terdapat jendela yang diberi penutup. Di bagian luarnya terdapat ukir-ukiran berpola tanaman sulur-suluran. Ukiran diletakkan di bagian atas lengkungan-lengkungan yang menutupi kolong bangunan.

Untuk memasuki lantai dua harus melalui sebuah tangga kayu. Lantai kedua berukuran 10 × 7,5 meter, lebih kecil dari lantai satu. Tiang utama (empat tonggak) di lantai dua juga diberi ukiran-ukiran yang berpola sama dengan tiang di lantai satu.

Dan kemudian naik ke lantai tiga yang berdenah bujur sangkar berukuran 3,5 × 3,5 meter. Di tengah-tengah ruangan terdapat satu tiang dengan tangga melingkar untuk naik ke menara. Sedangkan bagian luar lantai tiga membentuk empat serambi dengan atap membentuk gonjong yang memantulkan ciri-ciri khas bangunan Minang yang menghadap ke arah empat mata angin.

Dinding serambi yang menghadap luar penuh dengan ukiran yang diberi wama merah, kuning, dan hijau mengambil pola tumbuhan pakis. Di salah satu bidang hias, di setiap serambi terdapat dua ukiran bundar yang bagian tengahnya disamar oleh tumbuh-umbuhan. Ukiran tersebut mengingatkan pada motif uang Belanda dan mahkota kerajaan.

Kemudian sebelum berangkat, saya bertanya pada seorang bernama Wandi Maizardi Datuak Nan Tuo. “Surau Lubuak Bauk didirikan di atas tanah wakaf Datuk Bandaro Panjang, seorang yang berasal dari suku Jambak, Jurai Nan Ampek Suku. Dibangun oleh masyarakat Nagari Batipuah Baruh dibawah koordinasi para ninik mamak pada tahun 1896 dan dapat diselesaikan tahun 1901. Bangunan yang bercorak Koto Piliang yang tercermin pada susunan atap dan terdapatnya bangunan menara, sarat dengan perlambang dan falsafah hidup ini memiliki peran besar dalam melahirkan ulama yang selanjutnya menjadi tokoh pengembang agama Islam di Sumatera Barat.

Antara tahun 1925-1928 di surau ini pernah menjadi tempat menimba ilmu bagi Buya Hamka yang terkenal itu. Hamka belajar mengaji dan menuntut ilmu agama pada Buya Harun yang kabarnya berasal dari Pariaman. Dan, di surau ini pulalah yang menjadi inspirasi Hamka menulis novelnya yang terkenal, ‘Tenggelamnya Kapal van der Wijck,” kata Wandi Maizardi Datuak Nan Tuo.

Saiful Guci – 31 Oktober 2018.