Carito Luhak Nan Bungsu – “ Benarkan Kabupaten Limapuluh Kota telah berusia 180 tahun pada tanggal 13 April 2021.?” Sebuah pertanyaan dari salah seoran guru sejarah Lima Puluh Kota saat acara peningkatan wawasan sejarah Limapuluh Kota.

saya memulai menjawab dengan sebuah anekdot, :” Disebuah pertemuan di Jakarta  seorang bupati dengan bangga memperkenalkan diri bahwa dia adalah Bupati di Limapuluh Kota, peserta dalam pertemuan kagum ada seorang bupati di pulau Sumatera mampu menguasai 50 Kota, namun para peserta bertambah kagum  pada saat seorang camat memperkenalkan diri bahwa dia adalah Camat yang menguasai Pulau Seribu

Disinilah persoalannya, dimana orang sering salah penafsiran terhadap kata ”kota” pada nama Kabupaten Lima Puluh Kota yang berbeda penafsiran dengan bahasa Indonesia apabila dibandingkan dengan yang dimaksud oleh bahasa daerah.

Siapa yang tidak kenal dengan “kota”? Kata ini sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkungan akademis, pemerintahan, maupun kehidupan bermasyarakat. Kota juga telah menjadi bahan kajian di berbagai bidang ilmu. Bidang ilmu seperti ekonomi, sosiologi, sejarah, hukum, dan sebagainya, juga telah membahas kota sebagai objek kajian.

Sementara di Minangkabau Sumatera Barat arti kata ‘koto’  berasal dari bahasa sansekerta,  yaitu âkutaâ yang berarti suatu tempat yang diperkuat untuk menahan serangan musuh. Dalam adat asal nagari menurut pertumbuhannya dikatakan : Taratak mulo dibuek,Sudah taratak manjadi dusun,Sudah dusun manjadi koto,Sudah koto jadi nagari. (taratak mula dibuat, sudah taratak menjadi dusun, sudah dusun menjadi koto, sudah koto menjadi nagari)

Sejarah Hari Jadi Lima Puluh Kota

Penelusuran hari jadi telah dimulai pada tahun 1998 dengan melakukan berbagai Seminar, tetapi tidak memberikan dan menemukan tanggal yang pasti karena rujukan diwaktu seminar tidak jelas, banyak yang mengusulkan pada waktu itu penelusuran hari jadi sejak kedatangan nenek moyang orang Limapuluh Kota yang pertama kali di padang siantah, kalau tanggal ini dijadikan tentu tidak akan bertemu-temu.

Pada hari Jumat tangal 6 Mei 2008, penulis Saiful Guci mendapat kehormatan di undang oleh Zadri Hamzah Sekretaris Daerah Lima Puluh Kota, ikut serta dalam pertemuan terbatas untuk merumuskan hari jadi Kabupaten Lima Puluh Kota. Dalam pertemuan tersebut disimpulkan bahwa penulis diserahi tugas untuk mencari referensi dasar penentuan hari jadi Kabupaten Lima Puluh Kota yang harus berdasarkan historis, yuridis dan sosiologis. Untuk itu diharapkan penelusuran hari jadi  berpedoman pada sejarah dan legalitas yang dapat dipertanggung jawabkan dan dapat ditemukan suatu tanggal yang dapat kita peringati sebagai hari jadi Kabupaten Lima Puluh Kota”

Menelusuri hari jadi Kabupaten Lima Puluh Kota tidaklah mudah. Penulis menemukan banyak kesulitan-kesulitan yang ditemui, terutama yang menyangkut dengan bahan referensi untuk dijadikan hari jadi Kabupaten Lima Puluh Kota itu. Nama Lima Puluh Kota, telah terkenal dari tiga zaman, yaitu : zaman dahulukala, zaman penjajahan dan zaman kemerdekaan. Dari tiga zaman ini darimana titik tolak kita menelusuri hari jadi Lima Puluh Kota.

Nama-nama berdasarkan Tambo jauh sebelum bangsa Belanda masuk ke Luhak Limopuluah, dimana tertulis nama “Luhak Limopuluah, Luhak Nan Bungsu, Luhak Limopuluah Koto ”, selesainya Perang Paderi dan Belanda menguasai Sumatera Barat dikenal dengan sebutan “Afdeelingen Lima Puluh Kota”, dimulai sejak tanggal 13 April 1841 berdasarkan Besluit No 1 tentang reorganisasi pemerintahan Sumatra’s Westkust .

Pada zaman awal kemerdekan dikenal kembali dengan sebutan “Luhak Limopuluah“ berdasarkan Surat Keputusan (besluit) tanggal 8 Oktober 1945 Nomor R.I./I  terhadap pembentukan pemerintahan secara resmi di Sumatera Barat.

Pada tanggal 30 Nopember 1948 berdasarkan usul Panitia Desentralisasi Sumatera Tengah , dikeluarkanlah oleh Komisariat Pemerintah Pusat  (Kompempus) di Sumatera satu peraturan NO 81/Kom/U. Selanjutnya disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Sumatera Tengah (DPRST) terhadap nama Kabupaten yang ada di Lingkungan Sumatera Tengah merujuk terhadap nama alam, maka Lima Puluh Kota diusulkan namanya menjadi Kabupaten Sinamar yang pelaksanaanya direncanakan dimulai pada tanggal 1 Januari 1949.

Tetapi udara politik antara Republik Indonesia dan Belanda semakin tegang dan pada tangal 19 Desember 1948 Belanda pun melancarkan Agresinya yang kedua, tepat sehari setelah berakhirnya sidang DPRST ke II, dimana diputuskan antara lain pencabutan status Keresidenan Riau, Jambi dan Sumatera Barat.

Pada tahun 1956 Lima Puluh Kota ,berdasarkan UU Nomor 12 tahun 1956 tentang pembentukan daerah otonom Propinsi Sumatera Tengah dengan batas-batas sebagai dimaksud dalam pasal 1 dari surat ketetapan Gubernur Militer Sumatera Tengah tanggal 9 Nopember 1949 No.10/G.M/S.T.G/49. Dengan nama Kabupaten Lima Puluh Kota . Pada awalnya ditulis Kabupaten 50 Kota , tetapi sejak tahun 1999 ditulis dengan nama Kabupaten Lima Puluh Kota dan dipakai sampai sekarang.

Setelah beberapa tanggal di dapat, diajukan ke DPRD untuk dilakukan pembahasan bersama Pansus Hari Jadi. Pada awalnya kedua tim lebih  condong memilih hari jadi Kabupaten Lima Puluh Kota pada zaman awal kemerdekaan berdasarkan Surat Keputusan (besluit) tanggal 8 Oktober 1945 Nomor R.I./I  terhadap pembentukan pemerintahan secara resmi di Sumatera Barat karena pada zaman ini jelas nama Bupati atau Tuanku Luhak serta surat keputusan yang mendasari hal ini, tetapi penamaan Kabupaten/Luhak adalah “Limo Puluah” belum ada tambahan Kota. Tetapi kemudian berkembang pencarian hari jadi dimulai pada zaman Belanda. Jalan pikiran ini sungguh dapat dimengerti karena sejak zaman ini asset-aset peninggalan Belanda telah banyak dengan nama Administrasi Pemerintahan Kabupaten (Afdellingen) Lima Puluh Kota seperti halnya Jalan Kelok Sambila, Padang Mangateh dan memang jalan pikiran seperti ini sering dipakai jika mencari tanggal tertentu guna memperingati hari jadi sesuatu, tinggal lagi mencari data pendukung legalitas selaras dengan jalan pikiran tersebut.

Setelah menganalisa data, dan informasi dari berbagai referensi yang dikumpulkan serta dilakukan pembahasan antara tim Pemerintahan Daerah dengan Pansus Hari Jadi kemudian dikuatkan dengan mendengarkan pendapat ahli sejarah Dr. Gusti Asnan (Dosen Universitas Andalas Padang ), dimana nama Kabupaten Lima Puluh Kota secara konsep pemerintahan telah ada sejak zaman Belanda dengan nama Afdelling Lima Puluh Kota ,dan  Luhak Lima Puluh Kota di awal Kemerdekaan serta Kabupaten Lima Puluh Kota yang sekarang, sehingga kedua belah pihak sepakat untuk menetapkan tanggal 13 April 1841 sebagai hari jadi Kabupaten Lima Puluh Kota dengan pertimbangan sebagai berikut : Pada tanggal 13 April 1841 tersebut merupakan tanggal  dikeluarkannya Besluit No 1 tentang reorganisasi pemerintahan Sumatra’s Westkust yang  isi besluit tersebut tersebut membentuk 9 Afdeellingen, salah satunya tertulis Afdeellingen Lima Puluh Kota sesuai dengan nama daerah yang sekarang yakni Kabupaten Lima Puluh Kota.

Hasil diskusi pembahasan dan keputusan ini dibuatkan rekomendasi oleh DPRD Limapuluh Kota dalam Sidang Paripurnanya  sehingga lahirlah Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2008 tentang Hari Jadi Kabupaten Limapuluh Kota, tanggal 26 November 2008 dimana peringatan hari Jadi Kabupaten Lima Puluh Kota dalam bentuk Rapat Paripurna Istimewa yang dilaksanakan di Aula DPRD . Peristiwa  peringatan untuk pertama kalinya adalah pada tangal 13 April 2009 di gedung baru DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota di Bukik Limau Sarilamak .

Hari ini Selasa 13 April 2021. Selamat memperingati hari jadi Kabupaten Lima Puluh Kota ke-180 tahun 2021 dan jadikanlah momentum hari jadi ini untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat dengan kepala daerah yang baru dan dengan RPJMD 2021-2026.

Walaupun Kabupaten Lima Puluh Kota secara administrasi telah berumur 180 tahun, namun bila kita lihat dari kaca mata pembangunan masih jauh tertinggal dari Kabupaten yang berumur lebih muda dari Kabupaten Lima Puluh Kota.

Jika para pemimpin saling bermufakat untuk maslahat, para stakeholder saling bersetuju dan para OPD pelaksana bersungguh-sungguh memberikan pelayanan  kepada rakyat, lalu kemudian rakyat mendukung serta memberikan kesetiaannya kepada pemimpin, insyaallah Kabupaten Lima Puluh Kota  ini memperoleh berkah dan cepat mencapai kemajuan sesuai dengan Visi Misi Kepala Daerah untuk mewujudkan  kesejahteraan masyarakat dengan visi “ MEWUJUDKAN LIMA PULUH KOTA YANG MADANI, BERADAT DAN BERBUDAYA DALAM KERANGKA ADAT BASANDI SYARAK, SYARAK BASANDI KITABULLAH”

Saiful Guci, Pulutan, 13 April 2021