Pulau Bangkadi Giri Sana Manumbing

CILOTEH TANPA SUARA- Pada bulan April tahun 2014, selesai Rakornas Transmigrasi  saya Saiful Guci menyempatkan diri berkunjung ke komplek Giri Sasana Menumbing, di Muntok Kabupaten Bangka Barat tempat diasingkannya Presiden Soekarno-Hatta  dan kawan-kawan pada agresi militer II Belanda(19 Desember 1948- Juli 1949 ) yang di Sumatera Barat era ini disebut dengan era Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang diketuai oleh Mr.Syafruddin Prawiranegara.

Perjalanan ke sana dari tempat saya menginap di hotel Novotel Pangkal Pinang memakan waktu ±2 jam. Setelah menempuh perjalanan dengan melewati jalan yang terjal, licin, dan berbelok-belok, dan akhirnya sampailah di pos satpam yang berjarak sekitar ± 4 km sebelum sampai di Kompleks Giri Sasana Menumbing tersebut. Dimana pada pos ini dilakukan komunikasi ke Kompleks Giri Sasana Menumbing untuk mengetahui adakah mobil yang turun, pasalnya jalan menuju puncak hanya untuk satu jalur mobil dan berbelok-belok. Ditambah lagi aspal lama yang ditumbuhi jamur membuat jalan agak sedikit licin. Hutan yang terlihat dari balik kaca mobil masih kelihatan asri. Pohon-pohon yang besar, mungkin sejak dulu belum pernah ditebang. Untuk masuk kewilayah ini, pengunjung dikenakan biaya,satu orang Rp2.000 dan untuk mobil Rp10.000. Tidak mahal untuk ukuran sekarang.

Sesampainya di Kompleks Giri Sasana Menumbing  dengan ketinggian sekitar 445 meter dari permukaan laut itu lah, Soekarno dan kawan-kawan menjalani hari-harinya semasa pengasingan. Diruang tunggu rumah kami disambut olek Pak Tejo penjaga komplek tersebut yang telah turun temurun tinggal disana.

Latar belakang sejarah diasingkannya Presiden Soekarno kesini adalah dimana pada pagi hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 Belanda menganggu ketenangan Kota Yogyakarta melakukan Agresi II dengan membom kota Yagyakarta. Kabinet bersidang pada saat pesawat-pesawat tempur Belanda  menembaki beberapa tempat  dalam kota. Dalam sidang itu diambil keputusan bahwa pemerintah akan tetap tinggal dalam kota. Alasan yang dikemukakan ialah untuk memberikan mandat kepada Syafruddin Prawiranegara yang berada di Bukittinggi untuk membentuk pemerintahan darurat. Mandat lainnya diberikan kepada dr. Sudarsono, L.N. Palar, dan A.A. Maramis dengan alamat New Delhi (India) untuk membentuk pemerintahan di luar negeri (exile government) apabila usaha Syafruddin Prawiranegara di Sumatera tidak berhasil.

Akhirnya pada tanggal 19 Desember 1948 Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditawan Belanda dan diasingkan ke Giri Sasana Menumbing, di Muntok Kabupaten Bangka Barat ini. Selain Bung Karno dan Hatta, sejumlah tokoh nasional juga diasingkan di bangunan yang terletak di pucuk Gunung Menumbing ini. Sebut, misalnya, Sekretaris Negara Pringgodigdo, Menteri Luar Negeri Agus Salim, Menteri Pengajaran Ali Sastroamidjojo, Ketua Badan KNIP Mr Assaat, Wakil Perdana Menteri Mr Moh Roem dan Kepala Staf Angkatan Udara Komodor Udara S. Suryadarma.

Saya memasuki ruangan tengah, terlihat pajangan foto Presiden Sokerno yang duduk bersama H.Agus Salim seolah olah menyapa kedatangan orang yang berkunjung ke rumah ini.

Mobl Soekarno

Di depan kamar 102 dipajang mobil Ford de luxe delapan silinder dengan pelat nomor BN 10. Mobil itu kerap dipakai Bung Karno dan Bung Hatta saat mengujungi rakyat Muntok dan Pangkalpinang maupun daerah lainnya di wilayah Bangka. Namun, mobil bercat hitam itu sudah tak bermesin lagi.

Kemudian saya memasuki ruang kamar bernomor 102. Berdasarkan informasi tertulis yang dipajang di ruang 102, Soekarno dan kawan-kawan dibawa ke tempat ini dibagi menjadi tiga kelompok atau rombongan. Rombongan pertama adalah Mohammad Hatta, Mr A.G. Pringgodigdo, Mr. Assaat, dan Komodor Udara S Suryadarma. Mereka sampai ke tempat ini tanggal 22 Desember 1948 dari Yogyakarta( persis saat dideklarasikannya PDRI di Halaban).

Rombongan kedua adalah Mr. Moh Roem dan Mr. Ali Sastroamidjojo, yang dibawa lansung oleh Belanda dari Yogyakarta ke Manumbing pada tanggal 31 Desember 1948 dan rombongan ketiga adalah Bung Karno dan Agus Salim didatangkan ke Bangka pada tanggal 6 Februari 1949 dari tempat pengasingannya di Kota Prapat, Sumatera Utara yang berdekatan dengan Danau Toba. Mereka datang dengan pesawat Catalina yang mendarat di Muara Sungai Pangkalbalam. Soekarno dan H. Agus Salim ini dipindahkan ke Bangka atas permintaan Presiden Soekarno agar mudah konsultasi dengan Mohammad  Hatta, atas permintaan Soekarno juga rombongan dibagi 2 yaitu menginap di Menumbing dan Wisma Ranggam di Kota Mentok sekitar 10 km dari Menumbing.

Di dalam kamar 102 itu, selain gambar-gambar Soekarno, gambar Hatta, tokoh-tokoh politik Indonesia karya M Isa Djamaludin, dan beberapa tulisan Koran terpajang di sejumlah dinding. Di dalam kamar itu selain di dapati meja dan kursi kerja Bung Karno, juga terdapat meja tulis dari batu pualam. Di kamar itu Bung Karno menjamu tamunya, seperti Bung Hata diasingkan di gedung/vila yang berbeda. Memasuki kamar ini, para pengunjung harus membuka sepatu maupun sandal. Larangan yang ditulis dengan spidol kecil itu sudah buram dengan tipe penulisan yang terpisah-pisah.

Sebelah kanan pintu masuk terdapat tulisan Bung Hatta tertanggal 17 Agustus 1951, yang ditulis di plat besi kuningan dan bertuliskan, “Kenang-kenangan Menumbing. Di bawah sinar gemerlap, terang tjuatja Bangka, Djokdjakarta, Djakarta. Hidup Pantjasila, Bhineka Tunggal Ika.”

Sementara di kamar 101 terdapat ada dua buah bed kayu bersprei putih. Tak jelas bed/ranjang mana yang dijadikan Bung Karno untuk merebahkan badannya. Di kamar itu pun terdapat meja tulis dan sebuah serambi untuk duduk-duduk melihat pemandangan di luar dan ada juga lemari tiga pintu tempat Bung Karno untuk menyimpan pakaian.

Kemudian beranjak, keruangan tengah terlihat gambar Soekarno gagah sedang berpidato, saya menirukan gaya pidato Soekerno yang ada dalam foto sambil gemakan kata-kata Soekarno :

“ beri aku 1.000 orang tua, nisacaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”

“ Merdeka hanyalah sebuah jembatan, walaupun jembatan emas…, diseberang jembatan itu jalan pecah dua: satu ke dunia sama rasa…, satu kedunia sama ratap sama tangis !”

Kemudian saya keraskan suara saya, sambil berteriak “ Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta, apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu !. Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, daripada makan bestik tapi budak.” ( Bungkarno, Pidato HUT Proklamasi ).

“Apakah kita mau Indonesia merdeka, yang kaum Kapitalnya merajalela ataukah yang semua rakyatnya sejahtera, yang semua cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang dan pangan?” ( Ir.Soekarno Pidato lahirnya Pancasila 1 Juni 1945).

Dalam ruangan ini terlihat juga foto H.Agus Salim yang disandingkan dengan foto Muhammad Hatta. Dan sebelah kanannya terpampang foto Pringgodigdo, Ali Sastroamidjojo, Mr Assaat, Mr. Mohammad Roem dan S. Suryadarma.

Kemudian saya melanjutkan naik kepuncak gedung, dan terlihat pemandangan yang sangat indah , pemandangan pantai dan bahkan pantai Sumatera di Palembang jelas terlihat.

Menurut Pak Tejo penjaga gedung “Tidak ada data pasti kapan Kompleks Giri Sasana Menumbing ini dibangun. Giri Sasana Menumbing ini dibangun oleh para pekerja rodi masa penjajahan Belanda pada tahun 1927. Sementara dari sumber lain menyebutkan komplek itu dibangun pada tahun 1890 dan sumber lainnya pada tahun 1932. Bangunan ini sempat digunakan oleh Banka Tin Winning, cikal bakal PT Timah. Arsitektur bangunan pun kelihatan apik. Dinding dibuat dengan batu granit.

Di atas lahan seluas dua hektar itu terdapat tiga bangunan, yakni bangunan utama yang terdiri 6 kamar dan dua paviliun terdiri 6 kamar dan 7 kamar. Tahun 1996, Pemerintah Kabupaten Bangka, saat itu masih tergabung dengan Provinsi Sumatera Selatan, menyewakan bangunan bersejarah tersebut kepada PT Carmeta selama 15 tahun untuk dikelola sebagai hotel dan restoran. Giri Sasana Menumbing pun berubah nama menjadi Hotel Jati Menumbing. Ada sekitar 30 kamar di sana.

Soal arsip-arsip peninggalan Soekarno pun tak bisa ditemukan di Sasana Menumbing. Tak tahu ke mana jejaknya. Hanya kita dapat mengenang sejarah bahwa ditempat inilah, disusun strategi yang akan dibawa oleh  Mohammad Roem untuk melaksanakan perundingan dengan pihak Belanda yang akhirnya kita kenal dengan “perjanjian Roem-Royen”.

Perjanjian Roem-Roijen (juga disebut Perjanjian Roem-Van Roijen) adalah sebuah perjanjian antara Indonesia dengan Belanda yang dimulai pada tanggal 14 April 1949 dan akhirnya ditandatangani pada tanggal 7 Mei 1949 di Hotel Des Indes, Jakarta. Namanya diambil dari kedua pemimpin delegasi, Mohammad Roem dan Herman van Roijen. Maksud pertemuan ini adalah untuk menyelesaikan beberapa masalah mengenai kemerdekaan Indonesia sebelum Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada tahun yang sama. Perjanjian ini sangat alot sehingga memerlukan kehadiran Bung Hatta dari pengasingan di Bangka, juga Sri Sultan Hamengkubuwono IX dari Yogyakarta untuk mempertegas sikap Sri Sultan HB IX terhadap Pemerintahan Republik Indonesia di Yogyakarta, dimana Sultan Hamengku Buwono IX mengatakan “Jogjakarta is de Republiek Indonesie” (Yogyakarta adalah Republik Indonesia).

Tidak cuma cerita perjuangan Soekarno-Hatta saat pengasingan yang didapat. Cerita-cerita mistis pun kami peroleh dari Pak Aman Sopir yang membawa kami, dimana di gedung ini disimpan oleh Pak Tejo uang kertas Rp.100,- yang dapat melengkung sendiri kalau ditaruh di telapak tangan, dan kalau orang jahat atau punya ilmu taruh uang itu di telapak tanggannya, uang itu akan jatuh melulu. Dan apabila orang yang mempunyai aura jelek biasanya Pak Tejo tidak mau memperlihatkanya. Tidak hanya itu orang yang punya niatan jelek pun tidak akan bisa masuk ke kamarnya Bung Karno, seperti ada yang menghalanginya dan apalagi menfoto ruangan yang ada di dalam rumah tersebut ”  ujar Pak Aman

Pada awalnya saya tidak percaya hal ini dan hanya “positive thinking saja. Setelah saya menyapa Pak Tejo dan mohon izin karena telah jauh datang dari Sumatera Barat ingin juga melihat uang kertas kuno ini dan mencobanya untuk diletakkan di atas telapak tangan saya. Ternyata permintaa dari saya tersebut di kabulkan oleh Pak Tejo. Dikatakanya “ bahwa uang kertas kuno Rp. 100,-  bergambar Soekarno tersebut  bahannya bagus dan berkualitas. Kertasnya dari Perancis dan Belanda. Kalau dilihat dari sinar ultra violet, terdapat lafadz Allah di dalam uangnya, apabila uang kertas ini diletakkan di atas telapak tangan dan mengulung sendiri pertanda orang tersebut orang baik dan jujur ” ungkap Pak Tejo. Tangan saya gemetar dan uang kertas tersebut bergulung ditelapak tangan saya sendirinya.

PESAN MORAL :

Mari kita hargai jasa para pahlawan bangsa ini. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.

“ Innallahu la yu ghoiyiri ma bikaumin hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim”.” Tuhan tidak merubah nasibnya sesuatu bangsa sebelum bangsa itu meubah nasibnya”

Saiful Guci, Selasa 24 Desember 2019)

 

 

 

 

 

SHARE