Ciloteh Tanpa Suara-“Apa yang  mau dikukuhkan dalam perjanjian Bukik Marapalam yang akan dilaksanakan oleh Ulama kita pada tanggal 16 Desember 2018 di Batu Sangka , dan apa itu penting sekarang ini ?” Tanya Desrizal kepada saya.

“ orang Minangkabau mempunyai adagium Adat Basyandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Syarak Mangato Adaik Mamakai  (ABS-SBK-SMAM). Dan dalam sejarah akan berulang setiap seratus tahun, dapat kita lihat sejak tahu 1803 kepulangan tiga orang Haji dari Mekah, yaitu : Haji Miskin dari Pandai Sikek, Haji Piobang dari Payakumbuh dan Haji Sumaniak hal ini melakukan perubahan dasar adat yang telah ada di Minangkabau yang mengakibat melatusnya Perang Paderi yang berakhir 1837 yang mengakibatkan kita dijajah Belanda.

Pada tahun 1908- 1920 dengan bangkitnya Persatuan Islam yang diprakarsai oleh ulama yang melahirkan pemimpin Indonesia cinta tanah air yang muaranya kepada Kemerdekaan Indonesia. Nah sekarang sejarah berulang 2018, kembali para Ulama kita akan tampil dengan slogan akan mengukuhkan Adat Basyandi Syarak-Syarakt Basandi  Kitabullah – Syarak Mangato Adaik Mamakai “ jawab saya

“Jadi apa yang mau dikukuhkan kembali Pak Saiful Guci ?” Tanya Desrizal lagi.

Kemudian saya suruh dulu membaca catatan saya tentang   SUMPAH SAKTI BUKIK MARAPALAM DAN TAMBO SUTAN NAN SALAPAN    http://cilotehtanpasuara.com/blog/sumpah-sakti-bukik-marapalam-dan-tambo-sutan-nan-salapan/   , yang kemudian dilanjutkan dengan CATATAN INYIAK CANDUANG SYEIKH SULAIAMAN AR RASULI TENTANG SUMPAH SAKTI BUKIK MARAPALAM :  http://cilotehtanpasuara.com/blog/catatan-inyiak-canduang-syeikh-sulaiman-ar-rasuli-tentang-sumpah-satie-bukit-marapalam/

“Kalau kita bicara adat Minangkabau. Sudah terang, bahwa apabila negeri mempunyai adat, itulah tandanya negeri tua, negeri yang berkecerdasan tinggi. Di Minangkabau adalah suatu daerah yang beradat, mempunyai satu peradaban yang tumbuh dalam masyarakat itu sendiri dan terus hidup dari zaman bertukar masa, dari dahulu sampai sekarang. Adat Minangkabau itu ad mengandung berapa bagian yang tak mungkin rusak selama-lamanya. “Tak lakang dek paneh, tak lapuak dek hujan” (Tidak rusak oleh panas, tidak lapuk oleh hujan, maksudnya tidak berubah selamany). Bukan larangan manusia yang memeluk adat itu itu, melainkan adat itu sendiri sesuai dengan undang-undang kehidupan pada zaman-zaman yang dilalui “ ujar saya.

“Karena adanya perubahan arus informasi dan globalisasi selama ini tentu saja ada mengalami perubahan pak Saiful Guci? “ jawab Desrizal

“ Semua masyarakat di dunia ini tentu mengalami perubahan dan pergerakan (evolusi). Ada yang cepat dan ada yang lambat. Perubahan baru kelihatan, kalau sudah diperbandingkan dua macam ketetapan adat dalam masa yang telah berjauahan. Itulah sebabnya acap kali terdengar orang tua-tua kita berkata dengan mengeluh “ bahwa anak muda-muda sekarang tidak tahu lagi akan arti adat yang sebenarnya”, yakni seperti yang mereka artikan menurut kehendak zaman, masa mereka dahulu. Dan pabila anak muda-muda itu kelak sudah tua pula, mereka pun akan mengeluh seperti  orangtuanya itu pula, kalau mereka tidak menginsafi sedalam-dalamnya evolusi masyarakat manusia itu. Dalam pepatah telah disebutkan “ aie lah acok gadang, tapian lah acok barubah (air sudah kerap kali besar, tepian sudah sering berkisar). Dan Begitulah seterusnya. “ terang saya.

“ jadi apa sekarang yang berubah ?” Tanya Desrizal

“ Saya kira, pandangan Ulama sekarang yang berubah adalah pengamalan agama Islam dan penyimpangan prilaku karena adanya Islam Nusantara dan banyaknya  prilaku menyimpang seperti : lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT)”.

Di zaman Belanda, beberapa pembesar Hindia Belanda mengusulkan pada Pemerintah Tinggi supaya diadakan perlindungan atas Adat dari pada “serangan” Agama Islam, lantaran  mereka mengangap bahwa Islamlah satu satunya yang mungkin merusak Adat. Tetapi karena dorongan semacam itu, kira-kira se Abad yang lalu (1911), Prof.Snouck Hurgronje memperingatkan kepada Direktur Kehakiman bahwa Adat Minangkabau itu akan runtuh dengan sendirinya. Ramalan se Abad yang lalu ini dapat kita lihat pada laporan Adatrechtbundel XII.p.30)

“Zelfs, zonder de werking der Mohammedaansche propaganda zou het matriarchaat der Minangkabauers, zij het ook na lang durigen passieven weerstand, door den invloed van ons besturr, onze rechtspraak, ons onderwijs, en door ons verbeterde communicatiemiddelen veroordeeld zijn te bezwijken . (Sekalipun tidak ada pengaruh propaganda Agama Islam yang dibawa oleh Muhammad, matriachat orang Minangkabau sudah tentu akan jatuh juga, disebabkan oleh pengaruh pemerintahan dan hukum pengadilan kita, pengaruh pengajaran kita, pengaruh perhubungan lalu lintas, yang sudah kita perbaiki, walaupun jatuhnya itu sesudah ia (matriarchaat) mempertahankan diri dengan cara pasif dalam masa yang lama).

Sampai kemana terbuktinya ramalan seabad yang silam itu dapat kita lihat keadaannya sekeling kita sekarang ini. Tentu hal ini perlu kita diskusiakan dan menimbulkan banyak pertanyaan :

  1. Masih adakah yang mengangap “ rumah istri” sebagai tempat singah (Sumando = Banadn yang singah), dan “rumah ibu” sebagai tempat pulang?
  2. Masih adakah yang mengutamakan mamak sebagai “wali adat”. Lebih dari bapak sebagai “wali syarak”?
  3. Masih adakah yang menutut harta warisan jatuh kepada anak bukan kepada kemenakan ?
  4. Masih adakah sekarang mamak yang melarang menikah dari luar kampung?
  5. Masih adakah peran mamak dalam memelihara kemenakannya dalam pendidikan . Cadiak anak dek mamaknyo, pandai anak dek orangtuo ?

Saiful Guci, Pulutan 12-12-2018