Ciloteh Tanpa Suara- “Hari Sabtu tanggal 1 Desember 2018. Kota Padang Panjang berulang tahun ke- 228, karena diperingati jatuh pada setiap 1 Desembar dan saya ada mendengar dari teman-teman, bahwa Kota Padang Panjang pernah bergabung dengan Padang Pariaman , apakah benar itu Saiful Guci ?” Tanya teman saya Desra Sutan Rumah Panjang.

“ Dalam cacatan sejarah memang pernah ada, yaitu terjadi pada tanggal 1 Desember 1914, setelah perobahan pembagian Administrasi Sumatera Barat, bulan Nopember 1914 dan dihapusnya kelarasan dan pengabungan ini berlangsung sampai kemerdekaan.

Sejarahnya begini, setelah selesai Belanda menumpas pemberontakan pajak 1908 yang banyak mengorkan rakyat dan Tuanku Lareh yang terlibat, maka Belanda melakukan Reorganisasi cukup besar dijalankan pada tahun 1913 (lembaran Negara 321). Lareh dihapus kedudukan Residen Padang Darek dihapus sejak 1 Mei 1914 (Lembaran Negara No.303). Jabatan Gubernur dihapus diganti dengan Residen sejak 12 Agustus 1915 (Lembaran Negara 492) “ Jawab saya.

“Apa nama wilayahnya waktu itu?” Tanya Desra Sutan Rumah Panjang kembali.

“ Nama administrasi pemerintahannya sejak 1 Desember 1914 adalah Afdeling Batipuah dan Pariaman dengan ibu kotanya Padang Panjang. Hal ini karena di dukung dengan lancarnya moda transportasi Kereta Api ke Padang Pariaman dan terbukanya jalan darat via Lembah Anai. Adapun pembagian wilayahnya adalah:

  1. Distrik Padang Panjang demang Sutan Abu Bakar Sutan Pangeran, yang terdiri dari : (a).Onderdistrik VI Koto termasuk Padang Panjang langsung dibawah Demang Padang Panjang.(b).Onderdistrik IV Koto & Batipuah, Asisiten Demang Nurdin Datuak Tongga di Batipuah Baruah.(c).Onderdistrik Sumpur (dengan Bungo Tanjuang), Asisten Deman Sutan Muhammad Arif.
  2. Distrik Pariaman demang Agus Abdullah Wongsosentono (Keturunan Jawa), yang terdiri dari: (a). Onderdistrik Pariaman (dengan Mangung) langsung dibawah Demang Pariaman. (b).Onderdistrik VII Koto, Asisten Demang Marah Buyung Gadang Marah Marajo Lelo di Sampan.
  3. Distrik Sungai Limau demang Durani Datuk Rangkayo Bongsu ), yang terdiri dari: (a).Onderdistrik XII Koto langsung dibawah Demang Sungai Limau. (b). Onderdistrik Pilubang (dengan V Koto), Asisten Demang Saleh Rajo di Rajo.
  4. Distri Lubuak Aluang demang Sutan Abdul Majid Sutan Rajo Gadam, yang terdiri dari: (a). Onderdistrik Lubuk Aluang (dengan Sintuak, Toboh Gadang dan Punguang Kasiak) dibawah Demang Lubuak Aluang. (b).Onderdistrik Kayu Tanam (dengan Anduriang, Sipisang, Kapalo Hilalang, Sicincin, Guguak, dan VI-Lingkuang)< asisten Demang Tahir Datuk Panghulu Basa di Pauah Kamba. “ terang saya.

“Sangat menarik cerita sejarah ini bila kita simak, bagaima benar cerita sejarah Kota Padang Panjang yang berulang tahun ke 228 hari ini , ceritakan lah kepada saya” ujar Desra Sutan Rumah Panjang

Saya mulai bercerita, sambil membuka cacatan ciloteh tanpa suara yang pernah saya tulis.

“Padang Panjang adalah sebuah Kota kecil di kaki gunung Singgalang di Barat, Marapi di Timurnya, ada Tandikek agak ke barat daya. Kota dengan curah  hujan yang tinggi  sehingga dinamakan Kota Hujan. “We wonen hier in een regennest, Meneer!” (Kami tinggal di sini di sarang hujan,Pak !) kata seorang pelancong Belanda pada akhir abad ke-19 yang pernah berkunjung ke kota ini.

Kota Padangpanjang tumbuh seiring dengan dipindahkannya pasar di Pakan Jumat Nan Usang di Panyalaian ke tengah padang yang panjang atau ke Pasar Usang semenjak tahun 1818 yang juga diramaikan setiap hari Jumat. Pasar ini dikenal dengan nama Pakan Jumat Padangpanjang. Pada perkembangan selanjutnya karena penduduk Padangpanjang bertambah ramai juga dan pasar Padangpanjang telah banyak didatangi oleh pedagang-pedagang dari luar, maka kegiatan pasar diadakan dua kali dalam satu minggu yakni hari Jumat dan Senin.

Pada tanggal 1 Desember 1888, berdasarkan Surat Gubernur Hindia Belanda Nomor 1 (Stbl. No. 181/1888), Padang Panjang ditetapkan sebagai ibukota Luhak atau Afdeeling Batipuh en X-Koto (Padangpanjang), dengan asisten residennya yang pertama, H. Prins. Meskipun demikian, jauh sebelum ditetapkan sebagai ibukota Afdeeling Batipuh en X-Koto, di Padangpanjang sudah ada pemukiman masyarakat yang berciri perkotaan yang ditandai dengan ditemukannya fasilitas air minum untuk penduduk Kota Padangpanjang yang berangka tahun 1790.

Atas dasar penemuan fasilitas air minum ini, tahun 1790 dianggap sebagai tahun lahirnya Kota Padang Panjang karena sejauh ini angka tahun tersebutlah yang paling tua yang sudah ditemukan. Adapun tanggal 1 Desember yang ditetapkan sebagai hari ulangtahun Kota Padangpanjang diambil dari tanggal diresmikannya Padangpanjang sebagai ibukota Afdeeling Batipuh en X-Koto oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda pada tanggal 1 Desember 1888. Penggabungan kedua peristiwa bersejarah tersebut kemudian melahirkan kesepakatan yang menetapkan hari lahir Kota Padangpanjang pada tanggal 1 Desember 1790.

Seiring dengan itu berkembanglah pemukiman-pemukiman baru terutama daerah-daerah di sekitar pusat pasar baru tersebut seperti Balai-balai, Bancahlaweh, Kampungmanggis, Tanah-hitam, dan lain-lain. Pola pemukiman ini juga disesuaikan dengan daerah asal mereka masing-masing seperti Kampung Pariaman, Kampung Sungaipuar, dan Kampung Kumango. Hal ini dapat pula dilihat dari nama-nama surau yang ada di Padangpanjang seperti Surau Pariaman, Surau Kumango, dan Surau Sungaipuar. Untuk penduduk yang berasal dari luar Minangkabau juga dapat dilihat dengan adanya Kampung Jawa, Kampung Nias, Kampung Cina, dan Kampung Keling.

Berdasarkan Lembaran Negara No.418 Tahun 1905 Padang Panjang adalah ibukota dari Kabupaten Batipuah X Koto dengan 7 Kelarasan : Laras VI Koto, Laras IV Koto, Lareh Batipuah di Ateh, Lareh Batipuah di Bawah, Lareh Bungo Tanjuang, Lareh Sumpur dan Lareh Simawang.

Asisten Residen : FWL de Nijs

Ketua Landraad: Mr.PN Van der Stok

Jaksa : Rasyad Marajo Sutan

Ajung Jaksa : Manan Sutan Diatas

Penghulu Kepala : Husin Tuanku Kari

Kepala Laras VI Koto : Umin Datuk Rajo Katib

Kepala Laras IV Koto : Masana datuak Rajo Panghulu

Kepala Laras Batipuah Diateh, Batipuah Bawah dan Bungo Tanjuang di rangkap oleh Tahir Sutan Jamaris

Kepala Laras Sumpur : Parentah Datuak Rajo Mangkuto

Pasar Padang Panjang yang terletak di persimpangan jalan Bukittinggi, Batusangkar, Solok, dan Padang dalam perkembangannya tidak dapat lagi menampung segala kegiatan perdagangan. Oleh karena itu timbullah keinginan pemerintah daerah untuk memindahkan kegiatan pasar itu ke arah timur, yaitu dekat Balai-balai. Keinginan itu dapat disetujui oleh Laras nan IV dan VI dan penghulu kepala se Batipuh X-Koto untuk membuat pasar serikat. Realisasi pemindahan pasar tersebut baru dapat dilaksanakan pada tahun 1906

Padang Panjang Setelah Proklamasi

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, untuk menjalankan roda pemerintahan, Padang Panjang dijadikan suatu kewedanaan yang wilayahnya meliputi Padang Panjang, Batipuh dan X Koto yang berkedudukan di Padang Panjang.

Berdasarkan UU No. 8 tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kota Kecil di lingkungan Propinsi Sumatera Tengah, maka lahir secara resmi Kota Kecil Padang Panjang.

Kota Padang Panjang sebagai pemerintahan daerah terbentuk pada tanggal 23 Maret 1956. Selanjutnya, barulah setahun kemudian, berdasarkan Undang-undang nomor 1 tahun 1957, status kota ini sejajar dengan daerah kabupaten dan kota lainnya di Indonesia.

Pada  tahun  1957 dilantik Walikota pertama dan sebagai Daerah Otonom sesuai Peraturan Daerah Nomor 34/K/DPRD-1957 dibentuk 4 (empat) Resort, dan  dimana masing-masing Resort dengan Keputusan DPRD Peralihan Kota Praja Nomor 12/K/DPRD-PP/57 membawahi 4 jorong sebagai berikut :

  1. Resort Gunung membawahi Jorong : Ganting, Sigando, Ekor Lubuk dan Ngalau
  2. Resort Lareh Nan Panjang membawahi Jorong : Balai-balai, Guguk Malintang, Koto Panjang dan Koto Katiak
  3. Resort Pasar membawahi Jorong : Pasar Baru, Silaing Atas, Tanah Hitam dan Balai-Balai
  4. Resort Bukit Surungan membawahi Jorong : Silaing Bawah, Pasar Usang, Kampung Manggis dan Bukit Surungan

Kemudian berdasarkan Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965 istilah kota praja diganti menjadi kotamadya dan berdasarkan peraturan menteri nomor 44 tahun 1980 dan peraturan pemerintah nomor 16 tahun 1982 tentang susunan dan tata kerja pemerintahan kelurahan, maka resort diganti menjadi kecamatan dan jorong diganti menjadi kelurahan dan berdasarkan peraturan pemerintah nomor 13 tahun 1982 Kota Padang Panjang dibagi atas dua kecamatan yakni Kecamatan Padang Panjang Barat dan Kecamatan Padang Panjang Timur, dengan secara keseluruhan 16 kelurahan.

Kemudian dalam rangka Pembinaan Kehidupan Nagari sebagai kesatuan masyarakat Hukum Adat, maka berdasarkan Mubes. LKAAM tahun 1966 di Kota Padang Panjang terdapat 3 KAN, yaitu:  KAN.Gunung, KAN. Bukit Surungan dan  KAN. Lareh Nan Panjang. Sedangkan Resort Pasar, karena sebagian besar penduduknya pendatang tidak dibentuk KAN.

Penetapan Hari Jadi Kota Padang Panjang

Hari Jadi Kota Padangpanjang yang selama ini diperingati tanggal 23 Maret setiap tahunnya, sesuai dengan tanggal pengundangan dari Undang-undang Nomor 8 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonom Kota Kecil dalam Lingkungan Daerah Propinsi Sumatera Tengah, ternyata masih banyak masyarakat / warga Kota Padang Panjang yang belum dapat menerima atau mengakui Hari Jadi dimaksud. Hal ini disebabkan karena dalam sejarah perkembangannya, Padang Panjang sebetulnya sudah ada sejak beberapa ratus tahun yang lalu.

Terhadap penetapan Hari Jadi Kota Padangpanjang tersebut di atas, masyarakat / warga Kota Padang Panjang mengusulkan kepada Pemerintah Kota Padangpanjang untuk meninjau kembali melalui suatu kajian sejarah yang melibatkan Tokoh Masyarakat, Sejarawan atau kalangan Akademisi serta Stake Holders lainnya di lingkungan Pemerintah Kota Padangpanjang. Atas usul masyarakat inilah Pemerintah Kota Padang Panjang pada tahun 2002 yang lalu membentuk Badan Kajian Sejarah dan Perjuangan Bangsa (BKSPB) Kota Padangpanjang yang ditetapkan dengan Keputusan Walikota Padangpanjang Nomor 227 Tahun 2002 yang antara lain bertugas meninjau dan mengkaji ulang Hari Jadi Kota Padang Panjang berdasarkan sejarah atau historis dan perkembangan yang telah ada beberapa ratus tahun yang lalu.

Hasil kegiatan BKSPB Kota Padang Panjang terhadap Hari Jadi Kota Padang Panjang dimaksud sesuai dengan tahapannya telah disempurnakan melalui Kegiatan Seminar Sehari yang diadakan pada tanggal 12 Maret 2003. Pada saat itu disepakati bahwa penetapan Hari Jadi Kota Padang Panjang adalah tanggal 1 Desember 1790, dan untuk pertama kalinya diperingati pada tanggal 1 Desember 2004 dan dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya. Untuk lebih menguatkan legalitas atau dasar hukum dari penetapan Hari Jadi Kota Padang Panjang tanggal 1 Desember 1790 ditetapkan dengan suatu Peraturan Daerah yaitu Peraturan Daerah Kota Padang Panjang Nomor 17 Tahun 2004 tentang Penetapan Hari Jadi Kota Padang Panjang.

Setelah berusia 228 tahun pada tahun 2018 ini, peran Padang Panjang sebagai kota perdagangan dan pusat pendidikan Islam di daerah pedalaman Minangkabau mulai mengalami pergeseran. Pasar Padang Panjang meskipun masih eksis dan tetap ramai, terutama pada hari Senin dan Jumat, namun perannya sudah jauh berkurang dan tertinggal jauh dibanding pasar-pasar yang ada di Kota Bukittinggi. Saat ini masyarakat yang masih setia berbelanja di pasar Padang Panjang di samping warga Kota Padang Panjang sendiri, terutama adalah masyarakat dari Kecamatan Batipuah, sebagian Pariangan, sebagian Rambatan, dan sebagian X-Koto, serta masyarakat dari kawasan Kayutanam dan Sicincin di Kabupaten Padang Pariaman. Sebagian masyarakat Kecamatan X-Koto, terutama yang bertempat tinggal di Kotobaru, Aie-Angek, Pandaisikek, dan sebagian Panyalaian saat ini lebih senang berbelanja ke Bukittinggi daripada ke Padang Panjang dengan alasan pilihan barang lebih banyak dan harga-harganya yang juga lebih murah.

Di samping berperan sebagai kota perdagangan, peran penting Padang Panjang di awal pertumbuhannya terutama adalah perannya sebagai pusat pendidikan Islam di Minangkabau. Perguruan-perguruan Islam yang ada di Padang Panjang seperti Sumatera Thawalib dan Diniyah Puteri merupakan lembaga pendidikan yang menjadi barometer bagi lembaga pendidikan sejenis di tanah air. Pelajar di kedua lembaga pendidikan tersebut tidak hanya dari Padang Panjang dan kota-kota di Minangkabau saja, tetapi juga berasal dari negeri-negeri yang jauh seperti Yogyakarta, Lombok, Ternate, Halmahera, Sulawesi, dan Malaya.

Semoga Kota Padang Panjang semakin maju dibawah pimpinan Walikota dan Wakil Walikota Padang Panjang, periode 2018-2023 Fadly Amran dan Asrul yang dilantik Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, Selasa (9 Oktober 2018) di Aula Kantor Gubernur.

SELAMAT ULANG TAHUN KE 228 KOTA PADANG PANJANG

Saiful Guci 1 Desember 2018