BERCERITA DI ATAS BECAK TENTANG “TIGA ORANG MINANG PENYEBAR AGAMA ISLAM DI MAKASAR”

0
49

Ciloteh Tanpa Suara-Diwaktu berkunjung ke Makasar, teringat bahwa Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro berkubur di Makasar yang tidak jauh dari hotel tempat saya menginap, sebagai pencinta sejarah ada keinginan untuk ziarah kesana. Saya memanggil becak yang lewat.

Mengawali komunikasi dengan si tukang becak, saya menanyakan nama :” kalau boleh tanya, nama bapak siapa ?”. Tanya saya.

Sambil menyeka peluh dimukanya ,dia menjawab “Nama saya yang diberikan oleh orang tua adalah Hamka, terinspirasi dengan nama besar Buya Hamka yang keinginan orangtua  agar saya menjadi seorang ulama, namun kehendak Allah lain saya hanya sebagai tukang becak, walaupun sesama tukang becak saya di panggil ustad karena sering mengajak teman-teman untuk selalu bertindak jujur, ikhlas dan beribadah sholat “ jawab Hamka.

“apakah bapak Hamka mengenal, bahwa Buya Hamka itu adalah orang Minangkabau tempat saya berasal “ jawab saya.

“ wah, bapak orang Minangkabau yaa,  kebetulan sekali , saya orang Tallo, dari cerita orang tua-tua kami dulu bahwa yang mengembangkan agama Islam di Makasar ini adalah orang dari Minangkabau “ jawab Hamka.

“ ohya ya pak, kalau begitu sambil kita menuju ke tempat pemakaman Pangeran Diponegoro, tolong ceritakan orang minangkabau penyebar agama Islam di Sulawesi ini pak” jawab saya.

Sambil mengayuh becaknya Hamka mulai bercerita “ orang Minangkabau bernama Abdul Makmur Khatib Tunggal tiba di pelabuhan Tallo pada tahun 1605. Kedatangan Abdul Makmur Khatib Tungga ini disambut oleh Raja Tallo, I Malingkang Daeng Manyonri Karaeng Katangka yang segera datang menemuinya. Dalam perjalanan menuju pelabuhan, Karaeng Katangka berjumpa dengan seorang tua yang menanyakan tujuan perjalanannya. Orang tua tersebut kemudian menuliskan sesuatu di ibu jari Raja Tallo tersebut. Tulisan tersebut adalah surah Al Fatihah. Abdul Makmur Khatib Tungga yang mendengar pertemuan itu kemudian berkata bahwa orang tua tersebut adalah Nabi Muhammad.

Pertemuan Raja Tallo dengan Nabi Muhammad itu dalam bahasa Makassar tersebut sebagai  “Makkasara’ mi Nabbi Muhammad ri buttayya Tallo” yang berarti Nabi Muhammad telah menampakkan diri di Tallo. Kata Makkasara’ diartikan oleh sebagian orang sebagai asal mula nama kota Makassar.

Proses Islamisasi kerajaan Gowa-Tallo secara resmi terjadi pada 1607 atau dua tahun setelah kedatangan Abdul Makmur Khatib Tungga. Setelah Raja Tallo memeluk Islam, menyusul Raja Gowa XIV Sultan Alauddin yang mengucapkan dua kalimat syahadat. Sultan Alauddin kemudian mengeluarkan dekrit yang menyebutkan bahwa kerajaan Gowa adalah kerajaan Islam dan pusat Islamisasi. Dekrit itu dikeluarkan setelah shalat Jumat berjamaah yang diikuti oleh segenap masyarakat lapisan masyarakat Gowa – Tallo pada tanggal 9 November 1607. Hal ini menandakan bahwa Islam tidak hanya diterima di kalangan istana tapi juga oleh lapisan masyarakat umum.

Sultan Alauddin kemudian mengirimkan utusan ke beberapa kerajaan tetangga untuk mengajak mereka memeluk Islam. Utusan itu membawa surat berisi argumen yang melatarbelakangi ajakan itu. Selain itu, utusan – utusan membawa hadiah sebagai bukti keinginan menyebarkan Islam secara damai. Beberapa kerajaan tetangga menerima ajakan untuk memeluk Islam secara damai antara lain; Sawitto, Balanipa di Mandar, Bantaeng dan Selayar.

Disamping Abdul Makmur Khatib Tunggal yang orang Makasar memberinya gelar Dato ri Bandang , ada dua orang lagi yakni ; Sulaiman Khatib Sulung atau Dato Patimang, dan Syekh Nurdin Ariyani dikenal dengan nama Datuk RiTiro. Mereka bertiga menyebarkan agama Islam di dataran Sulawesi – Selatan.

Ketiga Datuk yang menyebarkan Islam di Sulawesi Selatan ini hingga menutup usia dan dimakamkan di wilayah tugas mereka masing – masing. Datuk ri Bandang wafat dan dimakamkan di wilayah Tallo. Makam Datuk ri Bandang kini berada di Jl. Sinassara, Tallo, Makassar. Setelah mengislamkan Datu Luwu dan keluarga istana,  Khatib Sulung kemudian meneruskan syiar Islam ke rakyat Luwu, Suppa, Soppeng, Wajo dan beberapa kerajaan yang belum memeluk Islam. Khatib Sulung wafat dan dimakamkan di Desa Patimang, Luwu, karena itulah ia bergelar Datu Patimang.

Sedangkan Khatib Bungsu melakukan syiar Islam di wilayah selatan, yaitu Tiro, Bulukumba, Bantaeng dan Tanete. Datuk Ri Tiro wafat dan dimakamkan di Tiro atau sekarang Bonto Tiro. Makam DatuK Ri Tiro bisa dijumpai di Kelurahan Eka Tiro Kecamatan Bonto Tiro, Bulukumba. Untuk menghormati Datuk Ri Tiro, Pemerintah Kabupaten Bulukumba kemudian menamai Islamic Center yang baru dibangun dengan nama Islamic Center Datu Tiro. “ terang Hamka.

“terimakasih pak Hamka yang telah menjelaskan sejarah orang Minangkabau yang mengembang agama Islam di tanah Sulawesi Selatan ini.” Ujar saya.

Pikiran saya kembali menerawang terhadap catatan sejarah di Minangkabau dimana Sultan Alif Khalifatullah yang naik tahta pada tahun 1560 M tercatat sebagai Raja Pagaruyuang pemeluk agama Islam pertama. Dan gerakan perkembangan Islam di Minangkabau yang dikenal “syarak mandaki“  dari Ulakan Pariaman sejak tahun 1680 M yang dibawa oleh syekh Burhanuddin.

“ pak kita sudah sampai di makam Pangeran Diponegoro, dan saya mau pergi sholat dulu di Mushala di tempat ini“ ujar Hamka.

BACA JUGA : ORANG MINANGKABAU PENYEBAR AGAMA ISLAM DI PALU DAN DONGGALA http://cilotehtanpasuara.com/blog/orang-minangkabau-penyebar-agama-islam-di-palu-dan-donggala/

*****

Dalam perjalanan pulang ke penginapan, saya bertanya sama bapak Hamka “ Pak Hamka, karena telah lama hidup apa modal dasar bapak sehingga dapat bertahan sampai sekarang ?” Tanya saya.

“ wah rakyat kecilnya ini, modalnya hanya tiga pak, pertama jujur, kedua ikhlas dan ketiga ibadah. Ibadah adalah modal terbesar karena kita tau bahwasanya hidup didunia ini hanya sementara atau lebih kurang sampai umur 60 sd 70 tahun, tak lebih dari 1,5 jam hidup di akhirat, mungkin kami hidup susah di dunia hanya 1,5 jam dari waktu di akhirat “ ujar Hamka spontan.

“ wah bagaimana hitungannya pak ?” Tanya saya.

“ dari teman-teman yang saya ikuti pengajiannya dimana : 1 hari di akhirat  sama dengan 1.000 tahun di dunia, 1 tahun di dunia sama dengan 365 hari, dan 1 hari di akhirat = 365 x 1000  sama dengan 365.000 hari

Berarti satu hari di akhirat adalah 365 ribu hari di dunia.

Coba kita misalkan, jika 1 hari di akhirat juga ada 24 jam seperti di dunia. 1 hari di akhirat sama dengan 1.000 tahun di dunia, 1 hari di dunia sama dengan 24 jam dan 1 jam di akhirat = 1000/24 = 41,7 tahun.
Maka setiap jam di akhirat adalah sama dengan 41,7 tahun di dunia. Usia harapan hidup umat Nabi Muhammad adalah kurang lebih 60 tahun. maka jika kita bandingkan waktu hidup di dunia dengan kehidupan akhirat. 1 jam di akhirat = 41,7 tahun 60 tahun/41,7 tahun = 1,4 jam. Terang Hamka.

“ kenapa bapak mengatakan kunci hidup itu hanya tiga, yakni : jujur, ikhlas dan ibadah ?” Tanya saya kembali.

“hanya itu yang dipunyai rakyat kecil, jujur berbuat dan berkata, ikhlas dalam bekerja dan menerima reski dari Allah, dan selalu mengerjakan ibadah agar dapat memperoleh sorga yang dijanjikan Allah dimana hidup kekal selamanya disana. Rakyat kecil seperti saya tak akan bermimpi akan memperoleh pendidikan yang tinggi dan modal kerja seperti uang untuk hidup. Nah inilah pokok dakwah saya kepada sesama tukang becak: jujur, ikhlas dan beribadah. “ jawab Hamka.

“ kalau begini pemahaman banyak orang tentu Negara Indonesia ini aman ya pak Hamka” ujar saya.

“ Negara kita kacau begini karena tidak ada lagi pedagang, orang berilmu, pejabat dan pemimpin yang jujur dan ikhlas dan menyandarkan keputusanya kepada Alquran dan hadis” ujar Hamka.

Saya hanya tercenung mendengarkan cilotehnya, bahwa jujur dan ikhlas modal dalam kehidupan.

Saiful Guci, ditulis ulang Nopember 2018